Vampire In The City

Vampire In The City
Keanehan di Rumah Jimin



Jangan lupa tinggalkan jejak ya


🎃🎃



Saat kelas Sejarah terasa agak lain. Seokjin merasa Soojung mengabaikannya. Wanita itu tidak sekalipun membalas tatapan matanya saat Seokjin sedang mengajar. Seokjin merasa aneh, dia pikir hubungannya dengan Soojung akan selangkah lebih maju lantaran kejadian saat Halloween. Apa wanita itu menyesalinya sekarang?


Saat kelas usai, Soojung pun tampak buru-buru membereskan semua barang-barangnya. Tidak sepeti sebelumnya, kini Soojung yang pertama meninggalkan kelas dibandingkan mahasiswa lain.


“Soojung–“ Seokjin sudah memanggilnya saat wanita itu melewatinya dan berjalan menuju pintu. Dengan jelas Soojung menghindar seperti ini. Seokjin heran sendiri, sebenarnya apa yang terjadi? Seingatnya terakhir mereka bertemu semua baik-baik saja. Sangat baik-baik saja.


“Mr. Kim, ada keperluan dengan Soojung?” tanya salah seorang mahasiswa berusaha mencari perhatian.


Dua mahasiswi lainnya pun mendatangi Seokjin dengan rasa penasaran.


Seokjin menggeleng tenang. “Aku hanya berusaha mengingatkannya untuk tugas minggu depan.”


“Mr Kim sangat perhatian sekali pada Soojung.” komentar mahasiswa yang memakai pita di rambutnya.


“Dan aku juga sempat mendengar gosip bahwa pacar Soojung melabrakmu?”


Seokjin menghela nafas pelan. Bagaimana ia harus menjelaskan segalanya pada para mahasiswi ini. “Jangan lupa tugas makalah Sejarah minggu depan. Aku harap kalian bisa membuatnya dengan baik.”


“Siap, Mr. Kim. Dan bagaimana kalau Mr. Kim membantu kami, mungkin kita bisa belajar sambil mengobrol di kafe? Ada toko cheese cake yang enak dekat sini.”


Seokjin memberi senyum tipis. “Aku masih ada kelas, Girls. Aku permisi yaa…” Ia pun mengambil laptopnya dan bergegas pergi meninggalkan kelas. Masih menjadi pertanyaan besar baginya mengenai perubahan sikap Soojung hari ini.


.


.


Pulang kuliah sore itu, Jungkook dan Taehyung diajak ke rumah Jimin. Bosan karena hangout di kafe, Jimin ingin hangout kali ini mereka bisa rebahan dan santai bersama. Lagipula di rumah Jimin banyak makanan.


Ini pertama kalinya bagi Taehyung dan Jungkook datang ke rumah Jimin. Taehyung sangat excited sekali karena dia bisa mendatangi rumah Jimin, dia sebenarnya ingin juga main ke rumah Jungkook, mungkin kapan-kapan.


“Kau tinggal dengan orangtuamu?” tanya Jungkook saat ketiganya sedang berjalan kaki menuju rumah Jimin.


“Aku hanya tinggal dengan ibuku. Ayah dan ibuku sudah lama bercerai.”


“Ohh…” sahut Jungkook, prihatin juga karena orangtua Jimin ternyata sudah bercerai.


“Ibumu bekerja sebagai apa, Jiminie?” tanya Taehyung.


“Dokter, tapi sudah pensiun, jadi sekarang hanya membantu penelitian dokter lain saja. Nah, itu rumahku!” Jimin menunjuk rumah yang sudah tak jauh lagi, rumah yang cukup besar bergaya modern.


Perasaan Taehyung langsung tak enak saat ia menginjakkan kakinya di halaman rumah Jimin. Ia merasakan ada energi dan kehadiran vampire di rumah Jimin. Matanya membesar kaget, ia berusaha memandang sekeliling, mengecek siapa tahu ada vampire yang kebetulan sedang lewat saja.


“Eomma, aku pulang~~” seru Jimin membuka pintu untuk kedua temannya.


Sudah masuk ke dalam rumah Jimin pun Taehyung merasakan aura kehadiran vampire semakin kuat di rumah ini. Apa jangan-jangan ibu Jimin adalah vampire?


Jungkook menyernyit melihat wajah Taehyung yang mendadak tegang itu. Ia bingung karena tidak biasanya Taehyung demikian.


“Wahh… kau mengajak temanmu…” Seorang wanita paruh baya muncul dan menyapa mereka. Tubuhnya mungil namun wajahnya tampak sangat ramah dan berseri. “Ayo masuk-masuk..”


Taehyung menatap ibu Jimin. Ia yakin bahwa wanita itu adalah manusia, bukan vampire. Lalu darimana ia merasakan aura kehadiran vampire di rumah ini jika Jimin mengatakan ia hanya tinggal dengan ibunya?


Jimin memperkenalkan singkat kedua temannya pada ibunya. Ia pun lalu mengajak Tae dan Jungkook ke kamarnya untuk bersantai dan bermain game. Kamar Jimin cukup besar, mungkin dikarenakan Jimin anak tunggal jadi ia pun mendapatkan space luas di rumah ini. Kasur king size, meja belajar dengan laptop, kamar mandi sendiri, bahkan ada sofa untuk membaca buku.


“Sebentar aku ambilkan minuman dan camilan, guys…” kata Jimin. Ia menaruh tas kuliahnya lalu pergi keluar kamar.


Jungkook melihat-lihat meja belajar Jimin, ada foto Jimin saat masih kecil bersama ibunya, namun tidak ada satupun foto dengan sang Ayah. Jungkook berpikir sepertinya orangtua Jimin telah bercerai cukup lama.


Taehyung duduk tegang di pinggir kasur. Ia masih merasakan hawa vampire di rumah ini, memang bukan di kamar ini atau di ruangan terdekat dengan kamar ini, tapi Taehyung yakin vampire berada di salah satu bagian di rumah besar ini.


Jungkook melirik Taehyung. “Wae? Kau seperti seseorang yang sembelit.”


“A-anni.” Taehyung menggeleng.


“Aku lihat kau mencemaskan sesuatu semenjak datang ke rumah ini.”


Taehyung mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Jungkook. Ia ingin sekali menceritakan rasa penasarannya, tapi itu tidak mungkin, Jungkook adalah manusia biasa.”A-aku hanya kepikiran dengan tugas kuliah Profesor Zhang. Itu saja.”


Jungkook mengekeh dan duduk di sebelah Taehyung. “Aku sudah menduganya. Kalau kau begitu takut akan tugas itu, seharusnya kau bilang. Besok bagaimana kita kerjakan sama-sama di perpustakaan?”


Mata Taehyung membesar. Awalnya dia hanya mencari alasan namun kalau Jungkook menawari bantuan seperti ini Taehyung tidak akan menolak. “Jinjja?”


“Yep. Mungkin dengan diskusi bersama tugas akan lebih cepat selesai.”


Itu bohong. Taehyung sama sekali tidak bisa diandalkan dalam mata kuliah Kimia. Jungkook yang selalu banyak membantu.


“Gomawo, Jungkookie.”


“Kau harusnya beritahu para hyungmu mengenai kebaikanku supaya lain kali kau bisa diijinkan menginap bersama kami.” ujar Jungkook.


Taehyung mengangguk-angguk. “Aku selalu menceritakan kebaikanmu dan Jimin setiap hari saat makan malam~~!” serunya antusias, “Mungkin tinggal tunggu waktu sedikit lagi sampai Hyung mengijinkanku.”


Jungkook mengekeh, geli dengan kepolosan temannya itu. “Arraseo…”


Bersamaan dengan itu Jimin datang. Ia membawa nampan berisi makanan dan aneka camilan. “Aku juga sudah memesan tteokbokki dan corndog. Akan datang sebentar lagi.”


Jimin menyalakan mp3 player dan speaker kamarnya. Musik hip hop mengalun di kamar itu. “Jadi apa yang akan kita lakukan, chingudeul?” Jimin menaikturunkan alis.


Akhirnya 3 sahabat itu menghabiskan waktu dengan bermain PS, berhenti sesaat untuk makan tteobokki yang sudah datang, lalu bermain kembali. Yang banyak bermain adalah Jimin dan Jungkook, Taehyung hanya tertarik menonton, walau sesekali dia bermain juga namun tidak lama. Tawa mereka menggelegar di ruangan itu karena betapa alotnya game di antara Jungkook dan Jimin.


“Aishh, jinjja!” tukas Jimin sambil melempar stik ke karpet, “Padahal sedikit lagi aku menang.”


Jungkook terbahak. “Kau tidak akan bisa mengalahkan magic Jeon Jungkook.”


“Huh!” Jimin berbaring di tempat tidurnya, beristirahat sejenak karena pantat dan tangannya yang pegal bermain PS.


“Tae, bermainlah denganku.” ucap Jungkook sambil menoleh ke belakang. Ia heran karena tidak melihat Taehyung di dalam kamar ini. “Lho, mana Taehyung?”


“Mungkin dia ke toilet.” sahut Jimin asal masih rebahan dan menutup mata.


Beberapa menit yang lalu Taehyung sudah keluar dari kamar Jimin. Diam-diam ia meninggalkan kamar itu untuk mencari tahu sebenarnya ada apa di rumah ini sampai dirinya merasakan keberadaan vampire.


Taehyung berjalan menuruni lantai dua perlahan-lahan. Ia berharap ia tidak perlu berpapasan dengan ibu Jimin. Taehyung berusaha memasang telinga, namun ia tidak mendengarkan suara atau gerak gerik vampire, hanya suara musik hip hop yang terdengar dari kamar Jimin. Jika Jimin dan ibunya adalah manusia biasa lantas untuk apa ada vampire di rumah ini? Dan dimanakah vampire itu berada?


Taehyung mengecek ruangan satu per satu dan ia rasa kehadiran vampire ia rasakan ada di basement rumah ini. Di dapur Taehyung melihat ada pintu lain dan Taehyung yakin pintu itu akan tembus ke basement. Ia bisa merasakannya. Taehyung merasa bangga karena insting vampirenya sudah semakin baik bekerja. Jika ia ceritakan pada hyungnya, mereka pasti tidak berpikir lagi bahwa Taehyung adalah bayi.


Taehyung memegang gagang pintu, menelan ludah. Kalaupun ia menemukan vampire di rumah ini apakah semuanya akan berjalan dengan aman? Dia tidak akan diserang bukan? Demi Tuhan, dia juga vampire, apa yang ia takutkan ini!


Taehyung menekan gagang pintu namun pintu tidak membuka. Ternyata pintu itu terkunci.


Taehyung terkejut saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia menoleh kaget dan melihat Jeon Jungkook.


“Tae? Kau sedang apa?” tanyanya heran melihat Taehyung lalu melihat pintu tersebut.


Saking fokus dan gugupnya, Taehyung tidak menyadari kedatangan Jungkook ini. “A-aku hanya haus dan ingin mengambil minum.”


Jungkook mengernyit. Seingatnya tadi Jimin membawa sebotol besar minuman. “Di kamar masih ada air minum kok.”


“A-ahhh…” gumam Taehyung.


“Kenapa kau berusaha membuka pintu itu?” tanya Jungkook heran sambil melirik kembali pintu di belakang Taehyung.


“A-anni, aku hanya ingin tahu ruangan apa di balik pintu.”


“Itu tidak sopan, Tae, tanpa diketahui pemilik rumah.” sahut Jungkook, “Kajja, giliranmu bermain denganku.” Jungkook menarik lengan Taehyung dan membawanya pergi meninggalkan dapur.


Taehyung membiarkan dirinya dibawa pergi. Ia menoleh ke belakang, memandang pintu itu dengan cemas. Ia bukannya tidak sopan, tapi ia ingin memastikan sesuatu. Jika ada vampire di rumah ini maka keselamatan Jimin bisa ada dalam bahaya, siapa tahu vampire itu diam-diam menghisap darah Jimin dan ibunya?


.


.


Pulang ke rumah, Taehyung menceritakan pengalamannya itu pada hyungnya. Ia menceritakan bagaimana ia merasakan hawa keberadaan vampire di salah satu rumah temannya.


“Rumah chingumu yang mana?” tanya Yoongi sambil menaikkan sebelah alis.


“Jiminnie…” sahut Taehyung.


Yoongi sudah menduganya. Ia memang merasakan sesuatu yang lain dalam diri Jimin, semacam ada energi vampire meski Jimin sebenarnya merupakan manusia biasa. Apa mungkin itu ada kaitannya dengan cerita Taehyung ini, bahwa ada vampire di rumah Jimin.


“Apa kau tidak berusaha mengecek dimana posisi vampire itu?” tanya Namjoon.


“Aku rasa ada di basement. Tapi pintu menuju basement terkunci, aku tidak bisa kesana.”


Seokjin memegang dagu seolah berpikir. Ia ingat bahwa jaman dulu memang ada manusia yang ‘memelihara’ vampire, menjadikannya sebagai kelinci percobaan atau sekedar menyiksa vampire. Tapi Seokjin tidak mungkin mengatakannya pada Taehyung. Jimin adalah teman terdekat Taehyung.


“Selama temanmu tidak terganggu, Tae, kurasa kau tidak perlu ikut campur…” kata Seokjin akhirnya. Ia juga mengkhawatirkan Taehyung. Bagaimana kalau vampire itu akan menyerang Taehyung saat Taehyung membuka basement itu? Kan gawat.


“Temanmu tidak punya bekas gigitan kan?” tanya Namjoon dengan mata membesar pada Taehyung.


Taehyung berusaha berpikir keras dan mengingatnya. “Seingatku tidak ada bekas gigitan apapun di lehernya, begitu pula di pergelangan tangannya.”


Namjoon mengangguk-angguk. “Atau.. bisa saja ada vampire yang menjadikan basement rumah temanmu sebagai tempat persembunyian atau tempat tinggal. Kau tahu, vampire kuno yang tidak punya clan dan hidup menyendiri.”


“Jimin punya saudara?” tanya Yoongi, “Dia tinggal dengan siapa?”


“Jimin hanya tinggal dengan ibunya saja. Kalau tidak salah Jimin mengatakan ibunya sudah pensiun dari dokter karena sakit yang dideritanya.” kata Taehyung polos.


Ekspresi Seokjin berubah tegang saat mendengarnya. Yoongi pun bisa merasakan perubahan emosi Alpha itu sekarang. Yoongi dan Seokjin punya pengalaman mengerikan dengan beberapa ‘dokter’, apalagi jika di rumah itu dirasakan hawa kehadiran vampire.


“Ayahnya kemana?” tanya Namjoon, tidak menyadari sama sekali dengan pemikiran Yoongi dan Seokjin sekarang.


“Orangtuanya sudah bercerai…” kata Taehyung pelan, merasa prihatin.


“Taehyung,” ucap Seokjin mengagetkan, “Kau tidak perlu penasaran dengan vampire di rumah temanmu. Selama temanmu dan ibunya aman, kurasa kau bisa mengabaikan vampire itu.”


Yoongi memandang Seokjin serius. Dia sebenarnya ingin memberitahu apa yang ia rasakan tiap kali bertemu Jimin, namun ia tidak melakukannya, hal itu pasti akan membuat Taehyung semakin cemas dan penasaran. Saat ini Seokjin sedang berusaha menjauhkan Taehyung dari bahaya, dan itu adalah cara terbaik.


Taehyung mengangguk-angguk. “Baik, Hyungie.”


🎃🎃


Jangan lupa tinggalkan jejak ya