Vampire In The City

Vampire In The City
Kematian Terkasih (Special Chapter - Christmas)




episode sebelumnya ...


Jeon Donghyuk menyangga kepala dengan kedua tangan. Otaknya berpikir keras. Dia tidaklah bodoh, dia yakin cepat lambat dirinya akan dicurigai saat kejadian Taehyung melarikan diri. Jelas-jelas Donghyuk berada di markas sindikat saat kejadian terjadi. Dua rekannya yang merupakan hunter pun terluka parah saat menyerang Taehyung. Hanya dirinya yang tidak cedera. Apa Big Boss akan mencurigainya? Apa ia akan diinterogasi?


Dan ini aneh… sudah beberapa hari sindikat tidak menghubunginya. Apa benar dia sedang dicurigai? Ini mengerikan karena Donghyuk pun tak dapat tidur beberapa hari karena memikirkannya. Ia lebih takut pada dua keponakannya yang malang. Dua keponakannya itu selama ini ditipu dengan fakta menjijikkan. Orangtua mereka dibunuh dengan sengaja oleh sindikat.


Donghyuk mengangkat kepala. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat. Apa kau pikir dia akan diam saja setelah tahu fakta menyedihkan bahwa orangtua Soojung dan Jungkook mati karena sindikat?


Donghyuk menggerakkan mouse dan mulai masuk ke drive bersama milik sindikat. Ia kembali ke folder bukti penyebab kematian Donghwa dan Chanmi. Keringat dingin mengucur deras mana kala ia mengcopy data itu dan memindahkannya ke drive pribadi.


Donghyuk sangat tahu yang ia lakukan ini sangat ilegal dan melanggar etika pekerjaan karena sudah menyalin file milik sindikat. Tapi sudah kepalang tanggung, Donghyuk merasa kebenaran tidak boleh terus disembunyikan. Pria itu juga menyalin dokumen lain mengenai kejahatan yang dilakukan oleh sindikat : money laundring, mafia kejahatan, penjualan ganja, eksploitasi vampire… dan yang utama adalah penelitian berbahaya pada manusia berubah menjadi vampire mutan.


Jantung berdegup dengan kencang saat Donghyuk menemukan data-data korban penelitian ilegal itu. Ada yang diambil dari panti asuhan, ada pula yang merupakan tuna wisma. Hati nurani Donghyuk sangat sakit saat mengetahui fakta bahwa Taehyung berasal dari panti asuhan. Anak itu diberitahu akan diberikan pekerjaan layak yang pada kenyataannya membawanya pada mimpi buruk.


Donghyuk menelan ludah. Sindikat memang sudah sangat kurang ajar dan keterlaluan. Ketua hunter itu pun mengirim pesan email pada Jungkook beserta link akses untuk membuka drive Donghyuk.


Pria itu dengan tegang menggigit kuku menanti sampai email sukses terkirim. Setelah yakin terkirim, Donghyuk pun menghapusnya untuk menghilangkan jejak.


Terdengar suara pintu diketuk. Sekujur tubuh Donghyuk mendadak tegang. Setahunya di kantornya ini sudah tidak ada siapa-siapa, sejam yang lalu pegawainya sudah pulang. Lalu siapakah yang datang mengunjungi kantornya di tengah malam seperti ini?


Cepat-cepat Donghyuk mematikan laptopnya. Ia memandang pintu dengan membeku, sudah tidak ada suara ketukan lagi. Pintu kerjanya ini sudah ia kunci,orang luar takkan bisa masuk kecuali mendobrak dengan paksa. Namun jika itu terjadi security pasti akan segera datang menolongnya.


Bekerja sama dengan markas sindikat memang sangat berbahaya. Kau mungkin bisa mendapat uang dalam jumlah yang sangat besar. Namun kau bisa kehilangan nyawa dengan mudah jika berani menghianati sindikat.


Ketegangan Donghyuk sedikit berkurang manakala ia sudah tak mendengar suara apa-apa lagi. Ini sungguh gila, dia tidak bisa tenang sejak mengkhianati sindikat, terlebih setelah tahu bagaimana dengan mudahnya sindikat menghilangkan nyawa orangtua Jungkook.


Tiba-tiba terdengar suara kunci yang dimasukkan ke dalam knop pintu. Donghyuk kaget setengah mati. Kunci pintu ruang kerja ketua hunter hanya dimiliki oleh Donghyuk, bagaimana mungkin bisa ada yang berusaha masuk ke dalam ruangannya ini.


Donghyuk berdiri dari tempat duduknya dengan tegang. Bagaikan slow motion, pintu itu membuka dengan suara kriet yang entah kenapa sekarang membuat bulu kuduk Donghyuk berdiri.


Nafasnya tercekat saat ia melihat seseorang masuk dengan pakaian serba hitam dan topeng di wajahnya.


Mafia.


Seorang mafia diutus ke sini… untuk membunuhnya?


Mafia itu berjalan maju beberapa langkah lalu diam memandang Donghyuk. Baginya bukan masalah besar untuk menghabisi ketua hunter, penghianat markas sindikat ini.


Dengan gemetar Donghyuk menggerakkan tangannya ke laci meja, hendak mengambil pistol. Mafia itu memiringkan kepala sudah bisa membaca apa yang mau dilakukan oleh Donghyuk. Begitu tenangnya mafia tersebut, ia mengangkat tangan dan mengarahkan pistol yang memang sudah dipegangnya ke arah Donghyuk.


Badan Donghyuk membeku, belum sempat membuka laci meja. Ini benar-benar gawat. Sindikat sedang mengutus mafia untuk membunuhnya.


.


.


.


Malam itu Taehyung dan Jungkook duduk bersama di balkon kamar, sesuai dengan yang dikatakan Jungkook tadi sore bahwa manusia itu ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Taehyung.


“Apa yang mau kau bicarakan, Kook?” tanya Taehyung berusaha tidak cemas. Ekspresi Jungkook saat ini nampak wajar jadi sepertinya bukan bad news yang akan disampaikan soulmatenya.


“Aku punya ide… cara lebih baik untuk membantumu serta menghancurkan sindikat.” ucap Jungkook dengan senyum bahkan lesung pipi yang terlihat.


Mata Taehyung membesar. Sampai saat ini Taehyung tidak ada keinginan untuk mendatangi sindikat dan menghancurkannya. Dia tidak mau membahayakan clannya… dia tidak mau membahayakan soulmatenya. Dia tidak mau berpisah dari orang-orang yang ia sayangi lagi.


“Jadi… kurasa…” ucap Jungkook dengan eye smile memandang Taehyung, kontradiksi dengan gejolak emosi vampire itu sekarang. “Aku memutuskan untuk bersedia diubah menjadi vampire, sama sepertimu.”


Ibarat ada petir yang menyambar di depan Taehyung, ekspresi vampire muda itu sangat syok mendengar ucapan Jungkook. Dia tidak pernah menyangka Jungkook akan mengatakannya?


“Seperti Hoseok Hyung yang diubah menjadi vampire karena diberikan venom oleh Namjoon Hyung,” lanjut Jungkook lugas, “Aku pun bersedia diubah menjadi vampire.”


“A-apa maksudmu, Jungkook?” ucap Taehyung kering.


“Vampire berumur panjang dan punya kekuatan tertentu bukan? Setidaknya ketika aku melawan sindikat atau Dongwook, aku lebih unggul karena aku merupakan vam–“


Taehyung langsung bangkit berdiri membuat Jungkook kaget. Manusia itu baru sadar kalau saat ini ekspresi Taehyung sama sekali tidak mendukung usulnya.


“Tidak sesimple itu, Jungkook.” ucap Taehyung dengan wajah mengeras dan alis berkerut parah.


Jungkook ikut bangkit berdiri, tidak menyerah untuk meyakinkan Taehyung. “Tapi, Tae, ini cara yang lebih baik untuk menghancurkan sindikat bersama-sama.”


“Kau terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkannya masak-masak.” tukas Taehyung memalingkan wajah.


“Aku sudah memikirkannya masak-masak. Beberapa hari ini aku memikirkannya dan ini keputusanku.” gumam Jungkook berusaha melunakkan hati vampire itu sambil memegang lengannya.


Taehyung mendengus pelan. “Itu aneh. Di saat aku menangisi nasibku yang berubah menjadi vampire mutan, kau malah menginginkan kebalikannya. Kau malah ingin menjadi vampire. Kau tidak akan mengerti, Jungkook, bahwa sekali kau sudah berubah menjadi vampire, hidupmu tidak akan sama lagi. Kau tidak bisa kembali menjadi manusia lagi.”


Jungkook membesarkan mata, menyadari bahwa posisi Taehyung sangat berat. Dia berubah menjadi vampire tanpa keinginannya sendiri, bahkan menjadi vampire mutan buatan manusia kejam tak bertanggungjawab. Sebelah mata Taehyung itu berubah menjadi putih. Kalau sedang marah mata Taehyung memang akan berubah menjadi putih.


“Tae…”


“Kau adalah manusia, Jungkook. Bagaimana mungkin kau meminta supaya diubah menjadi vampire?”


“Kau adalah soulmateku, aku ingin senasib sepenanggungan denganmu, Tae. Kau hidup sangat panjang sementara jika aku menjadi manusia, aku tidak dapat hidup sepanjang yang dimiliki vampire.”


“Mwo?” tukas Taehyung menolehkan kepala dengan cepat. “Apa itu yang hanya dipikirkan benakmu, Jeon Jungkook?”


Alis Jungkook mengernyit, ia tidak mengerti mengapa Taehyung marah dan menolak pendapatnya. Jungkook ingin hidup panjang juga bersama soulmatenya. Menjadi vampire akan membuat Jungkook bisa melindungi Taehyung dengan lebih baik dibandingkan saat menjadi manusia. Jungkook tahu betul pengorbanan besar yang harus ia bayar ketika memberi diri diubah menjadi vampire. Itu juga yang ia renungkan beberapa hari ini. Jungkook tahu konsekuensinya… dan hatinya sudah teguh untuk memutuskan hal ini. Ia mengatakan ini setelah mengujinya beberapa hari, memastikan bahwa dirinya ikhlas dan tidak akan menyesal di kemudian hari untuk keputusan penting yang ia ambil.


Taehyung tidak mengerti bagaimana mungkin Jungkook mengatakannya. Memangnya Taehyung worth it sampai Jungkook bahkan rela berubah menjadi vampire untuk selalu bersamanya? Apa di dunia ini ada seseorang yang bersedia seperti itu untuk dirinya? Taehyung percaya pada Jungkook, tapi ia tidak cukup percaya diri bahwa ia layak mendapat perhatian sebesar itu. Hei… dia adalah anak yatim piatu di panti asuhan… Dia selalu berpikir bahwa tidak ada orang yang mau memperjuangkan hidupnya karena bagaimana dirinya sejak kecil sudah berada di panti asuhan, dibuang dan tak diinginkan.


“Aku tidak akan mengijinkannya.” tukas Taehyung. Dia tidak akan mengambil resiko besar merenggut kehidupan Jungkook yang sudah sempurna, dia tidak akan membiarkan Jungkook menyia-nyiakan hidup hanya demi seorang vampire yang ingin membalas dendam. Dia tidak akan membiarkan Jungkook menjadi seperti dirinya.


“Tapi, Tae–“


“Kau tidak berpikiran jernih, kau tidak memikirkan masa yang akan datang.”


“Aku memikirkanmu, Tae–“


“Kau tidak memikirkan perasaanku, Jeon!” elak Taehyung.


Mata Jungkook melotot kaget mendengar hardikan itu. Ia tidak memikirkan perasaan Taehyung? Justru yang selalu ia pikirkan adalah bagaimana melindungi dan menyembuhkan soulmatenya. Pengorbanan yang ia lakukan ini tidak dengan terpaksa tapi dengan ketulusan. Apa Taehyung tak dapat merasakannya?


Taehyung terhenyak, menyadari kalau dia sudah terlewat batas. Tentu saja Jungkook selama ini selalu memikirkan perasaannya. Itu pula yang membuat Taehyung masih bertahan di tempat ini bahkan sembuh dari traumanya. Tapi Taehyung tidak mau membuat hidup Jungkook hancur.


“Mianhe..” gumam Taehyung sambil mengacak rambut. Dia tidak bisa meneruskan pembicaraan seperti ini ketika emosinya labil. “A-aku… kurasa malam ini aku tidur di kamar Jimin.”


Taehyung sedikit menunduk, malu untuk bagaimana percakapan ini berakhir. “Aku perlu menangkan pikiranku dulu, Kook.”


Jungkook memandang Taehyung dan tak dapat memaksa lebih jauh. “Arra…”


Akhirnya Taehyung pun berbalik pergi dan meninggalkan Jungkook. Ia keluar kamar untuk pergi menuju kamar Jimin dan Hoseok.


Jungkook masih berdiri di sana. Dia berharap kelak Taehyung bisa mengerti dan menerima keputusannya. Ia ingin terus bersama Taehyung dan melindungi vampire itu.


.


.


Taehyung mengetuk pintu kamar Jimin. Betapa heran manusia itu melihat kemunculan Taehyung di saat Jimin baru saja akan mematikan lampu tidur.


“Tae?”


Taehyung berjalan masuk ke dalam kamar. Ia melihat Hoseok yang masih asyik dengan laptop. Kamar itu terdiri dari double bed. Tiap tempat tidur itu rasanya tidak nyaman jika ditempati dua orang tapi mau bagaimana lagi, Taehyung harus menenangkan diri dan memisahkan diri untuk sementara dari Jungkook. Lagipula Taehyung pun tak ada selera untuk tidur. Pikirannya kusut setelah pembicaraannya dengan Jungkook.


“Wae?” tanya Hoseok sambil mengangkat kepala menatap Taehyung. Jimin juga berjalan mendekati Taehyung sama herannya.


“Tidak keberatan kan kalau malam ini aku bersama kalian?” tanya Taehyung setelah hening panjang.


“Kau berantam dengan Jungkook?” tanya Jimin membesarkan mata tak percaya.


“Anni…” gumam Taehyung pelan. Ia mengacak rambutnya kembali merasa awkward. Dulu adalah hal biasa jika dirinya bertengkar dengan Jungkook tapi setelah bond di antara mereka semakin kuat, bertengkar begini sangat aneh dan membuat tak nyaman.


“Mian aku tak ingin membahasnya…” lanjut Taehyung mendesah.


“It’s ok, Tae, itu hal wajar di dalam relationship.” ujar Hoseok santai.


“Tae, kau bisa tidur denganku,” ucap Jimin, “Badanku mungil, kasurku cukup untuk kita berdua.”


Taehyung memberi senyum, berterimakasih pada Jimin dan Hoseok yang memahaminya. “Kalian bisa duluan tidur, aku mau di balkon menikmati udara segar. Lagipula aku belum mengantuk.”


“Oh… baiklah.” sahut Jimin, “Ini sudah larut… jangan malam-malam tidurnya, Tae.”


Taehyung mengangguk. Ia pun pergi ke balkon. Ia berdiri di sana dengan dua tangan memegang terali besi. Ia seharusnya tidak meragukan ketulusan Jungkook seperti tadi. Manusia itu memikirkannya… memutuskan untuk berubah menjadi vampire setelah hari-hari yang mereka lalui bersama. Kalau Taehyung pikirkan lagi ia berharap Jungkook juga hidup panjang sama seperti vampire. Manusia bisa mati karena penyakit, racun atau bencana. Umur paling lama mungkin hanya 70 tahun, sementara vampire bisa hidup ratusan tahun lamanya…


“Mianhe…”


Taehyung tersentak saat mendengar telepati Jungkook di dalam kepalanya.


“Aku seharusnya bisa memahami posisimu yang merupakan korban menjadi vampire mutan, bagaimana hal itu berat untukmu. Aku seharusnya berhati-hati ketika memutuskan sesuatu dan tidak menyakiti hatimu seperti ini, Tae.”


Taehyung memejamkan mata, merasakan ketenangan saat Jungkook berbicara seperti itu padanya. “Kau tidak salah, Jeon. Aku mungkin terlalu sensitif.”


Taehyung tidak mengatakan apa-apa lagi, tidak mengirim telepati lagi pada Jungkook. Ia belum siap untuk membahas pembicaraan itu kembali.


Taehyung melihat langit berbintang. Dia sudah menerima keberadaan dirinya yang merupakan vampire mutan, dia tidak akan menganggap dirinya menjadi monster lagi. Namun siapkah ia jika ia membiarkan Jungkook mengalami posisi yang dialaminya? Bagaimana mengerikannya menjadi vampire? Bagaimana kau membutuhkan darah untuk bertahan hidup? Bukankah itu menjijikkan bagi manusia? Bagaimana panca indera vampire sangat peka yang kadang membuat tidak nyaman. Belum lagi vampire harus berhati-hati untuk tidak menyentuh benda berbahan silver.


Menjadi vampire tidak sesimple kelihatannya. Jungkook mungkin belum mengerti bahwa pengorbanan yang diberikan manusia itu tidak akan setimpal dengan kehilangan keberadaan diri sebagai manusia.


Taehyung tidak bisa tidur, berjam-jam ia berada di balkon, melamun memikirkan banyak hal, mengingat masa lalu, mengingat masa-masa saat dirinya di panti asuhan. Suster panti sangat baik dan menyayanginya, kadang menyelundupkan cemilan sisa untuknya di sore hari saat anak-anak lain tidak lihat. Taehyung juga mengingat ada pasangan suami istri yang sering mengunjunginya ketika ia mulai beranjak SD. Mereka pun sangat baik dan menerima Taehyung… Jika bukan karena pasangan itu sudah memiliki 2 anak, mungkin Taehyung akan diangkat menjadi anak mereka. Dari pasangan itulah Taehyung diberi impian bahwa masa depannya tidak akan suram. Pasangan suami istri itu mengatakan bahwa nanti saat umur Taehyung 18 tahun, Taehyung akan diberikan training khusus dan menjadi salah satu karyawan perusahaan ternama. Mereka sudah mendaftarkan nama Taehyung pada perusahaan tersebut bahkan saat Taehyung masih kecil.


Namun tak disangka… hidup Taehyung berubah semenjak itu. Bukannya di-training, dia justru diujicobakan obat-obatan ilegal. Taehyung tidak bertemu lagi dengan pasangan itu semenjak ia SMP.


Sepanjang malam Taehyung berada di balkon, sampai akhirnya saat subuh sekitar jam setengah 5 pagi ia tak sadar tertidur duduk di kursi balkon.


***


Baru jam setengah satu siang, Taehyung terbangun. Itu pun ia seperti tersentak kaget. Taehyung membuka mata menyadari bahwa dia sudah tertidur.


“Kau sudah bangun…” gumam Jimin yang duduk di kursi dekat tempat tidur.


Mata Taehyung mengerjap-ngerjap, berusaha mengingat apa yang terjadi. Semalam dia datang ke kamar Jimin dan Hoseok, melamun lama di balkon sampai akhirnya tak sadar tertidur. Jimin yang mengangkatnya ke tempat tidur?


“Kau bisa masuk angin, Tae, sepanjang malam di luar seperti itu,” ucap Jimin.


Hoseok juga berada di kamar. Ia memberi senyum dimple untuk Taehyung. “Kau lapar? Aku akan ambilkan makanan untukmu.”


“Mana Jungkook?” tanya Taehyung. Hanya itu yang terlintas di benaknya ketika bangun.


“Aah…” Mimik Jimin tiba-tiba berubah. “Ada berita duka, Tae.”


Mata Taehyung seketika membesar. Ia membalikkan badan pada Jimin. Oh dia berharap bukan kabar yang membuatnya mati berdiri.


“Tadi pagi sekitar jam 7, Soojung mendapat telpon,” tutur Jimin, “Paman mereka sudah tak bernyawa ditemukan di ruang kerjanya.”


“M-mwo?” Tenggorokan Taehyung semacam tercekik mendengar berita itu. Paman Jungkook meninggal? Taehyung bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih atau balas budi karena pria itu yang membantunya bebas dari sindikat.


“Dinyatakan bunuh diri…” kata Jimin perlahan dengan sedih, “Dia ditemukan tewas karena menyayat nadi sendiri di ruang kerjanya. Soojung, Jungkook, Seokjin Hyung dan Namjoon Hyung pergi ke Seoul untuk melihat proses kremasinya.”


Mata Taehyung berubah nanar. Saat ini Jungkook pasti sedang sangat berduka. Seharusnya Taehyung tidak tidur seperti ini, seharusnya ia bersama Jungkook dan menghibur soulmatenya.


“Kenapa kau tidak membangunkanku?” ucap Taehyung hampir menangis.


Jimin menggaruk tengkuk, bingung sekaligus merasa bersalah.


“Jangan salahkan Jimin, Tae…” ucap Hoseok mendekati tempat tidur. “Kami tidak membangunkanmu karena kau tampak sangat lelah dan membutuhkan tidur. Kau tidur dengan mata setengah membuka. Jungkook pun meminta supaya kau tidak dibangunkan.”


Taehyung keluar dari tempat tidur. Dia harus menemui Jungkook, dia harus menemani soulmatenya. Ada rasa urgent sangat besar di dalam dada. Pertengkaran kecil semalam… dan sekarang berita duka yang menimpa Jungkook… Taehyung tidak tahu lagi betapa ia merasa sangat bersalah karena menambah permasalahan Jungkook. Dia seharusnya menemani Jungkook sekarang.


“Tae, kau mau kemana?” tanya Jimin panik saat Taehyung berjalan keluar kamar.


Di luar kamar Yoongi muncul dan memblok langkah Taehyung, sudah mendengar pembicaraan itu sejak tadi. Jimin dan Hoseok pun ikut keluar kamar, mereka menatap Yoongi. Saat ini yang boleh mengambil keputusan adalah dhampir itu.


“Jangan halangi aku,” tukas Taehyung, “Aku harus menemani Jungkook.”


“Kau tidak tahu jalan, jarak rumah ini dari Seoul sangat jauh.” gumam Yoongi.


“Aku tak peduli.” sahut Taehyung, sebelah matanya berubah putih. Suara pun sarat akan kemarahan.


“Berbahaya kalau kau pergi sendiri, Tae.” ujar Yoongi, tidak terganggu sama sekali dengan perubahan mata Taehyung, “Kami bisa menemanimu ke sana.”


Taehyung tercengang. Jadi Yoongi tidak bermaksud untuk menghalanginya, justru mau membantunya?


Mata Hoseok membesar menatap Yoongi. Apa dhampir itu tidak sedang bercanda? Tempat yang mereka tuju pasti sangat berbahaya. Pasti ada hunter-hunter yang juga datang, belum lagi kalau big boss sindikat juga datang.


Jimin menghela nafas. Ia mengerti dengan keputusan Yoongi. Menghalangi Taehyung pun tak akan ada gunanya, vampire itu pasti akan melawan. Lebih baik menemani Taehyung untuk memastikan vampire itu baik-baik saja.


“Aku akan siapkan mobil…” gumam Yoongi lalu pergi menuju carport.


.


.


Sementara itu Jungkook, Soojung, Seokjin dan Namjoon tengah berada di rumah duka. Jenazah Jeon Donghyuk sedang dalam proses kremasi. Wajah Jungkook pucat di depan foto mendiang pamannya. Air mata sudah mengering, ia tak menyangka pamannya akan pergi secepat ini, bahkan dengan bunuh diri? Jungkook tak mengerti… mengapa pamannya bunuh diri. Ia bahkan baru tahu bahwa pamannya merupakan ketua hunter menggantikan Myunggyu. Tadi ia mengetahuinya dari para hunter yang datang melayat. Apa pekerjaan sebagai ketua hunter itu sangat memberatkan sampai pamannya memutuskan mati seperti ini? Pamannya itu memang workaholic, namun Jungkook selalu merasa Donghyuk bisa menyelesaikan pekerjaan hunter, yang berbahaya sekalipun.


Soojung masih menangis terisak-isak atas meninggalnya Donghyuk. Seokjin tengah memeluknya, berusaha menenangkan hati sang kekasih. Soojung merasa sangat menyesal, mengapa ia tidak datang menemui pamannya, mengajak pamannya berbicara dari hati ke hati? Baru beberapa hari yang lalu paman dengan sering meneleponnya, membicarakan hal-hal ringan. Seharusnya Soojung mengunjungi pamannya!! menanyakan apa yang dialami pamannya.


Proses kremasi tubuh Donghyuk telah berlangsung. Isak tangis Soojung semakin keras, menghantarkan kepergian pamannya, satu-satunya keluarga dekat yang selama ini sudah berperan menjadi ayah sekaligus ibu sejak mereka kecil.


Ulu hati Jungkook terasa sakit. Dia tahu kalau pamannya tidak seputus asa itu sampai memutuskan untuk bunuh diri. Dia mencurigai kalau sindikat ada dalang di balik kematian pamannya. Bukankah sindikat memang kotor dan menjijikkan, bisa melakukan apapun yang tak berprikemanusiaan?


Namjoon berada di ujung ruangan mengawasi Alphanya. Di ruang duka ini didatangi para hunter yang turut berkabung atas kepergian sang ketua hunter. Namjoon harus mengawasi jangan sampai Seokjin atau dirinya dicurigai sebagai vampire. Saat ini Namjoon memakai pakaian serba hitam juga topi, hal yang sama juga dipakai oleh Seokjin. Alpha memang bersikeras ingin menemani kekasihnya di tempat ini, tak peduli sekalipun di ruangan ada banyak hunter yang bisa membunuhnya.


Beberapa saat kemudian mobil Yoongi tiba di sana. Tak mengatakan apa-apa, Taehyung langsung keluar dari mobil. Dia sudah memakai coat hitam, kacamata hitam dan topi untuk menutupi identitasnya. Jimin dan Hoseok yang mendandaninya begini karena bisa saja ada hunter yang menciduknya dan mengetahui bahwa ia adalah vampire yang kabur dari markas sindikat.


“Aku akan menemaninya.” gumam Yoongi. “Kalian berdua tetap di dalam mobil.”


Hoseok menelan ludah. “Tapi–“


“Semakin sedikit yang dicurigai sebagai vampire itu lebih baik, Hoseok.” kata Yoongi final. Ia pun pergi keluar mobil dan bergegas untuk menyusul Taehyung.


Taehyung memasuki ruang duka. Hidung vampirenya bisa membedakan mana yang merupakan bau kehadiran soulmatenya. Hatinya tertoreh saat melihat Jungkook yang berdiri dengan wajah pucat, ekspresinya begitu tersakiti. Di sampingnya Soojung masih menangis dipeluk oleh Seokjin.


Taehyung bergegas mendatangi mereka melewati beberapa orang yang sepertinya merupakan hunter. Taehyung tak peduli. Dia harus menemani Jungkook.


“Jungkook..” ucapnya saat sudah berada di dekat soulmatenya. Seokjin sudah melirikkan mata beberapa saat sebelumnya, menyadari kehadiran Taehyung. Namjoon juga membesarkan mata melihat kedatangan dongsaengnya itu. Harusnya ia tidak perlu kaget jika Taehyung sampai datang seperti ini.


Jungkook membalikkan badan dan Taehyung langsung memeluknya. Vampire itu melingkarkan kedua tangannya di leher Jungkook dan memeluk soulmatenya, bisa merasakan kesedihan yang dialami manusia itu akan kepergian pamannya.


“Tae…” bisik Jungkook dan menenggelamkan wajah di bahu soulmatenya. Dia bersyukur Taehyung datang seperti ini untuk bersamanya. Dia berharap pertengkarannya dengan Taehyung semalam sudah tidak berarti lagi. Karena inilah yang diperlukan Jungkook…


“I’m so sorry..” ujar Taehyung pelan, “Aku turut berduka atas kepergian pamanmu, Kook.”


Jungkook mengangguk dan membalas pelukan. Air mata sudah mengering, Jungkook tidak dapat menangis lagi. Kalau dipikirkan kembali ia merasa pamannya tidak mungkin bunuh diri. Pamannya merupakan workaholic, tidak akan selemah itu hingga memutuskan untuk bunuh diri.


“Dia paman yang baik, Kook…” ucap Taehyung bertelepati. “Aku belum sempat mengucapkan terimakasih karena waktu itu dia yang membantuku keluar dari sindikat.”


Jungkook memeluk semakin erat mendengar telepati Taehyung. “Aku pun seharusnya meneleponnya dan mengucapkan terimakasih. Dan… aku.. aku tak percaya dia bunuh diri. Itu tidak mungkin, Tae.”


Taehyung melepas pelukan. Ia memandang Jungkook dalam-dalam dengan mata setengah membesar, kaget atas perkataan Jungkook itu. “Are you sure?” bisiknya.


Jungkook hanya memberi anggukan. Hatinya mendadak panas jika membayangkan Dongwook merupakan dalang di balik kematian pamannya. Tapi dia tidak punya bukti, bahkan kepolisian sudah menyatakan ini bunuh diri berdasarkan olah TKP dan tubuh jenazah.


Taehyung mengerjap. Jika kecurigaan Jungkook ini benar… kemungkinan Donghyuk dibunuh oleh sindikat, mengingat Donghyuk saat itu berada di tempat kejadian saat Taehyung melarikan diri, bisa saja sindikat menuduhnya. Atau lebih parahnya ada kamera CCTV yang merekam saat Donghyuk melepaskan Taehyung.


Taehyung menarik tangan Jungkook dan membawanya keluar. Ia merasa perlu membawa Jungkook keluar supaya otak pria itu tidak penat dan semakin stres. Yang utama saat ini adalah memastikan Jungkook baik-baik saja.


Seokjin melirik kepergian Taehyung dan Jungkook. Ia mengerling pada Yoongi memberi tanda supaya dhampir itu mengikuti keduanya, memastikan keduanya tetap aman. Kalau-kalau ada serangan hunter, mereka sudah pasti akan melakukan apapun untuk menjaga keselamatan clan.


Dari posisinya Namjoon memperhatikan, melihat Taehyung dan Jungkook pergi keluar ruangan melalui pintu belakang menuju taman kecil di area ini. Tampak Yoongi pun mengikuti mereka membuat Namjoon agak lega.


Soojung masih menangis di pelukan Seokjin. Hatinya kacau balau dan dilanda rasa bersalah. Sebagai keponakan ia belum memberikan apapun untuk pamannya. Soojung bahkan tidak pernah terbuka mengenai hubungannya dengan vampire, menganggap bahwa pamannya tak bisa dipercaya dan mungkin hanya akan menyakiti. Mengapa ia sebegitu berpikiran negatif mengenai pamannya? Dan sekarang… pupus sudah harapannya. Ia tidak akan punya siapa-siapa lagi yang akan menjadi walinya jika ia menikah nanti. Ini terlalu menyedihkan.


Sementara itu Hoseok dan Jimin masih berada di dalam mobil, dengan waspada mengawasi sekitar. Keduanya cukup tegang karena menyadari di tempat ini didatangi hunter yang juga ingin menyampaikan belasungkawa atas kematian Donghyuk. Hoseok dan Jimin hanya berharap semua berjalan baik-baik saja, tak perlu identitas mereka terbongkar.


“Seperti apa paman Jungkook itu, Jimin?” tanya Hoseok, “Kudengar dia merupakan hunter ya?”


Jimin mengangguk. “Yap. Aku selalu mencemaskan Taehyung takut identitasnya terbongkar oleh paman Jungkook sendiri. Tapi paman Jungkook adalah orang sangat baik meski ia merupakan hunter. Dia memperlakukanku dan Taehyung dengan sangat baik.”


Hoseok mengangguk-angguk paham. “Pasti berat untuk Jungkook dan kakaknya mengetahui paman mereka mati karena bunuh diri.”


“Yeah…” Jimin meringis merasa tak percaya hal itu bisa terjadi pada Donghyuk. “Menyayat urat nadinya sendiri di ruang kerja… itu membuat siapapun sangat syok.”


Hoseok baru akan berkomentar lagi saat matanya melihat kedatangan beberapa mobil mewah ke kawasan ini. Matanya menyipit untuk melihat lebih baik dengan mata vampirenya. Tiba-tiba mata Hoseok membesar. “The hell!!”


“Wae?” tanya Jimin heran.


“Itu pasti mobil-mobil sindikat.” tukas Hoseok dengan raut wajah 100 kali sangat serius. Matanya masih dengan waspada mengawasi mobil-mobil itu yang sedang diparkir. “Sepertinya big bos gila itu juga datang.”


Jimin sangat tercengang sekaligus takut. “Ba-bagaimana ini? Kalau dia melihat Taehyung atau yang lain.. aku takut mereka dalam bahaya.”


“Aku tidak akan kaget kalau big boss itu tahu bahwa Jungkook adalah keponakan dari Donghyuk.” tukas Hoseok. Vampire itu buru-buru memakai kaca mata hitam dan topi. “Jimin, kau tetap disini, aku harus masuk dan memberitahu mereka.”


“Tapi aku ingin ikut.”


“Andwae.” elak Hoseok tegas. “Kau sudah pernah diculik oleh mereka. Para mafia itu pasti akan langsung menyadari keberadaanmu dan kau bisa dalam bahaya.”


Jimin meringis. Hoseok memang benar dan Jimin tak dapat menentangnya, bagaimanapun dia tidak ingin semakin memperkeruh suasana.


“Kunci pintu saat aku keluar, Chim.” ucap Hoseok lalu dengan segera bergegas keluar dari mobil. Ia setengah berlari menuju ke dalam. Ia tidak ingin ada pembantaian atau pertumpahan darah di tempat berkabung ini. Perasaan Soojung dan Jungkook yang berduka adalah prioritas utama.


🎃🎃🎃



jangan lupa berikan jejak✨✨