Vampire In The City

Vampire In The City
Typical Human




Seorang pria sedang menari dengan ‘gilanya’, betapa mencoloknya ia saat menari dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Dia biasa dipanggil ‘crazy dancer’ karena gerakannya yang luwes, cepat dan energic itu, bahkan melebihi coach dancer itu sendiri.


Jimin, si crazy dancer, melompat salto dengan indahnya, irama gerakannya selaras dengan musik keras yang mengiringi di ruang latihan itu. Ia seolah menahan nafas, membiarkan tubuhnya bergerak cepat dan berenergi sambil mengingat setiap gerakan koreo.


Beberapa orang yang menonton di pinggir hanya bisa berdecak kagum. Rasanya mata yang menonton hanya tertuju pada Jimin, karena betapa mencolok performanya.


Musik berhenti dan coach memberi tepuk tangan sekali, tanda bahwa latihan sudah cukup. Bahu Jimin ditepuk sekali sambil memberikan jempol pada Jimin.


Jimin hanya terengah-engah dan duduk di pinggir, mengambil botol minumannya dan meneguknya cepat-cepat. Tubuhnya hari ini sudah jauh lebih baik. Dua hari yang lalu setelah ia tak sadarkan diri, ia istirahat satu hari di rumah bersama Eommanya. Jimin tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Itu bukan sekali dua kali dia pingsan mendadak di rumah. Ia mengira bahwa ia punya penyakit atau kelemahan tubuh, namun setelah istirahat sehari, tubuhnya kembali sehat dan bugar. Bahkan seperti sekarang ini dia sangat berenergi seolah kemarin dia tidak bedrest.


“Crazy dancer huh?” tukas Yunho melirik Jimin dengan sinis. Yunho sedang menyeka keringatnya dengan handuk kecil. Beberapa temannya yang juga satu grup dancer dengan Jimin, ikut menatap Jimin dengan sebal.


“Kudoakan suatu saat nanti kakimu akan patah.” sahut yang lain. Mereka semua ini sebetulnya iri dengan kemampuan Jimin yang melebih mereka dalam menari.


Jimin berusaha mengabaikan perkataan itu. Ini bukan pertama kalinya dia dikatai.


“Itu akan terjadi suatu saat nanti pada lehernya.” sahut Yunho memberi smirk. Tangan Jimin memegang botol keras-keras, berusaha menahan diri untuk tidak melempar botol ke mulut Yunho itu.


“Ibuku adalah perawat…” ujar seseorang masih bisa didengar Jimin, “Dan dia mengenal ibu si crazy dancer yang merupakan dokter. Tapi ibunya itu sudah berhenti menjadi dokter, kalian tahu karena apa?”


“Apa?” tanya Yunho tertarik sambil melirik Jimin dengan smirk.


“Malpraktik. Mengerikan.”


Jimin sudah tak dapat menahan emosinya. Seperti ada luapan kemarahan dan energi dalam yang mendorongnya untuk menghampiri orang-orang itu. Ia pun melayangkan tinjunya. Pertama ia menghantam wajah orang yang mengatai ibunya, lalu kemudia ia melayangkan tinju lain pada Yunho yang sudah memulai semua ini.


Adu jotos pun tidak dapat dihindarkan. Tiga lawan satu tapi Jimin unggul dan hanya membiarkan wajahnya kena pukul sekali saja.


Jimin meremas tangannya dengan kesal. Orang-orang lain yang satu club latihan dengannya menatapnya dengan takut. Mungkin saat ini wajah Jimin menyeramkan kalau marah. Dan lihat saja pukulannya itu benar-benar terlihat menyakitkan.


Jimin masih sangat kesal. Dia berusaha sesabar mungkin tapi tetap tak bisa menepis rasa jijik di hatinya. Orang-orang ini pun masih mengatainya bahkan ketika ia hanya sekedar bernafas! Bukan salahnya kalau dia disebut crazy dancer, bukan salahnya kalau coach selalu memuji bakatnya. Dan Jimin tahu bahwa yang lain hanya mendekatinya untuk sedikit mencari popularitas saja, padahal di belakang orang-orang itu pun mengatainya, mengutuki supaya nanti tulangnya patah.


Jimin mengambil tas dan jaketnya. Ia langsung pergi meninggalkan tempat itu, mengabaikan seruan Coach-nya.


***


Min Yoongi berada di toko kuenya. Dengan tenang ia sedang menata kue-kue yang sudah ia panggang hari itu. Rambut putihnya tampak menyala karena cahaya lampu, wajahnya yang tenang dan bibirnya yang mungil membuat siapa saja ingin datang lagi ke toko kue ini. Mata vampirenya tertutupi dengan lensa kontak, ia memakai kemeja putih serta celemek hitam.


Yoongi hanya mengangguk-angguk pelan. Kekuatan vampirenya adalah bisa merasakan emosi dan kekuatan inner orang lain. Saat ini ia bisa merasakan emosi para pengunjung yang sedang makan di toko kuenya. Pria dan wanita yang duduk di meja ujung sana memiliki emosi romance. Tampaknya sedang kencan. Dua pelajar yang sedang makan cheese cake itu memiliki emosi ringan, membicarakan sesuatu yang menyenangkan hati.


Beginilah keseharian Yoongi. Baginya bisa merasakan emosi orang lain cukup menarik, bagai melodi lagu. Ada juga emosi kesedihan yang kerap ia rasakan dari orang lain. Yang tidak ia suka ketika ia merasakan emosi jahat atau evil. Itu sangat mengganggunya.


Lonceng pintu berbunyi menandakan ada tamu yang baru masuk. Telinga Yoongi seperti langsung berdenging. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha mengatasi rasa kaget yang ia alami. Yoongi memicingkan matanya ke pintu dan melihat seorang ahjussi masuk dengan kening merengut. Yoongi bisa merasakan kemarahan dan dendam dalam diri pria itu, membuat telinganya berdenging.


Yoongi mengambil earbud dan memasang di telinganya, berusaha meredam emosi pria itu yang begitu jelas mengganggu telinganya. Manusia terdiri dari beragam watak. Ada yang menjalani hidup dengan emosi stabil, tidak sempurna tapi tidak evil. Namun ada juga manusia yang menyimpan emosi jahat… seperti yang ia rasakan dari ahjussi itu.


Yoongi menghela nafas. Ia berharap pria itu segera pergi dari tokonya.


🎃🎃


Sorry update pendek. hehe.


Jangan lupa tetap dukung novel ini dan boleh sertakan saran atau pertanyaan. Trims