
Jungkook yang tadinya memutuskan akan menyusul Taehyung dan Jimin ke arcade (dia merasa terlalu keras dengan mengatakan ingin pulang untuk beristirahat, Jungkook sebenarnya ingin bersenang-senang juga), ia terkejut ketika melihat di kejauhan Taehyung yang berlari mengejar Jimin.
Jungkook mengerjap-ngerjap bingung. Apa lagi yang terjadi?
Sebenarnya apa yang dua temannya itu lakukan? Dan kenapa Jimin seperti mengejar orang lain juga?
Jungkook bingung apa ia harus mengikuti teman-temannya atau tidak. Namun akhirnya ia mengikuti instingnya dan mengikuti kemana Taehyung telah pergi.
Jungkook sudah tertinggal cukup jauh. Taehyung sudah menghilang, berbelok ke blok lain. Jungkook mencari-cari kemana teman-temannya itu pergi. Ia sempat tersesat dan tidak tahu jalan yang teman-temannya ambil. Hingga ia sampai di gang buntu dan ia mendengar suara beberapa orang dari sana. Ia mengenali suara Jimin dan suara Taehyung di situ.
“Ternyata cuma teman manusia yang bodoh.” ketus Woobin memandangi Jimin yang sudah terkapar di lantai. Woobin mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. “Sudah cukup main-mainnya ya. Aku akan tunjukkan siapa diriku sebenarnya.”
“Andwae!!” seru Taehyung melihat bagaimana Woobin mengeluarkan pisau lalu dengan tangan lainnya ia menjambak rambut Jimin, menarik kepalanya bangun dari lantai.
“Jangan main-main dengan vampire…” bisik Woobin dengan senyum menakutkan pada Jimin. Mata Woobin berubah menjadi warna biru tua, mata aslinya. Jimin sudah tak dapat melawan, pukulan Woobin tadi sudah membuatnya tak berdaya.
Woobin menjilat bibir melihat darah di wajah Jimin. Mungkin ia pun nanti akan menghisap darah manusia ini sebagai cendera mata.
Ada kemarahan besar di dalam diri Taehyung. Melihat bagaimana Woobin telah menyakiti Jimin dan sudah bersiap-siap akan menggorok leher temannya. Dia tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Dia bahkan selalu meneguhkan hatinya bahwa ia ingin melindungi teman-temannya. Tidak masalah jika ia yang disakiti, tapi bukan temannya.
Kedua tangan Taehyung gemetar di lantai. Ia sudah tidak merasakan sakit meski Xiumin sedang menginjak-injak punggungnya. Entah kekuatan datang darimana, Taehyung bangkit bangun dan menghempaskan kaki Xiumin yang menginjaknya.
Dalam hitungan detik, ia langsung memegang kaki Xiumin, memelintirnya membuat vampire itu berteriak kesakitan saat merasakan kekuatan Taehyung mulai meremukkan tulang di kakinya.
Taehyung sudah tidak seperti Taehyung biasanya. Ekspresinya saat ini terlalu menyeramkan. Ia memberi seringai seolah menikmati bagaimana suara tulang terdengar dari kaki Xiumin bercampur dengan jerit kesakitan vampire itu. Salah satu mata Taehyung pun tidak normal, berwarna putih pekat seperti hantu sementara mata lainnya berwarna seperti manusia normal.
“Aaaackkk!!” jerit Xiumin. Dia tak menyangka kalau bayi vampire itu bisa seperti ini, seperti memiliki kekuatan monster. Taehyung mengekeh puas melihat Xiumin kesakitan.
“Xiumin!!” Woobin kaget melihat yang terjadi, begitu cepatnya kondisi telah berbalik.
Woobin berlari ke arah Taehyung untuk menyerangnya, namun Taehyung lebih cepat. Dalam hitungan sepersekian detik, ia menghempaskan Xiumin, melempar vampire itu ke lantai, lalu berbalik dan menghadang Woobin. Seperti bukan apa-apa, Taehyung menahan tangan Woobin yang memegang pisau. Dengan kekuatannya ia meremas pergelangan tangan Woobin membuat vampire itu menjerit karena Taehyung sedang mematahkan tulangnya dengan mudahnya. Terdengar suara tulang yang patah disertai jerit tangis Woobin.
Jimin yang berada di lantai, menahan nafas melihat apa yang terjadi. Taehyung yang sekarang begitu berbeda. Dia sangat menakutkan, sebelah matanya berwarna putih. Dan smirk jahat itu… itu bukan milik Taehyung yang ia kenal.
“Kau mengatakan untuk tidak bermain-main dengan vampire?” tukas Taehyung pelan dengan seringai mengejek, “Sekarang lihat siapa yang kesakitan, hmm?”
Taehyung mencekik leher Woobin, mengangkat tubuhnya ke udara. Wajah Woobin sudah pucat dan membiru. Tentunya Taehyung bisa melakukan hal yang sama pada lehernya seperti pergelangan tangannya yang sudah patah itu.
“Masih menganggapku bayi vampire, eoh?” tukas Taehyung menyeringai menikmati melihat ekspresi lawannya yang kesakitan.
Jimin menelan ludah, ngeri melihat pemandangan itu. “Tae…”
Jungkook berdiri terpaku di balik tembok melihat apa yang terjadi. Ia sudah tiba semenit yang lalu dan sangat syok melihat kejadian di depan matanya. Matanya terbelalak seperti melihat hantu.
Ia melihat bagaimana Taehyung mematahkan kaki dan tangan lawannya dengan mudah seperti mematahkan ranting. Dan sekarang… bagaimana Taehyung mencekik lawannya sambil mengatakan bahwa dia tidak mau dianggap sebagai bayi vampire.
Jungkook mundur beberapa langkah, menutup mulutnya yang terbuka saking tercengangnya. I-itu apakah Taehyung yang ia kenal? Siapakah monster yang ada di sana? Vampire?
Mata Jungkook merah dan basah. Ia tak tahan terus melihat semua scene di depan matanya. Ia langsung berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. Emosi berkecamuk di dalam dadanya.
Sementara itu Jimin sangat ngeri dengan apa yang mau dilakukan Taehyung. Apa temannya itu akan membunuh dua orang itu? Jimin tidak mungkin membiarkannya.
“Taehyung!!” seru Jimin berusaha menghentikan aksi Taehyung. Jimin bangkit berdiri dan kembali memanggil temannya. “Taetae, hentikan!!”
Taehyung menoleh terkejut saat namanya dipanggil. Ia menatap Jimin, mengernyit sedikit. Perlahan sebelah matanya yang berwarna putih kembali normal. Tangannya yang mencekik Woobin pun mengendur. Ia melepaskan Woobin dan vampire itu jatuh ke lantai.
Taehyung terkulai jatuh ke lantai. Kepalanya seperti baru dipukul sesuatu, sangat menyakitkan. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Jimin langsung menghampiri Taehyung, cemas dengan apa yang dialami sahabatnya. Jimin sama sekali tidak peduli kalaupun sebelumnya Taehyung sangat menyeramkan dan sudah mematahkan tulang orang lain.
Woobin dan Xiumin masih mengerang kesakitan di lantai. Pergelangan tangan Woobin benar-benar sudah patah, begitu pula dengan kaki kanan Xiumin. Mereka tidak akan berani lagi melawan Taehyung kalau seperti ini. Taehyung sepertinya memiliki kemampuan strength yaitu kekuatan untuk menghancurkan musuh. Biasanya vampire yang memiliki kemampuan itu punya tangan yang sangat kuat, bahkan bisa mencabik daging dengan tangan kosong.
“Tae…” ucap Jimin cemas sambil memegang pundak sahabatnya, “Gwaenchana?”
Taehyung memegang kepalanya yang sakit. Dia sendiri tidak bisa mengingat apa yang barusan ia lakukan sampai Woobin dan Xiumin sudah terkapar di lantai.
“Ayo…” ujar Jimin dan memapah temannya untuk berdiri, pergi dari tempat itu. “Aku akan mengantarmu pulang.”
.
.
Atmosfer di rumah itu sungguh menegangkan karena betapa sang Alpha sangat marah untuk apa yang terjadi pada bayi vampirenya. Baru beberapa saat yang lalu, Jimin datang membawa Taehyung yang kakinya cedera (karena ditendang oleh Xiumin). Wajah Jimin pun luka-luka dan berdarah. Sebenarnya Taehyung tidak ingin para hyungnya tahu apa yang terjadi padanya, tapi dia tidak punya pilihan lain. Jimin pun butuh diobati. Mereka tidak mungkin ke rumah sakit, Taehyung mungkin akan ketahuan merupakan vampire.
Jimin menceritakan dengan singkat bahwa dia dan Taehyung diserang oleh 2 vampire. Mau tak mau Taehyung juga memberitahukan bahwa yang menyerangnya adalah Woobin dan Xiumin. Namun Jimin tidak menceritakan bagian dimana Taehyung berubah menjadi pribadi kuat dan menyeramkan. Jimin bingung karena Taehyung sendiri mengaku dia tidak ingat dia menyerang Woobin dan Xiumin.
Dengan ini, semakin jelas untuk Jimin… bahwa Taehyung adalah vampire, begitu pula dengan para hyung Taehyung yang ada di rumah ini sekarang.
Jimin menelan ludah melihat ada 4 vampire di rumah itu. Ia sudah pernah bertemu Yoongi dan Seokjin. Sementara dua vampire lainnya baru kali ini ia lihat.
“Mereka sengaja mencari gara-gara.” tukas Seokjin geram. Sejak tadi Alpha itu mondar mandir, mata vampirenya muncul begitu pula dengan taringnya. Ia sangat marah karena anggota clannya diserang.
“Kurasa mereka tidak akan mengganggu lagi…” ujar Jimin. Ia melirik pada Taehyung. Ya, kedua vampire itu tidak akan mengganggu Taehyung lagi, dia yakin setelah apa yang dilakukan Taehyung dengan mematahkan tulang mereka, tentunya mereka tidak berani berkutik.
Taehyung mengangguk-angguk. “Jiminnie sudah mengalahkan mereka dengan telak.”
Jimin menaikkan sebelah alis. Kenapa sekarang namanya yang dibawa-bawa. Justru bukan dia yang mengalahkan dua vampire itu.
Namjoon dan Hoseok menoleh ke arah Jimin, tercengang juga seorang manusia bisa mengalahkan 2 vampire dewasa, meski mereka sudah mendengar bahwa Jimin sudah ditransfusikan darah vampire tapi tetap saja, sangat hebat jika Jimin bisa mengalahkan dua vampire itu seorang diri.
Yoongi juga memandang Jimin. Dia merasakan perubahan emosi di dalam diri Jimin, semacam kebingungan. Apa bukan Jimin yang mengalahkan dua vampire tersebut?
“Kau harus hati-hati, Tae…” ujar Seokjin dan berjongkok di depan bayi vampire itu, “Kalau mereka mengganggu lagi, kau bisa langsung memberitahuku.”
“Aku baik-baik saja…” sahut Taehyung mempoutkan mulut, “Jiminnie yang lukanya lebih parah, Hyung. Dia berusaha melindungiku.”
Jimin sudah ingin mengatakan sesuatu, ingin meralat ucapan temannya itu, namun Seokjin keburu memotongnya. “Trimakasih, Jimin-ssi. Kami berhutang budi padamu.”
“A-anni…” sahut Jimin, “A-aku hanya tak bisa membiarkan Taehyung dilukai seperti itu oleh mereka. Dan sebenarnya aku pun berhutang budi pada kalian mengenai kejadian di basement."
Seokjin dan Yoongi sama-sama memandang Jimin. Ah benar juga… kejadian di basement itu.
Seokjin menghela nafas. “Trimakasih, Jimin-ssi, karena meski kau sudah mengetahui identitas kami namun kau tetap mau berteman dengan Taehyung.”
Taehyung memberi senyum pada Jimin, dia juga berterimakasih akan hal itu. Suasana ini sungguh mengharukan, wajah Jimin sampai merah. “Aku tidak peduli Taehyung vampire atau bukan, aku tetap berteman dengannya.”
Yoongi tersenyum kecil. “Jarang ada manusia sepertimu, Jimin.”
“Kalau begitu berarti aman ya jika Jimin datang ke rumah ini?” tanya Taehyung pada hyungdeul.
“Temanmu selalu disambut baik di rumah ini, Tae.” ucap Namjoon sambil menepuk pundak bayi vampire itu.
“Aku punya beberapa pertanyaan yang masih mengganjal pikiranku.” kata Jimin. Seokjin memandangnya, tahu apa yang akan menjadi pertanyaan manusia itu.
“Ibuku mentransfusikan darah vampire ke dalam tubuhku. Apa artinya?”
Hoseok tersenyum prihatin pada Jimin. Adalah lebih baik menjadi vampire karena venom dibandingkan ditransfusikan darah vampire. Itu hanya membuat manusia tersebut berada di tengah-tengah, vampire tapi bukan; manusia tapi butuh asupan darah vampire terus menerus.
Seokjin melirik Yoongi. Ia merasa dhampir itu yang pantas menjawabnya. Yoongi sudah punya pengalaman di bidang kedokteran, pastinya Yoongi tahu jawaban yang tepat.
“Mungkin aku bisa sedikit menjelaskannya, Jimin-ah…” ujar Yoongi. Ia menaruh perban dan obat merah yang tadi ia pakai di meja. Ia berdiri dan memandang manusia itu. “Aku tidak akan meragukan kasih sayang seorang ibu. Aku tidak ingin kau berpikiran bahwa ibumu merencanakan sesuatu yang jahat padamu. Kupikir… dia punya alasan. Darah vampire tidak hanya dipercaya bisa menjadikan manusia awet muda dan panjang umur… Darah vampire juga bisa menyembuhkan penyakit kronis. Kau tahu, semacam ritual cuci darah bagi penyakit gagal ginjal. Mungkin itu paling simple dalam menjelaskannya.”
Mata Taehyung membesar. Ia menatap Jimin dengan kuatir, apa temannya itu punya penyakit kronis?
Jimin masih membalas tatapan Yoongi. Dhampir itu mungkin benar, ibunya tidak mungkin sengaja ingin melakukan yang jahat bagi dirinya. Ia berusaha mengingat-ingat jika dirinya punya penyakit seperti itu.
Yoongi menghela nafas pelan. “Sepertinya darah vampire bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang berhubungan juga dengan darah, seperti kerusakan ginjal, leukimia, limfoma dan sebagainya.” Melihat wajah tegang Jimin itu, Yoongi cepat-cepat menambahkan, “Kau tidak perlu langsung paranoid, kita bisa mengecek kondisi kesehatanmu nanti kalau kau mau.”
Jimin setengah menunduk, tangannya meremas celananya erat-erat. “Setahun yang lalu Eomma memang pernah membawaku check up ke rumah sakit, tapi Eomma tidak pernah mengatakan masalahnya. Dia bilang hanya check up biasa.”
Seokjin dan Yoongi bertukar pandang. Hoseok juga mengangguk-angguk, kalau begitu penjelasan Yoongi sudah cukup masuk akal. Jimin sepertinya ada penyakit darah, itu sebab ibunya yang merupakan mantan dokter berusaha menyelamatkannya. Namjoon melipat tangan di depan dada, ternyata manusia sudah lebih maju sampai mengetahui khasiat darah vampire.
Taehyung sendiri langsung berdiri dan merangkul sahabatnya. “Jimin-ah…”
Jimin memberi senyum sedih. “Awalnya aku berpikir ibuku berusaha mengubahku menjadi vampire, Tae, tapi sepertinya bukan begitu.”
“Tapi juga tidak sesimple itu.” ucap Seokjin menambahkan, “Darah vampire mungkin bisa menyembuhkan penyakit mematikan tapi itu membuat penggunanya akan ketergantungan dengan darah vampire. Vampire yang dikurung di basement rumahmu mengatakannya padaku. Hampir setiap 2-3 minggu sekali darahnya diambil.”
Yoongi mengangguk. “Sepertinya memang begitu, penggunanya harus rutin mendapat darah vampire.”
Mata Jimin membola. Dia harus rutin ditransfusi darah vampire?
“Tapi aku akan berusaha mencari penangkalnya.” kata Yoongi berusaha menenangkan perasaan Jimin yang berkecamuk. “Selama menunggu penangkalnya, aku tidak keberatan darahku kutransfusikan padamu, Jimin-ssi.”
“Aku juga bersedia memberikan darahku!” ucap Taehyung cepat. Dia juga ingin membantu sahabatnya.
“Kau masih terlalu muda, Tae…” kata Namjoon menggeleng, “Sementara sebelumnya Jimin mendapatkan darah vampire dewasa. Aku takut terjadi penolakan dalam tubuh Jimin.”
Taehyung mempoutkan bibirnya dan Jimin meremas bahu sahabatnya dengan gemas. “Gomawo, Taetae. Dan aku pun tidak tahu bagaimana membalas kebaikan kalian semua. Trimakasih banyak.”
Seokjin membalas dengan senyum. "Karena kau sudah mengetahui identitas kami, kami minta supaya kau bisa merahasiakannya ya."
"Tentu saja." sahut Jimin. Dan ini artinya ia pun harus menjaga rahasia Taetae dari Jungkook.
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, comment dan vote yaa.
Gomawo