
🎃🎃
Sore itu pulang kuliah Jungkook pergi ke tempat latihan bertinju. Hobinya memang olahraga dan bertinju, biasanya ia berolahraga di tempat gym sementara untuk bertinju ia melakukannya di rumah, autodidak. Namun kali ini ia memutuskan untuk mengikuti latihan tinju legal yang berada di pinggir kota Seoul. Entah… Jungkook merasa dirinya semakin frustasi dan olahraga selalu menjadi pelampiasan terbaik. Di tempat latihan tinju ada alat-alat dan fasilitas yang bisa ia gunakan.
Keringat sudah mengucur deras di rambut dan lehernya sementara ia terus meninju samsak tinju dengan sepenuh tenaga. Tidak kenal lelah ketika dirinya sangat frustasi. Yap, Taehyung membuatnya sangat frustasi.
~flashback~
Saat kelas usai, Jungkook buru-buru berdiri dan mendekati Taehyung sebelum vampire itu akan pergi meninggalkan kelas.
“Tae, kita harus bicara…” ujar Jungkook pada Taehyung.
Taehyung mengangkat wajah dan memandang Jungkook dengan datar. “Sorry, don’t have enough time for this.”
Jungkook mengeraskan rahang, kesal mendengar ucapan seperti itu dari mulut Taehyung. Taehyung yang dulu tidak akan pernah melakukan hal seperti ini padanya.
“Aku hanya ingin meminta maaf…” ucap Jungkook dan tak menyerah memblocking jalan Taehyung. Kelas mulai kosong karena mahasiswa lain sudah pergi meninggalkan ruangan dan berbaur keluar untuk makan siang.
Taehyung menaikkan sebelah alis. “Okay… Sudah kan? Aku harus pergi.”
Jungkook menahan lengan Taehyung sebelum pria itu meneruskan langkahnya untuk pergi. “Kau sudah memaafkanku kan? Semua sudah clear kan?”
“Huh?” Taehyung memandang Jungkook tajam, “Tak ada kata memaafkan di kamusku, Jeon.”
Mata Jungkook membesar. Ia yakin pria di depannya ini bukan Taehyung. Temannya tak pernah menyebutnya dengan ‘Jeon’ seperti itu. Taehyung yang ia kenal selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Kookie’ atau ‘Jungkookie’.
Persetan dengan kepribadian ganda. Jungkook ingin Taehyung dulu kembali padanya… bukan kepribadian nasty seperti vampire di depannya sekarang.
“Kau bukan Taehyung…” tukas Jungkook menahan kekesalan di dalam hati.
Taehyung menyeringai dan memandang Jungkook.”Excuse me?”
“Kau hanya kepribadian jahat yang tinggal di dalam diri Taehyung, memanipulasi kehidupannya…” lanjut Jungkook, entah keberanian datang dari mana, mulanya ia merendahkan hati dan ingin meminta maaf, namun sudah tak tahan lagi dengan uneg-uneg di dalam hati.
“Aku? Kepribadian jahat?” Taehyung masih berekspresi datar seolah perkataan Jungkook tak cukup menyinggungnya.
Jungkook menggigit bibir, mulai sadar kalau dia sudah kelepasan bicara. Hatinya masih gundah, bagaimana kalau yang di depannya ini memang Taehyung asli? Bagaimana kalau lagi-lagi ia menyakiti Taehyung dengan perkataannya?
“Jadi kau pun kini sudah tahu kalau aku adalah kepribadian lain yang berbeda?” tukas Taehyung menaikkan sebelah alis.
Jungkook tersentak, tak menyangka Taehyung mengatakannya dengan lugas, tidak berusaha menutupinya.
“Bagaimana aku harus mengatakannya, Jeon…” bisik Taehyung dan maju selangkah mendekati manusia itu, “Kau tidak akan lagi bertemu dengan teman lamamu. Sekarang kau hanya akan terus berhadapan denganku.” Taehyung mengamati wajah Jungkook yang ekspresinya berubah tegang itu. Taehyung memberi smirk, “Bagaimana?”
Gigi Jungkook gemertakan dan Taehyung sangat puas melihat reaksi itu.
“Kau masih tidak mengakui kalau aku adalah Taehyung ya?” bisik vampire itu akhirnya, “Kami sama, Jeon.”
“Kau bukan Taehyung untukku.” tukas Jungkook. Pria di depannya ini meski berwajah sama dengan temannya tapi semua yang ada di dalam dirinya begitu berbeda dengan Taehyung dulu. Ini sangat mengesalkan untuk Jungkook karena ia justru kehilangan teman dengan cara tragis seperti ini. Parahnya vampire di depannya ini pun menyimpan memori yang sama seperti yang dimiliki Taehyung. Ia mengetahui namanya, mengingat kejadian yang sudah terjadi, juga mengingat semua hal yang sudah dilakukan Jungkook pada Taehyung.
Taehyung hanya memandang Jungkook, tidak mengatakan apa-apa, seolah kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran.
“Pergilah dan biarkan Taehyung yang asli kembali lagi…” gumam Jungkook sambil mengepalkan tangan. Dia tidak tahu yang ia katakan ini benar atau tidak, tapi dengan jujur dan gamblang ia mengungkapkan keinginannya. Ia ingin Taehyung yang ia kenal kembali… bukan yang di hadapannya ini…
Mata Taehyung yang berwarna abu-abu itu masih memandang Jungkook. Tak ada ekspresi dan emosi sama sekali, membuat Jungkook tak bisa membaca apa yang ada di dalam hatinya.
“Kau mengusirku?” bisik Taehyung mengernyitkan alis. Ia memegang kerah kemeja Jungkook dengan dua tangan. Awalnya Jungkook mengira ia akan dicekik oleh vampire itu namun Taehyung hanya seperti sedang merapikan debu di kerah bajunya.
“Kau kira aku tidak asli??”
Bagaimana mungkin Jungkook menganggapnya asli jika Taehyung yang selama ini ia kenal memiliki karakter dan selera yang jauh berbeda dengannya?
“Jika kau memberitahukanku cara mengusirmu, aku akan melakukannya.”
Taehyung melepaskan Jungkook dan mengalihkan matanya, seolah perkataan Jungkook sangat menyinggungnya. Manusia di depannya ini memang belum berubah.
“Itulah mengapa aku tidak bisa berteman denganmu, Jeon. Cara pandang kita berbeda.”
“Aku tidak butuh memiliki cara pandang yang sama denganmu.” tukas Jungkook.
Taehyung hanya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya Jungkook melihat perubahan ekspresi yang tak biasa di wajah itu : ekpresi lelah dan kecewa. Jungkook terperangah, seolah ia bisa melihat diri Taehyung yang ia kenal di dalam ekspresi itu.
“That’s good, Jeon.” ucap Taehyung pelan. “Kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”
Dengan perkataannya, Taehyung pun pergi meninggalkan Jungkook yang masih berdiri mematung di sana.
~flashback end~
Sial, sial, sial….
Jungkook meninju samsak semakin kuat. Seandainya ia punya indera keenam dan bisa membaca pikiran orang! Seandainya ia tahu apa yang sebenarnya terjadi di universe ini, apa yang terjadi pada kepribadian temannya itu.
Jungkook merasa semakin frustasi dengan pembicaraannya dan Taehyung tadi siang. Dia tidak bisa membiarkannya begitu saja… Dia tidak bisa mengacuhkan temannya… apalagi setelah luka yang sudah ia torehkan pada Taehyung, Jungkook merasa ia bertanggung jawab untuk tetap menjadi teman sejati untuk Taehyung.
Tapi tidak seperti ini, bodoh…
Dia tidak mau berteman dengan kepribadian lain dari Taehyung. Itu sangat menjengkelkannya. Itu sangat mengganggunya!
Jungkook menyangkal dirinya sendiri yang berusaha mengatakan kepribadian ganda atau bukan, Taehyung tetap temannya.
Jungkook tak akan menerimanya.Taehyung yang ia kenal adalah seorang berkepribadian lugu, ceria dan selalu membuat Jungkook tersenyum.
****
Malam ini Seokjin dan Soojung jalan-jalan bersama di taman. Quality time seperti ini yang mereka butuhkan karena ketika di kampus keduanya tak bisa bebas lantaran status dosen-mahasiswa. Keduanya sudah semakin terbuka dalam berkomunikasi. Seokjin menceritakan masalah di dunia vampirenya dan Soojung dengan senang hati menjadi pendengar. Mereka sedang membicarakan mengenai kejadian yang menimpa Taehyung baru-baru ini.
Seokjin menceritakan bagaimana Taehyung memiliki kepribadian ganda dan bagaimana kepribadian itu membuat kaget semua orang.
“Dia bahkan lebih dominan dibandingkanku,” ujar Seokjin, “Yang dominan dalam kelompok sudah sepatutnya adalah Alpha.”
Soojung mengangguk-angguk, ia pernah membaca pengertian mengenai Alpha, Omega, Beta dan lainnya. Jadi dia sedikit mengerti apa yang dimaksud kekasihnya ini.
“Apa kepribadiannya evil?”
Seokjin memiringkan kepala pada manusia itu, berusaha mencari jawaban yang tepat. Dia tidak yakin kalau Taehyung itu evil… memang karakternya saja yang sepertinya strict dan tidak berperasaan. Lagipula banyak hal yang sepertinya masih disembunyikan Taehyung, yang tidak diceritakannya mengenai masa lalunya saat berubah menjadi mutan.
Yap.. Seokjin tidak setuju jika Taehyung itu evil.
“Kurasa tidak…” sahut Seokjin. “Meski aku merindukan dirinya yang innocent seperti dulu… tapi bagiku dia tetap Taehyung yang sama.”
Soojung memberi senyum. “Sebagai dosen Sejarah bagaimana pendapat Oppa mengenai kepribadian ganda?”
Soojung memandang kekasihnya, bisa merasakan seriusnya kata-kata yang diucapkan Seokjin.
“Sebenarnya yang menggangguku bukan karena kepribadian baru Taehyung,” lanjut Seokjin, “Tapi mengenai penyebab dia bisa mengalami gangguan identitas itu. Aku tak bisa membayangkan trauma apa yang ia alami sampai muncul kepribadian lain karena ia ingin menghindar dari kenangan buruk.”
“Kau harus membantu menyembuhkannya, Oppa…” bisik Soojung lirih.
“Aku sangat ingin menolongnya tapi kurasa masih butuh waktu untuk membuatnya terbuka dan menceritakan apa yang sudah terjadi.”
Soojung mengangguk kecil. Tentu saja membutuhkan banyak waktu bagi seseorang untuk keluar dari trauma, entah apa yang menjadi trauma Taehyung itu.
“Pasti berat juga bagimu karena harus mendengar kehidupan vampire.” kata Seokjin sambil mengusap rambut Soojung. “Mianhe… aku harus membuatmu mendengar keluh kesahku.”
“Anniya..” sahut Soojung buru-buru. Ia tidak keberatan sama sekali mendengar cerita Seokjin. Soojung memang punya dendam terhadap vampire namun cara berpikirnya sudah mulai berubah. Ia hanya dendam pada vampire yang telah membunuh orangtuanya, bukan membenci vampire secara general. Soojung juga merasa Jungkook pun sudah memiliki cara berpikir yang sama.
“Oppa, aku tidak anti terhadap dunia vampire. Apalagi kau adalah kekasihku…”
Seokjin tak bisa menahan senyumnya yang mengembang panjang. “Kiyeowo…” bisiknya sambil mengusap pipi wanita itu.
Soojung memberikan eye smile terimutnya untuk sang kekasih.
“Aku akan membantumu mencari tahu latar belakang penyebab kematian orangtuamu, Soojung.” ujar Seokjin berubah serius.
Wanita itu menatap Seokjin sungguh-sungguh. Tak dipungkiri ia sangat ingin mengetahuinya. “Apa itu mungkin?”
Seokjin mengangguk. “Pasti bisa dicari tahu, Soojung-ah… Bau bangkai tak bisa disembunyikan. Vampire pun memiliki dewan vampire, aku bisa menggali informasi dari sana, mencari tahu apa yang terjadi di tahun orangtuamu meninggal.”
Soojung tersenyum tipis. “Aku berharap bahwa orangtuaku bukan dibunuh vampire.” bisik Soojung. Dia tidak ingin hubungannya dan Seokjin dibatasi dengan dendam pribadinya. Soojung ingin mencintai Seokjin dengan bebas tanpa perlu mengingat dendamnya lagi.
“Nado…” gumam Seokjin. Ia pun akan memikirkan bagaimana menyelesaikan dendam yang dipupuk keluarga Soojung, mengenai kematian orangtuanya. Seokjin pun penasaran sebenarnya apa yang terjadi sampai ada sepasang manusia yang dibunuh oleh vampire.
****
Hoseok dan Namjoon sedang rebahan di sofa sambil menonton serial killer sementara Yoongi sedang memasak makan malam. Seokjin belum pulang dari kampus.
Hoseok yang semula masih anteng menonton sambil memakan popcorn tiba-tiba nyeletuk. “Bau apa ini?” tanyanya sambil mengendus-endus udara.
Namjoon menoleh dan ikut mencium bau sesuatu di udara. Vampire itu duduk bangun dan menoleh pada Yoongi yang berada di dapur. “Hyung, ada yang gosong??”
“Anniya,” tukas Hosoek mencibir indera penciuman Namjoon yang keliru, “Ini tentu saja bukan bau masakan. Apa kau tidak bisa membedakannya?”
Namjoon mengernyit dan kembali mengendus udara. Benar juga… bau ini bukan bau masakan.
Yoongi muncul dan memandang Hoseok serta Namjoon dengan datar. “Ini bau rokok? Salah satu dari kalian merokok?”
“Anniya!” sahut Namjoon dan Hoseok bersamaan bak dua anak kecil yang tidak mau disalahkan ibunya.
Yoongi terdiam sesaat, berpandang-pandangan dengan dua dongsaengnya. Shit.
Dengan bersamaan ketiganya langsung bergegas ke lantai dua, menuju kamar Taehyung, sumber bau rokok yang tercium di udara.
Namjoon yang membuka pintu kamar Taehyung dan bau rokok semerbak menyerbu hidung mereka apalagi indera penciuman vampire memang cukup sensitif. Namjoon terbelalak saat melihat di balkon Taehyung sedang menghisap cerutu. Itu sangat sangat membuatnya syok.
“Omo!” seru Hoseok tercengang. Taehyung sedang bersandar ke pembatas balkon, menghisap cerutu dengan ekspresi datar seperti melamun.
“Taehyung…” panggil Yoongi. Mereka mendekati Taehyung dan melihat ada beberapa bekas cerutu di meja. Damn. Apa seperti ini kepribadian asli dari seorang Taehyung? Kemana pergi bayi vampire lugu dan innocent yang mereka kenal?
Taehyung menolehkan wajahnya dan hanya memberi smirk tipis. “Kalian mau juga?”
Namjoon mengepalkan tangan kuat-kuat, ingin rasanya memukul tembok keras-keras. Image Taehyung di hadapannya sekarang ini sungguh mengganggunya. Dongsaeng yang selalu ia manjakan kini sedang menghisap cerutu layaknya ahjussi tua?
“K-kau perokok?” tanya Hoseok masih syok.
Taehyung hanya mengangkat bahu. Ia menghembuskan asap cerutu dari mulutnya. “It’s fun. Mau?”
Hoseok hanya memandang Taehyung seolah pria itu gila.
“Kau tahu kalau Taehyung tidak pernah melakukan hal seperti ini,” ujar Yoongi tetap tenang, “Dan di rumah ini pun tidak ada satu pun yang merokok.”
Taehyung mendengus pelan. “Apa yang perlu dicemaskan? Vampire tidak membutuhkan paru-paru untuk bernafas. Artinya… vampire merokok pun tidak akan menyebabkan kematian.” Taehyung terkekeh sendiri merasa perkataannya merupakan lelucon yang sangat lucu.
“Dan kau pun tidak perlu sengaja merokok.” ucap Namjoon jengkel.
Taehyung menggeleng-geleng sendiri. Ia mematikan cerutunya yang masih ada setengah lagi dan melemparnya ke asbak. Vampire itu meregangkan leher yang seolah pegal dan malas mendengar ocehan penghuni rumah.
“Kita harus menyepakati sesuatu,” gumam Taehyung sambil memandang Yoongi, Namjoon dan Hoseok satu per satu. “Di rumah ini tidak pernah ada aturan untuk anggota clan tidak merokok, meminum minuman keras dan sejenisnya.” Taehyung memberi senyum menyeramkan. “Aku tidak merugikan siapapun bukan?”
Namjoon mencelos. Apa artinya Taehyung pun akan meminum minuman keras? Kegilaan apa ini sebenarnya? Siapa vampire di depannya ini, mengapa begitu seenaknya?
Dengan kesal Namjoon berbalik badan dan langsung angkat kaki dari ruangan itu. Wajah polos Taehyung masih terngiang dan jika melihat kelakuan V sekarang hanya membuat Namjoon semakin mual. Bagaimana mungkin V ingin merusak image baik Taehyung seperti ini.
“Itu memang benar,” ucap Yoongi pada Taehyung, “Kau tidak akan mati sekalipun kau merokok, karena kau adalah vampire.”
“Itulah maksudku.” tukas Taehyung menyeringai.
“Tapi kau pun harus menjaga image kepribadianmu sebelumnya,” lanjut Yoongi, “Berusahalah memikirkan perasaan orang lain juga.”
Taehyung mendengus pelan. Ia memandang Yoongi dengan dingin. “Aku tidak berniat memikirkan perasaan orang lain. Mian.”
Selama ini Taehyung melihat bahwa vampire di rumah ini selalu memperlakukan Taehyung dengan baik, memanjakannya sebagai vampire bungsu di rumah, dan ia berterimakasih untuk hal itu. Taehyung masih akan respect pada clannya. Tapi dia tidak setuju jika dia dipaksa untuk memikirkan perasaan orang lain. Dia tidak akan mau peduli.
“Biar waktu yang berbicara.” kata Yoongi dengan senyum tipis. Ia pun berbalik pergi meninggalkan kamar itu.
Di sana hanya tersisa Hoseok dan Taehyung. Hoseok tidak mengerti mengapa ia masih ada di kamar ini berhadapan dengan Taehyung yang memiliki aura sangat mengintimidasi.
Taehyung menatap Hoseok tanpa ekspresi. “Apa ada juga yang mau kau katakan padaku?”
Mata Hoseok membulat besar memandang Taehyung. Ia lalu melihat bekas cerutu yang berbeda jenis. Ia kembali mengamati ekspresi Taehyung.
“Kau sedang merencanakan sesuatu kan?” bisik Hoseok pelan sambil menelan ludah. Ia harap suaranya ini tidak terdengar oleh Namjoon dan Yoongi yang berada dilantai 1.
Taehyung akhirnya menyunggingkan senyum, terkesan dengan pertanyaan Hoseok. “Aku tahu aku bisa mengandalkan manusia yang berubah menjadi vampire sepertimu.”
Hoseok melongo tak mengerti.
“Sepertinya kau bisa membantuku.” ucap Taehyung dengan smirk panjang.
🎃🎃
Jangan lupa berikan like dan comment setelah membaca 🙏