
Author update lagi di hari yang sama meski malam malam 😅 mudah-mudahan sukaa.
Cuss selamat membaca..
Jungkook bertopang dagu sejak tadi. Moodnya masih sama seperti minggu lalu. Kebingungan serta ketidakpastian membuat Jungkook tidak bergairah hidup. Dia mengalami fase dimana ia tidak tahu apa yang harus ia pilih. Taehyung adalah temannya, orang pertama yang membuat Jungkook nyaman dan mau membuka diri. Tapi sayangnya, orang yang ia anggap berarti itu adalah vampire. Jungkook tak dapat mentolerir vampire dan sifat nature-nya. Itu adalah komitmennya sejak dulu. Lalu bagaimana ia bisa melakukan seperti itu pada Taehyung? Apa komitmennya ini sedang diuji?
“Jungkook, kau kenapa?” tanya Jimin. Saat ini Taehyung sedang ke toilet dan mereka baru saja menyelesaikan makan siang bersama.
Jungkook melirik Jimin. Haruskan ia menceritakan keresahannya pada Jimin? Bukankah seharusnya Jimin juga melihat bahwa Taehyung itu vampire? Tapi sepertinya itu tidak mengusik hidup Jimin karena lihatlah temannya ini malah semakin lengket pada Taehyung.
“Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu ya akhir-akhir ini?” tambah Jimin.
“I’m okay.”
“Bro, kalau ada yang ingin kau ceritakan kau bisa mengandalkanku, oke?” Jimin memberi senyum tipis. Sebenarnya Jimin juga merasa tidak enak karena harus menyembunyikan banyak hal dari Jungkook. Tapi Jimin berjanji, jika saatnya sudah tepat nanti, Jimin akan menjelaskannya pada temannya itu.
“Atau kita bisa mengobrol sambil minum soju layaknya pria dewasa~!!” Jimin merangkul bahu Jungkook dan mendekatkan kepala mereka sambil tertawa kesetanan.
“Aishh…” tukas Jungkook berusaha menjauhkan temannya namun tak bisa. “Minum soju denganmu yang ada malah tidak bisa merilekskan pikiran.”
“Ya, jangan lupa aku ini Jimin-ssi, aku pendengar yang baik asal kau tau.”
Jungkook memutar bola mata. “Yea, yeah… pendengar yang baik sampai tertidur maksudmu?”
“Ya, kau masih membahasnya?” tukas Jimin sedikit kesal. Ia berusaha menackle leher Jungkook. Ia tak terima karena Jungkook kembali membahas saat pertama kali ia menginap di rumah Jungkook… Saat itu mereka sedang bermain game sambil Jungkook menceritakan mengenai list game favoritnya, namun tak lama Jimin malah tertidur.
Jungkook hanya mengekeh saja. Jimin lega karena melihat temannya sudah sedikit lebih rileks meski harga dirinya harus menjadi taruhannya.
Bersamaan dengan itu Taehyung kembali. Ia duduk di depan mereka sambil memandang keduanya dengan heran. Ia cukup terkesan karena melihat Jungkook yang sudah lebih rileks dan sedang bercanda dengan Jimin.
“Apa yang kalian obrolkan?” tanya Taehyung dengan boxy smilenya. Kalau bisa pun dia ingin membuat Jungkook terus tersenyum seperti itu.
“Anni, bukan apa-apa.” sahut Jungkook cepat-cepat. Ekspresinya kembali datar dan berusaha menjauhkan Jimin yang masih berusaha mengajaknya bercanda. Jungkook merasa tidak nyaman jika dia harus berinteraksi kembali dengan Taehyung. Entahlah… Jungkook memiliki egonya sendiri dimana ia merasa apa yang dilakukannya pada Taehyung adalah pantas diterima oleh vampire yang sudah membohongi dirinya! Bukankah begitu?
Taehyung tentu saja sadar. Sikap Jungkook akhir-akhir ini semakin dingin padanya, tidak tersenyum atau tertawa padanya seperti dulu lagi. Apa Jungkook kini mulai menyadari bahwa dirinya hanya beban saja, bertanya ini itu mengenai tugas perkuliahan? Dan setelah menginap di tempat Jungkook pun, suasana malah semakin awkward di antara mereka. Taehyung mulai merasakan kecanggungan campur takut, jangan-jangan Jungkook memang mencurigainya sebagai vampire? Kalau tidak demikian, lantas apa alasan sikap Jungkook ini, ditambah dengan pembicaraan aneh Jungkook mengenai silver.
Taehyung berusaha memberi senyum pada Jungkook namun temannya itu memalingkan wajah, seolah menghindarinya.
****
Soojung sedang membuat kopi di dapur malam itu. Ia membutuhkan kafein untuk menemaninya mengerjakan tugas kuliah. Ini sudah lewat tengah malam, lampu sudah dimatikan, hanya lampu di dapur saja yang masih menyala.
Samar-samar Soojung mendengar suara Pamannya yang berbicara di telepon, sepertinya berasal dari kamar Pamannya. Soojung tidak dapat menangkap pembicaraan itu namun ia jadi berpikir bahwa sepertinya pekerjaan hunter cukup berat juga ya, bahkan di tengan malam seperti ini masih harus mengurus pekerjaan. Seorang hunter harus siap sedia kapanpun dibutuhkan. Pernah sekali waktu, pamannya ditelepon menjelang subuh dan diminta untuk pergi ke kota lain karena ada indikasi kehadiran vampire di kota tersebut. Mungkin Soojung bisa menyebut pekerjaan hunter merupakan pekerjaan mulia ya. Mulia karena hunter bekerja mempertaruhkan nyawa untuk melindungi manusia dari vampire.
Setelah beberapa saat, terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang mendekati dapur. Soojung menoleh dan melihat pamannya yang berjalan menuju dapur.
“Oh Soojung-ah? Belum tidur?” tanya Donghyuk.
“Membuat kopi, Paman..” sahut wanita itu, “Apa Paman mau?”
Donghyuk menggeleng-geleng. “Anni. Aku ke dapur untuk mengambil air minum. Aku harus tidur dengan nyenyak malam ini, Soojung-ah.”
Soojung memberi senyum. “Sepertinya ada kabar baik ya?”
Setelah mengambil air minum dari kulkas, Donghyuk membalikkan badan pada keponakannya. “Nah itu juga yang ingin kukabarkan padamu.”
“Wae?”
“Besok malam akan ada buruan besar. Paman membutuhkan penembak jitu sepertimu untuk membantu kami.”
“Wahh… buruan besar. Bukannya ini jarang-jarang ya? Aku merasa sangat terhormat jika diperbolehkan ikut.”
Donghyuk menyesap minumnya. “Kau benar. Aku pun sudah lama tidak mendapat buruan besar. Paling mengejar 1 atau 2 vampire… Sementara kudengar jumlah vampire di buruan besok mencapai lebih dari 10 vampire.”
Soojung tercengang sampai menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tak bisa membayangkan seperti apa suasananya besok malam.Tentu saja semua vampire menakutkan dan jahat bukan? “Daebak. Banyak sekali.”
“Itulah… kami membutuhkan banyak penembak jitu karena tidak mungkin menyerang dari jarak dekat. Berkelahi dengan satu vampire saja sudah mempertaruhkan nyawa apalagi bertemu dengan lebih dari 10 vampire.” Donghyuk memperhatikan keponakannya baik-baik. “Aku tidak akan memaksamu jika kau takut, Soojung-ah. Pekerjaan ini sebenarnya sangat berbahaya tapi asalkan kita dilengkapi dengan perlengkapan silver dan menembak dari jarak jauh sepertinya aman.”
“Aku tentu saja mau, Paman,” sahut Soojung cepat-cepat. Bukankah ia selalu menanti kesempatan ini dimana ia bisa membalaskan dendamnya terhadap vampire? “Aku harus mempraktikkan kemampuanku dalam menembak bukan? Apalagi tujuanku berlatih adalah supaya aku bisa membunuh vampire dalam momen seperti ini.”
Donghyuk tersenyum, puas melihat semangat keponakannya. “Itu bagus.”
“Oh ya ngomong-ngomong Paman dapat info buruan besar darimana?”
“Kami punya mata-mata,” Donghyuk memberi seringai, “Yang jelas untuk buruan besar besok akan ada kurang lebih 20 penembak yang akan membidik dari kejauhan.”
“Wahhh aku sangat excited sekali. Besok kita akan menyerang sarang vampire?”
Donghyuk tersenyum tipis. “Bukan sarang. Tapi seperti semacam pertemuan yang dilakukan oleh vampire, entah apa yang mereka bahas. Saat mereka lengah kita akan langsung menembaki mereka.”
“Di pinggir hutan bambu, jauh dari keramaian.” Donghyuk memberi smirk. “Besok sebelum penyerangan kita akan ada brieffing untuk menentukan pembagian titik lokasi. Tentunya setiap kita harus menembak di saat yang bersamaan supaya tidak ada vampire yang lolos dan malah berbalik menyerang kita.”
Soojung menelan ludah. Untuk hal itu dia sedikit takut. Soojung memang selalu menanti kesempatan ini, tapi dia pun sebenarnya tidak tahu harus bagaimana kalau ada vampire yang menyerangnya. Apa dia bahkan bisa bertahan ketika berkelahi satu lawan satu? Soojung tidak seperti Jungkook yang jago bertinju dan berkelahi. Soojung hanya pandai menembak dan memanah saja, selebihnya dia seperti wanita biasa kebanyakan.
“Tenang saja, Soojung. Kita akan diperlengkapi dengan senjata silver. Kalau pun vampire menyerang balik, kita masih punya kesempatan untuk mengalahkan mereka.”
“Kalau vampire berhasil dibunuh, apa kita akan membakar tubuh mereka?” tanya Soojung takut-takut.
Donghyuk malah tertawa mendengar pertanyaan lugu keponakannya. “Kita akan membicarakan semuanya di brieffing besok, Soojung-ah. Aku pun sudah meminta orang-orangku untuk menyiapkan peralatan untukmu.”
Soojung mengangguk. Dengan demikian berakhirlah pembicaraan itu. Pamannya pergi kembali ke kamar sementara Soojung masih termenung di sana, memikirkan buruan besar besok. Kenapa perasaannya tidak enak ya.
****
Esok sorenya saat Jungkook pulang dari kampus, ia melihat kakak dan pamannya sedang bersiap-siap seperti akan pergi. Soojung tengah memakai sepatu boot tinggi selutut sementara pamannya sedang memasukkan senjata-senjata silver ke dalam tas.
“Kalian mau kemana?” tanya Jungkook polos.
“Jungkook-ah, kami akan pergi dan mungkin akan pulang malam sekali,” ujar Donghyuk, “Makan malam sudah disiapkan jika kau lapar ya.”
Jungkook mengernyit heran. Jika Pamannya akan pergi bekerja, itu biasa, tapi mengapa Noonanya seolah akan ikut pergi dengan paman? Kakaknya bahkan memakai pakaian serba hitam yang mirip dengan yang dipakai pamannya. Pakaian hunter.
Soojung mengerling pada adiknya, mengerti kalau saat ini Jungkook pasti bingung. “Noona akan ikut dengan Paman untuk berburu vampire, Kook.”
“Mwo?” Jungkook sangat tercengang.
Donghyuk memberi senyum sambil menepuk bahu Jungkook. “Ada buruan besar malam ini. Para hunter membutuhkan banyak penembak jitu supaya bisa mengalahkan vampire.”
Mata Jungkook membesar terkejut. “Ta-tapi Noona bukan hunter. Itu bahaya kan?”
“Jumlah kami banyak, Kook,” ujar Donghyuk, “Kami hanya tinggal memastikan vampire tertembak tepat sasaran.”
Jungkook mash sangat syok. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya. Jika dulu ia sangat menanti-nantikan saat dimana salah satu anggota keluarganya bisa membalaskan dendam pada vampire, tapi kenapa sekarang dia begitu kuatir?
“Ka-kalian akan pergi kemana?” tanya Jungkook dengan nafas tercekat.
“Tempat yang terpencil,” sahut Kakaknya, “Ada sekelompok vampire di sana.”
“Maaf kalau kau tidak bisa kuajak, Jungkook-ah,” ujar Pamannya sambil menepuk pipi Jungkook pelan, “Meski sebenarnya kau pun sangat ingin membalaskan dendam pada vampire bukan?”
Jungkook berdiri beku di sana. Tidak, bukan itu yang ia pikirkan sekarang. Jika ingin balas dendam, dia bisa melakukannya pada Taehyung saja bukan?
“Doakan kami supaya kami bisa membasmi banyak vampire, Jungkook-ah,” kata pria separuh baya itu, “Dengan demikian kita bisa membalaskan apa yang vampire perbuat pada orangtuamu.”
Jungkook tak sanggup mengatakan apa-apa. Ia berdiri beku sementara Paman dan Kakaknya sudah pergi dari rumah itu. Jungkook berusaha berpikir keras, apa kemungkinan Taehyung termasuk dalam buruan besar itu? Vampire di Seoul tidak banyak bukan, dan Pamannya juga sering mengatakan bahwa sudah jarang hunter bisa menemukan vampire. Lalu kenapa tiba-tiba bisa ada buruan besar? Berapa jumlah vampire yang akan dibasmi malam ini?
Jungkook mengepalkan tangan kuat-kuat. “Untuk apa aku harus peduli…” Matanya merah dan basah. “Vampire pun tidak pernah memikirkan perasaan manusia yang mereka bunuh.”
Jungkook berlari menuju kamarnya, sudah tak mau peduli lagi. Ia melempar tasnya dengan kesal ke lantai, ingin rasanya berteriak kencang-kencang. Sementara dendam yang berkobar di dalam dirinya belum terbalaskan, namun ada rasa takut di hati kecilnya.
Jungkook merebahkan badan ke ranjang, menutupi wajah dengan bantal. Dia tidak perlu peduli vampire manapun yang dibunuh para hunter. Sejak dulu dia tidak pernah peduli. Dia malah berdoa supaya semua vampire mati di muka bumi, lantas apa yang sekarang mengganggunya?
Terlintas di benaknya wajah innocent Taehyung. Temannya itu meskipun vampire tapi sangat innocent… dia bahkan tampak lemah di antara manusia. Jika dalam buruan besar itu ada Taehyung… temannya itu pasti yang pertama tertembak… dan mati.
Jantung Jungkook seperti berhenti berdegup jika membayangkannya. Ia langsung duduk bangun, menghapus imajinasinya jauh-jauh. Kalaupun Taehyung memang vampire, tapi jika harus dibunuh dengan sadis oleh hunter.. belum bisa diterima sepenuhnya oleh Jungkook. Ia selamanya akan merasa bersalah jika benar itu terjadi.
Jungkook menelan ludah. Haruskah ia mengeceknya?
Pria itu mengambil tasnya yang berada di lantai, mencari-cari dimana ponselnya berada. Ini terlalu berlebihan jika dia harus mengontak Taehyung tiba-tiba, padahal beberapa hari ini ia banyak mendiamkan Taehyung. Tapi rasa penasaran Jungkook lebih besar dan dia yakin tidak akan bisa tidur jika belum memastikan kekuatirannya ini.
Jungkook pun menelepon Taehyung. Lama ditunggu, tak ada jawaban sama sekali. Jungkook menggigit bibir cemas, heran mengapa Taehyung tidak mengangkatnya.
Tak menyerah, Jungkook terus menelepon berkali-kali… dan Taehyung masih tidak menjawab teleponnya.
Jungkook menatap ponselnya dengan mata membesar. Apa jangan-jangan Taehyung termasuk dalam buruan vampire malam ini? Aishh, dan bodohnya kenapa ia tidak menanyakan dengan detail mengenai lokasi perburuan itu?
Sekali lagi Jungkook menelepon Taehyung, berharap temannya mengangkatnya. “Ayolah… kenapa kau tidak mengangkatnya..!!” tukasnya kesal.
Rasanya sudah ingin melempar ponsel ke tembok. Jungkook berusaha menenangkan dirinya, berusaha memberitahu dirinya sendiri bahwa Taehyung mungkin tidak termasuk dalam buruan besar.
Tapi bagaimana kalau ternyata ia juga ada di sana?
Dengan kepanikan yang semakin besar, Jungkook pun memilih menelepon Jimin. Ia harus menanyakannya, ia harus memberitahu Jimin mengenai kepanikannya ini, mengenai sahabat mereka yang sedang dalam bahaya.
🎃🎃
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya