Vampire In The City

Vampire In The City
First Date



Hai hai.. mian baru bisa update. Sempet berusaha mengetik namun blank..... Novel ini memang 'slow burn'.. jadi lambat mencapai inti novel dan klimaksnya karena author harus menceritakan dulu bagaimana proses hubungan setiap tokoh. Jadi ga tiba-tiba Soojung pacaran sama Seokjin.. atau Taehyung yang sahabatan dengan Jungkook dan Jimin.


Tapi tahukah kalian kalau ini bahkan belum mencapai setengah jalan cerita nya? Karena konflik akan dimulai mungkin dari episode ini. Bisa dibilang 25 episode sebelumnya itu masih prolog...


Yah itulah mengapa author menganggap novel ini 'slow burn'.


Oke dah, selamat membaca. Jangan lupa berikan jejak



🎃🎃


Jungkook menyenggol lengan Taehyung yang duduk di sebelahnya. Sementara dosen sedang menjelaskan mata kuliah, Taehyung malah bermain-main dengan manik-manik di bawah meja. Wajahnya tampak begitu fokus dan sangat excited, mengacuhkan mata kuliah siang ini.


Taehyung hanya menoleh sebentar dan kembali memasukkan manik-manik ke dalam tali karet. Ternyata benar apa kata Yoongi Hyung, ini menyenangkan dan mengasyikkan.


“Kau sedang apa dari tadi?” bisik Jungkook, “Nanti kau ketahuan oleh Profesor Lee.”


“Sedikit lagi kok…” balas Taehyung. Ia dengan hati-hati memasukkan manik-manik berwarna hitam. “Bagus tidak?”


Jungkook menaikkan sebelah alis. “Kau sedang membuat gelang?”


Taehyung mengangguk. “Aku ingin memberikannya untuk seseorang.” Vampir itu malah terkekeh sendiri.


Jungkook memandang Taehyung skeptis. Seseorang? Apa Taehyung mengagumi seorang wanita dan ingin memberikan gelang? Tapi setahunya Taehyung tidak sedang menyukai seseorang. Lagipula bukankah sangat kuno membuat gelang sendiri dari manik-manik?


“Kau senang tidak kalau mendapat gelang seperti ini?” tanya Taehyung sambil menunjukkan gelang yang sudah hampir jadi.


Jungkook memandang gelang itu. Sebetulnya Jungkook bukan pecinta aksesoris dan baginya gelang yang dibuat Taehyung itu sangat simple, siapapun bisa membuatnya. Jungkook tidak mengerti mengapa Taehyung harus membuatnya sendiri jika ia bisa menemukan banyak yang seperti itu di toko perhiasan.


Jungkook hanya mengangkat bahu dan kembali memperhatikan dosen yang sedang mengajar.


Taehyung mempoutkan mulutnya. “Ini apakah jelek??”


Jungkook kembali menoleh, tak tega melihat wajah temannya itu, mengingatkannya pada mata sayu seekor anak anjing yang minta dikasihani. Aigoo…


“Anni, anni… orang itu pasti akan senang mendapatkan gelang darimu.”


“Jinjja?” Mata Taehyung berbinar.


Jungkook menghela nafas dan mengangguk. “Bisakah sekarang kita kembali fokus belajar? Sebelum Profesor Lee memergoki kita.”


Taehyung mengangguk dan menunjukkan senyum kotaknya. Aigoo polosnya ia hanya karena mendengar jawaban asal dari Jeon Jungkook.


.


.


Saat istirahat tahulah Jungkook kalau Taehyung membuat gelang itu untuknya dan Jimin.


Usai makan siang bersama sambil menunggu mata kuliah berikutnya, Taehyung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Tiga buah gelang manik-manik yang nyaris serupa namun hanya sedikit dibedakan dengan warna yang berbeda. Dominan manik-manik itu berwarna hitam.


“Tarra~~~” seru Taehyung sambil menaruh 3 gelang di atas meja.



Jungkook menelan ludah. Jangan-jangan ini gelang couple sebagai tanda persahabatan. Oh God seharusnya ia bisa mencegah Taehyung untuk membuat gelang-gelang ini. Jungkook bukan pecinta aksesoris dan jika ia disuruh memakai gelang ini…….


“Whoa…” ucap Jimin, “Ini oleh-oleh?”


Taehyung menggeleng. “Aku yang membuatnya.” ucapnya bangga.


“Jinjja?” Jimin mengambil salah satu gelang yang mata gelangnya berwarna putih, “Ini bagus, Taetae.”


“Ini gelang persahabatan dariku~” ucap Taehyung dengan eye smile.


“Aww so sweet…” gumam Jimin sambil mencubit pipi temannya. Jimin langsung memakai gelang yang ia pilih dan memamerkannya. “Bagaimana? Cocok kan?”


“Itu cocok untukmu~” sahut Taehyung sambil mengatupkan dua tangan, bahagia karena gelang buatannya diterima baik oleh Jimin. Taehyung menoleh pada Jungkook. “Nah, Kookie, kau mau yang mana? Yang biru atau yang merah?”


Jungkook menelan ludah kembali. Dia tidak mungkin menolaknya, Taehyung mungkin akan menangis dan Jimin akan mencacinya. Dia tidak mungkin memilih warna merah karena terlalu mencolok. Jungkook pun mengambil gelang berwarna biru. Taehyung dan Jimin masih memandangnya, seolah menunggunya untuk memakai gelang itu. Jungkook pun memakai gelang itu yang langsung disambut dengan sorak oleh Taehyung.


“Wow, kau terlihat keren, Kookie!!” kata Taehyung menunjukkan senyum kotaknya sambil memberikan jempol.


“Ah jinjja…” Jungkook memandangi gelang yang dipakainya. Hmm, not bad juga.


“Jadi aku akan pakai yang merah…” ujar Taehyung dan mengambil gelang yang tersisa. Ia bergumam-gumam ceria saat gelang itu sudah melingkar manis di pergelangan tangannya.


“Aku merasa kita seperti power ranger saja memakai gelang ini…” ucap Jimin di sela tawa, “Seolah gelang ini akan merubah kita dan memberikan kita superpower.”


Taehyung mengangguk-angguk semangat. “Pasti keren sekali kalau kita bisa seperti itu!”


“Gomawo, Taetae, untuk gelangnya…” gumam Jimin tersenyum. Ia merasa Taehyung terlalu sweet… pertemanan mereka yang semula biasa bisa menjadi lebih bermakna karena kehadiran dan kepolosan Taehyung. Apalagi sebelumnya ia dan Jungkook tidak dekat tapi kini menjadi partner in crime… sebetulnya itu pun karena Taehyung yang menyatukannya. Kepolosan Taehyung membuat hati dingin Jungkook melting… juga membuat Jimin yang semula menganggap tidak ada teman sejati kini berubah. Jimin senang ia bisa mengalami persahabatan di masa kuliahnya.


“Gelangnya sangat bagus..” kata Jungkook memuji. Ia memegang setiap manik-manik dan merasakan kalau manik-manik itu cukup berkualitas, tidak kekanak-kanakan seperti pemikirannya. “Gomawo.”


Senyum Taehyung mengembang panjang. Dia bahagia sekali. Dia harap dia terus bersama dua teman manusianya ini. Dia berharap tidak perlu ada penghalang yang membuat mereka tidak bersama. Dan meski Taehyung merupakan vampire… jika perlu Taehyung akan terus menyembunyikan dan mengkerdilkan identitas dirinya asal dia tidak kehilangan dua temannya ini.


***


Sore itu sesudah perkuliahan berakhir, Soojung dan Seokjin berkencan. Kencan pertama ini ditentukan sendiri oleh Soojung seperti kesepakatan. Soojung mengajak Seokjin ke arena ice skating. Jujur saja, Soojung sangat mahir dalam berseluncur di arena ice skating. Tanpa sadar dia ingin menunjukkan kelebihannya di kencan pertama ini.


“Ice skating?” ucap Seokjin saat membaca nama tempat yang mereka kunjungi.


Soojung mengangguk. “Apa O-Oppa bisa ice skate?” Dirinya cukup gugup, apa terlalu aneh ya jika mengajak kencan ke tempat seperti ini. Bodohnya seharusnya ia bertanya sebelumnya apakah Seokjin bisa bermain skating atau tidak.


Seokjin memberi senyum. Hidup lama di dunia tentu saja membuat Seokjin memiliki banyak skill. “Bisa… meski aku penasaran apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak bisa sama sekali?”


Soojung mengekeh. “Aku akan mengajarimu kalau kau tidak bisa.”


“Wah jinjja?”


Soojung mencibir saja lalu berjalan duluan ke meja resepsionis untuk melakukan pemesanan. Mereka merental sepatu ice skating. Sambil memakai sepatu, Soojung menceritakan bahwa sejak kecil ia dan adiknya sudah bermain skating. Yang mencengangkan karena Soojung belajar autodidak. Dia dan adiknya memang multitalent jika dalam hal olahraga. Sementara Seokjin tidak terlalu ingat kapan pertama ia belajar skating, sepertinya sudah sangat lama sekali, mungkin sebelum Soojung lahir. Tentu Seokjin tidak memberitahukannya. Ia hanya bilang bahwa ia belajar skating saat menjadi mahasiswa.


Keduanya memasuki arena skating saat sudah memakai peralatan yang pantas. Sebagai pemanasan mereka hanya berjalan perlahan di arena es sambil mengobrol. Suasana tidak romantis juga tidak tegang. Suasana begitu ringan, tidak membebankan siapapun sama sekali.


Mereka mulai saling bergantian memberi pertanyaan. Sebagai kencan pertama tentu saja keduanya ingin saling mengenal satu sama lain. Hal paling mudah adalah dari tanggal lahir.


“24 Oktober…” ucap wanita itu tersenyum kecil.


“Oh? Seminggu sebelum Halloween?”


Soojung mendengus tawa. “Sebenarnya saat kita mengobrol di kafe membicarakan vampire, itu adalah ulangtahunku.”


Kedua alis Seokjin terangkat, sedikit tercengang, berarti Kai mengatai Soojung di kafe saat itu bahkan di hari ulangtahun wanita itu? Jika mengingatnya, Seokjin merasa Kai pantas mendapat beberapa pukulan saat itu. Seharusnya ia melakukannya jika tahu seperti ini.


“Kita lanjut ya pertanyaannya. Apa makanan favorit Oppa?”


“Lobster, bagaimana denganmu?”


“Kau selalu mengopy pertanyaanku…” ujar wanita itu tertawa, “Tapi lobster termasuk cita rasa tinggi. Kalau aku suka pasta.”


Seokjin mengangguk-angguk, akan mengingatnya baik-baik. “Warna favoritmu, Soojung?”


“Aku suka merah, bagaimana dengan Oppa?”


“Merah? Kupikir kau menyukai warna gelap. Merah cukup mencengangkan.”


Soojung mengekeh. “Aku suka merah tapi tidak suka berpakaian merah.”


Seokjin memiringkan kepala sambil menahan senyum. “Itu cukup aneh. Kalau aku menyukai warna abu-abu dan maroon.”


“Lalu dimana Oppa tinggal dan dengan siapa?”


Untuk sesaat Seokjin merasa speechless. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Soojung itu? Seokjin tidak ingin menutupi apapun dari wanita itu. Dia pun menjalin hubungan seperti ini dengan Soojung karena memang ia serius tertarik pada Soojung. Ia tidak ingin membohongi Soojung dengan mengatakan ia tinggal sendiri. Pada akhirnya Soojung kelak akan tahu kenyataannya bukan?


“Aku tinggal dengan 3 saudaraku…” sahut Seokjin. Ia menyebut anggota clannya sebagai saudara meski tidak sedarah. Close enough kan? Apalagi dia memang mengganggap Yoongi, Namjoon dan Taehyung sebagai bagian keluarganya.


“Dongsaeng?” Soojung menoleh dan tertarik semakin ingin tahu.


“Yap, semuanya laki-laki. Kami serumah dan aku sangat menyayangi mereka.”


Soojung tersenyum. “Aku membayangkan rumah 4 pria tanpa kehadiran wanita…”


Seokjin mendengus. “Meski kami semua pria tapi rumah kami sangat bersih. Salah satu saudaraku sangat senang memasak dan bersih-bersih di sela waktu luangnya. Adikku yang lain lebih senang belajar dan membaca buku, sementara yang paling bungsu di rumah masih sangat manja namun moodnya paling mempengaruhi kami semua.”


“Wah…” Soojung berujar kagum. Dia pun punya adik laki-laki, tapi Jungkook lebih suka menghabiskan waktu bermain game dan kalaupun mereka bersama di rumah pasti hanya membicarakan vampire dengan Paman. “Pasti suasana rumahmu sangat ramai dan menyenangkan.”


Seokjin mengekeh. “Lalu bagaimana denganmu? Ah… aku jadi ingat, kau pernah mengatakannya : kau tinggal dengan adik dan pamanmu ya?”


Soojung mengangguk. “Kalau begitu kau bisa mengganti pertanyaanmu, Oppa.”


“Band favoritmu?”


“Phony Ppl.”


“Wow aku tak menyangkanya, Soojung…” gumam Seokjin, “Ternyata kau penyuka hiphop.”


Soojung mengekeh. “Kupikir Oppa tidak tahu band itu.”


“Aku tentu saja tahu… Kalau begitu bagaimana jika sekarang kita meluncur di es ?”


Soojung mengangguk. Keduanya pun berlari dan menari di papan es. Mereka yang sebelumnya hanya berjalan santai kini berkejar-kejaran dengan riang, kadang sambil tertawa. Soojung tersenyum lebar bahkan hingga gingsul imutnya nampak. Soojung memamerkan bagaimana ia bisa meluncur dengan menaikkan satu kaki di udara. Seokjin bertepuk tangan memuji kelenturan badan wanita itu.


Seokjin memegang tangan Soojung, mereka meluncur bersama mengelilingi arena dengan lincah. Bahkan beberapa orang yang juga bermain di sana bertanya-tanya siapakah gerangan couple visual yang sedang bermain di papan es ini. Keduanya bak idol yang sedang menunjukkan kebolehan mereka di depan TV.


Malam itu Seokjin tak henti-hentinya tersenyum. Hatinya sangat ringan… dan untuk sesaat ia melupakan bahwa dirinya adalah vampire.


Setelah puas bermain ice skating, Soojung mengajak Seokjin makan di restoran favoritnya. Restoran itu juga menjual lobster yang tentu saja membuat Seokjin sangat semangat. Mereka makan dan menghabiskan malam dengan terus mengobrol dan melempar pertanyaan untuk semakin mengenal satu sama lain.


.


.


Sementara itu Namjoon tengah berjalan tergesa-gesa. Ia yang baru dari mini market untuk membeli es krim (Taehyung tadi mengirim pesan supaya sebelum pulang Namjoon mampir membeli es krim untuknya), merasakan bahwa dirinya diikuti oleh seseorang. Sial, seharusnya Namjoon membawa motornya..namun karena beberapa hari ini mengintai kehidupan Hoseok, Namjoon tidak membawa motor ke kampus.


Dan berita buruknya… yang sedang mengikutinya adalah Hoseok sendiri.


Apa-apaan ini. Apa mereka sedang saling mengintai dan bersembunyi? Apa kini Hoseok pun penasaran dimana tempat tinggal Namjoon? Apa yang akan dilakukan Hoseok saat tahu bahwa Namjoon tinggal bersama clan vampirenya? Apa Hoseok akan menyakiti para vampire?


Namjoon berusaha menepis pikiran buruknya. Hoseok tidak mungkin melakukannya. Hoseok adalah pecinta vampire, Yoongi sudah mengatakan bahwa Hoseok tidak akan menjadi ancaman. Tapi tetap saja Namjoon kuatir. Bukankah ada saja pecinta vampire yang berusaha mengeksploitasi vampire untuk memuaskan rasa penasaran mereka? Ah bagaimana jika Taehyung terancam. Taehyung masih bayi vampire yang belum memiliki kekuatan untuk melindungi diri.


Sial, Namjoon merasa suatu saat nanti ia perlu mengobrol serius dengan Hoseok mengenai hal ini. Mereka harus membuat kesepakatan dan perjanjian.


Namjoon mempercepat langkahnya. Untuk sekarang ia tidak akan membiarkan Hoseok mengetahui dimana rumahnya berada. Ia harus cepat-cepat pergi dan menghilang dari pandangan manusia itu. Kemampuan setiap vampire adalah bisa bergerak 3 kali lebih cepat dibanding manusia biasa. Dengan kemampuannya itu, Namjoon langsung bergegas menyebrangi jalan raya dan berencana akan berbelok lalu menghilang sebelum ia sampai di area perumahannya.


Namjoon baru akan berbelok ke jalan lain saat ia mendengar suara klakson dan rem yang mengilukan telinga. Beberapa orang ada yang berteriak. Sepertinya telah terjadi kecelakaan. Namjoon langsung menoleh saat ia mencium aroma darah di udara. Matanya membesar saat menyadari itu adalah aroma Hoseok.


Ia berlari kembali ke jalan raya dan kaget saat melihat Hoseok terbaring di jalan beraspal, kepalanya mengeluarkan banyak darah dan posisi tangannya begitu janggal, begitu paralyze. Bungkusan plastik berisi es krim pesanan Taehyung, jatuh ke lantai. Namjoon sangat syok melihat pemandangan ini.


Sebuah truk berhenti di dekat tubuh manusia yang sudah tak bergerak itu. Supir keluar dari dalam mobil dan menjambak rambut dengan panik melihat orang yang tak sengaja ia tabrak.


“Aku sungguh tak melihatnya berlari menyebrang di jalan raya seperti tadi,” ujar supir paruh baya yang malang, “Seharusnya ia menyebrang di zebra cross bukan di tengah jalan raya.”


Mata Namjoon masih terbelalak. Hoseok pasti tengah mengejarnya dan menyebrang jalan raya tanpa melihat ada truk yang sedang melaju kencang. Hoseok mengalami kecelakaan tragis ketika berusaha mengejar sang vampire. Apakah dengan kejadian ini Namjoon tidak akan lagi dicurigai dan identitasnya tidak akan terbongkar oleh teman sekelasnya sendiri?


Suasana riuh ramai yang menyemut mengelilingi Hoseok seperti di-mute. Ada yang menyuruh memanggil ambulans, namun tidak ada seorang pun yang berusaha mengecek keadaan Hoseok. Namjoon tidak mendengar apapun. Telinganya fokus mendengar suara detak jantung Hoseok yang bisa ia dengar. Detak jantung itu tidak seperti manusia pada umumnya. Detak jantung Hoseok semakin melemah.


Tangan Namjoon terkepal. Di saat seperti ini apa yang harus ia lakukan? Membawa Hoseok ke rumah sakit, dokter tidak akan sanggup menyelamatkannya dengan kondisi parah yang dialami Hoseok. Manusia itu tidak akan terselematkan oleh dokter biasa, kecuali….


Shit.


Namjoon bergerak, menyeruak kerumunan. “Permisi, dia temanku. Dia temanku!!” serunya supaya ia bisa menyingkirkan orang-orang yang sedang berkerumun. Dan tanpa berpikir panjang, Namjoon mengangkat tubuh Hoseok yang bercucuran darah. Ia akan membawanya ke rumahnya.


Vampire itu bergegas membawa tubuh Hoseok yang kritis ke kediaman clan Kim. Ia berharap Seokjin sudah ada di rumah… untuk bisa menyelamatkan nyawa Hoseok yang berada di ujung tanduk ini.


🎃🎃


--masalahnya Seokjin lagi kencan 😞


Bagaimana dengan nasib Hoseok?? Nantikan episode berikutnya. Jangan lupa berikan jejaknya. Tetap setia nunggu update an audthor meski lelet ya 🙈