Vampire In The City

Vampire In The City
Pemikiran Jungkook (Special Chapter - Daesang)



chapter ini spesial utk banyaknya award yg diborong BTS termasuk daesang 🎉 baru bisa update krn tak sempat.


enjoy~~



🎃🎃


Seokjin dan Soojung pun semakin lovey dovey, apalagi mereka yang kini sudah tinggal satu atap (tentu saja berbeda kamar). Meski sebelumnya ada kejadian menegangkan akibat perbuatan sindikat namun suasana lebih cepat pulih, mungkin juga karena perubahan Taehyung yang mencengangkan siapa saja. Paling tidak Alpha Kim itu bisa jauh lebih tenang, mereka sudah tinggal jauh dan tersembunyi dari sindikat.


Saat ini Seokjin dan Soojung berada di balkon kamar Seokjin, mengobrol sambil menikmati pemandangan sore.


“Paman akhir-akhir ini sering menelepon. Beberapa kali tidak terangkat karena aku sedang kuliah,” tutur Soojung bercerita. Wanita itu sungguh cantik dengan balutan busana kasual rajut berwarna coklat membuat Seokjin gemas dan menganggapnya seperti bule Itali saja.


“Dan saat aku mengangkat telpon dia menanyakan kabarku, apa aku dan Jungkook baik-baik saja.”


“Dia Paman yang perhatian.” kata Seokjin.


“Dia memang perhatian…” kata Soojung, “Meski dia merupakan hunter… Dia berusaha menempati posisi sebagai Appa dan Eomma bagiku dan Jungkook. Tapi cukup mengherankan karena dia sering menelepon, tidak biasanya.”


“Hmm.. apa yang dia katakan?” tanya Seokjin sambil mengelus lembut rambut kekasihnya.


“Dia jarang pulang karena banyak pekerjaan. Dia berpikir aku dan Jungkook sesekali pulang ke rumah, padahal dia tidak tahu saja kalau kami belum pernah pulang semenjak pindah kemari. Dan dia berulang kali mengatakan supaya aku dan Jungkook selalu memegang kebenaran.”


Seokjin mengerutkan alis. “Apa maksudnya untuk selalu membenci vampire?”


Soojung menggeleng ragu. “Kurasa bukan. Semacam ada kebenaran lain dari maksud perkataannya. Dan dia bilang suatu saat nanti kebenaran akan terungkap.”


Seokjin merasa kalimat itu seperti kalimat yang diberikan oleh seseorang yang akan pergi dan tidak kembali. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja.


“Oh ya, aku senang akhir-akhir ini merasakan suasana rumah yang menyenangkan.” ucap Soojung dengan senyum manis. “Adikku sudah tidak muram lagi karena Taehyung telah kembali. Dan apakah Oppa merasakan kalau Taehyung tampak lebih ceria dari sebelumnya.”


Seokjin tersenyum lembut. Dia tentu menyadarinya juga. “Taehyung berangsur-angsur sembuh dari luka traumanya.”


“Pasti masa lalu yang dulu ia alami sangat menyakitkan, tapi dia hebat karena berhasil melaluinya dan berangsur pulih.”


“Jungkook sudah sangat membantunya. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika Jungkook tidak pernah mengenal Taehyung.”


Soojung tersenyum. “Semua sudah menjadi takdir, Oppa.” bisiknya.


“Juga kita?” tanya Seokjin menahan senyum.


“Hmm.. juga kita..” kata Soojung tersenyum sumringah saat vampire itu mendekatkan wajahnya. Dengan natural Soojung memejamkan matanya dan membiarkan kekasihnya mencium bibirnya dalam-dalam. Jemari Seokjin dengan gentle membelai pipi kekasihnya sementara bibir keduanya bertautan dengan mesra. Ciuman pun berubah menjadi intens. Tangan Soojung berada di leher Seokjin, menariknya untuk semakin mendekat dan memperdalam ciuman.


“Soojung-ah… saranghae…” bisik Seokjin di sela nafas terputus-putus. Soojung tak sanggup mengatakan apa-apa karena ia merasa ada kupu-kupu yang mengkelikitik perutnya ketika bibir Seokjin turun dan menciumi lehernya.


“Oppa…” engah Soojung namun tidak meminta supaya Seokjin berhenti. “Bite me… please…”


Seokjin mencium leher kekasihnya berkali-kali sampai akhirnya ia melakukan apa yang diminta Soojung. Ia menggigit leher wanita itu dan menghisap darahnya. Seokjin seperti di-charge dan gelora asmara semakin menggebu di dalam dada.


Soojung menenggelamkan wajahnya di rambut Seokjin, merasakan sensasi bagaimana ia seperti fly dibawa ke nirwana. Dia tidak merasakan sakit atau trauma seperti dulu vampire yang menggigitnya. Yang dilakukan Seokjin ini bahkan sebaliknya membuat Soojung merasa ketagihan. Ini seperti candu yang selalu dinanti Soojung.


Setelah puas menghisap darah, bibir Seokjin naik dan mencium bibir kekasihnya. Soojung mengerang pelan karena merasakan sisa darahnya di mulut Seokjin.


“Baby, I love you so much..” bisik Seokjin saat bibir keduanya berjauhan.


Mata Soojung masih terpejam. Bibirnya sedikit bengkak dan ia masih berusaha mengatur dirinya pasca fly yang ia alami.


“You okay?” tanya Seokjin lembut sambil mengelus punggung kekasihnya.


Soojung membuka matanya. Mata menatap penuh dengan cinta pada sang kekasih membuat Seokjin seketika berbinar karena ditatap seperti itu.


“Apa vampire hidup sangat panjang?” tanya Soojung begitu saja out of the box.


Seokjin hampir tersedak karena tertawa mendengar pertanyaan Soojung yang tiba-tiba. “Wae?”


Soojung masih menatap Seokjin, tidak ikut tertawa, masih berekspresi sama seperti sebelumnya.


“Oh well… vampire hidup sangat panjang, Sweety,” sahut Seokjin akhirnya menjawab. “Bisa sampai ratusan tahun dan tetap awet muda.”


“Choa…” sahut Soojung dengan eye smile. “Kita bisa hidup panjang bersama, Oppa. Ubah aku menjadi vampire sepertimu.”


Seokjin sangat tercengang. Ia menatap kekasihnya dengan speechless. “So-Soojung…”


Kekasihnya ini tidak sedang bercanda kan??


“Aku ingin menjadi vampire.” ulang Soojung.


“Wowowo…” sahut Seokjin, “Topik seperti ini sangat taboo, Soojung.”


“Wae?” tanya manusia itu dengan pout.


“Kau manusia… keberadaanmu adalah manusia. Kau tidak serta merta diubah menjadi vampire begitu saja.”


“Wae? Bukankah kita akan menikah? Bukankah Oppa sudah melamarku?”


Wajah Seokjin seketika merah seperti tomat. Damn… gadis ini begitu bertekatnya selalu mengingatkan Seokjin bahwa keduanya akan segera menikah.


“Tentu saja, Sweetheart…” ujar Seokjin sambil memegang pipi Soojung dengan sayang. “Tapi mengenai dirimu yang ingin menjadi vampire mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakannya.”


Pout Soojung semakin panjang, berusaha meluluhkan hati sang kekasih. Jika saja Seokjin tidak lemah iman mungkin dia pun akan langsung luluh. Tapi yang terpenting adalah keselamatan Soojung.


“Ini bukan hal yang simple… kau harus memikirkannya masak-masak, Soojung.” ujar Seokjin. “Menjadi vampire sangat berbeda dengan manusia. Menjadi vampire tidak seenak kelihatannya.”


“Tapi, Oppa…”


“Kau bisa memikirkan baik-baik dulu. Karena sekali kau berubah menjadi vampire selamanya kau tidak akan kembali lagi menjadi manusia meski dengan tangis darah sekalipun. Taehyung berubah menjadi vampire bukan karena keinginannya. Dulu dia adalah manusia dan diubah sindikat menjadi vampire mutan yang memberi trauma pahit bagi Taehyung.”


Soojung menghela nafas, mulai menyelami maksud perkataan Seokjin. Perkataan kekasihnya itu memang benar. Tidak semudah seperti membalik telapak tangan, pasti ada resiko dan pengorbanan yang diemban.


“Kau harus tahu betapa bahagianya ketika aku mendengar kau mengatakannya…” gumam Seokjin sambil mengecup hidung Soojung. “Tapi aku ingin kau memikirkannya baik-baik. Dan… untuk saat ini kita masih harus memikirkan bagaimana menghancurkan sindikat terlebih dahulu. Aku belum merasa tenang kalau sindikat itu masih ada di luar sana. Keselamatanmu dan clanku adalah yang utama.”


“Arra…” sahut Soojung dengan senyum dan Seokjin pun mengecup keningnya dalam-dalam.


.


.


Manusia terkadang memang diberikan suatu pilihan sulit dalam hidupnya. Satu keputusan yang bisa mengubah segalanya. Satu keputusan yang bisa mengubah dunia… atau sebaliknya menghancurkan hidupmu sepenuhnya.


Itu pula yang mungkin dialami oleh Jungkook. Dia menyembunyikannya dari soulmatenya, beberapa hari ini dengan serius dia memikirkan dan merenunginya. Selalu di akhir hari yang ia mau adalah menghapus semua luka Taehyung. Tekatnya menghancurkan sindikat hanya semakin besar saja. Sama seperti Seokjin, dirinya belum benar-benar tenang sampai sindikat dihancurkan.


Di ruang tengah mereka berkumpul (kecuali Seokjin dan Soojung yang masih lovey dovey). Jungkook, Taehyung, Jimin, Hoseok, Yoongi dan Namjoon duduk bersama di sofa. Hoseok dan Jimin sedang bermain video game di layar TV. Gamenya yang unik dan kocak membuat sesekali ruangan itu penuh dengan ledak tawa. Yoongi yang biasanya tidak banyak ekspresi pun sampai menunjukkan sisi cerianya yang mengejutkan siapapun. Oh Yoongi sangat imut sekali.


Taehyung duduk di antara Hoseok dan Namjoon. Jimin duduk di lantai dengan lihai memainkan stiknya. Yoongi dan Jungkook duduk berdampingan. Mereka asik membicarakan game. Ini bukan sembarang game… game yang dimainkan sangat konyol dan membuat siapapun tertawa.


Taehyung tertawa dengan bibir kotaknya saat Jimin mengumpat pelan karena jagoan Hoseok sudah menyundul pemainnya sehingga hampir tergeleng kereta.


Jungkook memandang Taehyung, begitu sempurnanya harimu ketika melihat Taehyung bisa rileks dan tertawa seperti itu. Jungkook berharap kebahagiaan Taehyung tidak direnggut lagi.


Sadar diperhatikan, Taehyung membalas tatapan Jungkook lalu memberi senyum.


“Ada yang lucu di wajahku, Jeon?” tanya Taehyung mengirimkan telepatinya ke dalam kepala Jungkook.


Jungkook menyunggingkan senyum mendengar telepati soulmatenya. “Ada sisa makanan di gigimu, Kim.”


Taehyung memutar bola mata, tahu sekali kalau Jungkook berbohong dan hanya bermaksud mengelabuinya. “Well, ngomong-ngomong soal makanan, itu membuatku jadi haus.”


Jungkook mendengus pelan namun tersenyum. “Seingatku baru seminggu setelah kau menghisap darahku.”


“Tepatnya 9 hari.” Taehyung menunjukkan boxy smile pada Jungkook yang tersenyum getir. “Aku menghitung dengan sangat baik… bukankah telat makan itu tidak baik?”


“Fokus ke layar TV, Soulmate-yang-selalu-kelaparan.”


“Kau yang duluan tidak fokus ke layar TV, Soulmate-yang-senang-mengelak.”


Taehyung kembali memperhatikan layar TV saat Hoseok berseru kencang karena hampir membobol pertahanan pemain Jimin.


“Tae…”


Kepala Taehyung reflek menoleh pada Jungkook yang memanggilnya dalam telepati. Padahal belum 5 menit yang lalu Jungkook meminta Taehyung supaya fokus pada layar TV.


“Nanti malam ada yang mau kubicarakan denganmu.” ucap Jungkook di dalam pikiran Taehyung.


Taehyung mengernyit. “Well, Jeon Jungkook, kau bisa mengatakannya sekarang, orang lain takkan mendengar kita.”


“Anni. Aku ingin membicarakannya bukan dengan telepati karena ini penting.”


Taehyung mengernyit mulai cemas. “Apa ini bad news?”


“Totally not. Ini good news… setidaknya menurutku.”


“Jeon… jangan membuatku bingung.”


“Percayalah padaku, Mate.”


Jungkook sudah tidak mengatakan apa-apa lagi dan memalingkan wajahnya kini menatap layar kaca dan sesekali ikut tertawa bersama yang lain. Taehyung menggigit bibir. Good news macam apa yang bisa ia dengar di kala sindikat pun belum bisa ditaklukan??


***


Jeon Donghyuk menyangga kepala dengan kedua tangan. Otaknya berpikir keras. Dia tidaklah bodoh, dia yakin cepat lambat dirinya akan dicurigai saat kejadian Taehyung melarikan diri. Jelas-jelas Donghyuk berada di markas sindikat saat kejadian terjadi. Dua rekannya yang merupakan hunter pun terluka parah saat menyerang Taehyung. Hanya dirinya yang tidak cedera. Apa Big Boss akan mencurigainya? Apa ia akan diinterogasi?


Dan ini aneh… sudah beberapa hari sindikat tidak menghubunginya. Apa benar dia sedang dicurigai? Ini mengerikan karena Donghyuk pun tak dapat tidur beberapa hari karena memikirkannya. Ia lebih takut pada dua keponakannya yang malang. Dua keponakannya itu selama ini ditipu dengan fakta menjijikkan. Orangtua mereka dibunuh dengan sengaja oleh sindikat.


Donghyuk mengangkat kepala. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat. Apa kau pikir dia akan diam saja setelah tahu fakta menyedihkan bahwa orangtua Soojung dan Jungkook mati karena sindikat?


Donghyuk menggerakkan mouse dan mulai masuk ke drive bersama milik sindikat. Ia kembali ke folder bukti penyebab kematian Donghwa dan Chanmi. Keringat dingin mengucur deras mana kala ia mengcopy data itu dan memindahkannya ke drive pribadi.


Donghyuk sangat tahu yang ia lakukan ini sangat ilegal dan melanggar etika pekerjaan karena sudah menyalin file milik sindikat. Tapi sudah kepalang tanggung, Donghyuk merasa kebenaran tidak boleh terus disembunyikan. Pria itu juga menyalin dokumen lain mengenai kejahatan yang dilakukan oleh sindikat : money laundring, mafia kejahatan, penjualan ganja, eksploitasi vampire… dan yang utama adalah penelitian berbahaya pada manusia berubah menjadi vampire mutan.


Jantung berdegup dengan kencang saat Donghyuk menemukan data-data korban penelitian ilegal itu. Ada yang diambil dari panti asuhan, ada pula yang merupakan tuna wisma. Hati nurani Donghyuk sangat sakit saat mengetahui fakta bahwa Taehyung berasal dari panti asuhan. Anak itu diberitahu akan diberikan pekerjaan layak yang pada kenyataannya membawanya pada mimpi buruk.


Donghyuk menelan ludah. Sindikat memang sudah sangat kurang ajar dan keterlaluan. Ketua hunter itu pun mengirim pesan email pada Jungkook beserta link akses untuk membuka drive Donghyuk.


Pria itu dengan tegang menggigit kuku menanti sampai email sukses terkirim. Setelah yakin terkirim, Donghyuk pun menghapusnya untuk menghilangkan jejak.


Terdengar suara pintu diketuk. Sekujur tubuh Donghyuk mendadak tegang. Setahunya di kantornya ini sudah tidak ada siapa-siapa, sejam yang lalu pegawainya sudah pulang. Lalu siapakah yang datang mengunjungi kantornya di tengah malam seperti ini?


Cepat-cepat Donghyuk mematikan laptopnya. Ia memandang pintu dengan membeku, sudah tidak ada suara ketukan lagi. Pintu kerjanya ini sudah ia kunci,orang luar takkan bisa masuk kecuali mendobrak dengan paksa. Namun jika itu terjadi security pasti akan segera datang menolongnya.


Bekerja sama dengan markas sindikat memang sangat berbahaya. Kau mungkin bisa mendapat uang dalam jumlah yang sangat besar. Namun kau bisa kehilangan nyawa dengan mudah jika berani menghianati sindikat.


Ketegangan Donghyuk sedikit berkurang manakala ia sudah tak mendengar suara apa-apa lagi. Ini sungguh gila, dia tidak bisa tenang sejak mengkhianati sindikat, terlebih setelah tahu bagaimana dengan mudahnya sindikat menghilangkan nyawa orangtua Jungkook.


Tiba-tiba terdengar suara kunci yang dimasukkan ke dalam knop pintu. Donghyuk kaget setengah mati. Kunci pintu ruang kerja ketua hunter hanya dimiliki oleh Donghyuk, bagaimana mungkin bisa ada yang berusaha masuk ke dalam ruangannya ini.


Donghyuk berdiri dari tempat duduknya dengan tegang. Bagaikan slow motion, pintu itu membuka dengan suara kriet yang entah kenapa sekarang membuat bulu kuduk Donghyuk berdiri.


Nafasnya tercekat saat ia melihat seseorang masuk dengan pakaian serba hitam dan topeng di wajahnya.


Mafia.


Seorang mafia diutus ke sini… untuk membunuhnya?


Mafia itu berjalan maju beberapa langkah lalu diam memandang Donghyuk. Baginya bukan masalah besar untuk menghabisi ketua hunter, penghianat markas sindikat ini.


Dengan gemetar Donghyuk menggerakkan tangannya ke laci meja, hendak mengambil pistol. Mafia itu memiringkan kepala sudah bisa membaca apa yang mau dilakukan oleh Donghyuk. Begitu tenangnya mafia tersebut, ia mengangkat tangan dan mengarahkan pistol yang memang sudah dipegangnya ke arah Donghyuk.


Badan Donghyuk membeku, belum sempat membuka laci meja. Ini benar-benar gawat. Sindikat sedang mengutus mafia untuk membunuhnya.


.


.


.


Malam itu Taehyung dan Jungkook duduk bersama di balkon kamar, sesuai dengan yang dikatakan Jungkook tadi sore bahwa manusia itu ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Taehyung.


“Apa yang mau kau bicarakan, Kook?” tanya Taehyung berusaha tidak cemas. Ekspresi Jungkook saat ini nampak wajar jadi sepertinya bukan bad news yang akan disampaikan soulmatenya.


“Aku punya ide… cara lebih baik untuk membantumu serta menghancurkan sindikat.” ucap Jungkook dengan senyum bahkan lesung pipi yang terlihat.


Mata Taehyung membesar. Sampai saat ini Taehyung tidak ada keinginan untuk mendatangi sindikat dan menghancurkannya. Dia tidak mau membahayakan clannya… dia tidak mau membahayakan soulmatenya. Dia tidak mau berpisah dari orang-orang yang ia sayangi lagi.


“Jadi… kurasa…” ucap Jungkook dengan eye smile memandang Taehyung, kontradiksi dengan gejolak emosi vampire itu sekarang. “Aku memutuskan untuk bersedia diubah menjadi vampire, sama sepertimu.”


Ibarat ada petir yang menyambar di depan Taehyung, ekspresi vampire muda itu sangat syok mendengar ucapan Jungkook. Dia tidak pernah menyangka Jungkook akan mengatakannya?


“Seperti Hoseok Hyung yang diubah menjadi vampire karena diberikan venom oleh Namjoon Hyung,” lanjut Jungkook lugas, “Aku pun bersedia diubah menjadi vampire.”


“A-apa maksudmu, Jungkook?” ucap Taehyung kering.


“Vampire berumur panjang dan punya kekuatan tertentu bukan? Setidaknya ketika aku melawan sindikat atau Dongwook, aku lebih unggul karena aku merupakan vam–“


Taehyung langsung bangkit berdiri membuat Jungkook kaget. Manusia itu baru sadar kalau saat ini ekspresi Taehyung sama sekali tidak mendukung usulnya.


“Tidak sesimple itu, Jungkook.” ucap Taehyung dengan wajah mengeras dan alis berkerut parah.


Jungkook ikut bangkit berdiri, tidak menyerah untuk meyakinkan Taehyung. “Tapi, Tae, ini cara yang lebih baik untuk menghancurkan sindikat bersama-sama.”


“Kau terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkannya masak-masak.” tukas Taehyung memalingkan wajah.


“Aku sudah memikirkannya masak-masak. Beberapa hari ini aku memikirkannya dan ini keputusanku.” gumam Jungkook berusaha melunakkan hati vampire itu sambil memegang lengannya.


Taehyung mendengus pelan. “Itu aneh. Di saat aku menangisi nasibku yang berubah menjadi vampire mutan, kau malah menginginkan kebalikannya. Kau malah ingin menjadi vampire. Kau tidak akan mengerti, Jungkook, bahwa sekali kau sudah berubah menjadi vampire, hidupmu tidak akan sama lagi. Kau tidak bisa kembali menjadi manusia lagi.”


Jungkook membesarkan mata, menyadari bahwa posisi Taehyung sangat berat. Dia berubah menjadi vampire tanpa keinginannya sendiri, bahkan menjadi vampire mutan buatan manusia kejam tak bertanggungjawab. Sebelah mata Taehyung itu berubah menjadi putih. Kalau sedang marah mata Taehyung memang akan berubah menjadi putih.


“Tae…”


“Kau adalah manusia, Jungkook. Bagaimana mungkin kau meminta supaya diubah menjadi vampire?”


“Kau adalah soulmateku, aku ingin senasib sepenanggungan denganmu, Tae. Kau hidup sangat panjang sementara jika aku menjadi manusia, aku tidak dapat hidup sepanjang yang dimiliki vampire.”


“Mwo?” tukas Taehyung menolehkan kepala dengan cepat. “Apa itu yang hanya dipikirkan benakmu, Jeon Jungkook?”


Alis Jungkook mengernyit, ia tidak mengerti mengapa Taehyung marah dan menolak pendapatnya. Jungkook ingin hidup panjang juga bersama soulmatenya. Menjadi vampire akan membuat Jungkook bisa melindungi Taehyung dengan lebih baik dibandingkan saat menjadi manusia. Jungkook tahu betul pengorbanan besar yang harus ia bayar ketika memberi diri diubah menjadi vampire. Itu juga yang ia renungkan beberapa hari ini. Jungkook tahu konsekuensinya… dan hatinya sudah teguh untuk memutuskan hal ini. Ia mengatakan ini setelah mengujinya beberapa hari, memastikan bahwa dirinya ikhlas dan tidak akan menyesal di kemudian hari untuk keputusan penting yang ia ambil.


Taehyung tidak mengerti bagaimana mungkin Jungkook mengatakannya. Memangnya Taehyung worth it sampai Jungkook bahkan rela berubah menjadi vampire untuk selalu bersamanya? Apa di dunia ini ada seseorang yang bersedia seperti itu untuk dirinya? Taehyung percaya pada Jungkook, tapi ia tidak cukup percaya diri bahwa ia layak mendapat perhatian sebesar itu. Hei… dia adalah anak yatim piatu di panti asuhan… Dia selalu berpikir bahwa tidak ada orang yang mau memperjuangkan hidupnya karena bagaimana dirinya sejak kecil sudah berada di panti asuhan, dibuang dan tak diinginkan.


“Aku tidak akan mengijinkannya.” tukas Taehyung. Dia tidak akan mengambil resiko besar merenggut kehidupan Jungkook yang sudah sempurna, dia tidak akan membiarkan Jungkook menyia-nyiakan hidup hanya demi seorang vampire yang ingin membalas dendam. Dia tidak akan membiarkan Jungkook menjadi seperti dirinya.


“Tapi, Tae–“


“Kau tidak berpikiran jernih, kau tidak memikirkan masa yang akan datang.”


“Aku memikirkanmu, Tae–“


“Kau tidak memikirkan perasaanku, Jeon!” elak Taehyung.


Mata Jungkook melotot kaget mendengar hardikan itu. Ia tidak memikirkan perasaan Taehyung? Justru yang selalu ia pikirkan adalah bagaimana melindungi dan menyembuhkan soulmatenya. Pengorbanan yang ia lakukan ini tidak dengan terpaksa tapi dengan ketulusan. Apa Taehyung tak dapat merasakannya?


🎃🎃



readers sependapat sama siapa? taehyung atau jungkook?🤔