Vampire In The City

Vampire In The City
Destiny




Hari ini adalah kencan kedua untuk Seokjin dan Soojung. Kencan kedua ini Seokjin yang akan menentukan tempatnya. Seokjin belum pernah kencan seumur hidupnya… jadi dia browsing di internet, tempat kencan yang terbaik untuk pasangan. Dan akhirnya Seokjin memutuskan membawa Soojung ke taman bermain. Lotte Park.


Mereka menaiki wahana sambil mengobrol ringan. Keduanya memiliki kesamaan : tidak terlalu takut saat menaiki wahana seperti ini, justru keduanya sangat senang.


Pada kenyataannya Soojung sangat ceria seperti anak kecil, ekspresinya begitu berbeda ketika di kampus. Wanita itu tak henti-hentinya tersenyum lebar melihat segala sesuatu yang ada di Lotte Park. Baginya terakhir kali ia ke Lotte Park itu saat ia masih SD. Ia datang bersama Jungkook dan Pamannya.


Mereka duduk di food court sambil makan sosis bakar dan soft drink, istirahat sejenak karena kelelahan dan berteriak saat menaiki wahana beradrenalin tinggi.


“Oppa, ceritakan tentang adik-adikmu…” ujar Soojung membuka topik pembicaraan baru setelah sebelumnya mereka berdua mengobrolkan tentang musik.


“Um?” Seokjin sendiri bingung dengan pertanyaan itu. Apa yang harus ia ceritakan mengenai clannya? “Adikku yang pertama memiliki toko cheese cake yang enak di dekat Gangnam.”


“Woah, jinjja? Aku harus mencobanya.”


Seokjin tersenyum. “Kalau kita kesana, aku akan minta dia memberi diskon.”


“Wahh… dia pasti jago memasak ya.”


Seokjin mengangguk. “Dia yang selalu menyiapkan makanan di rumah. Dia berwajah datar, seolah cuek namun sebenarnya ia orang detail, meneliti apapun yang dilihatnya dengan seksama.”


Soojung semakin tertarik mendengar penuturan Seokjin itu, apalagi pria itu menjelaskan dengan menarik membuat Soojung lupa dengan makanannya sendiri.


“Adikku yang kedua… umm bagaimana ya aku mengatakannya…” Seokjin meringis saat mengingat Namjoon, apalagi semenjak insiden Namjoon mengubah Hoseok menjadi vampire. “Dia termasuk orang ceroboh dan gegabah. Banyak barang di rumah yang rusak karena kecerobohannya.”


“Omo.” Soojung hampir tersedak karena menahan tawa.


“Itu memang sedikit aneh. Pernah tidak ada angin tidak ada apa, dia hanya memegang gagang pintu kamar mandi dan pintu itu langsung rusak.”


Soojung tertawa pelan. “Mungkin kekuatannya saja yang besar dan dia tidak menyadarinya.”


“Yeah… tapi dia masih polos dan selalu memikirkan kepentingan orang lain. Dia sangat menyayangi yang bungsu di rumah, selalu menyediakan waktu untuk mengajarinya mata kuliah yang sulit.”


“Yang bungsu pasti sangat dimanja ya di rumah?”


Seokjin terlihat berpikir. Ia tidak pernah merasa memanjakan Taehyung. Ia dan yang lainnya hanya memiliki insting natural untuk melindungi bayi vampire itu. “Sebenarnya bukan dimanja tapi mungkin kami terlalu kuatir dan mencemaskannya.”


“Wae?”


“Bagaimana ya.. susah menjelaskannya. Dia lugu dan innocent… Kadang itu yang membuat kami takut seseorang bisa memanfaatkannya dan menyakitinya.” Seokjin teringat bagaimana pertama kali ia menemukan Taehyung lima tahun yang lalu. Cukup menyedihkan.


Soojung mengangguk-angguk. “Aku bisa membayangkannya.”


“Oh ya, sebenarnya sekarang bertambah penghuni baru di rumahku. Um, bisa dibilang dia sudah dianggap saudara.”


“Sepupu?”


Seokjin hanya mengangguk saja, walau sebenarnya Hoseok bukan sepupunya. “Dia baru tinggal seminggu bersama kami. Dia sangat ceria dan tidak bisa berhenti bicara.”


Soojung tertawa. “Itu bagus. Kadang kita butuh orang seperti itu di rumah kita, bisa mencairkan suasana kan.”


“Yeah…” Seokjin kembali mengingat bahwa Hoseok banyak sekali melempar pertanyaan di rumah mengenai vampire, kadang membuat kepalanya mau pecah. Dia kasihan pada Namjoon yang harus menjadi penanggung jawab Hoseok. Tapi kalau dilihat sebenarnya Hoseok baik juga, tidak punya maksud yang jahat, hanya rasa penasarannya saja yang terlalu tinggi.


“Bagaimana denganmu? Seperti apa adikmu di rumah?”


Soojung memberi senyum. “Mungkin karena adikku laki-laki, kami tidak terlalu banyak bersama saat di rumah. Dia pun semakin sering pergi bermain dengan teman kuliahnya. Tapi aku senang dengan perubahannya karena dulu adikku bisa dibilang anti sosial.”


“Bukan anti sosial, mungkin dia merasa tidak membutuhkan orang lain?”


“Hmm, aku setuju, semacam itu. Dia sangat cuek dan tidak peduli, wali kelasnya dulu pernah menceritakan panjang lebar mengenai kelakuannya : tidak mau bergabung dalam tugas kelompok, tidak mau ikut camping, dan masih banyak lagi. Tapi sekarang dia banyak berubah… dia bahkan mengajak temannya menginap di rumah.”


Seokjin memberi senyum panjang. “Kita sama-sama menjadi seorang Kakak ya saat di rumah.”


Soojung tersipu. Ia selalu senang moment-moment dimana ia menghabiskan waktu bersama Seokjin. Pembicaraan mereka selalu menyenangkan dan Seokjin sepertinya bisa menjaganya dengan baik.


Mereka melanjutkan makan mereka sambil mengobrolkan topik yang baru yaitu mengenai perkuliahan. Saat sedang mengobrol seperti itu, Seokjin merasakan kehadiran vampire di dekatnya, sedang mengawasinya. Seokjin mengulum mulut, ia harus menemui vampire itu.


“Soojung, aku ke toilet sebentar ya…”


Wanita itu memberi anggukan dan Seokjin bangkit berdiri untuk pergi menuju toilet. Sesampainya di toilet, Seokjin hanya di westafel mencuci tangannya. Ia menghela nafas. “Keluarlah, Yoongi, aku tahu kau ada di sini.”


Yoongi yang namanya disebut itu muncul masuk ke dalam toilet. Wajahnya datar menatap Alpha-nya di cermin.


Mata Yoongi yang datar masih menatap Seokjin lurus-lurus. “Wae? Apa kini kau tertarik berkencan?”


Seokjin memutar badannya menghadap Yoongi. Ia paling dekat dengan dhampir itu, mungkin dikarenakan Yoongi adalah yang pertama bergabung dalam clannya. Jadi kalaupun ia dibuntuti seperti ini, Seokjin tidak bisa marah.


“Bagaimana kau tahu aku disini?”


“Saat di rumah aku merasakan emosimu yang excited dan berbunga-bunga. Itu sangat membuatku penasaran kemana dan dengan siapa kau akan pergi. Jadi aku mengikutimu.”


“Wow… Yoongi, kau tahu bahwa aku pun butuh privasi?”


Yoongi mengangkat bahu. “Aku tidak ingin Alpha di rumah kami melakukan kesalahan. Bukan berarti kau tidak boleh berkencan… hanya saja… dia manusia, Jin.”


Seokjin meniup poni keras-keras. Ia tahu! Ia bahkan sudah memikirkannya sejak pertama kali ia melihat Soojung di kelas kuliahnya. Ia bahkan sudah membatasi dirinya untuk tidak tertarik pada Soojung…. tapi tetap tak bisa.


“Trimakasih untuk nasihatmu.. aku akan berhati-hati.”


Yoongi terdiam beberapa saat, mengamati Seokjin. “Kau… menyukainya..?”


Alpha itu menelan ludah. “Anggap saja aku tertarik padanya.”


Yoongi memang belum pernah mendengar akan terjadi masalah jika seorang vampire berpacaran dengan manusia. Malah dia sudah sering mendengar hal itu, dan bukankah dirinya adalah dhampir karena memiliki ayah vampire sementara ibu manusia? Banyak yang mengatakan anak dari hasil perkawinan vampire dan manusia tidak pernah bahagia. Itu terbukti karena keluarganya retak dan tidak harmonis, ayahnya pergi meninggalkan rumah.


Kau tahu bahwa manusia dan vampire sangat jauh berbeda. Vampire bisa bertahan hidup beratus-ratus tahun, sementara manusia tidak. Vampire yang punya pasangan akan memutuskan menghisap darah pasangannya saja. Ayahnya yang merupakan vampire hanya menghisap darah ibunya, tapi itu tidak akan menyakitkan bagi manusia yang dihisap darahnya, justru sebaliknya, itu seperti mengikrarkan cinta dan komitmen yang tulus. Mungkin karena keduanya couple. Ayahnya tidak bisa meminum darah manusia lain selain darah ibunya. Dengan perginya sang vampire meninggalkan keluarga, ayahnya itu tidak akan bertahan hidup lama.


“Yoongi, aku mengerti kekuatiranmu.” gumam Seokjin membuyarkan lamunan Yoongi. Ia menepuk bahu dhampir itu penuh pengertian. “Percayalah bahwa aku pun berusaha menghindari wanita itu namun tak bisa.”


Seokjin memberi senyum lemah terakhir kalinya lalu pergi dari toilet meninggalkan Yoongi. Yoongi memandang Alphanya yang pergi.


Sepertinya sang Alpha sudah menemukan pasangan yang ditakdirkan untuknya? Vampire tidak semudah itu jatuh cinta pada manusia kalau bukan karena ada benang takdir yang mengikatnya.


.


.


Malam itu setelah dari Lotte Park, Seokjin dan Soojung berjalan-jalan di jembatan Sungai Han. Udara berhembus sangat sejuk, lampu-lampu kota tampak bersinar indah di sepanjang sungai Han.


“Hari ini sangat menyenangkan…” ungkap Soojung jujur.


“Hmm…” Seokjin melirik wanita di sampingnya dengan penuh harap.


“Bagaimana menurut Oppa dengan 2 kencan kita ini?”


“A-aku menyukainya…” sahut Seokjin setengah menunduk. Yeah… dia sangat menyukainya, momen dimana ia bisa bersama Soojung. “Kau tahu kalau aku sebenarnya belum pernah berkencan, jadi aku sempat cemas aku menjadi orang yang membosankan untukmu, Soojung.”


Soojung berhenti berjalan. Ia menoleh menatap Seokjin. “Kau tidak membosankan, Oppa.”


Seokjin juga berhenti berjalan. Ia menggaruk tengkuknya dengan malu. “Be-begitukah? Itu bagus kalau begitu.”


Soojung terenyuh, ia memandang pria itu yang masih menggaruk tengkuk dan menunduk malu. Wanita itu mendekati Seokjin. Ia memejamkan mata dan mengecup pipi pria itu dengan lembut.


Seokjin menatap Soojung terkejut.


Wanita itu tersenyum manis. “Itu menjadi jawabanku, Oppa, untuk hubungan ini. Aku senang saat bisa bersamamu.”


Seokjin memegang pipinya yang dicium, ia pun membalas dengan senyum. “Yea… Aku pun begitu, Soojung.”


Soojung dengan berani meraih tangan Seokjin dan menggenggamnya. Mereka masih berpandang-pandangan dan saling tersenyum. Seokjin melihat kedua tangan mereka yang bertautan, hatinya sangat bahagia melihat momen itu. Vampire itu mengecup punggung tangan Soojung, menghirup aromanya dalam-dalam.


“Kau bukan mahasiswaku lagi…” bisik Seokjin, “Kau sudah menjadi kekasihku.”


Mata Soojung berbinar-binar. Ia mengangguk senang dan bersandar di bahu orang yang menjadi kekasihnya sekarang.


Keduanya sungguh berbunga-bunga, tidak ingin meninggalkan momen bahagia ini, hanya bersama seperti ini sudah sangat membahagiakan. Soojung menyerahkan dirinya untuk mencintai Seokjin… Seokjin pun demikian… Terlebih, ia menyerahkan sendiri nyawanya dengan menjadi kekasih seorang manusia.


🎃🎃



Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Gomawoo