Vampire In The City

Vampire In The City
Serangan Hunter




Sementara itu rombongan hunter telah tiba di pintu gerbang. Angin berhembus cukup kencang tapi mungkin ini menjadi keuntungan bagi para hunter karena suara langkah mereka bisa teredam dengan suara angin. Semua bersiap ke posisi masing-masing dan menjaga jarak 30 meter dari bangunan villa.


Jantung Soojung sejak tadi berdegup keras, darah seolah dipompa kencang di setiap pembuluh darahnya. Soojung sampai memastikan bahwa seluruh peralatannya sudah siap. Peluru yang akan mereka gunakan bukanlah peluru silver melainkan peluru biasa yang dilapisi racun yang akan langsung menumbangkan vampire sekejap mata. Meski merasa aneh vampire tidak akan dibunuh dalam buruan besar ini, Soojung tak bisa berkutik. Ia akan melakukan semuanya sesuai instruksi. Jam di tangannya akan menghitung mundur dalam waktu 1 menit bersamaan dengan jam para hunter lain, sebagai penanda countdown menembaki vampire.


Perasaan Soojung sudah tidak enak sejak kemarin dan rasanya jantung seperti melorot ke perut saat ia melihat jeep familiar di depan villa, di antara deretan mobil lain yang terparkir.


Soojung membeku. Rambutnya berkibar terkena angin dan matanya melotot, melihat jeep itu baik-baik, melihat nomor plat kendaraan tersebut. Semuanya begitu akurat. Itu adalah mobil yang biasa dikendarai Seokjin, pacarnya.


Tidak mungkin…


Wajah wanita itu berubah pucat pasi dan lidahnya terasa pahit. Jika mobil itu ada di sini… apakah itu artinya pemiliknya pun… ada di dalam villa??


Soojung melihat ke arah villa dengan mata membesar. Villa itu memiliki jendela-jendal besar tanpa tirai, cahaya lampu berpendar terlihat jelas dari dalam villa. Dengan mata telanjang Soojung tidak bisa melihat siapa-siapa saja yang berkumpul di ruangan tengah villa.


Soojung menggunakan kacamata night vision yang mengalung di lehernya. Para hunter diberikan fasilitas itu untuk membantu melihat target dalam gelap. Jantungnya berdebar-debar kencang, dengan kacamata itu ia berusaha melihat di dalam ruang tengah villa. Sesuai dengan pengarahan, di dalam ruangan itu ada kurang lebih 16 vampire, seperti sedang melakukan pembicaraan serius. Ini juga yang perlu menjadi pertanyaan mengapa hunter mengetahui pertemuan itu bahkan sampai mengetahui detail waktu serta jumlah vampire yang hadir.


Soojung berharap dalam hati supaya ketakutannya tak terbukti. Bibirnya kelu saat ia melihat sosok yang ia kenal. Pria yang ia cintai…


Oppa…


Mata Soojung membola horor saat melihat ada Seokjin di dalam ruangan itu, ekspresinya seperti tampak marah dan tengah berada dalam pembicaraan serius dengan vampire yang di dalam.


Ada apa sebenarnya? Apa kekasihnya itu sedang dijebak oleh para vampire? Atau…


Seperti menelan empedu pahit, kerongkongan Soojung seperti tercekat. Jangan-jangan Seokjin juga merupakan vampire??


“T-tak mungkin…” bisik Soojung sudah hampir menangis.


Bersamaan dengan kebingungan serta syok yang menyerang Soojung, jam di tangannya mulai aktif. Counting down selama 60 detik pun dimulai. Mata Soojung sudah basah dan ia begitu panik melihat jam tangannya. Para hunter di samping kiri kanannya sudah bersiap-siap membidik dan menentukan target. Mungkin saja di antara para hunter di sebelahnya, ada yang akan membidik Seokjin.


Soojung mengingat bahwa selama ini Seokjin memang tahu banyak tentang vampire tapi Soojung tak menyangka bahwa pria itu adalah vampire. Meski demikian bukan berarti cinta yang tumbuh dalam hati Soojung itu main-main. Dia tak sanggup jika harus melihat orang yang ia cintai ditembak dan ditahan.


Soojung menelan ludah. Air matanya menetes tanpa ia sadari. Ia melihat jam di tangannya… 30 detik lagi.


Apa yang harus ia lakukan? Soojung melihat sekeliling, para hunter sudah bersiap membidik seolah yang berada di dalam villa adalah mangsa yang tidak akan dibiarkan lolos. Dengan jumlah hunter yang mencapai 20 pembidik, bisakah Seokjin luput dari tembakan?


Tangan Soojung gemetar. Ia tak menyangka bahwa saat ia senang diberikan penawaran untuk ikut dalam buruan besar, justru ini merupakan mimpi terburuknya. Ataukah ini mungkin merupakan kesempatannya untuk menyelamatkan Seokjin?


Demi Tuhan, Seokjin adalah vampire!! Orangtua Soojung dibunuh oleh vampire… dan bahkan Soojung pun pernah menjadi korban serangan vampire!


Jemarinya gemetaran saat ia memegang senapan dan mengarahkannya ke villa. Ia mengarahkannya ke Seokjin. Waktu menunjukkan hitung mundur 10 detik lagi. Mungkin saat waktu habis dan penembakan dimulai, villa akan porak poranda dan hancur. Kemungkinannya sangat kecil ada vampire yang bisa lolos. Dan mengingat bahwa peluru sudah dilapisi dengan racun, vampire mungkin akan tumbang dan pingsan saat tertembak.


Soojung memejamkan mata kuat-kuat. Air mata mengalir lagi di pipinya. Dia mungkin akan menyesal melakukan ini… tapi…


Beberapa orang di sebelah Soojung kaget karena wanita itu sudah menembak sebelum waktu yang ditentukan, bahkan tembakan itu berakibat fatal merugikan hunter lain. Dengan diawalinya tembakan dari Soojung, beberapa hunter mulai menembak ke arah villa meski target di dalam villa sudah bergerak dan tidak terlihat karena lampu yang padam.


Sekujur tubuh Soojung gemetar. Dia sudah melakukannya. Dia mengkhianati kaumnya sendiri… dia mengkhianati dirinya sendiri karena tak kuat jika melihat Seokjin harus menjadi korban di buruan besar ini.


Para hunter lain bergerak ke arah villa karena beberapa vampire sudah ada yang tertembak dan tumbang. Soojung tidak ingin melanjutkannya. Ia melepas kacamata dan melempar pistol ke tanah. Sementara orang-orang berusaha mengepung villa, Soojung memilih arah berlawanan. Ia akan pergi meninggalkan tempat ini sejauh-jauhnya. Ia tidak mau melihat apa yang terjadi berikutnya. Entah dia merasa marah atau hatinya pedih… yang jelas Soojung hanya ingin meninggalkan tempat laknat ini.


Suara tembakan dimana-mana memekakkan telinga. Terdengar beberapa erangan, entah suara vampire atau manusia. Sepertinya para vampire pun ada yang berusaha menyerang kelompok hunter.


Soojung berlari secepat yang ia mampu meninggalkan kawasan villa. Ia tidak tahu apa kakinya bisa membawanya selamat dari tempat ini atau mungkin vampire akan bisa segera menyusulnya.


Tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya membuat Soojung sangat kaget. Jantungnya hampir copot merasakan kontak fisik itu. Ia berbalik dan sudah akan meninju namun tangannya langsung ditahan saat dilihatnya Seokjin sendiri. Pria itu memandangnya dengan syok.


“Soojung-ah…” ucap Seokjin syok. Mata vampirenya masih jelas nampak karena Seokjin tak terpikir untuk menutupi matanya. Saat tembakan pertama di villa itu, para vampire langsung merasakan alarm bahaya dan tanpa banyak bicara segera bubar jalan meninggalkan villa. Seokjin cukup cepat dan berhasil menghindar dari setiap tembakan namun beberapa vampire masih ada yang terjebak di dalam villa, pingsan tertembak. Saat sudah keluar dari villa, Seokjin mencium aroma yang ia kenal di udara. Meski angin tengah berhembus kencang namun tak ada yang dapat menutupi aroma Soojung itu. Dengan panik, Seokjin langsung mengikuti instingnya dan mencari keberadaan pacarnya. Ia syok karena Soojung memang benar-benar terlibat dalam penyerangan vampire ini.


Soojung menggigit bibir dan menahan tangis. Ada perasaan lega karena Seokjin masih utuh di hadapannya. Tapi bukan berarti Soojung tidak merasakan luka melihat kenyataan bahwa orang yang ia cintai adalah vampire. Ia merasa sudah sangat dibohongi!


“Kenapa kau tidak mengatakannya–“ isak Soojung pelan.


“Soojung, kita bisa bicarakan ini di tempat lain,” potong Seokjin lembut namun tetap waspada dengan kondisi sekitarnya. “Kita harus meninggalkan tempat ini.”


“Aku tidak akan–“


Seokjin tak punya pilihan lain. Tanpa menunggu jawaban wanita itu, Seokjin menggendong Soojung ala bridal style dan membawanya pergi secepat mungkin menuju mobil jeepnya yang terparkir. Semua bagaikan hitungan detik bagi Soojung, bagaimana Seokjin menggendongnya dan medudukkannya ke dalam mobil. Vampire itu langsung mengendarai mobilnya dan mengebut cepat meninggalkan kawasan villa.


Tangan Seokjin yang memegang setir begitu kuat. Mata merahnya berkilat memandang jalanan namun ia tak bisa melupakan kejadian ini. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkan beberapa vampire yang terjebak di dalam villa, tapi ia tidak punya pilihan lain, dia pun mungkin akan tertangkap jika tidak segera kabur. Seokjin melihat sekilas bahwa vampire yang tumbang bukan karena ditembak di bagian jantung. Sepertinya para hunter tidak berusaha membunuh vampire melainkan menangkap mereka. Sial, ini begitu mengerikan. Seokjin tak dapat membayangkan apa yang terjadi jika Taehyung ikut dalam pertemuan ini. Ia tidak akan memaafkan dirinya jika Taehyung tertembak atau tertangkap. Lihat, firasatnya ternyata benar kan. Ada celaka yang datang menimpa pertemuan mereka.


Sementara itu Soojung menangis dan memilih untuk memalingkan wajah, menghadap jendela. Bagaimana mungkin kekasihnya sendiri merupakan vampire? Dia bahkan sudah pernah menceritakkan mengenai dendamnya akan vampir pada Seokjin!


Seokjin menoleh ke arah wanita itu. Dirinya pun masih terguncang pasca kejadian tadi. “Soojung-ah…”


“Kau vampire, Oppa…”


Seokjin tersenyum tipis. “Hmm…”


Soojung pun menangis semakin kencang di sana.


🎃🎃


tbc ya.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan comment🙏 kalau suka bisa favorit dan berikan vote serta share ke yg lain. Gomawoo