Vampire In The City

Vampire In The City
Kemarahan Jungkook




Taehyung sudah dibawa ke markas sindikat, ke ruangan tempat dia dulu biasa dikurung. Kali ini ruangan yang dipakai sudah dilengkapi dengan dinding dan pintu berlapis silver, mencegah vampire itu bisa kabur. Ruangan luas itu pun hanya ditempati oleh vampire itu seorang.


Taehyung masih belum sadarkan diri, kedua tangan dan kakinya diborgol ke tempat tidur dan di kepalanya ada sepasang kabel yang dimasukkan untuk mengendalikan kesadarannya. Kabel itu terhubung dengan sebuah monitor dan mesin yang bisa dikendalikan oleh dokter yang menangani Taehyung.


Tiga ‘dokter’ sekaligus dikerahkan untuk memeriksa keadaan Taehyung. DNA, taring, kondisi organ dan lainnya dicek untuk melihat perkembangan vampire yang sudah 5 tahun meninggalkan sindikat.


Dongwook berdiri di dekat sana memperhatikan apa yang dilakukan para dokter itu. Ia turun tangan sendiri untuk melihat secara langsung bagaimana perkembangan Ziti-nya. Taehyung merupakan salah satu ziti kepunyaan Dongwook. Ziti merupakan kode di sindikat yang berarti ‘peliharaan’ atau ‘kepunyaan’. Dengan kata lain Dongwook berhak penuh atas kepemilikan Taehyung. Dia memang yang membiayai seluruh projectV22 ini. Ada beberapa orang lain seperti Dongwook yang menginvestasikan kekayaan pada manusia yang diujicobakan menjadi vampire, namun orang-orang itu kebanyakan sibuk di luar negeri dan menyerahkan urusan pada sindikat.


Dongwook sebagai big bos memiliki beberapa ziti tapi favoritnya untuk saat ini adalah Taehyung. Bagaimana tidak? Taehyung merupakan vampire mutan cukup spesial karena kekuatan vampirenya yang memukau bagi Dongwook, belum lagi serentetan kejadian yang terjadi antara Taehyung dan Dongwook membuat Dongwook berpikir kalau semua ini sudah ditakdirkan.


“Darahnya sangat bagus,” ujar seorang dokter memberi laporan perkembangan kondisi Taehyung, “Darahnya kental dan penuh dengan oksigen, sangat baik untuk dikonsumsi, tanpa perlu disaring lagi.”


“Nice.” Dongwook tersenyum panjang.


“Beberapa jam lagi aku bisa memberikan darahnya untukmu.”


“Of course, aku belum pernah mencicipi ziti-ku sendiri,” tukas Dongwook, “Aku sudah tak sabar merasakan bagaimana staminaku bertambah karena linguine.”


Dokter mengangguk setuju. Darah vampire yang kaya akan oksigen memberikan stamina, daya tahan tubuh serta awet muda pada manusia yang mengkonsumsinya. Itulah sebabnya menu linguine sangat mahal karena memang memiliki kualitas darah seperti yang sudah disebutkan.


Selama ini Dongwook dengan konsisten mengkonsumsi darah vampire, membuatnya tetap segar bugar dan awet muda meski kenyataannya dia sudah berumur 60 tahun lebih. Dia tidak pernah punya masalah dengan keropos tulang, tidak ada penyakit yang menggerogotinya, rambutnya pun tidak beruban, gigi masih kuat, organ tubuh seperti manusia berumur 30 tahun. Kenapa? Karena darah vampire berkualitas yang ia konsumsi. Dan sekarang akhirnya ia memiliki ziti-nya sendiri.


“Oh ya, aku ingin kau dan timmu mengecek satu hal lagi,” kata Dongwook, “Aku mendapat informasi bahwa vampire ini berkepribadian ganda.”


Dokter itu menoleh dan memiringkan kepala tercengang. “Kepribadian ganda?”


“Yeah. Katanya ada kepribadian lain yang bertolak belakang dengan kepribadian aslinya.”


Dokter itu mengangguk-angguk. “Sekalipun berkepribadian ganda tapi sepertinya itu tidak akan mempengaruhi kualitas darah yang dimiliki.”


“Aku hanya penasaran ingin melihat seperti apa kepribadian itu.”


“Kami nanti bisa memberikan rangsangan berupa kejutan listrik untuk melihat kepribadian lain dari vampire ini.”


Dongwook hanya memberi seringai. Ini menarik jika ia bisa melihat seperti apa kepribadian lain dari Kim Taehyung. Mungkin dia akan terhibur?


“Aku ingin semua berjalan dengan baik. Jangan lupa berikan vampireku darah manusia. Dia tidak boleh lemas, aku tidak ingin Ziti-ku sakit.”


“Baik, tentu saja kami akan memeliharanya dengan baik. Kondisinya masih oke, mungkin beberapa hari ke depan dia baru membutuhkan darah manusia.”


“Yeah, yeah, lakukan saja semuanya sesuai prosedur.”


****


Sudah 3 hari… it’s been 3 f*king days dan Taehyung masih belum diketahui berada di mana. Clan Kim sudah berusaha menghubungi, melacak bahkan meminta bantuan dewan vampire untuk mencari keberadaan Taehyung… tapi tidak ada kepastian berarti. Taehyung menghilang dari Seoul, seolah dia lenyap ditelan bumi.


Jungkook sangat terpukul dan stres dengan kondisi ini. Dia berusaha menahan marah, menahan kecewa, berusaha menutupi bahwa dirinya sangat terpukul dan kehilangan soulmatenya. Oksigen seolah menipis di sekitarnya karena ia tidak tahu kepastian Taehyung, apa vampire itu masih hidup atau tidak, apa dia baik-baik saja atau tidak.


Ini begitu menyiksa. Jungkook tidak ingin membebani clan Kim dengan menyuruh mereka menyisiri semua area Korea Selatan untuk mencari Taehyung. Tapi Jungkook tak bisa diam saja. Hari-harinya berlalu seperti orang mati. Dia berusaha bertelepati dengan Taehyung pun tidak bisa, seolah vampire itu sedang direnggut jauh sehingga tak bisa dijangkau. Mimpi terakhir yang ia alami merupakan yang terakhir Jungkook tahu mengenai kondisi Taehyung.


Jungkook berbaring di tempat tidur dan menangis tanpa suara, meratapi kesedihan yang ia alami, rasa kosong di dalam hati saat ini.


Pintu kamarnya diketuk karena Jungkook memang sengaja menguncinya.


“Kook?” panggil Soojung dari luar. Suara yang sarat dengan kekuatiran, “Sejak pagi kau terus di kamar. Apa kau tidak akan makan?”


Jungkook tak menjawab. Dirinya sudah tidak ada selera makan, bagaimana ia bisa tenang jika ia memikirkan apa Taehyung sendiri baik-baik saja atau tidak. Bagaimana kalau vampire itu lemas membutuhkan darah? Taehyung hanya bisa meminum darah Jungkook saja, tidak bisa meminum darah manusia lain.


“Kook…” ucap Soojung lagi, berusaha memberi semangat pada adiknya, “Kita pasti akan menemukan cara untuk mencari Taehyung…”


Karena Jungkook tidak mengatakan apa-apa akhirnya Soojung hanya bisa menghela nafas. Ia mengerti sekali dengan perasaan adiknya. Meski Jungkook tak menceritakannya tapi Soojung bisa merasakan rasa kehilangan yang dialami Jungkook.


Donghyuk yang kebetulan lewat mengernyit heran pada Soojung yang baru dari arah kamar Jungkook. “Ada apa?” tanyanya karena tadi mendengar ucapan Soojung, “Apa yang terjadi pada Taehyung?”


Soojung tersentak kaget saat melihat kemunculan pamannya. Dia tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, apalagi karena posisi pamannya yang merupakan hunter.


“Ti-tidak apa-apa, Paman.”


“Taehyung teman Jungkook kan?” tanya Donghyuk lagi karena masih mengingat anak polos yang pernah datang ke rumah ini.


Soojung mengangguk sekedarnya. “Jungkook hanya sedang mencemaskan temannya.”


“Taehyung sakit?” tanya Donghyuk berubah ingin tahu.


Bagaimana ya menjelaskannya pada hunter ini. “Bisa dibilang Taehyung sedang pergi tanpa memberitahu kemana dan belum pulang sampai sekarang.”


“Apa?” Donghyuk tampak terkejut. Dia selalu berpikir bahwa Taehyung adalah anak yang baik. “Padahal Paman baru saja teringat padanya dan ingin Jungkook membawanya ke rumah, Paman mau memasakkan steak kesukaannya.”


“Kalau dia pergi dan belum pulang, apa tidak sebaiknya dilaporkan ke polisi?” tanya Donghyuk, “Keluarganya pasti mencarinya juga kan?”


Soojung tersenyum tipis. Hal seperti ini tidak bisa dengan mudah dilaporkan pada polisi karena Taehyung merupakan vampire. Dewan vampire pun sedang mencari keberadaan Taehyung tapi tidak ada perkembangan berarti. Seokjin mengatakan kalau kehilangan Taehyung sama seperti vampire-vampire lain yang ditangkap sindikat, hilang tanpa bekas!


“Aku takut ada orang jahat yang menculiknya…” ucap Donghyuk begitu saja. Entah kenapa pria ini jadi ikut mencemaskan keadaan Taehyung apalagi jika melihat Jungkook yang sampai mengurung diri di kamar.


Soojung mengangguk pelan. Itu benar. Memang ada orang jahat yang menculik Taehyung, tepatnya sindikat penjualan vampire yang melakukannya.


****


Dongwook duduk rileks menunggu beberapa anak buahnya yang akan mentransfusikan darah Taehyung ke dalam tubuhnya. Senyum tak henti-hentinya mengembang di wajah pria itu. Akhirnya tidak ada lagi yang menganggunya untuk mendapatkan apa yang ia mau.


Pria itu memberi smirk, haruskah ia menunjukkan semua ini pada Jungkook? Supaya bocah tak tahu diri itu dibuat kesal sampai ingin mati rasanya?


Dongwook mengambil ponsel di atas meja. Itu adalah ponsel Taehyung. Ia mengaktifkannya lalu mencari nomor Jeon Jungkook. Dengan senyum kepuasan ia menekan video call.


Jungkook yang sedang duduk melamun di kamarnya sore itu terkejut saat mendengar ponselnya berdering. Sebenarnya ia malas untuk berbicara dengan siapapun, tapi dia sangat terkejut saat melihat nama Taehyung di layar, meminta untuk video call.


Jantung berdegup sangat kencang karena akhirnya ada kepastian mengenai kondisi vampire itu., padahal sebelumnya nomor Taehyung tidak bisa dihubungi.


Jungkook duduk tegak dan segera mengangkatnya. Namun ia mengernyit bingung saat tidak melihat wajah Taehyung. Ponsel seperti sedang digerakkan ke arah layar TV besar.


“Tae?” tanya Jungkook. Yang meneleponnya ini benar Taehyung kan? Jungkook sangat cemas sebenarnya apa yang terjadi di sana.


TV besar itu tampak dinyalakan. Jungkook terkejut melihat apa yang ditunjukkan di layar. Sepertinya itu merupakan rekaman CCTV sebuah ruangan. Melihat ada Taehyung berada di tempat tidur, Jungkook langsung tahu kalau oti adalah CCTV ruangan Taehyung disekap. Tangan dan kaki diikat ke tempat tidur. Vampire itu sedang menjerit menangis dan meronta-ronta minta dilepaskan, minta untuk tidak disakiti.


“Tae!!” seru Jungkook. Darah memompa kencang di seluruh tubuhnya. Jungkook merasakan kepanikan luar biasa.


Terdengar suara kekehan di seberang. “Kepribadian yang menarik bukan? Aku baru tahu kalau dia punya kepribadian lemah seperti itu, cengeng dan tidak bisa apa-apa.”


Sekujur badan Jungkook gemetar mendengar suara orang tersebut yang tentunya bukanlah Taehyung. Ada seseorang yang sudah menggunakan ponsel Taehyung untuk meneleponnya seperti ini. Pasti orang dari sindikat, atau bisa jadi Dongwook.


Ponsel Taehyung diarahkan pada wajah yang saat ini sedang berbicara dengan Jungkook. Wajah Dongwook dan seringai mengejeknya terpampang di layar. Darah Jungkook mendidih dan emosi sudah sampai ke ubun-ubun melihat pria jahat itu di depan matanya.


“Kau tahu, kami menggunakan setrum bertegangan tinggi untuk membuatnya bisa switch ke kepribadian satunya lagi.” kata Dongwook mengekeh. “Setruman itu pasti sangat mengejutkannya sampai ia bisa berpindah kepribadian.” Dongwook tertawa keras-keras.


Mata Jungkook sampai merah dan basah. Hatinya tidak bisa terima bagaimana Dongwook memperlakukan Taehyung seperti itu. “Bastard! Aku akan membunuhmu!! Aku akan–“


“Lihat, apa yang sedang kulakukan, Jungkook-ssi,” potong Dongwook menunjukkan dirinya yang duduk sementara selang tranfusi sedang dipasang di lengannya oleh beberapa orang. “Aku sedang ditransfusi darah vampire! Darah Taehyung, my ziti!!”


Mata Jungkook melotot marah. “Biadab!! Jahanam!! Aku akan membunuhmu!! Aku akan membunuhmu!!” pekik Jungkook sangat kesal. Air mata sudah mengalir karena betapa sakit hatinya untuk perkataan Dongwook, untuk apa yang sudah dilakukannya pada soulmatenya.


Dongwook tertawa semakin lebar, puas melihat reaksi kemarahan Jungkook. Ia menikmati bagaimana manusia itu ingin membunuhnya, ingin membalas dendam. Akhirnya Dongwook bisa membuat Jungkook marah hebat seperti ini.


“Kau yakin bisa membunuhku?” ledek Dongwook, “Kau sendiri tidak tahu dimana temanmu berada kan? Carilah di pelosok Korea Selatan dan kau masih tidak bisa menemukan Taehyung.”


Sekujur badan Jungkook gemetar hebat. Betapa kurang ajarnya Dongwook mempermainkan emosi seseorang seperti ini.


“Ah ini nikmat sekali…” gumam Dongwook sambil memejamkan mata. Ia menunjukkan bagaimana darah vampire yang ditransfusikan ke dalam tubuhnya, “Rasanya seperti ada kekuatan baru. Aku seperti hidup kembali.”


“Brengs*k!! Baj*ngan!!” pekik Jungkook. Dongwook memberikan kekehan menyebalkan dan komunikasi pun langsung terputus. Jungkook berusaha menelepon kembali karena betapa ia belum selesai memaki dan mengumpat pria jahat itu namun nomor Taehyung menjadi tidak aktif.


“Bastard!!” seru Jungkook. Kemarahan sangat menguasainya betapa ia ingin merobek seringai Dongwook, ingin menghabisinya dengan tinjunya. Jungkook melampiaskan kemarahan dengan melempar barang-barang yang dilihatnya ke dinding. Buku, pajangan meja bahkan barang pecah belah sekalipun. Ia memekik keras-keras sambil menangis frustasi.


“Baj*ngan!!!!”


Pintu kamarnya digedor-gedor. Soojung sangat panik mendengar teriakan dan suara pecah belah dari kamar adiknya. “Jungkook? Jungkook, kau kenapa?” Sayangnya Paman saat ini tidak ada di rumah, kalau ada pasti Soojung sudah menyuruh supaya pintu ini didobrak karena betapa paniknya Soojung akan apa yang menimpa Jungkook.


“Argghhh!!!” Jungkook mengisak keras dan memukulkan tangannya ke kaca. Tak peduli tangannya menjadi berdarah karenanya. Potongan kaca menghujam tajam ke buku-buku jarinya.


“Jungkook? Astaga, Jungkook, buka pintunya!!” seru Soojung setengah menangis, panik mendengar suara kaca yang pecah. Adiknya itu tidak mau membukakan pintu juga. Soojung akhirnya menelepon Seokjin, meminta bantuan kekasihnya.


Jungkook menangis tersedu-sedu, jatuh terduduk di lantai. Ia tidak memedulikan tangan kanannya yang terluka dan berdarah. Hatinya menjerit keras-keras bagaimana perlakuan yang dialami Taehyung. Dia sudah melihat masa lalu Taehyung, perlakuan kejam orang-orang sindikat yang merenggut hidupnya.. dan kini.. lagi.. Taehyung ditangkap. Dongwook bahkan menunjukkan kondisi Taehyung seolah sedang mengolok-olok perasaan sakit Jungkook.


Jungkook tak bisa memaafkannya. Ia akan menyelamatkan soulmatenya. Dan ia akan menghancurkan Dongwook dan sindikatnya meski nyawa pun taruhannya.


🎃🎃


kurang bikin emosi apa 😤😤💆‍♀ gimana kelanjutannya. author jg belum tahu 😂



shout out to reader Adel yang sudah membuat cover gemoy ini😊😊💜


Jangan lupa berikan jejak🐾🐾