Vampire In The City

Vampire In The City
Petunjuk Baru




Jimin duduk di ruang makan, memperhatikan Ibunya yang sedang memasak. Semenjak kejadian di basement dan memori ibunya mengenai vampire dihapus, ibunya lebih banyak menghabiskan waktu dengan memasak dan membaca buku, kadang juga menulis jurnal. Ibunya pernah beberapa kali mengkhawatirkan kesehatan Jimin karena tahu anaknya itu mengidap suatu penyakit namun Jimin berulang kali meyakinkan ibunya bahwa Jimin sudah sembuh dan tidak sakit lagi, tentu Jimin melewat bagian dimana ia sembuh karena mendapat tranfusi darah vampire lain.


“Eomma..” panggil Jimin akhirnya.


Ibunya menoleh dan memberi senyum manis. “Ne, Jimin-ah…”


Jimin mengerutkan kening, berharap diskusi ini bisa berjalan dengan baik. “Apa pernah ada orang yang datang ke sini dan menanyakan sesuatu yang tidak Eomma mengerti?”


Wanita itu bingung dengan pertanyaan anaknya sendiri. Ia mematikan kompor dan membalikkan badan menghadap Jimin. “Apa maksudmu?”


“Apa pernah ada orang yang datang ke sini?” Jimin memilih untuk menyederhanakan kata-katanya.


“Hanya tukang gas dan pengantar makanan saja, Jimin-ah…” sahut ibunya.


“A-apa tidak pernah ada teman Eomma yang merupakan dokter datang ke sini?”


Ibunya itu mengernyitkan kening. Ia mendekati Jimin dan duduk di sebelah anaknya, merasa ekspresi anaknya itu terlalu serius dan tegang. “Tidak ada. Ada apa, Jimin-ah? Apa yang mengganggu pikiranmu?”


Jimin menggigit bibir, bagaimana ia harus menjelaskannya pada ibunya? Ia hanya tidak ingin membuat situasi semakin runyam. Ibunya tidak mengingat apapun mengenai vampire memberikan ketenangan dan kelegaan untuk Jimin namun perkataan Yoongi sebelumnya membuatnya juga cemas. Bagaimana jika suatu saat ada orang dari sindikat menanyakan perihal vampire yang dulu ada di basement rumah ini? Bagaimana ibunya itu akan menjawab?


“Jimin…” gumam ibunya kuatir dan memegang tangan anaknya, “Ceritakan pada Eomma, ada apa?”


Jimin menelan ludah dalam-dalam. “Aku akan menceritakan sesuatu yang tidak akan Eomma ingat… karena.. karena Eomma semacam mendapat amnesia.”


Wanita itu masih memandang Jimin dengan serius, tidak menganggap Jimin sedang mengada-ngada sama sekali.


“Eomma tahu kan kalau aku punya penyakit darah dan sebenarnya Eomma menyembunyikannya dariku,” tutur Jimin, “Namun Eomma berusaha mencari cara supaya aku tetap bisa bertahan hidup dan bisa beraktivitas dengan normal.”


Ibu Jimin menahan nafas tegang, menyimak perkataan anaknya.


“Aku tidak tahu detailnya seperti apa,” lanjut Jimin, “Namun Eomma menggunakan darah vampire untuk membuat tubuhku lebih baik. Aku harus mendapat tranfusi darah vampire secara rutin.” Jimin kuatir perkataannya ini akan membuat ibunya berpikir bahwa ia gila. “Mungkin Eomma menganggapku melantur tapi ini sungguhan.”


“Arra, Jimin-ah…” kata ibunya dengan senyum tipis, “Lanjutkan.”


“Eomma memesan vampire secara ilegal dan mengurungnya di basement rumah kita dan Eomma mengambil darah vampire itu untuk ditransfusikan ke dalam tubuhku. Tentu saja Eomma membiusku sehingga aku tidak mengetahui apa-apa. Tapi salah satu temanku melihat apa yang Eomma lakukan. Singkatnya vampire di basement sudah dilepas namun Eomma mengalami amnesia.”


Jimin memandang ibunya dengan ragu. Ibunya itu tidak menunjukkan tanda-tanda tak percaya, hanya menatapnya dengan sungguh-sungguh.


“Apa Eomma percaya dengan ceritaku?” tanya Jimin sambil menelan ludah. Oh man.. dia merasa tegang sekali, keringat sudah mengalir deras di punggungnya.


Wanita itu memberi senyum tipis. “Jadi begitu ya… Pantas Eomma merasa bingung saat melihat jurnal yang Eomma tulis.”


“M-mwo?” Jimin bingung mendengar penuturan ibunya.


“Eomma pikir Eomma menulis cerita fantasi di jurnal Eomma…” Wanita itu malah memberi kekehan kecil, sangat rileks, berkebalikan dengan ketegangan yang sedang dialami anaknya. “Eomma melihat di tulisan Eomma ada kata darah vampire tapi Eomma tidak mengingat pernah menulisnya.”


Jimin tak menyangka kalau reaksi ibunya bisa setenang ini. Ternyata jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan.


“Dan Eomma juga ingin menunjukkan sesuatu padamu…” Wanita itu menarik tangan anaknya. Mereka bangkit berdiri dan ibunya itu menuntun Jimin ke ruang kerja ibunya. Ibu Jimin mengeluarkan sebuah buku jurnal dari dalam laci meja kerja. Ia menunjukkan beberapa halaman di buku itu yang bertuliskan mengenai khasiat darah vampire.


Mata Jimin membelalak. Di jurnal itu dituliskan bahwa sudah ada penelitian yang menemukan bahwa darah vampire bisa membuat manusia awet muda, tidak menua. Khasiat itu lebih hebat dibandingkan vitamin atau skincare yang ada di pasaran, hanya saja darah vampire harus dikonsumsi secara berkala jika ingin mendapatkan hasil yang memuaskan. Begitu pula dituliskan di jurnal itu bahwa darah vampire bisa menyembuhkan berbagai penyakit darah.


“Sepertinya Eomma menulis semua ini karena mendapat info dari teman Eomma…” ujar wanita itu, “Tapi Eomma tidak menghubungi siapapun untuk menanyakannya karena Eomma sendiri tidak mengingatnya. Dan…” Wanita itu mengeluarkan benda lain dari laci kerjanya, sebuah kartu hitam seperti kartu ATM. “Ini pun mungkin ada hubungannya…”


Jimin menerima kartu yang diberikan ibunya. Ia melihat ada tulisan VIP yang tercetak gold tebal di kartu itu beserta nomor dan barcode. Jimin mengernyit saat membaca tulisan : “Delicious Pasta”.


“Kartu itu sepertinya ada kaitannya dengan darah vampire,” ucap ibunya lirih, “Karena Eomma pun melihat ada kata ‘Delicious Pasta’ di jurnal Eomma ketika menjelaskan khasiat darah vampire.”


Jimin sampai menahan nafas saking tegangnya. Jika ia menanyakannya pada clan Kim pasti para vampire tahu mengenai Delicious Pasta. Bisa saja Delicious Pasta adalah nama sindikat penjualan vampire yang selama ini dicari Taehyung dan para hyungnya.


“Eomma…” ucap Jimin dengan nada getir, “Aku mendengar ada sindikat penjualan vampire, dimana orang-orang melakukan tindakan ilegal dan mengeksploitasi vampire dengan tidak berperasaan… dan darahnya diperjualbelikan untuk keuntungan pribadi.”


Mata wanita itu membesar. Ia sudah menduganya bahwa tentu ada mafia atau sindikat. Jika penelitian berhasil menemukan bahwa darah vampire memiliki banyak khasiat, hal itu bisa saja disalahgunakan dan malah dibuat untuk menangkap vampire dan mengeksploitasinya.


Jimin menggigit bibir, ia jadi teringat dengan Taehyung dan vampire yang lain. Baginya tidak pantas jika vampire harus disiksa dan dieksploitasi seperti itu. Jimin yang sakit dan ketergantungan akan darah vampire dibantu tanpa pamrih oleh Yoongi. Vampire itu bersedia membantu dengan memberikan darahnya untuk Jimin. Tapi yang dilakukan sindikat sangat di luar akal sehat, bagaimana mereka menggunakan hunter untuk menangkap vampire lalu mengeksploitasi tanpa perasaan, tanpa memikirkan bahwa vampire pun berhak hidup selama tidak mengganggu keseimbangan manusia.


“Eomma, aku sangat menentang sindikat penjualan vampire. Yang mereka lakukan keterlaluan, Eomma. Mereka memperlakukan vampire semena-mena seperti binatang.”


Ibu Jimin memandang anaknya dengan sendu. Yang dikatakan anaknya benar. Wanita itu memang menulis di jurnal mengenai khasiat darah vampire namun bukan berarti ia akan mendukung apa yang dilakukan sindikat atau mafia perdagangan vampire. Darah vampire memiliki khasiat yang luar biasa itu adalah fakta tapi manusia tidak berhak menjadikannya sebagai alternatif bisnis dan untuk keuntungan pribadi.


“Eomma juga setuju, Jimin-ah..” tutur wanita itu, “Sebagai dokter, Eomma tahu batasan-batasan yang tidak boleh dilangkahi oleh peneliti ataupun tenaga medis.”


“Eomma, percayakan padaku, aku akan memberikan kartu ini pada orang yang bisa melawan sindikat penjualan vampire,” ucap Jimin sungguh-sungguh. Dirinya semakin menggebu-gebu ingin menghancurkan sindikat penjualan vampire dan membebaskan para vampire yang ditahan. “Dan jika ada orang yang datang menanyakan mengenai vampire yang ada di basement, Eomma katakan saja kalau vampire itu berhasil kabur.”


Wanita itu mengangguk dan menepuk kepala anaknya dengan sayang. Tak terasa anaknya sudah dewasa seperti ini dan sangat bertanggung jawab. “Arasseo, Jimin-ah. Eomma percaya padamu.”


Jimin sangat terharu dan langsung memeluk ibunya. Seandainya ia dan ibunya sejak awal terbuka seperti ini, mendiskusikan apa yang menjadi pemikiran masing-masing, semuanya pasti berakhir lebih baik lagi. Untuk sekarang, Jimin akan memberikan kartu VIP ini pada Yoongi Hyung. Dhampir itu pasti tahu apa yang harus dilakukan dengan kartu ini.


Jungkook menunggu di dalam mobil pagi itu, menanti Taehyung keluar dari rumahnya. Seperti hari- hari sebelumnya, Jungkook menjemput Taehyung untuk mereka bisa pergi ke kampus bersama-sama. Taehyung yang sekarang tidak akan dibiarkan sendiri, entah apa yang bisa dilakukan Dongwook ketika menemukan Taehyung lagi.


Setiap malam Jungkook tidak bisa tidur dengan tenang, dia terus memikirkan kejadian-kejadian ketika V masih ada. Bagaimana vampire itu muncul untuk mencari tahu mengenai sindikat penjualan vampire, menghisap cerutu, pergi ke club. Selama ini V tidak pernah memberitahu pada siapapun mengenai tujuannya, membiarkan Jungkook salah paham begitu saja dan seolah vampire itu pun tidak peduli dengan pendapat orang lain mengenai dirinya. Meski demikian V tidak seburuk itu. Meski aura yang selalu ia bawa dingin dan tidak ramah tapi Jungkook merasakan kalau V tidak se-evil kelihatannya. Dia… seperti kepribadian normal kebanyakan orang bukan? Hanya saja ada luka dan trauma yang membuat kadang V tidak bisa mengekspresikan diri dengan lebih baik. Jungkook masih menyesali waktu-waktu yang telah lewat, menyesal mengapa ia banyak memberikan kenangan pahit untuk diingat V.


Kadang ketika sendiri, Jungkook berusaha mendengar isi kepalanya sendiri, kalau-kalau ada suara V yang bergema di kepalanya, mengatakan sesuatu padanya. Tapi tidak ada. Atau saat tidur, Jungkook berharap ia mendapat mimpi atau telepati lagi mengenai kondisi V. Itu pun tak ada.


Ini sangat pelik. Di saat Taehyung yang innocent yang memang dia harapkan sudah kembali, Jungkook malah merasa ada yang kurang, ada yang salah.


Jungkook masih melamun, tidak menyadari pintu mobil dibuka dan Taehyung masuk. Vampire itu menatap Jungkook yang melamun dengan heran. Ia pun memanggilnya. “Jungkook??”


Jungkook terkesiap. Ia sadar dari lamunannya dan menoleh ke samping melihat Taehyung. Sampai saat ini pun setiap ia melihat Taehyung di pagi hari, ia menyelami kedalaman mata Taehyung, seolah sedang mengecek siapa yang tengah menatapnya ini, Taehyung atau V. Kadang terbersit di dalam hatinya, berharap kalau yang kali ini muncul adalah…


“Kookie?” tanya Taehyung lagi.


“Ah anni…” sahut Jungkook akhirnya. Ia memberi senyum dan mengacak rambut Taehyung. “Sudah siapkah dengan tes Chem hari ini?”


“Ughh…” gerutu Taehyung dengan pout. Hari ini ada kuis Kimia Anorganik dan Taehyung merasa belum siap meski semalaman Jungkook sudah menemaninya belajar melalui video call.


“Let’s focus, Kim Taehyung.” sahut Jungkook lalu mulai menstarter mobilnya.


Taehyung memberi senyum panjang. Dia tidak pernah salah sejak awal bahwa Jungkook memang teman sejatinya. Tak ada hal yang lebih membahagiakan dirinya selain bisa merasakan pertemanan sejati.


Setelah memakai seat belt, sesekali Taehyung memperhatikan Jungkook. Ekspresi Jungkook yang tadi begitu ceria kini berubah. Wajahnya tampak seperti seseorang yang sedang terusik karena memikirkan sesuatu. Bukan sekali ini saja Taehyung melihat Jungkook seperti itu. Semenjak Taehyung terbangun dan melihat Jungkook berada di kamarnya beberapa hari yang lalu, Jungkook beberapa kali seperti ini. Taehyung sudah berusaha menanyakan pada hyungnya apa yang terjadi dan kenapa Jungkook ada di kamarnya saat itu, namun para hyungnya hanya mengatakan bahwa Jungkook datang menjenguk karena mencemaskan Taehyung.


“Tae…” ucap Jungkook tiba-tiba. Mata masih fokus ke jalanan.


“Hmm?”


“Aku minta maaf untuk kesalahan yang pernah kulakukan padamu. Aku pernah menyakitimu, Tae… aku minta maaf.” ucap Jungkook dengan mata berubah sendu.


“Jungkookie…” Taehyung merasa tidak enak, “Kemarin pagi kau sudah mengatakan hal yang sama.”


“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyesal.” kata Jungkook sambil menoleh memandang Taehyung dengan sungguh-sungguh.


“Dan kemarin aku sudah mengatakan aku sudah memaafkanmu.” sahut Taehyung dan memegang tangan Jungkook yang bebas dari setir.


“Ah ne..” sahut Jungkook meringis. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia seperti ini. Jungkook hanya ingat bahwa V mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya ataupun Taehyung. Seharusnya saat ini V melihat dan mendengar apa yang Jungkook ucapkan bukan? Jungkook berharap V merasakan ketulusan permintaan maafnya untuk apa yang pernah Jungkook lakukan yang pernah menyakiti hati vampire itu.


“Aku hanya benar-benar menyesal…” lanjut Jungkook dengan suara tertahan, “Dan.. dan aku ingin menolongmu.”


Yap, Jungkook sangat ingin menolong V. Potongan masa lalu yang ia lihat mengenai V… Jungkook hanya ingin menolong V membalaskan dendamnya.


“Jungkook…” ucap Taehyung, tak paham dengan perkataan temannya itu. “Semalam kau sudah menolongku belajar kuis hari ini.”


Jungkook ingin berteriak kencang-kencang. Demi Tuhan. Ini sangat menyiksa jiwanya. Jungkook berharap saat ini ada seseorang yang mengatakan sesuatu di dalam kepalanya. Ada V yang menyahut perkataannya.


Tapi tidak ada.


“Y-yeah…” Jungkook hanya bisa tertawa. Tawanya sumbang. Jungkook menoleh pada Taehyung dan sebisa mungkin memberi senyum seperti biasa. “Okay…”


Taehyung mengerutkan alis melihat ekspresi Jungkook itu. Ia semakin merasakan ada sesuatu yang ingin diucapkan Jungkook namun tidak bisa. Sebenarnya apa yang mengganggu pikiran Jungkook?


“Kook, are you happy with me now?” tanya Taehyung begitu saja. Ia tidak tahu kenapa ia harus melontarkan pertanyaan semacam itu.


Untuk beberapa saat Jungkook terdiam. Dia tentu saja happy melihat Taehyung kembali, melihat hubungannya dengan Taehyung seperti dulu lagi. Dia tentu saja bahagia bukan?


“Yes… yes, I am.” gumam Jungkook akhirnya.


Taehyung tersenyum lebar, memberikan boxy smilenya. Ia pun memalingkan wajah ke jendela dan ekspresinya berubah menjadi ekspresi sedih.


Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang dilontarkan langsung oleh V melalui Taehyung.


🎃🎃



wew...


ya jujur saja, author sangat menikmati mempermainkan tokoh dalam novel author sendiri 😋



tapi ya sebenarnya nyesek sih... kasian juga.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🐾🐾