
mari kita lanjutkan episode novel ini ya, masih berfokus pada peristiwa pasca serangan hunter sebelumnya.
# Vampire
Nama : Seokjin
Warna mata : merah maroon
Kekuatan vampire : mind control (memanipulasi memori orang lain)
Nama : Taehyung
Warna mata : silver/ abu-abu
Kekuatan vampire : unknown
Nama : Namjoon
Warna mata : hijau
Kekuatan vampire : weather control (mengendalikan cuaca)
Nama : Hoseok
Warna mata : kuning
Kekuatan vampire : unknown
# Dhampir
Nama : Yoongi
Warna mata : hitam
Kekuatan vampire : empath (merasakan emosi dan energi orang lain)
# Manusia
Nama : Jungkook
Background : dendam pada vampire karena orangtuanya terbunuh
Nama : Soojung
Background : membenci vampire karena pernah menjadi korban dihisap darah oleh vampire
Nama : Jimin
Background : punya penyakit kronis, membutuhkan transfusi darah vampire secara berkala
🎃🎃
Jungkook menggenggam ponselnya erat-erat. Sejak semalam ia menghubungi kakak perempuannya tapi tak pernah ada jawaban. Ponsel Soojung tak aktif membuat Jungkook sangat kuatir apa kakaknya baik-baik saja. Ia hanya berharap kakaknya itu tidak diculik vampire atau lebih parahnya dibunuh oleh vampire seperti nasib orangtua mereka. Jungkook menahan rasa marah di dalam hatinya. Semua ini karena vampire! Semua karena vampire ada di dunia ini.
Mata Jungkook sudah merah, rasanya ingin mencaci maki seseorang. Dia berada di ruang kelasnya, sementara mahasiswa lain sedang mengobrol santai, ceria karena cuaca hari ini begitu baik serta tidak ada tugas, perasaan Jungkook kebalikannya. Bagaikan surga dan neraka.
Beberapa saat kemudian Taehyung masuk ke dalam kelas. Setelah semalam menginap di rumah Jimin, Taehyung langsung berangkat ke kampus, dia tidak punya klu sama sekali mengenai tragedi hunter x vampire semalam, ataupun mengenai suasana hati Jungkook sekarang.
Taehyung melihat Jungkook dan menggigit bibir. Apa Jungkook masih marah padanya? Tapi Taehyung merasa ia tidak punya salah apapun, justru sekarang ia butuh penjelasan dari Jungkook apa sebenarnya yang terjadi. Dan kalau ternyata Taehyung bersalah, vampire itu bersedia minta maaf. Meski semalam ia menangis dan kecewa akan sikap Jungkook tapi Taehyung tetap tidak mau kehilangan temannya. Ia ingin terus berteman bersama Jungkook.
Dengan ragu dan sedikit takut, Taehyung mendekati meja Jungkook. Wajah temannya itu betapa sangat serius dan seram. Taehyung semakin tidak mengerti mengapa wajah Jungkook sudah tampak marah seperti itu.
Taehyung ingin mengambil duduk di sebelah Jungkook namun tertegun saat melihat di kursi yang biasa ia tempati itu sudah bertengger tas Jungkook. Taehyung sampai kehilangan kata-kata. Apa ia sudah tidak bisa duduk di sebelah temannya?
“J-Jungkook…” gumam Taehyung getir memandang temannya dengan canggung.
“Kau cari bangku lain.” sahut Jungkook tanpa memandang wajah Taehyung.
Taehyung begitu terkejut. Ia tidak diijinkan lagi duduk di sebelah temannya, sebenarnya apa salahnya? “M-mwo?”
“Aku bilang cari bangku lain!” sentak Jungkook sambil memandang Taehyung tajam. Suasana hatinya saat ini kacau balau, amarah dan dendam bercampur aduk dan sudah siap meletus seperti gunung merapi. Jungkook tidak ingin membuatnya semakin parah dengan duduk bersebelahan dengan Taehyung, itu hanya semakin mengingatkannya bahwa ia berteman dan bergaul dengan seorang vampire. Itu membuatnya sangat marah.
Mata Taehyung berkaca-kaca. Pagi tadi ia berusaha memendam rasa kecewanya semalam akan sikap Jungkook dan berpikir bahwa hari ini ia dan Jungkook akan kembali seperti biasa.Tapi tampaknya Jungkook benar-benar tidak mau berteman dengannya lagi?
Dengan kaki gemetar, Taehyung pun berbalik badan dan mencari bangku lain. Air matanya sudah terlanjur menetes tidak bisa ia bendung. Ia merasa begitu tolol, orang-orang yang melihatnya mungkin juga berpikir begitu.
Taehyung duduk di bangku kosong yang masih tersisa. Ia duduk sendirian tanpa ada yang menemani dan mengajaknya bicara. Taehyung meremas kedua tangan, menancapkan kuku jarinya ke kulit saking terpukulnya. Ini begitu menyedihkan, mengapa ia merasa kembali ke masa saat ia dibully saat masih menjadi pelajar?
Vampire itu berusaha tegar, diam-diam menghapus air matanya. Dia tidak boleh menangis. Dia tidak boleh. Mungkin Jungkook sedang ingin sendiri, mungkin Jungkook sedang stres karena tertimpa masalah. Dan mungkin… nanti siang Jungkook kembali mau berbicara padanya.
.
.
Tapi sepertinya pemikirannya itu salah. Saat kuliah sudah berakhir dan tiba waktunya istirahat makan siang, Jungkook sama sekali tidak mendatanginya atau mengajaknya bicara. Pria itu langsung pergi meninggalkan kelas, melewati Taehyung begitu saja.
Taehyung cepat-cepat membereskan barang-barangnya untuk mengikuti Jungkook yang sudah pergi. Sementara itu beberapa mahasiswa yang sejak tadi memperhatikan, menyeringai puas. Kim Jaewook, Bohyun dan Geunwon, orang-orang yang dulu pernah melempar kaleng soft drink pada Taehyung di ruang gymnasium. Mereka senang akhirnya si Kim Taehyung dilepas oleh guardian angelnya. Bukankah akhirnya mereka mendapat kesempatan untuk memeras mahasiswa kampungan namun berduit tersebut?
***
Mata Soojung sembab karena terus-terusan menangis. Dia pun sudah kelelahan namun demikian dia tetap belum mendapatkan jawaban serta kepastian dari ketakutan dan kebingungannya. Sejak pagi setelah pembicaraan terakhir mereka, Seokjin tidak muncul lagi ke ruangan ini. Soojung merasa ia sudah benar-benar meluluhlantakkan perasaan vampire itu.
Pintu kamar diketuk. Soojung melihat ke arah pintu, saat ini ia bahkan berharap Seokjin muncul di hadapannya. Hati Soojung belum plong… ia tidak ingin berpisah jalan dengan orangyang ia cintai seperti ini.
Seseorang dengan rambut berwarna putih, membuka pintu sambil membawa nampan berisi makanan. Soojung terkejut melihatnya. Ia bahkan belum permisi pada penghuni lain yang tinggal di rumah ini.
Yoongi memberi senyum sopan. “Kau sebaiknya makan dulu…” ucapnya sambil berjalan mendekati Soojung. Yoongi bisa merasakan pergolakan emosi di dalam diri wanita itu. Manusia itu masih dalam kebingungan dan bertanya-tanya mengenai kebenaran yang ada.
“Seokjin tidak akan memaksamu berada di tempat ini,” ucap Yoongi lagi setelah meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. “Kau boleh pulang tapi sebaiknya kamu mengisi perutmu dulu.”
Soojung menunduk, dia sangat ingin minta maaf. Dia adalah tamu di rumah ini, belum permisi, belum memperkenalkan diri namun penghuni rumah membawakannya makanan seolah dia ini tuan putri.
“Tidak perlu kuatir dengan makanannya… tidak dilumuri racun apapun.” kata Yoongi datar.
Soojung mengangkat wajah dengan terkejut. “Aku tidak berpikir seperti itu.”
Yoongi memberi senyum tipis. “Kau tahu, kalau image vampire sangat buruk dari jaman ke jaman, aku tidak akan menyalahkanmu kalau kau berpikiran buruk mengenai kami. Vampire menyembunyikan identitas diri adalah salah satunya karena ini, karena kami tidak akan dipercayai.”
Soojung tertegun, perkataan Yoongi itu begitu menohoknya.
“Aku adalah seorang pembuat kue,” aku Yoongi, “Kue buatanku sangat disukai manusia… rasa kueku pun tetap sama kalaupun mereka tahu bahwa aku vampire. Aku tidak serta merta mengubah rasa kue buatanku.”
Kerongkongan Soojung terasa sangat kering. Ucapan Yoongi itu membuatnya memikirkan bahwa Seokjin pun akan melakukan hal yang sama, perasaan yang tidak akan berubah meski identitas dirinya telah diketahui.
“Namaku Yoongi…” lanjut dhampir itu, “Aku sedang tidak berusaha membela Hyungku, tapi aku bisa memastikan kalau ia tidak memanipulasi pikiran orang untuk kepentingan pribadi. Hubungan antara vampire dan manusia saja sudah merepotkan, untuk apa dia harus melakukannya?”
Sejujurnya saja Yoongi tidak menyetujui Seokjin menjalin hubungan asmara dengan manusia, apalagi manusia yang dimaksud ada kaitannya dengan hunter. Tapi Yoongi tak dapat memaksakan kehendaknya karena ia pun menyadari bahwa semua ini sudah ditakdirkan untuk terjadi. Karena kekuatan empath-nya, Yoongi bisa yakin bahwa perasaan yang dimiliki Alpha itu murni dan cinta tulus.
Yoongi mendengar pembicaraan tadi pagi di ruangan ini. Siapapun vampire di rumah ini bisa mendengarnya karena vampire memiliki indera pendengaran yang mengagumkan. Dan Yoongi ikut sedih saat ia bisa merasakan perasaan Seokjin yang hancur berkeping-keping sangat tersakiti dengan polemik yang ada.
“Tidak ada yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri,” ujar Yoongi pelan, “Kita tidak bisa menentukan saat lahir ingin menjadi apa. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku terlahir sebagai peranakan manusia-vampire. Ibuku manusia sementara ayahku vampire. Aku tidak pernah request untuk lahir demikian.”
Mata Soojung membesar. Hatinya tersayat mendengar pengakuan vampire di hadapannya. Jika dicerna dengan baik, memang demikian.
Yoongi tertawa pahit. “Kami sangat tahu bahwa banyak manusia sangat membenci vampire, mengharapkan kematian para vampire. Itu sebabnya kami menyembunyikan identitas diri, berusaha mempertahankan hidup seperti ini.”
Mata wanita itu kembali berkaca-kaca. Perkataan Yoongi terlalu menyedihkan untuk didengar.
Yoongi ingin sekali meluapkan semua pemikirannya selama ini. Memang apa bedanya dengan manusia? Oknum manusia yang melakukan eksploitasi vampire demi keuntungan pribadi, menutupi kejahatan mereka di balik para hunter yang dianggap pahlawan sebagai pembasmi vampire. Kalau seperti ini berarti manusia tidak ada bedanya dengan vampire. Lagipula dunia ini bukan milik manusia saja.
“Kalau kau ingin meninggalkan Hyungku, itu hakmu…” ujar Yoongi untuk terakhir kalinya. Ia tidak punya hak untuk ikut campur dalam meyakinkan perasaan orang lain. Yoongi hanya ingin memberitahu kebenaran bahwa Seokjin tidak pernah memanipulasi memori Soojung supaya manusia itu jatuh cinta pada vampire.
Yoongi pun berbalik pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Soojung yang hanya bisa menunduk sedih. Perkataan Yoongi yang tajam bagaikan pisau, menghunus sampai ke hatinya.
Sekarang apa yang harus ia pilih dan percayai? Kepalanya sangat sakit jika memikirkan semua ini. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan memastikan suara hatinya sendiri.
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, berikan like dan komentar mengenai episode ini. Gomawoo