Vampire In The City

Vampire In The City
Penyangkalan




Jungkook memejamkan mata dengan alis mengernyit. Taehyung sedang menggigit dan menghisap darahnya. Awalnya memang ada rasa sakit, semacam sakit ditusuk jarum suntik… dan setelahnya tidak terasa apa-apa, meski Jungkook merasa sedikit ngilu membayangkan kalau sekarang darahnya sedang mengalir keluar dihisap oleh Taehyung.


Saat memejamkan mata seperti itu entah kenapa Jungkook seperti melihat flashback kenangan mereka dulu. Kenangan yang sangat menyakitkan. Momen dimana Jungkook menyakiti perasaan Taehyung :


.


.


“Kau ingin bicara hati ke hati?” tukas Jungkook setengah mencemooh. Taehyung mengangguk lugu.


“Orangtuaku… dibunuh oleh vampire. Aku ingin membalaskan dendam pada vampire… Karena vampire… karena vampire aku kehilangan orangtuaku!”


“Dan aku tak menyangka, aku bahkan ditakdirkan untuk berteman dengan salah satu dari mereka!” lanjut Jungkook dingin.


Taehyung menggeleng-geleng. Mata sudah berkaca-kaca.


“Kau adalah vampire.” tandas Jungkook. Suara yang sarat dengan kekecewaan, marah dan rasa jijik.


“Selama ini kau membohongiku. Kau adalah vampire! Kenapa kau berusaha menjadi temanku?”


“Jungkook… a-aku bisa menjelaskannya…” Air mata Taehyung mulai mengalir.


“Aku tidak bisa berteman dengan vampire…” kata Jungkook pahit, “Bagiku itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.”


“Andwae…” isak Taehyung sangat terluka. “Andwae, Jungkook.”


“Kau sangat mengerikan. Kau monster.”


Taehyung mengisak. Ucapan temannya itu terlalu sakit untuk diterima. “A-aku bukan monster..”


Jungkook tertawa mendengus. “Aku selalu bertanya-tanya kenapa dunia ini harus ditempati vampire? Dunia ini tidak pantas untuk vampire.”


Taehyung semakin menangis, air mata mengalir deras di pipi. “Aku tidak pernah meminta diriku untuk dilahirkan menjadi vampire…” isak Taehyung parau, “Aku tidak pernah memintanya.”


“Apa salahku kalau aku adalah vampire?” isak Taehyung memohon.


“Aku tak dapat berteman dengan vampire.” Jungkook memandang gelang yang ia pakai. Gelang itu adalah gelang persahabatan yang pernah dibuat Taehyung, gelang yang selama ini selalu dipakai Jungkook. “Gelang ini pun…” Jungkook melepaskan gelangnya, “Aku sudah tidak membutuhkannya.”


Taehyung menggeleng-geleng dengan air mata yang sudah menetes-netes ke tanah. “Kumohon, Jungkook…. Aku minta maaf kalau diriku adalah vampire. Tapi aku mohon tetaplah menjadi temanku…”


Dunia Taehyung seperti runtuh di depan matanya saat Jungkook melempar gelang itu ke lantai seolah tidak peduli bahwa makna gelang itu sangat berarti untuk Taehyung. Vampire itu menangis semakin menjadi.


“Enyahlah…” tukas Jungkook untuk terakhir kalinya, “Aku tidak bisa berteman denganmu lagi.” Dengan kata-katanya yang setajam pisau itu, Jungkook pun berlalu pergi meninggalkan Taehyung yang masih menangis.


.


.


Jungkook tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia melihat kenangan pahit yang hanya akan menambah rasa bersalah dan penyesalannya. Dulu dia sangat menyakiti hati Taehyung seperti itu.


Jungkook perlahan membuka mata, dengan takut-takut ia melihat lengannya yang bekas digigit. Ada bekas gigitan kemerahan, bekas taring Taehyung yang menancap di kulitnya. Ia melirik vampire di sebelahnya yang sudah berwajah normal meski taring masih terpampang dan ada sedikit sisa darah di bibirnya.


Damn… Jungkook rasanya ingin pingsan jika mengingat dirinya baru saja menjadi korban vampire.


“Taehyung sudah kembali sedia kala…” ucap Namjoon lega.


Jungkook memandang Taehyung dengan membola. Ia kira digigit vampire akan menyebabkan sakit dan trauma… tapi nyatanya tidak. Ini aneh bukan?


Taehyung membalas pandangan Jungkook dan segera menyembunyikan taringnya. Situasi seperti ini sungguh awkward. Dia harus menghisap darah dari orang yang sangat membenci vampire dan punya dendam pribadi pada vampire. Apa Taehyung kini menambah trauma dan kebencian di dalam diri manusia itu?


“Kurasa sebaiknya lengan Jungkook dikompres dulu supaya tidak menimbulkan bekas kebiruan,” ujar Yoongi. Dhampir itu menoleh pada Hoseok, “Hoseok, tolong bawa Jungkook ke bawah untuk dikompres dan berikan tamu kita makan dan vitamin… supaya tidak anemia.”


Hoseok mengangguk. Ia menepuk bahu Jungkook, memberi tanda padanya untuk segera bangun dari tempat tidur. Jungkook menurut, dia masih speechless untuk apa yang baru saja terjadi. Dia merasa sangat sangat linglung.


Taehyung menunduk, ia bahkan tak sanggup hanya untuk mengucapkan terimakasih… Ini memalukan. Dia masih tak mengerti mengapa hanya darah Jungkook yang membuatnya tidak muntah.


Setelah Hoseok dan Jungkook sudah pergi dari ruangan itu, Namjoon akhirnya berkata, “Syukurlah, semua berjalan dengan lancar. Tapi kenapa ya hanya darah Jungkook yang membuat Taehyung tidak muntah?”


Yoongi memberi senyum tipis. “Terakhir saat Taehyung sekarat, Jungkook memberikan darahnya untuk Taehyung… itu adalah pertama kalinya Taehyung menghisap darah manusia secara langsung.”


“Mwo?” Namjoon mengeryit heran. “Tapi bukan berarti membuat vampire hanya bisa menghisap darah manusia itu saja kan? Aku banyak kok melihat vampire lain masih bisa menghisap darah manusia yang berbeda-beda.”


Yoongi mencermati wajah Taehyung yang terlihat syok dan bingung. Bagaimana tidak? Bukankah ini semacam karma untuk Taehyung dan Jungkook? Seolah dewa sedang menghukum dan memberi keduanya pelajaran atas kesalahan masing-masing. Jungkook yang awalnya menolak vampire dan bahkan hampir menyerahkan Taehyung pada hunter… Taehyung yang memutuskan untuk menjauhi Jungkook sekarang malah terikat karena membutuhkan darah Jungkook. Semua ini bagaikan buah simalakama.


“Soulmates…” kata Yoongi pelan, “Aku pernah mendengar yang semacam itu. Kondisi dimana vampire hanya akan bisa mengkonsumsi darah dari satu manusia saja.”


Wajah Taehyung semakin syok. Dia hanya bisa meminum darah dari Jungkook saja???


“S-soulmate?” Namjoon membalikkan badannya pada Yoongi, sangat terkejut.


Taehyung tidak pernah mendengar hal semacam itu, ia pun tidak begitu percaya dengan hal seperti itu di universe. Yoongi mungkin saja mengada-ada. Dia dan Jungkook soulmates?


“Pasangan sejiwa…” lanjut Yoongi, “Kurasa saat pertama kali Jungkook memberikan darahnya pada Taehyung beberapa minggu lalu disitulah jalan mula mereka bonding.”


Namjoon mengeluarkan suara mendramatisir. Astaga mengapa ucapan Yoongi membuatnya merinding, ini seperti drama di TV saja!


“Jangan mengada-ada,” desis Taehyung melotot pada Yoongi, “Apa yang membuat diriku dan Jungkook menjadi soulmate tanpa sebab?”


Yoongi tersenyum tipis. “Jungkook adalah teman pertamamu, Tae. Aku ingat betapa kau sangat menghargainya sebagai teman sejati. Kalian berteman baik, saling percaya sampai kepercayaan Jungkook itu diuji saat ia tahu kau adalah vampire… bagaimana ia berusaha memutuskan hubungan persahabatan kalian, dia bahkan hampir mencelakaimu meski kau tetap percaya tulus padanya.” Namjoon mendengarkan Yoongi dengan takjub, ucapan yang keluar dari mulut dhampir itu bagaikan naskah dari film terkenal.


“Jungkook berada di persimpangan, antara ingin membalaskan dendam kematian orangtuanya atau memilihmu tetap di sisinya.” lanjut Yoongi. “Dan akhirnya dia menyesal, ingin tetap menjadi temanmu. Kurasa di saat dia memberikan darahmu, disitulah perjanjian soulmate dimulai. Mungkin dewa pun ikut berperan serta, menyatukan dua dunia yang saling bertentangan. Pintu bonding pun terbuka di antara kalian berdua.”


“Hentikan! Jangan samakan hidupku seperti dongeng picisan!” Rahang Taehyung mengeras dan entah kenapa ia merasa perkataan Yoongi itu sangat membebaninya. Soulmate apa. Dia tidak ingin terikat dengan siapapun!


“Hwoa…” gumam Namjoon terkagum, “Ini keren sekali.”


Taehyung memicingkan matanya dengan sinis ke arah Namjoon, bisa-bisanya Hyungnya itu berpikiran demikian.


“Ini menunjukkan bahwa kalian berdua memang ditakdirkan untuk menjadi teman sejati,” komentar Namjoon, “Entah sebenci apapun kau pada Jungkook… atau dendam Jungkook pada vampire… Seolah dewa ingin mendamaikan dunia manusia dan dunia vampire melalui kalian berdua. Daebak, aku hampir menitikkan air mataku.”


Ingin sekali Taehyung melempar bantal kepada hyungnya yang semakin merusak suasana hatinya. Dia bukan pemain drama, dia tidak mau hidupnya dipermainkan seperti itu.


“Penjelasanku bisa saja salah,” ujar Yoongi pada Taehyung, “Tapi cuma itu yang masuk akal jika kau hanya bisa menghisap darah Jungkook saja. Kau boleh percaya atau tidak, terserah padamu.”


Taehyung mendengus. “Kami tidak mungkin soulmate.” Rahangnya mengeras, mengingat bagaimana perbuatan Jungkook dulu yang berusaha menjebaknya, mencelakainya. Memangnya ada soulmate yang melakukan hal sekejam itu ya? “Dia bukan soulmate-ku, dia hanya kantung darah bagiku.”


Yoongi tersenyum tipis. Wajar saja jika Taehyung tidak menggubris ucapan Yoongi. Hal seperti itu tidak mungkin diterima oleh Taehyung. Yoongi pun tak menjamin bahwa perkataannya 100 % tepat.


“Yang jelas kau hanya bisa meminum darahnya saja…” gumam Yoongi tersenyum pelan. Wajah Taehyung semakin mengeras, fakta yang ada membuatnya sangat kesal.


Sementara itu Hoseok membawa Jungkook ke dapur, mengompres lengan Jungkook bekas gigitan Taehyung supaya nantinya tidak bengkak dan kebiruan. Hoseok juga menyiapkan minuman dan makanan untuk Jungkook, memastikan sang pendonor tidak lemas pasca ‘transfusi darah’ yang baru saja dilakukan.


Hoseok memandang wajah Jungkook yang masih pongo sejak tadi, entah itu ekspresi syok atau ekspresi linglung yang dimiliki Jungkook, seolah ada yang mengganggu pikiran manusia itu sejak tadi.


Jungkook mengangguk.


“Um…” Hoseok menatap Jungkook ragu-ragu. Ia penasaran seperti apa yang dirasakan Jungkook saat vampire menggigit dan menghisap darah. Hoseok belum pernah mengalaminya jadi itu membuatnya penasaran. “Apa sakit saat Taehyung menggigitmu?”


Jungkook tersentak dan mengangkat wajah. “Tidak kok. Itu tidak sakit.”


“Jinjja?” Hoseok menaikkan sebelah alis.


“Memangnya harusnya sakit?” Jungkook balik bertanya dengan bingung.


“Yah maksudku… rasanya mungkin seperti binatang buas yang mencabik kulitmu, maybe?”


Jungkook menelan ludah. Apa harus seperti itu rasa sakitnya? Tapi jujur saja ia tidak merasakan sakit. Rasanya lebih sakit ketika dokter mengambil darahmu di rumah sakit. Yang tadi dilakukan Taehyung itu tidak membuat Jungkook trauma… tidak membuat Jungkook takut.


“Jangan menakuti pendonor kita, Hoseok!” tukas Namjoon yang suaranya terdengar dari ruangan lain. Beberapa detik kemudian ia muncul ke dapur dengan mata mendelik pada Hoseok.


Hoseok hanya menggaruk-garuk kepala dan meringis. “Aku kan tidak tahu seperti apa rasanya digigit vampire, jadi aku hanya penasaran.”


“Rasanya tentu saja sakit,” ucap Yoongi yang ikut datang ke dapur, “Memang ada ya gigitan yang tidak terasa sakit?”


“Tapi Jungkook mengatakan tidak merasa sakit…” sahut Hoseok.


Yoongi melirik Jungkook dan memberi senyum. “Jika si pendonor memberikannya dengan rela dan tulus, tentu saja tidak terasa sakit.”


Jungkook membalas tatapan Yoongi. Entah ada makna apa di balik kata-kata dhampir itu, makna denotasi atau konotasi?


“Yeah, apalagi kalau soulmate…” bisik Namjoon berusaha menahan tawa. Hoseok mengernyitkan dahi pada Namjoon, tak mengerti dengan perkataan Masternya.


“Lalu mana Taehyung?” tanya Jungkook yang tidak mendengar ucapan Namjoon tadi. “Apa dia sudah baik-baik saja?”


“Dia sudah kembali normal,” sahut Yoongi, “Dia masih ingin di kamarnya.”


Jungkook mengangguk. Hoseok menepuk bahu manusia itu. “Kajja… aku akan membuatkanmu makan siang. Kau pasti lapar.”


“Ngomong-ngomong nanti malam kakakmu akan datang ke sini kan?” tanya Namjoon sambil duduk di kursi bar sementara Hoseok sedang membuka kulkas, melihat apa yang bisa dimasaknya dengan cepat untuk Jungkook.


Jungkook mengangguk. Malam ini memang dirinya dan Soojung diundang Seokjin untuk makan malam di kediaman Kim Brothers, mungkin semacam perkenalan dan acara pengakraban.


“Jimin juga akan datang.” tambah Yoongi. Jimin sudah dianggao sebagai bagian di keluarga Kim karena kedekatan Jimin dan Taehyung. “Jadi kurasa kau bisa tetap disini saja, Jungkook, sampai acara malam nanti tiba.”


Hoseok memberi cengiran pada Yoongi, tangannya memegang frying pan. “Nanti malam Yoongi Hyung yang akan memasak. Dia sangat hebat memasak. Kau suka steak kan, Jungkook-ssi?”


Yoongi mendengus pelan. “Semua orang pasti suka steak. Tapi Taehyung adalah fans nomor 1.”


Jungkook hanya mendengarkan vampire-vampire itu yang sedang berbicara. Sepertinya makanan kesukaan Taehyung pun masih tidak berubah ya? Taehyung yang dulu dan Taehyung yang sekarang sama-sama menyukai steak? Bukankah Taehyung berkepribadian ganda? Jungkook masih berpikiran bahwa Taehyung yang sekarang tidak sama dengan Taehyung yang dulu ia kenal.


.


.


Sampai malam tiba Taehyung tidak keluar dari kamarnya. Seokjin sudah pulang bekerja dan ia sangat lega saat mendengar bahwa Taehyung sudah tidak sakit, yeah sedikit terkejut bahwa darah Jungkook yang telah menyelamatkan Taehyung. Lagi.


Yoongi menyiapkan makan malam dengan spesial, hidangan steak terbaik, tentu saja karena ada tamu kesayangan Alpha yang akan datang ke rumah ini. Yoongi akan memastikan masakan buatannya berkesan positif. Sekitar jam tujuh malam Soojung datang, tidak terlalu terkejut melihat adiknya sudah ada di sana.


Tak lama Jimin juga datang. Ia mengobrol sebentar dengan Jungkook sampai akhirnya Namjoon meminta Jimin untuk ke kamar Taehyung, menyuruhnya untuk segera bergabung karena makan malam akan dimulai.


Jungkook duduk bergabung di meja makan. Ia melihat interaksi antara kakaknya dan Seokjin yang sweet. Keduanya mengobrol pelan dengan senyum penuh arti. Dan Seokjin pun tampak sangat gentle dan bisa memperlakukan Soojung dengan sangat baik. Jungkook cukup puas dan merasa aman melihat hubungan mereka.


“Nah akhirnya Taehyung muncul juga…” gumam Hoseok yang membuyarkan lamunan Jungkook.


Jungkook melihat Taehyung dan Jimin yang muncul dari pintu dan bergabung di meja makan. Meski Jungkook menatap Taehyung namun vampire itu tidak melihat ke arahnya, seolah menghindar.


Yap memang benar, Taehyung sedang menghindar. Dia hanya masih merasa awkward dengan Jungkook, masih tak percaya bahwa Jungkook adalah soulmatenya? Omong kosong macam apa itu? Sialnya ia pun duduk di depan Jungkook di acara makan malam ini, membuatnya harus ekstra menghindari tatapan Jungkook.


“Karena semuanya sudah berkumpul,” ujar Seokjin dengan senyum mengembang, “Aku ingin mengenalkan kekasihku pada kalian semua.”


Soojung tersenyum malu dan tangan Seokjin di bawah meja sudah menggenggamnya sejak tadi.


“Perkenalkan kekasihku Soojung, dia juga adalah kakak perempuan Jungkook.” lanjut Seokjin.


Hoseok memberi tepuk tangan sementara yang lain memberi senyum ramah pada wanita cantik yang duduk di samping sang Alpha. Taehyung juga memberi senyum sopan pada Soojung, baru tahu kalau Alpha mereka berpacaran dengan kakak perempuan Jungkook. Tapi apa pedulinya? Itu bukan urusannya.


“Nah, Soojung…” kata Seokjin, “Aku akan mengenalkan keluargaku padamu.” Seokjin memperkenalkan clannya mulai dari vampire yang duduk dekat dengannya. “Yang ada di sebelah kiriku adalah Yoongi, kudengar kalian sudah pernah mengobrol?”


Soojung mengangguk dan kembali tersenyum pada Yoongi. Dia tidak mungkin lupa pada dhampir yang pernah memperkenalkan diri padanya itu. Menurut Soojung, Yoongi sangat bijak dan setiap perkataannya begitu dewasa.


“Lalu di samping Yoongi adalah Namjoon, kuliah tingkat akhir di kampus yang sama dengan kita,” tutur Seokjin, “Kemudian ada Taehyung… Ah, dia sahabat Jungkook.”


Taehyung tersedak pelan mendengar bagaimana Alpha memperkenalkan dirinya sebagai sahabat Jungkook. The hell??


Jimin menahan senyum namun langsung memberikan segelas air untuk Taehyung.


“Oh!” ucap Soojung terpana sambil menatap Taehyung. Dia kembali mengingat kalau vampire itu adalah vampire yang berusaha diselamatkan adiknya dari kematian, meski Jungkook sendiri yang hampir mencelakainya. “Salam kenal, Taehyung-ssi.”


Taehyung tersenyum tipis. Dia tidak perlu melihat ke depannya, dia tahu kalau sekarang wajah Jungkook pasti penuh kemenangan.


“Selanjutnya ada Hoseok,” ujar Seokjin, “Dia belum lama bergabung dalam clan ini.”


Senyum Hoseok terpampang lebar. Ia bangga karena sudah bergabung dalam clan vampire.


“Di sebelah sana ada Jimin, dia juga sahabat adikmu, Soojung-ah, kurasa kau sudah tahu?”


Soojung memberi anggukan. Dia pernah melihat Jimin saat Jimin datang menginap untuk bermain game dengan Jungkook. Jimin memberi senyum imut pada Soojung.


Seokjin memandang setiap orang di tempat itu satu per satu. “Aku harap kita bisa semakin akrab dan saling mengenal. Perbedaan manusia dan vampire tidak akan menjadi penghalang lagi di antara kita. Mari kita cheers untuk awal hubungan manis di antara kita semua~”


Seokjin mengangkat gelasnya ke udara diikuti oleh gelas-gelas lain yang terangkat.


“Cheers~!” seru mereka dan bersulang bersama.


Jungkook minum sambil memperhatikan Taehyung yang wajahnya datar, seolah tidak tertarik dengan acara malam ini. Jungkook semakin yakin kalau Taehyung memang menghindarinya… vampire itu bahkan belum mengucapkan sepatah katapun pasca kejadian tadi siang. Jungkook bukan ingin dihargai, tapi bukankah perbuatannya tadi siang menunjukkan bahwa dia telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Taehyung? Tapi seolah Taehyung pun tidak ingin Jungkook ada di depannya sekarang.


🎃🎃



"SOULMATES -Ini adalah teori bahwa dua orang yang merupakan belahan jiwa yang ditakdirkan dihubungkan oleh 'tali perak', hanya terlihat oleh belahan jiwa yang ditakdirkan itu sendiri. Melalui tali perak, belahan jiwa dapat merasakan apa yang dirasakan satu sama lain jika orang tersebut berkonsentrasi. Kekuatan koneksi bervariasi. Beberapa belahan jiwa langsung tahu bahwa ada sesuatu yang salah.


Bertukar darah adalah salah satu cara bagi seseorang untuk mengetahui bahwa mereka adalah belahan jiwa dengan orang lain. Belahan jiwa dapat memasuki pikiran satu sama lain dan melihat ingatan, pikiran, dan perasaan mereka. Pikiran dan ingatan bisa diblokir, tetapi butuh konsentrasi. Untuk semua orang di dunia, ada SATU belahan jiwa yang sempurna untuk mereka. Anda tidak harus terlihat seperti belahan jiwa Anda, bertindak seperti mereka, seumuran dengan mereka; heck, Anda bahkan tidak harus menyukai mereka pada awalnya, tetapi dari saat Anda bertemu dengan mereka, Anda tahu bahwa Anda tidak akan pernah benar-benar bahagia tanpa mereka."


Hmm interesting.


Jangan lupa berikan jejak 🐾🐾😍