
Jungkook memandang kedua teman yang duduk di hadapannya itu. Ia menatap Taehyung dan Jimin bergantian. Apa ini hanya perasaannya saja? Tapi sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan kedua temannya itu.
Seperti biasa mereka makan siang bersama di kantin. Sudah sejak pagi sebenarnya Jimin selalu bersama Taehyung. Keduanya datang bersama ke kampus, walau mereka berbeda jurusan sekalipun. Jungkook merasa heran kenapa Jimin tiba-tiba clingy dan mengikuti kemanapun Taehyung pergi?
Jimin menghindari tatapan Jungkook. Ia merasakan kalau temannya itu sedang heran dengan dirinya. Dan memang, ada hal yang disembunyikan Jimin. Ia tidak menceritakan pada siapapun mengenai apa yang terjadi di basement, termasuk pada Jungkook. Ia meminta Taehyung merahasiakannya (meskipun dia tidak tahu kalau Taehyung dengan senang hati mau melakukannya supaya identitas dirinya pun tak terungkap).
Tidak banyak yang diceritakan Taehyung semenjak kejadian di basement. Tapi diam-diam dalam hati Jimin mulai mengaitkan satu hal dengan yang lainnya. Semua itu masih berseliweran di dalam benaknya, masih seperti puzzle yang sebentar lagi bisa ia pecahkan. Namun Jimin tidak akan terburu-buru, ia selalu bersabar untuk urusan seperti ini.
Jimin melirik Taehyung yang duduk di sebelahnya, yang sedang makan. Jimin sangat berhutang budi pada Taehyung dan hyungnya. Ia memang masih tidak mengerti sebenarnya, ada praduga-praduga di dalam hatinya… tapi lebih dari itu, dia menilai Taehyung di atas praduganya. Taehyung adalah teman terbaik yang pernah ia punya. Ia tidak akan meragukan persahabatan dan ketulusan Taehyung.
“Jungkookie, nanti pulangnya kita ke arcade, bagaimana?” ajak Taehyung.
Jungkook menggeleng. “Mian, aku ingin langsung pulang dan istirahat.” Masa UTS sudah berakhir dan Jungkook merasa ia ingin bisa tidur panjang menggantikan malam-malam sebelumnya ia kurang tidur.
“Kau bisa pergi dengan Jimin.”
Jimin mengangkat wajahnya memandang Jungkook. Kenapa ia merasa nada bicara Jungkook itu begitu pahit.
“Ah ne…” sahut Taehyung lemah, sedikit kecewa. “Oh ya kapan-kapan aku mau menginap di rumahmu ya, Jungkookie? Hyungku sudah mengijinkanku untuk menginap.”
“Yeay~” Jimin ikut antusias mendengarnya, “Kita bisa begadang dan bermain video game bersama.”
Taehyung memberi anggukan dengan boxy smilenya.
Jungkook hanya bergumam pelan dan terus makan. Itu bagus jika Taehyung sudah diijinkan untuk bisa menginap, tapi untuk saat ini Jungkook tidak ada mood untuk menginap bersama. Ada yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini.
Jimin juga ingin suatu saat nanti berkesempatan datang ke rumah Taehyung. Ia begitu penasaran dan ingin memastikan sesuatu.
.
.
Pulang kuliah, Jungkook berpisah dengan Taehyung dan Jimin. Kedua temannya itu memutuskan tetap pergi ke arcade.. dan Jungkook tidak mau peduli sama sekali. Ia langsung berjalan lurus, tak membiarkan Taehyung dan Jimin untuk mengucapkan selamat tinggal.
“Apa Kookie sedang tidak enak badan ya?” gumam Taehyung pada Jimin. Keduanya berjalan menuju arcade yang berada beberapa blok lagi. “Di kelas pun mukanya muram.”
Jimin mengangkat bahu. “Dia mungkin kelelahan karena persiapan UTS. Dia butuh istirahat, Tae.”
“Oh begitu…”
“Tae… aku tahu aku sudah sering mengatakannya berulang kali…” ujar Jimin. Taehyung menoleh tegang ke arahnya. “Tapi kejadian di basement itu masih menjadi tanda tanya untukku. Ibuku tidak mengingat kejadian itu sama sekali seolah amnesia. Dan kau pun mengatakan vampire di basement rumahku sudah pergi.”
Taehyung menelan ludah.
“Bagaimana ya aku mengatakannya… ini membawaku pada beberapa kesimpulan, Tae. A-aku…” Jimin mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi. Ia tidak ingin menyakiti Taehyung dengan pembicaraan ini. “Aku mungkin syok… tapi… Tae, percayalah, aku tidak akan men-judge-mu dan para hyungmu…”
“Ji-Jiminnie…”
“Aku hanya syok, oke? Tapi aku tetap akan menjadi Jimin yang sama dengan sebelumnya. Dan bagiku, kau pun adalah Taehyung yang sama, temanku…”
Taehyung terkejut mendengarnya. Ia sangat terharu, terlepas ia pun kaget dengan pengakuan Jimin yang mengarah bahwa Jimin mengetahui identitas aslinya… tapi Jimin berusaha menenangkannya seperti ini, sangat membuatnya terenyuh.
Jimin menghela nafas panjang. “Suatu saat kau harus mengajakku ke rumahmu, oke? Aku belum mengucapkan terimakasih pada para hyungmu. Kalian pun masih berhutang penjelasan mengenai darah yang ditransfusikan ke dalam tubuhku itu.”
Taehyung akhirnya tersenyum. “Jika saatnya sudah tepat, aku akan mengajakmu ke rumah. Dan hyungku akan menjelaskan semuanya padamu.”
Jimin langsung memeluk tubuh sahabatnya. “Oh, Tae… aku tidak tahu apa yang terjadi jika aku tidak pernah bertemu denganmu. Gomawo, Chinguya.”
Taehyung tersenyum penuh haru. Ia pun merasakan hal yang sama. Dia sangat bersyukur karena bertemu dengan Jimin dan Jungkook, hidupnya tidak pernah hambar lagi.
Mereka melepas pelukan dan kembali berjalan menuju arcade sambil mengobrol ceria. Saat sedang berjalan seperti itu, tiba-tiba jalan mereka diblok. Yang tak disangka Woobin dan Xiumin menghadang mereka dengan senyum mencemooh.
“Sangat mengharukan, eoh.” tukas Woobin memandang Taehyung dan Jimin dengan sinis.
“Kalian lagi!” tukas Jimin berang. Ia sudah akan maju menonjok mereka namun Taehyung menahan lengannya. Ia tidak mau terjadi keributan disini.
“Ka-kalian mau apa?” tanya Taehyung berusaha tidak takut. Apa lagi yang diinginkan kedua vampire itu? Tidak cukupkah perbuatan mereka sebelumnya yang sudah meninggalkan luka di dada Taehyung?
“Jadi temanmu ini sudah tahu identitasmu?” tukas Xiumin. Telinga vampirenya tentu saja bisa mendengar apa yang tadi diobrolkan oleh Taehyung dan Jimin. Xiumin memandang Jimin dengan smirk jahat. “Apa kau penasaran apa yang kami lakukan pada teman vampiremu beberapa waktu yang lalu?”
Gigi Jimin gemertakan menahan marah. Ia tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi saat di belakang gedung lab. Dua orang di depannya ini ternyata bukan salah membuli, tapi sepertinya keduanya sengaja menyakiti Taehyung karena Taehyung adalah vampire? Ini pemikiran Jimin, dia tidak tahu bahwa Woobin dan Xiumin sendiri pun adalah vampire.
“Ji-Jimin, kita tidak perlu meladeni mereka…” gumam Taehyung gemetar dan memegang lengan temannya, menyuruhnya untuk pergi dari situ.
Tapi Jimin menolak. Ia sangat ingin melakukan pembalasan pada apa yang Taehyung alami sebelumnya. Sepertinya yang dua orang itu lakukan pada Taehyung sangatlah berbahaya karena vampire itu sampai menderita kesakitan. Jimin memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia sangat menentang penyiksaan seperti ini. Taehyung tidak melakukan hal yang membahayakan orang lain sebagai vampire, oleh karena itu tidak sepatutnya Taehyung diganggu dan dianiaya begitu.
“Kalau saat itu kau tidak perlu datang mengganggu urusanku.” tukas Woobin mendelik sebal pada Jimin. Ia tentu tidak melupakan bagaimana Jimin meninjunya.
Jimin sangat kesal, ia akan beri perhitungan dua orang itu yang sudah menganiaya temannya. Jimin bergerak cepat ke arah Woobin dan Xiumin. Dua vampire itu langsung berlari menghindar dan Jimin mengejarnya.
“Jimin!!!” seru Taehyung panik melihat Jimin yang berlari mengejar dua vampire itu. Tidak bisa diapa-apakan lagi, Taehyung pun berlari mengikuti mereka.
Jungkook mengerjap-ngerjap bingung. Apa lagi yang terjadi?
Woobin dan Xiumin sengaja berlari menjauhi tempat ramai. Mereka tidak mungkin berkelahi di tempat umum dan banyak orang. Woobin dan Xiumin berlari menuju bangunan sepi tak terpakai. Semacam gang buntu dengan bangunan-bangunan tua tak berpenghuni. Di tempat seperti ini akan lebih aman jika Woobin dan Xiumin ingin menghajar Taehyung dan Jimin.
“Kau akan kubuat menyesal karena sudah menyakiti sahabatku!!” teriak Jimin, tidak terengah-engah sama sekali berlari cepat mengejar dua vampire itu sampai ke sini.
“Nice.” ucap Woobin memberi smirk, cukup puas karena ia sudah yakin tempat ini sepi, tidak ada orang.
Beberapa saat kemudian Taehyung juga datang. Ia sangat takut dengan apa yang akan terjadi. Ia belum pernah melihat Jimin semarah ini. Yang parah adalah yang dihadapi oleh temannya adalah dua vampire dewasa, tidak mungkin Jimin bisa mengalahkan dua vampire itu.
“Jimin, ayo kita pergi.” ucap Taehyung dengan nada memelas, memegang lengan sahabatnya.
Jimin menjauhkan lengannya dari pegangan Taehyung. “Aku ingin memberi pelajaran pada dua orang ini, Tae.”
Xiumin mendengus dan membuang ludah ke lantai. Sudah tidak mau berbasa basi lagi. “Mari kita buktikan ucapanmu, anak kecil.”
Jimin langsung berlari menerjang kedua vampire itu. Dia pikir dia bisa mengalahkan dua orang itu dengan kekuatannya, karena seingatnya sebelumnya ia berhasil menyelamatkan Taehyung dan memukul salah satu dari mereka. Namun hari ini tampak lain, dua vampire itu dengan mudah menghindar dari tinjunya. Gerakan mereka sangat cepat, Jimin tidak tahu jurus apa yang dua orang itu lakukan.
“Kau terlalu muda jika ingin melawan kami.” ucap Woobin lalu memukul perut Jimin.
Pukulan itu begitu telak dan bertenaga. Darah langsung keluar dari mulut Jimin, dan ia merasakan di dalam perutnya seperti sobek.
“Jimin!!” seru Taehyung panik. Ia berlari sambil menangis menuju temannya namun Xiumin lebih dulu menghadang dengan menendang ke kaki bayi vampire itu membuat Taehyung jatuh dengan keras ke lantai.
“Bayi vampire bodoh.” tukas Xiumin puas melihat lawannya sudah jatuh.
Jimin menoleh ke belakang melihat bagaimana sekarang Taehyung sedang dipermainkan oleh Xiumin. Tangan temannya itu diinjak kuat oleh sepatu yang digunakan Xiumin.
“Bastard!!” tukas Jimin, matanya sudah memerah karena menahan marah yang meluap di dada. Ia sudah akan menyerang ke arah Xiumin namun kembali Woobin menarik lengannya lalu meninjunya keras di rahang. Jimin langsung jatuh lemas ke lantai.
Taehyung mengerang kesakitan karena tangan diinjak oleh Xiumin. Dan apa yang dua vampire ini lakukan padanya? Apa ia akan diserang menggunakan lempengan silver lagi?
Jimin berusaha bangkit berdiri, ia bukan tipikal yang akan menyerah pada lawan begitu saja. Namun lagi-lagi Woobin menendang perutnya dan meninjunya dua kali.
“Jimin!!” isak Taehyung melihat kondisi sahabatnya yang pipi dan hidungnya sudah berdarah. Bayi vampire itu menangis, merutuki dirinya yang begitu lemah dan tak berdaya. Bahkan di saat temannya sedang dalam bahaya, ia tidak dapat melakukan apa-apa. Ini menyedihkan. Dia tidak pernah menginginkan ini terjadi. Dia tidak pernah ingin melihat ada temannya yang disakiti.
“Ternyata cuma teman manusia yang bodoh.” ketus Woobin memandangi Jimin yang sudah terkapar di lantai. Woobin mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. “Sudah cukup main-mainnya ya. Aku akan tunjukkan siapa diriku sebenarnya.”
“Andwae!!” seru Taehyung melihat bagaimana Woobin mengeluarkan pisau lalu dengan tangan lainnya ia menjambak rambut Jimin, menarik kepalanya bangun dari lantai.
“Jangan main-main dengan vampire…” bisik Woobin dengan senyum menakutkan pada Jimin. Mata Woobin berubah menjadi warna biru tua, mata aslinya. Jimin sudah tak dapat melawan, pukulan Woobin tadi sudah membuatnya tak berdaya.
Woobin menjilat bibir melihat darah di wajah Jimin. Mungkin ia pun nanti akan menghisap darah manusia ini sebagai cendera mata.
Ada kemarahan besar di dalam diri Taehyung. Melihat bagaimana Woobin telah menyakiti Jimin dan sudah bersiap-siap akan menggorok leher temannya. Dia tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Dia bahkan selalu meneguhkan hatinya bahwa ia ingin melindungi teman-temannya. Tidak masalah jika ia yang disakiti, tapi bukan temannya.
Kedua tangan Taehyung gemetar di lantai. Ia sudah tidak merasakan sakit meski Xiumin sedang menginjak-injak punggungnya. Entah kekuatan datang darimana, Taehyung bangkit bangun dan menghempaskan kaki Xiumin yang menginjaknya.
Dalam hitungan detik, ia langsung memegang kaki Xiumin, memelintirnya membuat vampire itu berteriak kesakitan saat merasakan kekuatan Taehyung mulai meremukkan tulang di kakinya.
Taehyung sudah tidak seperti Taehyung biasanya. Ekspresinya saat ini terlalu menyeramkan. Ia memberi seringai seolah menikmati bagaimana suara tulang terdengar dari kaki Xiumin bercampur dengan jerit kesakitan vampire itu. Salah satu mata Taehyung pun tidak normal, berwarna putih pekat seperti hantu sementara mata lainnya berwarna seperti manusia normal.
“Aaaackkk!!” jerit Xiumin. Dia tak menyangka kalau bayi vampire itu bisa seperti ini, seperti memiliki kekuatan monster. Taehyung mengekeh puas melihat Xiumin kesakitan.
“Xiumin!!” Woobin kaget melihat yang terjadi, begitu cepatnya kondisi telah berbalik.
Woobin berlari ke arah Taehyung untuk menyerangnya, namun Taehyung lebih cepat. Dalam hitungan sepersekian detik, ia menghempaskan Xiumin, melempar vampire itu ke lantai, lalu berbalik dan menghadang Woobin. Seperti bukan apa-apa, Taehyung menahan tangan Woobin yang memegang pisau. Dengan kekuatannya ia meremas pergelangan tangan Woobin membuat vampire itu menjerit karena Taehyung sedang mematahkan tulangnya dengan mudahnya. Terdengar suara tulang yang patah disertai jerit tangis Woobin.
Jimin yang berada di lantai, menahan nafas melihat apa yang terjadi. Taehyung yang sekarang begitu berbeda. Dia sangat menakutkan, sebelah matanya berwarna putih. Dan smirk jahat itu… itu bukan milik Taehyung yang ia kenal.
“Kau mengatakan untuk tidak bermain-main dengan vampire?” tukas Taehyung pelan dengan seringai mengejek, “Sekarang lihat siapa yang kesakitan, hmm?”
Taehyung mencekik leher Woobin, mengangkat tubuhnya ke udara. Wajah Woobin sudah pucat dan membiru. Tentunya Taehyung bisa melakukan hal yang sama pada lehernya seperti pergelangan tangannya yang sudah patah itu.
“Masih menganggapku bayi vampire, eoh?” tukas Taehyung menyeringai menikmati melihat ekspresi lawannya yang kesakitan.
Jimin menelan ludah, ngeri melihat pemandangan itu. “Tae…”
Jungkook berdiri terpaku di balik tembok melihat apa yang terjadi. Matanya terbelalak seperti melihat hantu.
Ia sudah tiba semenit yang lalu dan sangat syok melihat kejadian di depan matanya. Ia melihat bagaimana Taehyung mematahkan kaki dan tangan lawannya dengan mudah seperti mematahkan ranting. Dan sekarang… bagaimana Taehyung mencekik lawannya sambil mengatakan bahwa dia tidak mau dianggap sebagai bayi vampire.
🎃 🎃 🎃
Bersambung di saat menegangkan. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
nah ini sudah mulai muncul vampire Taehyung sesungguhnya 😍