Vampire In The City

Vampire In The City
Rencana Selanjutnya




“Apa sudah ada kabar terbaru mengenai vampire yang ditangkap hunter?” tanya Yoongi pada Seokjin. Sore ini keduanya sedang duduk bersama di toko kue milik Yoongi sambil menikmati teh dan kudapan sore. Kebetulan tidak banyak pelanggan yang datang jadi Yoongi bisa menemani Seokjin untuk mengobrol.


Seokjin menggeleng. Memang menyedihkan karena sampai sekarang belum ada perkembangan mengenai 4 vampire yang ditangkap hunter saat sidang dewan vampire beberapa minggu lalu.


“Aku semakin yakin kalau eksploitasi vampire yang dilakukan oleh oknum jahat memang ada.” kata Yoongi.


“Jika itu benar maka akan terjadi peperangan besar antara vampire melawan manusia.” tukas Seokjin resah. Ia sama sekali tak ingin itu terjadi.


“Aku tak dapat membayangkan apa yang mereka lakukan pada vampire yang ditangkap. Mereka mungkin mengambil darah vampire dan memperjualbelikannya pada para mafia.”


“Itu merupakan bisnis ilegal yang menjijikkan,” komentar Seokjin, “Mereka memperlakukan vampire seperti binatang.”


“Kita harus mencari tahu hal ini, Jin, bagaimana menurutmu?”


“Selama tidak ada hubungannya dengan kita, sebaiknya kita menghindar.” ucap Seokjin menatap Yoongi. “Kita tidak tahu sebesar apa sindikat ini, berapa banyak orang yang terlibat di dalamnya. Kurasa tak hanya hunter, tapi juga dokter, ilmuwan, orang-orang kaya bahkan juga mungkin orang-orang berkuasa terlibat. Jika mereka mengetahui khasiat darah vampire bisa membuat awet muda, kurasa banyak manusia yang memperebutkannya.”


Yoongi mengangguk. “Apalagi darah vampire yang ditransfusikan harus konsisten jika ingin menyembuhkan penyakit. Permintaan akan darah vampire semakin meningkat.”


Seokjin mendengus, mengingat kembali serangan hunter di villa pinggir hutan bambu. Begitu banyak hunter yang diterjunkan kesana, bahkan Soojung yang bukan hunter pun sampai diminta bantuan. Tujuan utama serbuan itu adalah untuk menangkap semua vampire di dalam villa, sekitar 20 vampire!! Ini memang gila, sindikat penjualan vampire ini tidak main-main.


“Aku lebih mementingkan keselamatan clan,” ujar Seokjin, “Sebisa mungkin kita harus saling menjaga, jangan sampai ada yang tertangkap hunter.”


“Paman dari pacarmu adalah hunter, jangan lupa itu, Jin.” ucap Yoongi serius.


Seokjin tersenyum tipis. Ini juga yang membuatnya harus ekstra hati-hati. Ia sudah mempercayakan hidup matinya pada Soojung kalau sudah seperti ini. Tak hanya itu, ia pun sudah menyerahkan nyawa clannya pada Soojung.


“Aku punya ide,” tutur Yoongi, “Kita bisa juga memanfaatkan Soojung untuk mendapatkan informasi mengenai sindikat perdagangan vampire yang dilakukan hunter.”


Seokjin memandang dhampir itu dengan ragu.


“Apa kau pernah memberitahunya mengenai permasalahan ini?” tanya Yoongi.


Seokjin menggeleng. Dia belum pernah menceritakan pada kekasihnya bahwa serangan hunter yang lalu bertujuan untuk menangkap vampire dan mengeksploitasinya. Seokjin tidak tahu akan seperti apa reaksi Soojung jika mengetahui hal ini. Apa wanita itu akan percaya?


“Aku akan memikirkan ide ini,” ujar Seokjin pelan.


“Bayangkan kalau Soojung bisa mendapat banyak informasi yang bermanfaat untuk dewan vampire, kita mungkin bisa menyelamatkan vampire yang tertangkap, Jin.”


“Atau mungkin menciptakan perang.” potong Seokjin dengan mata tajam pada Yoongi. “Kalaupun kita mendapat informasi, itu akan memaksa kita untuk melangkah dan melawan sindikat itu. Terlalu riskan.”


Yoongi memutar bola mata. “Kita vampire! Kita punya kekuatan lebih dibandingkan manusia.”


“Tapi mereka pun diperlengkapi dengan senjata untuk membunuh vampire, Yoongi,” ucap Seokjin terus berdebat, “Dan kita tidak tahu jika di antara mereka pun ada yang sudah mendapat kekuatan vampire karena dengan konsisten mendapat transfusi darah vampire. Kita tidak tahu separah apa sindikat ini. Aku berharap ini belum mencapai taraf internasional.”


Yoongi menelan ludah. Seokjin mungkin benar, keselamatan clan lebih utama.


Seokjin mendesah. “Tapi kalau aku mendapat kesempatan, aku akan coba membujuk Soojung untuk melakukannya…”


***


“Aku berniat akan membangun tempat latihan di basement.” ucap Seokjin mengumumkan. Setelah makan malam, Taehyung langsung ke kamarnya sementara vampire lain masih duduk bersama mengobrol.


“Wah cihuyy~” ucap Namjoon bersemangat.


Hoseok meringis pada Namjoon yang bersemangat itu. Sial, semoga dia tidak menjadi korban. Kalau Namjoon sudah semangat seperti itu artinya Hoseok akan disuruh latihan bela diri tiap hari. Hoseok masih bayi vampire dan belum memiliki kekuatan vampire. Itu menjadi alasan bagi Namjoon untuk menyuruh Hoseok berlatih fisik supaya bisa mempertahankan diri jika bertemu hunter.


Seokjin memutuskan ia akan memfasilitasi clannya untuk nantinya bisa berkelahi jika itu memang dibutuhkan. Bayangkan jika mereka harus melawan hunter yang mempunyai kekuatan vampire karena sudah sering meminum darah vampire?


Setidaknya mereka harus diperlengkapi dengan bisa menembak, bisa berkelahi dan bela diri.


“Arena menembak indoor, peralatan bela diri bahkan gym, aku akan instal di basement rumah ini.” tutur Seokjin.


“Yes!” ucap Namjoon semangat. Ia memukul bahu Hoseok yang duduk di sebelahnya, “Kau akan kubantu untuk membentuk otot tangan dan perut, supaya tidak lembek begitu.”


Hoseok tersenyum muram. Ia melirik Yoongi meminta bantuan. Ia tak dapat membayangkan jika tiap hari Namjoon menyuruhnya berolahraga. Itu pasti sangat menyiksa.


Yoongi hanya menahan senyum dan pura-pura melihat ke arah lain. “Aku setuju dengan ide Alpha kita. Kita perlu juga memperlengkapi diri dengan kekuatan fisik. Kita tidak tahu kelak akan berhadapan dengan hunter hebat atau tidak.”


Seokjin tersenyum tipis. Ia pun sengaja akan membuat arena menembak juga sebenarnya untuk Soojung. Wanita itu nantinya akan ia ajak untuk berlatih di rumah ini. Seokjin hanya ingin menjaga keselamatan clannya plus kekasih yang ia cintai.


Tiba-tiba pintu terbuka. Jimin masuk ke dalam rumah itu seperti rumahnya sendiri, maklum Jimin sudah sering datang ke tempat ini. Vampire lain pun sudah menyadari kedatangannya karena indra penciuman dan pendengaran vampire yang tajam.


“Hai, Jimin.” sapa Hoseok ramah.


“Mana Taehyung?” tanya Jimin.


“Dia di kamarnya.” sahut Namjoon.


“Oke. Dan aku pun akan menginap malam ini.” ucap Jimin.


Seokjin hanya memberi anggukan. “Anggaplah seperti rumah sendiri, Jimin-ah.”


Jimin memberi senyum. Ia melirik Yoongi lalu akhirnya pergi ke lantai 2 menuju kamar Taehyung. Tadi sore Yoongi menelepon Jimin dan memberitahukan bagaimana Taehyung yang merokok di kamarnya. Sebenarnya tidak perlu ada yang dicemaskan. Rokok tidak akan merusak seorang vampire.. hanya saja Yoongi kuatir dan meminta Jimin untuk bisa melakukan pendekatan pada Taehyung. Pasti ada alasan yang membuat Taehyung tiba-tiba merokok.


Jimin mengetuk sekali pintu kamar Taehyung. Tanpa menunggu jawaban Jimin langsung membukanya dan masuk ke dalam. Ia yakin Taehyung pun pasti sudah menyadari kehadirannya.


“Tae!” seru Jimin. Ia melihat Taehyung yang sedang duduk di bangku, sibuk dengan ponselnya. Vampire itu hanya menyahur singkat namun mata masih tetap tertuju pada layar.


“Aku akan menginap disini ya.”


Taehyung mengangkat wajah dan menatap Jimin datar. “Kau mengusik privasiku, Chim.”


Jimin memonyongkan mulut dengan meledek pada temannya. Ia duduk di pinggir tempat tidur, ekspresinya berubah serius manakala mengingat kembali tujuannya langsung datang ke rumah ini. “Aku dengar kau merokok?”


Taehyung mendesah pelan. Ia meletakkan ponselnya dan membalas pandangan Jimin. “Tak kusangka mereka melaporkannya padamu?”


“Yoongi Hyung menceritakannya padaku,” ujar Jimin buru-buru, “Dan kau temanku! Yoongi Hyung mungkin berusaha membantu.”


Vampire itu melipat tangan di depan dada. “Lalu? Apa yang mau kau lakukan kalau sudah tahu?”


Jimin meringis, untungnya ia tidak terintimidasi dengan aura Taehyung itu. Jimin tetap menganggap yang di depannya ini adalah temannya yang sama seperti dulu, hanya saja ada luka yang perlu disembuhkan.


“Aku tak setuju kalau kau merokok, Tae.”


Taehyung mendengus tertawa dan hanya mengorek kupingnya seolah ucapan Jimin itu basi. “Itu tidak akan mengefek padaku.”


“Tae–“


“Aku tahu apa yang kulakukan, Jimin.” potong Taehyung tegas. Ia menaikkan sebelah alis, memandang temannya seolah temannya itu salah makan atau apa. “Aku tidak bodoh.”


Alis Jimin mengernyit, apalah maksud ucapan Taehyung itu. “Apa maksudmu?”


Taehyung hanya mengangkat bahu saja. “Entah… Aku pun bahkan ada rencana minta ditemani ke clubbing olehmu.”


Mata Jimin membesar. “Mwo? Clubbing??”


Taehyung memberi cengiran panjang. “Bagaimana menurutmu?”


Jimin langsung bangkit berdiri dan memelototi vampire itu. “Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kau muncul untuk puber?”


Taehyung tertawa saja. Manusia ini memang lucu juga. Taehyung melingkarkan tangannya di bahu Jimin dan berbisik, “Umur seperti kita ini butuh bersenang-senang bukan?”


“Kau gila.” tukas Jimin sambil mendorong badan Taehyung.


“Ayolah, Jimin, kau tidak bisa menolak permintaanku.” tukas Taehyung, “Aku harus mencari seseorang dan clubbing menjadi tempat yang tepat.”


Jimin mendongak heran. “Mencari siapa? Aku tak tahu kalau kau benar-benar puber sampai membutuhkan one night stand.”


Taehyung hanya tertawa. Ia terduduk di tempat tidur, geli dengan ucapan Jimin itu. Astaga… cukup seru juga punya teman yang polos seperti Jimin ini.


“Itu bisa menjadi ide bagus juga, Jiminnie..”


Jimin mempoutkan mulutnya. Ia menerjang badan Taehyung dan menacklenya. Keduanya pun akhirnya saling mengelikitik dan terkekeh bersama.


“Lihatlah dirimu, vampire yang sangat puber~!!” ucap Jimin di sela tawanya. Taehyung membalas dengan tawa, sikap Jimin sama sekali tidak berubah entah pada Taehyung ataupun pada V. Itulah yang disukai Taehyung dari Jimin.


🎃🎃



Jangan lupa berikan dukungannya berupa like, comment dan vote ya 😍