Vampire In The City

Vampire In The City
Misi Penyelamatan




Gedung perusahaan milik Dongwook merupakan gedung tinggi dengan 25 lantai. Perusahaan itu banyak bergerak di bidang bisnis periklanan, majalah dan produk elektronik. Benar kata Jackson, pastinya banyak manusia yang bekerja di sana tanpa tahu menahu mengenai urusan sindikat ilegal yang dikerjakan Dongwook. Bisa dibayangkan betapa banyak kekayaan yang diraup oleh Dongwook… yet pria itu masih tidak puas dan mendirikan sindikat penjualan vampire.


Seokjin dan Jackson keluar dari mobil. Pistol dan senjata sudah disembunyikan di balik coat masing-masing. Tadi Jackson sudah menjelaskan rencananya. Mereka akan ke lantai paling atas, tempat Dongwook berada. Jackson akan menggunakan kekuatannya yang merupakan pengendali logam untuk menutup akses masuk ke lantai tersebut… dan selebihnya Seokjin akan melakukan penyerangan.


Ada dua jenis pistol yang dibawa Seokjin berdasarkan permintaan dan rencana Jackson. Pistol pertama adalah pistol sungguhan, senjata yang akan digunakan untuk membunuh Dongwook dan para mafianya. Sementara pistol kedua adalah pistol untuk membius, akan Seokjin gunakan pada manusia awam yang tak ada kaitannya dengan sindikat. Dan nanti setelah penyerangan selesai dilakukan, Seokjin akan memanipulasi memori para manusia itu.


Tangan Seokjin terkepal kuat-kuat. Ia harus menemukan Soojung… Oh Tuhan, betapa ia merindukan kekasihnya dan mencemaskan kondisi wanita itu, berharap tidak ada yang melukai Soojung.


Seokjin dan Jackson masuk ke dalam lift dengan mudah meski sebelumnya sempat ditahan oleh penjaga lift karena lift yang digunakan hanya bisa dipakai oleh pegawai yang memakai ID card di lehernya. Tapi dengan kekuatan Seokjin yang bisa memanipulasi, pikiran penjaga itu termanipulasi kalau Seokjin dan Jackson merupakan salah satu pegawai di perusahaan.


Ting.


Pintu lift terbuka saat mereka sudah sampai di lantai paling atas. Bagaikan adegan-adegan di film action, Seokjin mengeluarkan dua pistol dari balik coatnya. Pistol pembius di tangan kiri, sementara pistol asli di tangan kanan. Ia berjalan dan langsung menembak beberapa orang di meja resepsionis dengan pistol di tangan kiri. Orang-orang itu sempat memekik karena betapa mencoloknya Seokjin yang dengan terang-terangan menunjukkan senjatanya. Di belakangnya Jackson tengah mengunci pintu lift untuk tidak bisa digunakan, ia juga menutup akses tangga dengan menggerakkan meja respsionis yang terbuat dari besi untuk membloking tangga.


Mata Seokjin menatap lurus-lurus ke depan, menembak pegawai awam di perusahaan, sementara tangan kanan menembak kamera CCTV di pojok langit-langit.


Dan benar saja tiba-tiba mafia mulai muncul. Tentu bos sindikat akan dilindungi dan dikawal oleh mafia bersenjata seperti ini. Seokjin menembaki mereka sebelum sempat orang-orang itu menembak atau melemparkan kampak ke arahnya. Jackson pun sangat membantu, sebagai pengendali besi ia melemparkan pistol mafia terbang jauh dari pemiliknya, kampak yang akan dilempar ke Seokjin pun berbalik menyerang mafia sendiri.


Seokjin sudah tidak memiliki belas kasihan lagi. Ia menembaki para mafia itu dan ketika pelurunya habis ia menggunakan kekuatan fisiknya untuk menyerang. Darah muncrat kemana-mana saat ia menggunakan kampak untuk menghabisi para mafia. Mata Seokjin saat ini begitu kelam, penuh dengan naf.su membunuh. Ia bergegas ke tempat paling ujung yang sepertinya merupakan kantor Dongwook.


Seokjin menendang pintu megah itu sampai terbuka. Di dalam sana ternyata sudah ada dua mafia yang siap menembaknya. Seokjin berhasil menghindar dari tembakan itu. Ia berlari cepat ke arah mereka sampai coatnya ikut berkibar. Seokjin mendatangi mafia itu dan menendang pistol di tangannya. Dengan kampak yang ia bawa, Seokjin membacok kepalanya. Sementara mafia yang satu lagi sudah ditaklukan oleh Jackson.


Seokjin segera melihat ke sekeliling ruangan besar. Ada meja kerja yang nyatanya kosong. Vampire itu mencari ke kamar mandi dan ruang rapat nyatanya kosong, tidak ada tanda-tanda keberadaan Dongwook.


Sial.


Tangan Seokjin gemetar karena marah. Bagaimana bisa…


Lantas bagaimana supaya ia bisa menemukan dimana kekasihnya berada??


“Arghhh!!!” geram Seokjin.


“Sepertinya kedatangan kita sudah diketahui?” tanya Jackson mengernyit, “Karena bos sindikat itu pun tak ada di sini.”


Seokjin mengepalkan tangan kuat-kuat. Ia tidak akan berhenti sampai ia bisa menemukan kekasihnya.


.


.


.


Dongwook memiringkan kepala dengan ekspresi dingin saat menonton rekaman CCTV mengenai kejadian setengah jam yang lalu, melihat bagaimana ada dua vampire menerobos tempat kerjanya, membunuh semua mafianya.


Ia memicingkan mata saat melihat bahwa ada salah satu vampire yang postur tubuhnya mirip dengan orang mencurigakan sesaat sebelum Black Dragon terbakar. Dongwook yakin itu adalah vampire yang sama, tak salah lagi. Dan betapa tampaknya dua vampire itu bukan vampire sembarangan. Yang satu bahkan bisa mengendalikan benda logam? Sementara yang satunya lagi tampak sangat kesetanan menghancurkan apapun yang dilihatnya.


Dongwook memegang dagu sambil menahan kekesalan. Dia kira yang akan datang ke sana adalah Taehyung atau Jungkook… Itu sebabnya beberapa hari ini Dongwook tidak datang ke kantor dan menyuruh anak buahnya yang berjaga. Dongwook tak menyangka yang datang menyerang justru vampire lain yang tidak ia tahu asal usulnya? Apa urusan mereka? Dongwook jadi berpikir bahwa sepertinya perbuatan mereka ada kaitannya dengan 3 sandera yang diculik. Tapi sejak kapan vampire ingin menolong manusia?


Dongwook mendengus tawa. Ini semakin menarik. Sepertinya vampire yang melawan itu berasal dari clan yang sama dengan Taehyung? Apa ini artinya Dongwook pun bisa menambah tahanan vampirenya?


.


.


.


Penghuni rumah Kim Brothers langsung bergegas keluar saat mendengar ada derum suara mobil menandakan Alpha mereka sudah pulang. Berharap ada kabar baik yang diterima.


Seokjin keluar dari mobil. Di pipinya masih ada bekas darah, begitu pula dengan coatnya. Jackson hanya melambaikan tangan pada mereka dan langsung menyetir mobilnya pergi meninggalkan rumah clan Kim.


Wajah Seokjin tampak lelah dan frustasi… Kepulangannya dengan tangan kosong ini sudah memberikan jawaban.


“Hyung!” seru Namjoon mendekati sang Alpha sama seperti yang lain. Wajah Jungkook tampak terpukul karena sepertinya tidak ada kabar baik jika melihat ekspresi Seokjin sekarang.


“Gwaenchana?” tanya Yoongi menepuk bahu Alpha.


Wajah Seokjin sangat kelu. Matanya sudah basah karena betapa hopeless-nya ia tak bisa menemukan Soojung dan Jimin.


Hoseok menggigit bibir dengan cemas, bagaimana ini, apa yang harus dilakukan kalau sudah seperti ini.


“Aku tidak berhasil menemukan Dongwook. Dia sudah bersembunyi terlebih dulu.” ucap Seokjin serak. Begitu menyesakkan karena ia bahkan tidak bisa bertemu Dongwook secara langsung, betapa Seokjin ingin menghajarnya untuk apa yang sudah dilakukan pria itu pada Soojung.


Hati Taehyung sangat hancur, sudah berusaha sejauh ini pun masih sia-sia?


“Kita akan menemukan mereka…” ujar Yoongi berusaha meredam atmosfer menyedihkan ini.


“Jackson akan mencari lokasi-lokasi lain yang dimiliki Dongwook.” ucap Seokjin. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan masuk ke dalam rumah. Yang lain pun ikut masuk ke dalam rumah.


Taehyung menoleh pada Jungkook. Ia terkejut melihat bagaimana setetes air mata menetes di pipi Jungkook. Manusia itu menangis?


“Jungkook…” bisik Taehyung cemas.


Jungkook segera menghapus air mata namun Taehyung langsung memeluknya, berusaha memberi support dan ketegaran. Tentu saja hal ini berat untuk Jungkook. Akhir-akhir ini Jungkook tampak tidak ada naf su makan dan sulit tidur.


“It’s okay, Tae…” gumam Jungkook berusaha dengan nada riang. Ia tidak ingin membuat Taehyung cemas. “Tadi mataku hanya kelilipan.”


Hati Taehyung terasa sakit seperti ditusuk duri. Ia tahu Jungkook hanya sedang berbohong. Taehyung bisa merasakan bagaimana kesedihan manusia ini sekarang.


Taehyung melepas pelukan dan melihat Jungkook yang sedang memasang senyum padanya, berusaha menunjukkan bahwa dia tidak sedih lagi.


“Kita pasti akan menemukan cara untuk menyelamatkan kakakmu dan Jimin…” ucap Taehyung.


Jungkook menghela nafas dan memberi anggukan. Dia berusaha mengingatkan dirinya bahwa masih ada secercah harapan, masih ada cara lain untuk menghancurkan sindikat dan Dongwook. Jungkook berharap bahwa kondisi Soojung, Jimin dan ibunya baik-baik saja.


****


Esok paginya badan Jungkook sedikit demam. Tubuhnya jatuh sakit dikarenakan banyak pikiran yang mengganggunya. Memang benar jika jiwa tidak sehat maka tubuh pun akan ikut sakit.


Demam Jungkook tidak terlalu tinggi tapi itu cukup membuat Taehyung mengkuatirkannya.


“Aku hanya demam biasa…” gumam Jungkook. Suaranya serak karena juga radang tenggorokan. Taehyung tengah memegang dahinya, mengecek separah apa demam yang dialami Jungkook.


“Kau sakit, Kook…” kata Taehyung pelan dan sedih.


“Eyy… ini biasa dialami manusia. Mungkin karena aku sulit tidur saja, Tae.”


Taehyung tahu bagaimana kejadian akhir-akhir ini mempengaruhi kesehatan dan pola tidur Jungkook.


“Aku akan memanggil Yoongi Hyung supaya kau diberikan obat.”


“Aku baik-baik saja kok, Tae.” kata Jungkook memegang lengan Taehyung mencegah vampire itu untuk pergi.


“Tapi manusia perlu diobati,” kata Taehyung, “Dan aku akan mengambilkan sarapan untukmu. Aku akan minta dibuatkan bubur.”


Jungkook menghela nafas dan akhirnya membiarkan Taehyung pergi. Jungkook memegang keningnya sendiri.. dirinya memang demam. Bodohnya ia malah menambah beban di rumah ini di tengah-tengah prahara yang terjadi.


Taehyung turun ke bawah dan berpapasan dengan Namjoon di dapur. “Hyung, bisa buatkan bubur?”


“Jungkook agak demam.” Taehyung menoleh ke belakang melihat kedatangan Yoongi yang sudah mendengar percakapan itu. “Ah, Hyung… Jungkook butuh obat karena demam.”


Yoongi mengangguk. Ia menoleh pada Namjoon. “Joon, kau bisa membuat bubur dengan smart rice cooker di sana… Panaskan juga sup sisa semalam untuk Jungkook.”


Yoongi pun pergi ke ruang medic untuk mengambil obat yang dibutuhkan.


Taehyung sedang membantu Namjoon untuk menyiapkan bubur dan sup saat ponsel di saku piyamanya bergetar. Taehyung pergi menjauh dari dapur, menuju taman belakang untuk membaca isi pesan yang masuk. Ia yakin pesan yang masuk ini berasal dari Dongwook.


Taehyung menelan ludah tegang saat melihat nama pengirim pesan adalah Jimin. Benar bukan dugaannya, pasti Dongwook mengirim pesan.


Taehyung membuka pesan itu dan mata langsung membelalak saat melihat foto yang di-attach. Di foto itu Jimin berada di lantai dengan tangan dan kaki terikat, wajah sudah babak belur dan berdarah di sana-sini. Dan entah luka-luka lain yang tak nampak di badan manusia itu.


Rahang Taehyung mengeras, ia sangat marah. Begitu bejatnya yang dilakukan orang-orang itu pada temannya. Ponselnya bergetar kembali, kini ada pesan lagi yang masuk :


Mafiaku kadang tak sabaran dan tak bisa diatur, seenaknya menghajar tawanan.


Apa kau masih ingin bersembunyi, Taehyung?


Atau perlu aku infokan bagaimana kakak perempuan Jungkook hampir diperkosa oleh salah satu anak buahku? ;)


Tangan Taehyung gemetaran. Matanya sudah basah akibat amarah dan luapan emosi.


Ponsel bergetar lagi, ada pesan masuk :


Sudah 4 hari… Kesabaranku ada batasnya.


FYI tidak ada gunanya memburuku. Aku sudah mendengar apa yang terjadi di kantorku. Well, jika hal seperti itu terjadi lagi… aku tidak berjanji aku masih bisa menjaga para sandera ini dengan selamat.


Dada Taehyung begitu sesak. Sampai kapan ia hanya bisa diam dan membiarkan orang lain menjadi korban kebejatan sindikat? Dongwook menginginkannya… semua yang dilakukan Dongwook hanya untuk menarik Taehyung kembali ke sindikat.


“Tae?” panggil Namjoon dari dapur.


Taehyung segera mengucek matanya yang sudah basah, berusaha mengendalikan emosinya supaya tidak ketahuan oleh para hyungnya. Ia pun pergi ke dapur dan kembali membantu Namjoon seolah barusan ia tidak mendapat pesan maut dari Dongwook.


Beberapa saat kemudian, Taehyung membawa bubur dan sup bersama Namjoon. Mereka ke kamar dan melihat sudah ada Yoongi dan Hoseok yang sedang mengecek kesehatan Jungkook. Taehyung meringis melihat bagaimana kondisi hanya akan semakin memburuk, bukan hanya nasib orang-orang yang ditawan tapi juga kondisi hati Jungkook dan Seokjin.


“Aku sudah menyediakan obat penurun demam yang bisa diminum oleh Jungkook 3 kali sehari,” ujar Yoongi, “Dan Jungkook perlu banyak beristirahat dulu.”


Taehyung mengangguk. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan menyiapkan sup untuk bisa dimakan Jungkook.


“Wah sepertinya sup ayamnya enak…” kata Hoseok melihat mangkuk yang dipegang Taehyung. “Apa masih ada di dapur?”


Namjoon mendengus pelan. “Yes, yes.. masih banyak di bawah sana.”


Hoseok mengekeh, akhirnya ia dan Namjoon pun pergi setelah mengucapkan semangat lekas sembuh pada Jungkook. Yoongi memberi senyum pada Taehyung. Bagaikan dejavu, kali ini giliran Taehyung yang harus merawat Jungkook yang sakit.


“Kalau ada apa-apa kau bisa memanggilku, Tae.” kata Yoongi.


“Thanks, Hyung.” sahut Taehyung penuh terimakasih.


Akhirnya Yoongi pun pergi meninggalkan kamar itu. Taehyung mengaduk-aduk dan meniup sup ayam. Jungkook memandanginya, ia merasa aneh karena sepertinya ada yang mengganggu pikiran vampire itu.


“Wae? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Jungkook.


Taehyung menggeleng pelan. Dia tidak mungkin menceritakan pada Jungkook bahwa barusan Dongwook mengancamnya. Jangan-jangan Jungkook malah semakin sakit.


“Aku hanya kuatir karena kau sakit.”


“Aww…” Jungkook mengekeh, percaya dengan alasan Taehyung itu. “Walau manusia bisa sakit tapi tubuhku ini kuat, Tae. Nyawaku ada 9.”


Taehyung tersenyum masam. Sakit demam kecil begini bagaimana mungkin ada hubungannya dengan 9 nyawa? -_-


“Cepatlah sembuh, Kook, aku tidak mau kau sakit.”


Jungkook memberi senyum pelan. Ia mengangguk dan mulai makan sup yang diberikan oleh Taehyung.


***


Ini adalah hari kelima semenjak Soojung dan Jimin disandera. Demam Jungkook sudah turun tapi Yoongi tetap menyuruhnya untuk bedrest. Seokjin banyak mengurung diri di kamarnya, sepertinya sang Alpha sangat frustasi akibat belum ada kabar berarti mengenai keberadaan Soojung. Taehyung tak bisa memberitahunya bagaimana Dongwook yang mengatakan Soojung hampir saja dilecehkan. Bisa-bisa Seokjin akan sangat mengamuk dan menghancurkan semua pelosok kota Seoul demi mencari sang kekasih.


Malam itu Taehyung kembali mendapat pesan dari Dongwook melalui nomor Jimin. Lagi-lagi Dongwook tak bosannya mengancam Taehyung meski Taehyung tidak pernah mengirimkan pesan balasan. Namun malam ini kesabaran Taehyung sudah hampir mencapai puncaknya karena pesan yang dikirimkan Dongwook:


Datanglah malam ini ke penthouse-ku. Atau kau lebih suka membiarkan Jimin mati? Bukankah temanmu itu membutuhkan darah vampire? Well, aku memang mempunyai banyak “stok” vampire tapi aku bisa saja membiarkannya mati sekarat… karena apa? Karena kau yang masih mengeraskan hati, Kim Taehyung.


Taehyung tidak bisa tidur. Dia memikirkan secara bijak cara untuk menyelamatkan Soojung dan Jimin, juga cara supaya dirinya tidak terjebak dalam perangkap Dongwook. Tapi tetap tak ada.


Taehyung tidak bisa tidur malam itu terus memikirkan apa yang harus ia lakukan. Apa kalau ia datang pada Dongwook para sandera akan dilepaskan? Atau bisakah Taehyung melakukan kesepakatan dengan Dongwook?


Taehyung bergerak dengan resah di tempat tidurnya. Tiba-tiba ia mendengar isak tangis kecil. Taehyung langsung menoleh dan melihat ke samping, Jungkook sedang menangis. Sepertinya pria itu bermimpi buruk sampai mengigau menangis.


Taehyung mengubah posisi menjadi duduk. Kamar sudah gelap namun penglihatan vampire cukup tajam untuk melihat apa yang terjadi. Jungkook sedang membelakanginya, mengigau dalam tidurnya.


Hati Taehyung merasa pedih melihat itu. Pastinya Jungkook bermimpi buruk karena keadaan yang terjadi. Jungkook pasti mengkhawatirkan kakak satu-satunya. Meski Jungkook tidak menceritakannya dengan gamblang tapi Taehyung tahu bagaimana kesedihan Jungkook. Manusia itu sudah kehilangan orangtuanya karena vampire… apa harus ditambah kehilangan kakak juga karena sindikat penjualan vampire?


Taehyung menggigit bibir keras-keras. Sudah cukup semua penderitaan Jungkook dan Seokjin ini. Taehyung tidak akan diam saja membiarkan Dongwook semena-mena. Taehyung tidak akan membiarkan orang-orang di sekelilingnya menjadi korban lagi.


“Kook…” bisik Taehyung mengusap lengan manusia itu, “Stay strong.”


Jungkook sudah berhenti mengigau dan kembali tidur. Taehyung memegang keningnya yang untungnya sudah tidak demam lagi.


Taehyung berjanji ia akan mengembalikan Soojung, Jimin dan ibunya. Orang-orang yang tak bersalah tak semestinya menjadi korban. Taehyung akan bertanggung jawab… kalau dirinya yang diingankan Dongwook… dan kalau hanya itu cara untuk melepaskan sandera… Taehyung akan melakukannya.


Ponsel Taehyung di nightsand bergetar. Taehyung membaca pesan dari Dongwook. Dalam pesan itu Dongwook kembali mengancam dan menyuruh Taehyung datang ke penthouse. Dongwook pun memberikan alamatnya.


Taehyung meremas ponsel dengan kesal. Matanya berkilat nanar, ia akan membereskan masalah ini secepatnya. Taehyung menoleh pada Jungkook yang tertidur. Ini menyedihkan karena Taehyung pun tak bisa memberitahu Jungkook… tidak bisa mengucapkan kata perpisahan pada soulmatenya.


Taehyung mengambil sesuatu di laci. Dua gelang manik-manik yang dulu dibuat yang diberikan untuk dirinya, Jungkook dan Jimin. Namun Jungkook melemparkannya saat dulu Jungkook memutuskan tali persahabatan. Taehyung yang innocent masih menyimpannya walau tidak memakainya.


Taehyung memakai gelang manik yang berwarna merah lalu ia mendekati Jungkook dan memakaikan gelang manik yang berwarna biru. Semua harus kembali pada tempatnya. Ia akan mengembalikan kehidupan Jungkook yang normal dan tenang… begitu pun ia akan kembali ke sindikat.


“Bye, Jeon…take care.” bisik Taehyung mengusap kembali lengan manusia itu. Air mata menetes dan ia berusaha menguatkan diri kalau dia bisa menghadapi Dongwook… kalau dia bisa tegar meninggalkan rumah clan Kim ini…


Taehyung berdiri dan hanya bisa mengambil jaket. Ia membuka pintu balkon perlahan-lahan supaya tidak ada yang terbangun. Ia akan keluar dengan meloncat dari balkon. Pintu utama pastinya dikunci supaya tidak ada yang keluar diam-diam untuk melawan Dongwook seperti yang akan dilakukannya sekarang.


Sebelah mata Taehyung berubah putih. Sinar bulan membuat matanya berkilat dan tampak sangat menyeramkan. Taehyung melihat ke arah tempat tidur untuk terakhir kalinya. Dan dengan itu ia pun melompat dari balkon tanpa suara… menuju penthouse Dongwook sekarang juga.


🎃🎃



😭😭 mari nangis berjamaah 😭


ini episodenya lebih dari 2500 kata, anggap ajala double update


Jangan lupa berikan jejak🐾