Vampire In The City

Vampire In The City
Saranghae



Author akhirnya bisa update. Tanpa lama lama ayo kita lanjutkan sajah. Ppyong


🎃🎃



Setelah pembicaraan menyedihkan antaranya dan Jungkook, Taehyung tidak bisa berhenti menangis. Jungkook adalah teman pertamanya, manusia itu sangat berarti karena yang pertama mau menerima Taehyung di kampus dan menjadi temannya. Ucapan Jungkook itu memberi luka dalam dan sangat membekas di hati Taehyung.


Vampire itu menangis terisak-isak dan jatuh berlutut di tanah. Ia bahkan membenci dirinya yang seperti ini… jika keadaannya yang merupakan vampire begitu dibenci, bagaimana lagi Taehyung bisa hidup dengan normal? Jika di sekolah sebelumnya Taehyung memang menderita karena dibully… tapi tidak pernah semenyedihkan ini. Jungkook tidak melukainya secara fisik… tapi rasa sakit yang melebihi luka fisik itu terasa lebih menyakitkan.


Jungkook sudah tak mau berteman dengannya lagi…


Semua waktu yang dihabiskan bersama, canda dan tawa, luruh begitu saja… lenyap begitu saja. Jungkook telah meninggalkannya.


Taehyung mengambil gelang yang dilempar Jungkook. Ia menggenggamnya erat-erat dan menangis semakin kencang.


.


.


Dada begitu sesak dan tensi darahnya sepertinya naik. Jungkook merasa seluruh tubuhnya gemetar sementara ia terus bergegas pergi. Dengan kondisi hatinya yang sekarang ia tidak akan sanggup mengikuti perkuliahan. Persetan dengan perkuliahan. Jungkook memutuskan ia akan langsung pulang untuk menenangkan dirinya. Saat ini berkecamuk dua emosi di dalam dada : rasa bersalah vs kepahitan. Jungkook tidak tahu raksasa mana yang akan menang, yang jelas dia ingin membaringkan dirinya, kepalanya sudah hampir pecah.


.


.


Taehyung pun tidak mengikuti perkuliahan. Dia masih di tempat yang sama, di belakang gymnasium, memeluk lutut dan menangis pelan. Rasanya seperti mimpi saja… ia berharap ia cepat bangun dari mimpi buruknya. Taehyung sudah tidak tahu lagi bagaimana jika nanti berhadapan dengan Jungkook. Temannya itu sangat membenci vampire karena orangtuanya mati terbunuh oleh vampire. Taehyung menyayangkan hal itu terjadi pada temannya… tapi ia juga tak mau Jungkook bersikap seperti ini pada semua vampire, padanya!


Taehyung tidak bisa pulang dengan kondisi hatinya yang seperti ini. Yoongi Hyung pasti langsung mengetahuinya dan bertanya-tanya ada apa dengan dirinya. Taehyung belum siap menceritakan masalah ini pada orang lain.


.


.


Soojung berada di perpustakaan sampai malam. Beberapa hari ini ia merenungkan mengenai hubungannya dengan Seokjin. Ia menyadari bahwa Seokjin tidak memanipulasi perasaannya untuk bisa menyukai vampire itu. Dan hell, bukankah Soojung yang pertama mendekati Seokjin? Mengajaknya mengobrol mengenai vampire, lalu menciumnya saat Halloween. Dan Seokjin sudah menyelamatkannya beberapa kali. Pertama menyelematkannya saat ia SMP, saat Soojung dihisap darahnya oleh dua vampire. Kedua, Seokjin menyelamatkannya dari Kai, pacarnya yang selingkuh. Seokjin bahkan sampai dipukul oleh Kai yang main hakim sendiri.


Soojung sangat stres. Dia masih mencintai Seokjin, perasaannya tak bisa tergantikan meski Seokjin adalah vampire. Soojung memang membenci vampire tapi dia tidak bisa membenci Seokjin. Pria itu tidak pernah menyakitinya, tidak pernah berusaha menghisap darahnya.


Wanita itu mengingat nasihat Yoongi, seorang dhampir. Memang benar kita tidak bisa menentukan takdir hidup kita, ingin lahir sebagai apa, ingin memiliki keluarga seperti apa. Soojung tidak dapat menghakimi semua vampire karena apa yang terjadi pada orangtuanya atau apa yang terjadi pada dirinya. Dan ia tidak bisa serta merta mengatakan bahwa semua vampire harus dibasmi, harus dibunuh. Soojung tak dapat melupakan ekspresi terluka Seokjin saat ia mengatakan bahwa dirinya membenci vampire atau saat dirinya mengatakan Seokjin telah menggunakan kekuatan vampire untuk memanipulasi perasaannya.


“Ughh…” Soojung memegang kepala dengan dua tangan. Kepalanya sangat penat. Dan apakah kalau ia meminta maaf pada Seokjin, ia masih layak dimaafkan? Sudah berapa kali Soojung menyakiti hati pria itu.


Ingin berteriak kencang tapi tak bisa karena ia sedang di perpustakaan. Ia ingin meluapkan semua emosi di dalam dada… dia bisa gila. Dirinya masih terlalu terguncang dengan fakta-fakta yang harus ia hadapi. Ia mencintai seorang vampire… Seokjin adalah vampire…


Apa ia bisa melewati fase dimana dirinya akhirnya bisa menerima vampire? Orangtuanya mungkin mati dibunuh vampire, tapi bukan Seokjin yang melakukannya. Soojung mungkin pernah diserang 2 vampire, tapi Seokjin justru vampire yang menyelamatkannya.


Lama-lama ini bisa membuatnya gila.


Soojung bangkit berdiri dan langsung bergegas pergi meninggalkan perpustakaan.


.


.


Sejam kemudian Soojung sudah berada di salah satu diskotik. Percayalah, Soojung sebelumnya tidak pernah sudi pergi ke diskotik. Dirinya bukan wanita yang menghabiskan waktu di diskotik seperti teman seusianya. Tapi malam ini… rasanya Soojung ingin melepaskan dirinya. Apa diskotik bisa menyelesaikan masalahnya? Bisa membuatnya lupa untuk sesaat saja mengenai masalah yang ia alami?


Musik yang menghentak-hentak… aroma alkohol… orang-orang setengah mabuk, menari di pool dance…


Itu sesuatu yang baru untuk Soojung. Tapi ia sudah tidak peduli lagi. Ia harus bisa melupakan masalahnya bahkan hanya untuk sesaat.


Wanita itu mengambil gelas yang diberikan bartender. Soojung tidak tahu apa yang ia pesan, ia hanya mengatakan meminta minuman yang biasa dipesan oleh orang-orang karena dia sendiri tidak tahu nama-nama minuman di diskotik.


Soojung meneguknya banyak-banyak. Tenggorokannya langsung panas mengalir sampai perutnya. “Oh shit.” tukasnya sambil menyeka mulut.


Soojung menghembuskan nafas keras-keras dan langsung berjalan menuju pool dance dimana sudah banyak orang-orang yang menari. Soojung jadi teringat bahwa Pamannya pernah mengatakan bahwa vampire juga mendatangi tempat seperti ini untuk menghisap darah manusia tanpa disadari orang lain. Kau tahu bahwa dalam diskotik seperti ini, orang-orang yang mabuk tidak akan sadar saat bercumbu-cumbuan dengan vampire sekalipun.


Tapi Soojung tidak mau terlalu memikirkannya. Bukankah ia datang untuk melupakan masalah semacam itu?


Ia pun menari, menggoyangkan tangan dan kepalanya. Efek alkohol sudah terasa karena Soojung yang merasa high seperti fly, segala sesuatu tampak menyenangkan dan membuatnya ingin terus menari. Untu sesaat ia merasakan dirinya lebih ringan, lupa dengan kepenatan hidup.


Seseorang dari belakang memegang pinggulnya. Soojung menoleh dan melihat pria yang tak ia kenal memberi senyum dan ikut menari di dekatnya. Kalau Soojung dalam posisi sadar, ia mungkin akan menempeleng pria asing yang berani menyentuhnya. Tapi Soojung terlalu naif dan membiarkan diri menari bersama pria itu.


Pria itu mendekatkan kepalanya ke kepala Soojung, berusaha merayunya dan berniat mencuri kesempatan dan mencium Soojung saat wanita itu lengah karena mabuk.


Saat bibir pria itu sudah akan menciumnya, Soojung langsung mendorong pelan dada pria itu menjauh darinya. “Andwae…”


“Ayolah…” ucap pria itu tak menyerah dan memegang pinggang Soojung kembali.


“Andwae…” ucap Soojung lagi meski setengah mabuk. Ia sudah akan mendorong lagi pria itu ketika ia merasakan pergelangan tangannya ditarik oleh orang lain. Soojung menoleh ke samping dan melihat Seokjin yang melakukannya. Tatapannya seperti tatapan membunuh, memandang pria asing yang berusaha mencium Soojung itu. Pria asing memberi dengusan pelan lalu akhirnya pergi karena menyangka Seokjin adalah pacar Soojung. (memang benar)


Soojung mengerjap-ngerjap. Apa dia mimpi? Ia melihat Seokjin di diskotik ini?


“Kau sedang apa disini?” tanya Soojung, badannya sedikit oleng karena mabuk yang dialami.


Seokjin memegang pinggang wanita itu, membantunya untuk tetap berdiri dengan seimbang. Matanya yang tadi begitu tajam berubah sayu saat menatap Soojung, wanita yang ia kasihi. “Aku yang harus menanyakannya. Sedang apa kau disini?”


Soojung hanya tertawa, dirinya terlalu mabuk untuk bisa bereaksi dengan normal. “Aku sedang bersenang-senang~”


“Tempat ini bukan untuk bersenang-senang.”


“Hmm. Oh ya?” Soojung memandang Seokjin tepat di manik. Pria itu masih memegang pinggangnya seperti ini, seolah kejadian beberapa hari yang lalu tidak pernah terjadi saat Soojung melukai hatinya.


“Aku bisa bersenang-senang denganmu sekarang.”


“Soojung-ah…”


“Kau mengikutiku?” tanya Soojung pelan tak peduli jika suaranya tak terdengar karena betapa menghentaknya musik yang mengalun.


Seokjin hanya terdiam. Soojung memegang rahang Seokjin. Ia begitu bold dan berani melakukan hal semacam ini karena sedang mabuk. “Kau mengikutiku.” ucap Soojung kali ini merupakan statement bukan pertanyaan.


Wanita itu memberi senyum lebar. “Congrats!!” serunya dengan eye smile, “Aku mengijinkannya!!”


Seokjin masih memandang Soojung dalam-dalam. Saat di kampus dan hendak pulang, Seokjin melihat Soojung yang pergi sendirian. Ia mengikutinya dan tak menyangka bahwa wanita itu akan pergi ke diskotik. Sendirian tanpa ditemani. Dan Seokjin memutuskan untuk mengawasi wanita itu, takut-takut Soojung kenapa-napa.


“I love you, My Vampire…” gumam Soojung memberi senyum lembut sambil menyentuh wajah Seokjin, mengingatnya baik-baik bagaimana ia merasakan kulit pria itu.


Seokjin cukup terkejut mendengar pengakuan itu. Ia kira hubungannya benar-benar sudah kandas dan tak bisa terselamatkan… tapi nyatanya Soojung masih mencintainya… meski pengakuan itu muncul saat mabuk. Tapi banyak yang mengatakan seseorang akan lebih jujur ketika mabuk.


“Now kiss me…” bisik Soojung dan dengan berani mendekatkan wajahnya.


Tidak perlu diminta dua kali, Seokjin pun mencium bibir Soojung dalam-dalam, mengeratkan pegangannya di pinggang wanita itu, tak peduli dengan musik yang menghentak-hentak, tak peduli dengan orang-orang sekitar yang sibuk menari. Hati Seokjin terlalu melting untuk bisa menyadari sekitarnya.


Wanita itu membalas ciuman Seokjin dan memperdalam ciuman mereka. Setiap kali bibir mereka menjauh, Seokjin menggumamkan “love you” dan kembali mencium Soojung. Wanita itu sangat bahagia dan tak henti-hentinya tersenyum mendengar pria yang ia cintai mengatakan “love you” berkali-kali. Persetan dengan musik diskotik, Soojung hanya bisa mendengar suara Seokjin saja.


Setelah bibir mereka berjauhan, Soojung masih memejamkan matanya, ia menghirup nafas dalam-dalam di depan bibir Seokjin. Wanita itu tidak akan ragu lagi… ia tidak akan menyesali keputusannya ini.


Seokjin mengusap pipi kekasihnya. Ia sangat mencintai Soojung dan berharap Soojung merasakannya. Seokjin tidak peduli kalau pun dirinya adalah vampire, dia masih bisa mencintai seseorang bukan?


“Kita tinggalkan tempat ini ya?”


“Hmm…” Soojung membuka matanya dan memberi anggukan. Kepalanya sakit karena efek alkohol dan suasana diskotik. Soojung butuh udara segar.


Seokjin menggenggam tangan kekasihnya dan langsung membawanya pergi dari situ. Sama seperti Soojung, Seokjin pun tidak menyukai tempat semacam ini.


Seokjin membawa kekasihnya ke tempat terbuka, area yang berumput. Udara malam berhembus sepoi-sepoi membuat perasaan Soojung semakin ringan. Seokjin pun membelikan kopi kaleng hangat dari minimarket dekat situ untuk menyadarkan Soojung dari mabuknya.


Seokjin menatap wanita itu yang sedang meneguk kopi dalam-dalam. Apa Soojung akan menyesali apa yang terjadi di diskotik saat sudah sadar dari mabuknya ya? Apa Seokjin akan kembali ditolak? Tapi sebenarnya Seokjin tidak ingin yang dilakukan Soojung tadi itu karena efek alkohol. Sokjin ingin Soojung memang melakukannya karena jujur dengan perasaannya sendiri.


Soojung menyeka mulutnya setelah menghabiskan kopi. Kepalanya sudah lebih enakan dan tidak pusing lagi. Ekspresinya datar seperti ekspresi jutek Soojung biasanya.


Seokjin masih menunggu… apa Soojung akan menyesalinya? Atau sebaliknya?


Soojung menoleh dan memandang Seokjin. “Trimakasih, Oppa… kurasa aku sudah tidak mabuk lagi.”


“Err… yahh…” Seokjin menunduk merasa dia akan mendengar berita buruk.


Soojung memberi senyum manis. “Tapi aku menyadari apa yang kulakukan saat di diskotik.” Ucapan itu membuat Seokjin mengangkat kepalanya. “Dan aku tidak menyesalinya…”


Mulut Seokjin membuka karena terkejut namun tak ada kata-kata yang bisa terucap.


Mata Soojung berubah menjadi berkaca-kaca, kini ia merasa sangat sedih karena kembali ingat dia pernah menyakiti Seokjin. “Mianhe... Maafkan aku pernah menghakimi keberadaan dirimu, Oppa. Saranghae.”


Seokjin langsung merengkuh Soojung ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajah di bahu wanita itu,perasaan campur aduk saat ini. Yang jelas Seokjin sangat terharu karena akhirnya Soojung menerima keberadaan dirinya apa adanya.


Soojung membalas pelukan itu. Ia tidak tahu seperti apa takdir akan menuntun keduanya. Vampire dan manusia bersama? Soojung akan membayar semua harganya karena keputusan besarnya ini untuk mencintai seorang vampire.


.


.


“Taehyung tidak makan?” tanya Hoseok. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam dan Taehyung tidak keluar dari kamar sejak tadi pulang sejam yang lalu.


Namjoon melirik Yoongi dengan cemas. Tadi Namjoon yang melihat Taehyung pulang ke rumah… matanya sembab seperti baru menangis, tapi ekspresinya tidak kontras. Taehyung menyapa Namjoon dengan senyum lebar lalu cepat-cepat pergi ke kamarnya dan tidak keluar lagi sampai sekarang. Dulu saat Taehyung mengalami pembulian, Taehyung akan pulang dengan wajah murung dan menceritakan kesedihannya pada Namjoon. Tapi yang kali ini begitu berbeda. Namjoon tidak sedang menuduh Taehyung ada masalah namun Namjoon merasa Taehyung tidak baik-baik saja.


Yoongi menghela nafas pelan. Ia pun yang baru pulang ke rumah sudah merasakan keanehan emosi yang dialami Taehyung. Dengan kekuatan empath-nya, Yoongi mengetahui bahwa Taehyung sedang mengalami kesedihan.


“Aku akan coba mengecek keadaannya…” ucap Yoongi dan bangkit berdiri pergi.


“Seokjin Hyung juga belum pulang.” kata Namjoon.


“Halah… paling juga dia sedang pacaran.” tukas Hoseok.


Namjoon meringis pada Hoseok, mungkin yang dikatakan vampire itu benar adanya.


Yoongi mengetuk pintu kamar Taehyung. Untungnya pintu tidak dikunci oleh bayi vampire itu. Yoongi masuk tanpa menunggu ada jawaban dari dalam. Seruangan dengan Taehyung membuat Yoongi semakin bisa merasakan kesedihan yang dialami Taehyung. Yoongi belum pernah merasakan emosi seperti ini di dalam diri Taehyung. Hati Yoongi bahkan ikut sakit hanya dengan merasakan emosi Taehyung.


“Tae…” ucapnya memandang Taehyung berbaring di tempat tidur, memunggunginya.


Taehyung tidak menjawab namun dia pun tidak sedang tidur. Taehyung berusaha mengatur emosi di dalam dirinya supaya jangan sampai Yoongi mengetahuinya. Sejak sore Taehyung berusaha menerima takdir ini. Ia berusaha menerima fakta bahwa Jungkook tak mau berteman dengannya lagi. Taehyung berusaha mengikhlaskan apa yang terjadi… membiarkan Jungkook meninggalkannya. Karena mungkin Taehyung tidak punya hak memaksa Jungkook untuk tetap menjadi temannya bukan?


Yoongi duduk di pinggir tempat tidur. Ia tidak tahu alasan yang membuat Taehyung sedih seperti ini.. entah apa ada kaitannya dengan pembicaraan mereka kemarin.


“Tae, kau baik-baik saja?”


“Aku hanya ingin tidur, Hyung…” ucap Taehyung pelan.


“Apa ada yang mau kau bicarakan?”


Taehyung menggeleng. Ia masih membelakangi hyungnya. Taehyung merasa ia tidak punya hak untuk menuntut Jungkook… ia merasa ia pun tidak perlu mengadukannya pada Yoongi. Bukankah Jungkook sudah memilih keputusan yang tepat? Manusia memang tidak seharusnya bersahabat dengan vampire. Hati Taehyung terluka kembali ketika mengingatnya.


“Tae…” Yoongi semakin cemas karena merasakan kesedihan dan luka hati Taehyung.


Taehyung membalikkan badan dan memberi senyum normal pada Yoongi. “Aku baik-baik saja kok. Mungkin aku hanya kelelahan dengan kuliah hari ini.”


Yoongi tersenyum tipis saat melihat bagaimana mata Taehyung yang masih kelihatan sembab. Meski ekspresi Taehyung itu tampak biasa saja tapi luka di dalam hati Taehyung itu tidak bisa ditutupi.


“Baiklah…” ucap Yoongi akhirnya tidak ingin memaksa Taehyung lagi. Mungkin nanti Yoongi akan coba menanyakannya pada Jimin, sebenarnya apa yang terjadi antara Taehyung dengan temannya yang lain.


“Selamat istirahat, Tae.”


Taehyung mengangguk dan memberi senyum penuh terimakasih. Yoongi pun pergi meninggalkan kamar itu.


🎃🎃


Tungguin kelanjutannya ya. Jangan lupa berikan like dan comment untuk episode ini. Jika suka berikan votenya ya. Makasih