
🎃 Jangan lupa like dan comment 🎃
Yoongi melihat ke arah pintu, melihat kedatangan Seokjin malam itu. Tidak biasanya Seokjin terlambat pulang setelah makan malam seperti ini. Dan Yoongi pun bisa merasakan emosi lain di dalam diri vampire itu. Ada sisa kemarahan tapi ada juga rasa kasih sayang.
Yoongi mengernyit tak paham. Apa-apaan. Emosi apa yang dialami Alpha hari ini?
Yoongi, Namjoon dan Taehyung sedang berkumpul di ruang tengah setelah menyelesaikan makan malam mereka. Taehyung sedang duduk di karpet, berkutat dengan laptopnya, berusaha menyelesaikan tugas sambil minta bantuan pada Namjoon.
Namjoon juga menyadari kedatangan Seokjin. Ia menaikkan sebelah alis saat melihat pipi Seokjin yang agak membiru memar. “Kau berkelahi?”
Taehyung langsung mengangkat wajahnya, menatap Seokjin dengan mata kaget.
“Hanya sedikit masalah.” sahut Seokjin enteng. Ia mengambil duduk di sebelah Taehyung, menengok apa yang dikerjakan Taehyung di laptopnya itu.
“Ada hunter yang memukulmu, Hyung?” tanya Taehyung polos.
Seokjin tertawa kecil. “Anniya. Mahasiswa tak tahu sopan santun yang melakukannya.”
Mata Tahyung malah semakin besar menatap Seokjin. Namjoon langsung tertarik pada obrolan ini dan mengambil duduk di sebelah Alpha itu. Yoongi masih duduk di lengan sofa, memandangi ketiga vampire yang duduk di karpet.
“Jinjja?” tanya Namjoon, “Ada yang mencari masalah denganmu?”
“Hanya kesalahpahaman,” sahut Seokjin, “Tapi aku sudah membereskannya.”
Mata Yoongi memicing menatap Seokjin. Tidak biasanya Seokjin punya ‘urusan’ dengan manusia. Pasti sesuatu terjadi jika sampai terjadi pertengkaran, apalagi Yoongi memang merasakan emosi Seokjin yang belum stabil.
“Kukira identitasmu sebagai vampire terbongkar.” ucap Namjoon rileks sambil tertawa.
Seokjin tersenyum tipis. Yap jangan sampai hal itu terjadi pada mereka. “Kalian juga tetap hati-hati. Namjoon, bagaimana perkuliahanmu? Kau belum pernah menceritakannya.”
“Tenang saja, semua berjalan dengan aman dan lancar.” sahut Namjoon memberikan OK sign. “Yang menyebalkan karena kadang aku berpapasan dengan Woobin dan Xiumin.”
“Kita harus menghindar dari clan mereka dan sebisa mungkin tidak berurusan dengan mereka.” tutur Seokjin.
Woobin dan Xiumin berasal dari Clan Chi. Seokjin pernah menghajar Alpha mereka beberapa tahun lalu… saat Seokjin berusaha menyelamatkan Soojung yang dihisap darahnya oleh vampire alpha tersebut. Sejak kejadian itu clan Chi sangat membenci Seokjin… namun clan vampire lain beranggapan bahwa clan Chi pun sudah bersalah karena telah menyerang manusia dan menghisap darahnya.
Namjoon mengangguk. “Aku selalu langsung menghindar saat merasakan keberadaan mereka.”
Taehyung tiba-tiba teringat dengan rencana lusa untuk menonton Jimin yang tampil menari lalu dilanjutkan dengan menginap bersama. Taehyung harus meminta ijin terlebih dulu pada alpha di rumah ini.
“Oh ya, Hyungie…” gumam Taehyung pada Seokjin.
Namjoon terkekeh. Kalau Taehyung sudah mengatakan ‘hyungie’ pasti ada sesuatu yang diinginkannya.
“Ne, Taehyungie?” Seokjin membalas dan Yoongi tidak bisa menahan senyum.
“Sabtu aku ingin keluar karena temanku ada yang tampil dance di mal. Bo-bolehkah aku pergi?”
Wajah Seokjin berubah serius. Dirinya sebagai alpha selalu berusaha menjaga dan melindungi keselamatan clan-nya. Taehyung masih bayi vampire membuat Seokjin 100 kali lebih protektif.
“Jam berapa?”
“Jam enam malam…” Wajah Taehyung tampak memelas.
“Apa yang menari itu chingu sekelasmu?” tanya Yoongi, “Siapa namanya… Jungkook?”
“Yang menari adalah chingu keduaku, Jiminie. Aku dan Jungkook akan pergi bersama ke mal untuk menontonnya.”
“Uwaw…” Namjoon berdecak kagum sambil menepuk kepala Taehyung, “Kau sudah berbaur dengan sangat baik, Buddy.”
Taehyung tersenyum kecil. Ia akan berusaha memelihara pertemanan ini untuk tidak pernah rusak sama sekali. Jungkook dan Jimin menjadi teman yang sangat berharga pada Taehyung.
“Oke..” jawab Seokjin akhirnya, “Kau bisa pergi, Tae.”
“Yeay!!” seru Taehyung senang dan langsung memeluk Seokjin penuh terimakasih.
Yoongi tertawa pelan melihat kepolosan Taehyung itu, begitu senangnya bisa diijinkan pergi malam Minggu.
“Umm, pulang dari sana aku akan menginap di tempat mereka, apa boleh?” tanya Taehyung setelah melepas pelukan.
Alis mata Seokjin terangkat sebelah, dirinya sudah tampak tidak setuju dengan ide itu. Namjoon dan Yoongi saling lirik, mereka pun ragu apakah aman untuk Taehyung menginap di rumah manusia. Mereka tidak ingin terjadi hal membahayakan bagi bayi vampire itu.
Taehyung mempoutkan bibirnya, sudah melihat jawaban pertanyaannya dari ekspresi para hyungnya.
“Untuk saat ini, aku belum bisa mengijinkanmu, Tae…” ujar Seokjin, “Aku belum tahu seperti apa kedua temanmu.”
“Tapi, Hyung–“ Wajah Taehyung sangat cemberut sekarang.
“Kau pulang jam berapa? Yoongi yang akan menjemputmu.” potong Seokjin. Sebagai leader, dia harus bisa mengambil keputusan terbaik untuk anggota clannya.
Mata Taehyung sudah berkaca-kaca. Padahal dia sudah membayangkan dia akan begadang semalaman bersama Jimin dan Jungkook, bermain bersama… namun sepertinya bayangannya itu tidak bisa menjadi kenyataan.
“Jam delapan malam…” gumam Taehyung sambil menggosok matanya yang basah.
“Yoongi akan menjemputmu jam setengah sembilan malam. Oke, Taehyung?”
Taehyung masih belum menjawab, mengusap matanya yang terus basah.
“Taehyung?” ulang Seokjin.
Seokjin adalah alpha-nya, tidak mungkin Taehyung membantah perintah alpha. “Iya, Hyung…”
Seokjin mengusap-usap kepala Taehyung dengan sayang. “Ini demi kebaikanmu, Tae.”
Taehyung mengangguk. Ia tahu para hyungnya berusaha melindunginya, tapi bukan berarti Taehyung dijaga seperti bayi begini kan. Kalaupun ada bahaya, dia masih bisa melawan karena tubuhnya pun sudah dewasa, bukan fisik bayi. Taehyung sangat kecewa karena dia harus melewatkan kesempatan menginap bersama dua temannya.
***
Yoongi sedang merapikan cheese cake yang baru ia buat di dalam lemari kaca siang itu, saat lonceng pintu berbunyi menandakan ada yang datang. Yoongi langsung mengangkat wajah karena ia merasakan energi yang berbeda dari tamu yang datang tersebut.
Yoongi melihat seorang mahasiswa, sepertinya baru selesai kuliah, memakai hoodie dan tas menggantung di bahu kiri. Earphone bertengger di kedua telinga, Yoongi bahkan bisa mendengar musik apa yang sedang didengar anak itu. Hiphop.
“Aku pesan cheese cake blueberry ya…” ucap mahasiswa itu ringan.
Yoongi mengangguk sekenanya. Kenapa ya… ia merasakan sesuatu yang berbeda dari mahasiswa itu. Seperti ada energi dalam yang tersembunyi di dalam diri manusia tersebut. Yoongi tentu bisa membedakan mana vampire dan mana manusia. Tapi untuk mahasiswa di depannya sekarang, Yoongi yakin mahasiswa itu bukanlah vampire. Lalu energi apa yang saat ini bisa Yoongi rasakan dari mahasiswa itu ya? Dan setahunya… orang di depannya bukan anggota clan Chi.
Jimin, mahasiswa tersebut, menunggu di depan kasir sambil mengetuk-ngetukkan jari ke meja, mengikuti irama musik yang sedang ia dengar.
“Tidak ada kuliah?” tanya Yoongi berusaha berbasa-basi, mengemas cheese cake.
“Sudah beres.” sahut Jimin memberi cengiran. Meski sedang mendengarkan musik ternyata Jimin masih bisa mendengar pertanyaan Yoongi. “Aku baru pertama kali ke tempat ini. Aku melihat dari instagram kalau cheese cake disini sangat lezat.”
“Kamsahamnida.” sahut Yoongi memberi senyum. “Kuharap kau akan menyukai cheese cakenya.” Yoongi menyerahkan pesanan Jimin itu.
“Kalau enak aku pasti kembali.” sahut Jimin mengekeh. Ia pun membayar pesanannya lalu pergi setelah menggumamkan terimakasih.
Yoongi masih memperhatikan mahasiswa tersebut. Ini pertama kalinya Yoongi merasakan hal seperti ini. Energi yang dimiliki mahasiswa itu tampak tidak biasa… namun Yoongi sendiri masih belum yakin apa yang sedang terjadi dalam diri mahasiswa itu.
***
Sore itu Seokjin sengaja tidak langsung pulang. Ia mendatangi lapangan berumput di kampus itu, melihat ada sekelompok mahasiswa yang sedang berlatih memanah.
Soojung ada di antara orang-orang itu. Seperti biasa wajahnya tanpa ekspresi dan cenderung dingin. Ia sedang memperbaiki posisi busur dan stringnya dan tampaknya wanita itu tengah memikirkan sesuatu karena menatap lama busurnya.
Seokjin tersenyum pelan. Dia tidak seharusnya tertarik pada manusia. Dia tidak seharusnya berada di sini, membiarkan dirinya memandangi Soojung. Puluhan tahun hidup sebagai vampire, Seokjin tidak pernah berpikiran mengenai urusan asmara. Dia tidak pernah menginginkannya… Namun untuk Soojung, seperti ada sesuatu dalam diri Seokjin. Mungkin ikatan ini muncul karena Seokjin pernah menolong Soojung saat digigit oleh vampire, kaumnya sendiri? Apa takdir sedang berusaha memberikannya pelajaran dengan tertarik pada manusia?
Mata Soojung tak sengaja melihat ke pinggir lapangan. Ia terpana saat melihat dosennya berdiri di sana, tengah memandanginya entah sejak kapan.
Wanita itu menaruh busur dan stringnya. Ia berlari pelan mendatangi Seokjin, memberi senyum panjang. “Mr. Kim, aku tidak tahu Anda disini.”
Seokjin tersenyum. “Tadi aku lewat dan melihatmu yang ternyata sedang latihan memanah. Sepertinya ini olahraga favoritmu?”
Tawa lirih keluar dari mulut Soojung. “Ya bisa dibilang begitu.”
“Sepertinya memanah itu menyenangkan ya?” ucap Seokjin.
“Kau harus mencobanya, Mr. Kim, untuk tahu jawaban itu.”
Seokjin tersenyum miris. Dia tidak mungkin mencobanya. Panah menjadi benda traumatis bagi vampire yang sudah hidup lama seperti dirinya. Seokjin pernah dikejar oleh hunter saat dirinya dulu berada di Jerman. Panah bertubi-tubi berusaha mengenainya saat Seokjin berlari di tengah hutan. Itu pengalaman yang traumatis bukan?
“Mungkin lain kali, Soojung.”
Soojung memberi anggukan. “Oh ya… aku mengikuti saranmu, Mr. Kim.”
Seokjin menaikkan alisnya, tak mengerti.
“Aku dan Kai sudah putus. Hubungan kami sudah berakhir.”
Mulut Seokjin membentuk huruf O tanpa suara. Dan kini wanita itu pun memandangnya dengan senyum penuh arti.
“Itu bagus..” ujar Seokjin akhirnya karena terlalu lama terdiam, “Maksudku, dia sudah bermain wanita di belakangmu, Soojung.”
“Yeah…” Soojung mengangguk dan tersenyum malu. “Ng, kalau begitu aku kembali latihan dulu, Mr. Kim.”
“Ah ne…” sahut Seokjin. Sial, kenapa suasananya malah jadi awkward.
Soojung tersenyum panjang lalu permisi dengan sopan dan berbalik kembali ke tengah lapangan. Seokjin menatap kepergian Soojung dengan sendu. Apalah yang dia pikirkan ini, kenapa ia harus sangat senang ketika mendengar Soojung sudah putus dari Kai? Tidak, tidak, Seokjin harus menyadarkan dirinya. Dia adalah vampire… dan Soojung adalah manusia, bahkan Soojung membenci vampire dan ingin membasminya bukan? Apa yang terjadi jika Soojung tahu bahwa Seokjin adalah vampire?
.
.
Namjoon berada di toilet. Ia sedang mencuci wajahnya dengan air. Masa tadi saat ia sedang berjalan, ada bola nyasar dan mengenai wajahnya. Bola yang kotor dan berdebu. Manusia yang sudah tak sengaja menendang ke arahnya sudah meminta maaf. Namjoon pun tidak mau memperpanjangnya dan ia langsung ke toilet untuk mencuci wajahnya.
Vampire itu melihat dirinya di cermin. Ia merasa matanya perih, mungkin karena tadi ia menggosok wajahnya dengan kasar sampai matanya pedih begitu. Namjoon memang merasa tidak nyaman memakai lensa kontak dan ingin melepaskannya beberapa saat, untuk memberikan kenyamanan pada matanya.
Jadi Namjoon pun membuka lensa kontak di mata kanannya perlahan-lahan. Mata aslinya yang berwarna hijau, yang merupakan mata vampire, tampak di bayangan cermin. Jujur saja, Namjoon bangga dengan mata vampirenya, tapi sial, dia harus menyembunyikannya di balik lensa kontak bodoh ini.
Namjoon pun berusaha membersihkan mata kanannya yang pedih. Ia mengambil tisu dan sedang mengusap wajahnya, saat seseorang masuk ke dalam toilet. Namjoon kalah cepat dari orang itu. Ia belum sempat memakai kembali lensa kontaknya, saat manusia yang masuk itu sudah keburu melihat bayangan dirinya di cermin, melihat sebelah matanya yang berwarna hijau.
Manusia itu terbelalak, seperti melihat hantu.
Namjoon menelan ludah. Ia melihat teman sekelasnya, Hoseok, sedang tercengang melihat sebalah matanya yang hijau. Sial, Namjoon harus cepat mencari akal untuk mengelabui manusia itu, jangan sampai berpikiran macam-macam.
“Ma-matamu…” ucap Hoseok sambil menunjuk cermin. Mata dan mulutnya membulat sempurna.
Namjoon berusaha tampak tenang meski saat ini ia sangat gugup. “Uh yeaa… aku sedang mencoba lensa kontak berwarna hijau. Bagaimana menurutmu?”
Wajah Hoseok masih tercengang. Dan entah kenapa ia tidak semudah itu teryakinkan dengan ucapan Namjoon. Hei, bukanlah mata vampire tidak sama seperti mata manusia? Lihatlah pupilnya…
Namjoon tidak mau ambil resiko lain dan berlama-lama disini bersama Hoseok. Namjoon pernah punya kesan bahwa manusia itu mengetahui banyak hal mengenai vampire. Dan Namjoon tidak akan membiarkan dirinya terus diamati dan dicurigai.
“Aku permisi dulu.” sahut Namjoon buru-buru. Ia hanya teringat mengambil tasnya dan langsung pergi dari toilet, menutup mata kanan dengan tangannya.
Hoseok masih dengan wajah syok melihat kepergian Namjoon dari toilet. Damn, melihat mata seperti itu membuat Hoseok berpikiran macam-macam. Warna itu seperti bukan warna sintetis buatan manusia. Warna mata itu seperti asli!!
Hoseok menelan ludah. Ah tidak mungkin, tidak mungkin… Hoseok berusaha menyadarkan dirinya untuk tidak terlalu berharap dan berekspektasi. Dirinya mungkin terlalu menginginkan bertemu vampire sampai berimajinasi bahwa teman sekelasnya sendiri adalah vampire. Ha ha, demi apa.
Hoseok hendak mencuci tangan di westafel, karena itulah tujuan utamanya ke toilet. Matanya tak sengaja melihat ada benda bening kecil di dekat westafel. Benda itu adalah lensa kontak berwarna hitam. Hoseok mengambilnya dan ia langsung menutup mulut dengan tangan.
Tadi Namjoon mengatakan bahwa ia sedang mencoba lensa kontak berwarna hijau, tapi kenapa lensa kontak ini nyatanya bukan berwarna hijau, melainkan berwarna hitam!
“Oh, God…Oh, God…” gumam Hoseok dramatis, “Tak mungkin… Oh, God…”
Hoseok semakin menutup mulutnya, menahan teriakan yang ingin keluar dari mulutnya itu.
Namjoon adalah vampire?? Jinjja????
Hoseok tidak mau membantahnya. Dia memang pernah melihat bahwa Namjoon tidak bernafas… dia melihat bagaimana Namjoon bisa mendengar dari jarak jauh…dan sekarang matanya….
Ini tidak terbantahkan lagi… jika yang sekarang Hoseok pegang adalah lensa kontak berwarna hitam, maka mata hijau itu….
“Itu mata aslinya??” bisik Hoseok dengan mata membesar.
Shitt, shiit… Hoseok menemukannya. Akhirnya ia menemukan vampire.
🎃🎃
wah nah lho... Namjoon yang duluan ketahuan. bagaimana kisah selanjutnya ya😅
jangan lupa tinggalkan jejaakk