
🎃 Jangan lupa berikan like dan comment 🎃
Pagi itu Seokjin tak sengaja berpapasan dengan Soojung. Seokjin tidak tahu apa yang merasukinya hingga ia mengajak Soojung untuk berbicara nanti sepulang sekolah mengenai ‘vampire’. Oh hell.
“Miss Soojung…” ucap Seokjin menahan wanita itu.
Wanita itu berhenti berjalan dan membungkuk menyapa Seokjin.
“Kalau kau mau nanti sore usai kuliah kita bisa membicarakan mengenai… vampire yang ingin kau ketahui?”
Mata Soojung membulat menatap Seokjin. Dosennya ini seriusan? “A-aku… maksudku, kalau Mr. Kim tidak sibuk…”
“Yap, nanti sore jam setengah 6, bagaimana?” tanya Seokjin memberi senyum. Sudah kepalang tanggung, Seokjin tidak akan memedulikan bagaimana nanti ia harus memberi informasi mengenai vampire. Dia hanya membiarkan dirinya yang terpikat dengan wanita pembenci vampire ini.
Soojung menggigit bibir. Oh man. Apa-apaan ini.
“Baik, Mr. Kim.”
“Ok then.” sahut Seokjin renyah, “Aku akan menunggumu di tempat parkir.”
Soojung mengangguk gugup. Ia berharap tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka ini! Entah kenapa Soojung malu sekali.
“Bye, Soojung…” ucap Seokjin terakhir kalinya lalu pergi.
Soojung memejamkan mata erat-erat. Astaga apakah benar yang ia lakukan ini? Apa jangan-jangan dia tampak seperti mahasiswi penggoda? Apa dosennya itu sudah salah tangkap?
Soojung menghela nafas keras-keras. Dia sudah tidak akan peduli lagi. Dialah yang memulai semua ini. Setelah obrolan sore nanti, Soojung akan menjadi mahasiswa normal lainnya, dia berjanji.
Tepat sesuai lokasi janjian, Soojung sudah berada di sana sejak beberapa menit sebelum pukul setengah 6. Bagaimanapun juga Soojung tidak ingin dosennya yang menunggunya, yang menginginkan pertemuan ini awalnya adalah Soojung. Untuk membicarakan tentang vampire.
“Hei…” ucap Seokjin menyapa mahasiswinya. Seokjin memberi senyum ramah pada wanita itu.
Soojung mengangguk sopan. Semoga ini tidak membuat canggung.
“Kita mungkin bisa mengobrolkannya di kafe?” usul Seokjin ringan.
“Oh, baik, Mr.Kim…”
“Aku bawa mobil, kita akan ke kafe menggunakan mobilku.” lanjut Seokjin. Kenyataannya Seokjin sudah menanti momen ini. Entah kenapa, sejak awal melihat Soojung, dia memang sudah tertarik. Ada ketertarikan tidak biasa dalam diri Seokjin.
Soojung akhirnya mengikuti dosennya itu menuju mobil yang dimaksud. Dia menelan ludah saat melihat mobil jeep Seokjin, itu terlihat sangar dan mengintimidasi, Soojung tak menyangka dosennya ini menyukai mobil jeep.
Seokjin menoleh, menyadari keterkejutan wanita itu. “Haha, mian, kau kaget dengan mobilku? Aku menyukai sesuatu yang unik.”
“Mobil Anda sangat keren, Mr. Kim.” ujar Soojung berani, karena memang demikian, jeep Seokjin sangat gagah.
Keduanya pun masuk ke dalam, Soojung berusaha untuk tidak gugup, dia adalah wanita yang selalu cuek dan tidak canggung-an, tapi kenapa sekarang ia merasa cemas? Soojung gelisah dia membuat suasana awkward.
Sebaliknya, Seokjin tampak merasa nyaman dan santai. Ia membuka topik pembicaraan mengenai bagaimana perkuliahan Soojung. Wanita itu berterimakasih karena Seokjin berhasil membuat suasana tidak terlalu canggung.
Mereka berdua sampai di sebuah kafe. Seokjin mengajak Soojung duduk di dalam ruangan, menghindar dari keramaian. Telinga Seokjin sangat sensitif terhadap suara karena memang itulah telinga vampirenya. Seokjin tidak mau obrolan orang lain mengganggu pembicaraan mereka.
Setelah selesai memesan minuman dan snack, Seokjin pun membuka pembicaraan mengenai vampire.
“Sebagai seorang wanita, kau cukup konsisten dalam ketertarikanmu terhadap vampire.” Seokjin memandang Soojung lekat-lekat. “Kurasa itu sudah lama?”
Soojung mengangguk-angguk. “Mungkin semenjak aku kecil?”
Seokjin tersenyum. “Saat kecil seharusnya kau memikirkan barbie, bukan vampire.”
Wanita itu tertawa pelan. “Aku memikirkan keduanya, Mr. Kim. Dan aku minta maaf kalau ketertarikanku ini membuatku harus menyita waktu istirahatmu.”
“Anniya.. anniya.. Ini seperti memberi pelajaran tambahan bukan? Aku tentunya tak akan hanya membicarakan vampire, tapi juga mata kuliahku padamu, Miss Soojung.”
Soojung mendengus tertawa. Baguslah dosennya ini mencairkan suasana dengan sangat baik. Soojung sudah tidak keberatan jika pun menceritakan mengenai masa lalunya.
“Orangtuaku mati dibunuh oleh vampire, Mr. Kim… mungkin itu sebabnya sejak kecil aku terus memikirkan vampire.”
“Tidak, Mr. Kim. Aku tidak menyaksikan orangtuaku dibunuh vampire. Pamanku mengatakan bahwa orangtuaku mati dibunuh oleh vampire. Sekarang aku dan adikku hidup bersama Paman.”
Seokjin speechless. Sudah ia duga bahwa ketertarikan Soojung pada vampire adalah karena dendam. Soojung mungkin ingin membasmi vampire karena vampire yang terlebih dulu merenggut nyawa orangtuanya. Seokjin tidak mengerti mengapa masih ada vampire yang menghisap darah manusia hingga meninggal, bahkan dua korban sekaligus? Ini bukan jaman 5 dekade lalu dimana vampire masih menyerang manusia demi menghisap darah.
“Ja-jadi itu sebabnya kau ingin tahu lebih banyak mengenai vampire? Karena kau ingin membalaskan dendam?” tanya Seokjin setelah beberapa lama terdiam. Apalah jadinya jika Soojung tahu bahwa pria di hadapannya merupakan vampire.
Soojung menggeleng. “Saat kecil aku tidak punya bayangan bagaimana sosok vampire itu, Mr. Kim. Aku menganggapnya sebagai hantu tapi Pamanku selalu meyakinkan kami bahwa vampire berwujud seperti manusia.”
“Pamanmu tahu banyak mengenai vampire.” Seokjin setengah mendengus, bagaimana mungkin seorang paman dengan brutalnya memberitahu bahwa yang membunuh kedua orangtua Soojung adalah vampire? Soojung saat itu masih kecil, tidak seharusnya diberitahukan hal-hal demikian, bisa saja menyebabkan trauma, ketakutan atau bahkan dendam seperti sekarang yang dimiliki Soojung.
“Pamanku seorang hunter.” ucap Soojung membuat Seokjin nyaris tersedak. Soojung tersenyum tipis. “Dia memberitahu banyak hal mengenai vampire padaku dan adikku… tapi itu hanya sebatas pengetahuan dari sisinya sebagai hunter. Itu tidak membuatku puas. Makanya aku membaca buku-buku mengenai vampire, untuk melengkapi rasa penasaranku.”
Seokjin mengernyit. Mereka terdiam beberapa saat, membiarkan pelayan menyajikan minuman dan makanan di meja mereka. Setelah menggumamkan terimakasih, Seokjin bertanya, “Apa yang membuatmu penasaran, Miss Soojung?”
Soojung agak ragu, apakah tepat ia mengobrolkan hal ini dengan dosennya. “Kau adalah dosen Sejarah, jadi aku ingin tahu apa ada hal yang kau ketahui mengenai sejarah vampire?”
Seokjin mengerjap-ngerjap, pura-pura tidak mengerti. “Sejarah apa?”
“Maksudku… mengenai mengapa vampire muncul, mengapa manusia berubah menjadi vampire… A-atau… bagaimana jika seseorang dihisap darahnya oleh vampire?”
Seokjin mengamati Soojung, menyadari bahwa wanita itu sedang merasa insecure, sepertinya pertanyaannya ada kaitannya dengan pengalaman pribadi.
“Jujur, aku tidak tahu banyak. Banyak sumber yang mengatakan bahwa vampire adalah mayat yang dihidupkan, ada yang bilang mayat yang dilangkahi kucing akan mengubahnya menjadi vampire…” Seokjin mendengus pelan, semua yang barusan ia ucapkan adalah hoax semata.
“Itu berita picisan…” sahut Soojung sambil menaikkan sebelah alis, menahan senyum.
Akhirnya Seokjin tertawa lirih. “Yeah, kau benar… picisan. Aku adalah guru sejarah, aku mungkin sudah membaca dan mempelajari banyak hal mengenai sejarah peradaban dunia, tapi untuk vampire tidak banyak hal yang kudengar.”
Soojung mengangguk-angguk dan meminum boba-nya.
“Kau pernah mendengar mengenai Kamp Konsentrasi Auschwitz?” tanya Seokjin. Soojung mengernyit dan mengangguk serius, Soojung pernah mendengarnya saat SMA ketika membahas sejarah Nazi.
“Nazi membuat beberapa kamp konsentrasi dan kamp pemusnahan di wilayah Auschwitz. Keadaan di kamp sangat memprihatinkan, tuntutan kerja paksa yang berat, ditambah dengan gizi dan kesehatan yang buruk, menyebabkan tingginya tingkat kematian di antara para tahanan. Belum lagi ada tentara melakukan tes gas beracun di sana yang membunuh ratusan orang…” Seokjin menatap Soojung lurus-lurus, “Dan kudengar ada yang mengatakan bahwa darah para korban sampai kering, habis dari tubuh mereka.”
Mata Soojung membola. Badannya condong ke depan karena betapa tertariknya mendengar penuturan Seokjin.
Dosen itu tersenyum tipis. Yang dikatakannya tidak bohong. Seokjin sempat di sana beberapa bulan, melihat sendiri kekejian yang dilakukan sesama manusia. Para vampire tidak ingin membuat kota itu semakin menderita dengan menghisap darah manusia yang masih hidup, para vampire menghisap darah manusia yang sudah mati. Kerap mereka membantu manusia lain yang hidup untuk melarikan diri dari tawanan tentara.
“Vampire melakukannya?” tanya Soojung.
Seokjin mengangkat bahu. “Semua yang tercatat di dalam sejarah kita adalah mengenai manusia, bukan vampire, tapi itu adalah tambahan informasi yang kudapat yang mungkin bisa kau kaitkan dengan vampire?”
Vampire bisa menutupi jejak mereka dari sejarah manusia. Setiap vampire memiliki kekuatan masing-masing yang bisa menolong mereka untuk menghilangkan jejak. Contohnya Seokjin, kemampuan mind control-nya membuatnya bisa mengendalikan memori manusia mengenai vampire.
“Dan jika kau penasaran mengenai manusia yang digigit vampire…” lanjut Seokjin dengan berani, “Aku tidak pernah mendengar sejarah mengenai hal itu. Artinya… tidak ada dampak serius ketika vampire menghisap darah manusia.”
“Apa maksudmu, Mr. Kim?” tanya Soojung dengan mata tajam.
“Maksudku… mungkin itu seperti manusia yang kehilangan darah, tapi kudengar tidak menyebabkan kematian.” Seokjin merasa jika ada vampire yang menghisap darah manusia sampai mati, mungkin vampire itu merupakan psikopat dan monster? Terlalu tamak hingga minum terlalu banyak.
“Tapi orangtuaku meninggal karena dibunuh vampire…” ucap Soojung perlahan.
“Mati dibunuh atau mati karena dihisap darahnya?” tanya Seokjin penasaran.
“Kupikir kedua hal itu sama?”
Seokjin ingin sekali memberitahukan segalanya, bahwa dua hal itu tentu saja sangat jauh berbeda. Tapi Seokjin tidak mungkin memberitahukan banyak hal mengenai vampire, identitasnya mungkin akan terbongkar.
“Entahlah… menurutku itu hal yang berbeda, Miss Soojung, meski aku belum pernah membaca berita mengenai manusia yang mati kehabisan darah karena vampire.”
Soojung menggigit bibir, dia juga memang belum pernah mendengarnya, atau mungkin itu pernah terjadi dulu sekali dan di belahan dunia lain, entah, Soojung juga tak tahu. Tapi sepertinya dia harus menanyakannya pada pamannya, mengenai kematian orangtuanya.
🎃🎃
Mengenai kamp konsentrasi yang disebutkan di chapter ini memang benar ada dan terjadi, kecuali yang mengenai vampire ya.
Jangan lupa berikan like dan comment. Gonawo😄