Vampire In The City

Vampire In The City
It's Long Day



halo semua...


maaf baru bisa update ya karena bener² author ga bisa konsen kalau di pekerjaan juga sibuk. Moga reader kagak lupa ya sama ceritanya. Kalo lupa bisa baca² lagi aja 😅 Yuk kita lanjut ceritanyee...



Seokjin, Yoongi, Namjoon dan Hoseok pergi ke lokasi pengambilan fettuccine yang sudah mereka pesan. Mereka memasuki kawasan gersang dan tidak berpenduduk, mungkin dikarenakan tanah disitu yang tidak subur membuat sulit diolah dan kesulitan pula dalam mendapatkan air. Tempat yang dijadikan lokasi memang bisa terbilang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Satu pun di antara mereka belum pernah datang ke tempat ini. Sepertinya sindikat punya beberapa titik lokasi eksklusif seperti ini sehingga tidak pernah terciduk bahkan oleh dewan vampire.


“Kau harus memanggil hujan supaya tempat ini lebih subur.” ucap Hoseok pelan pada Namjoon yang duduk di sebelahnya.


Namjoon sedang tidak ada keinginan bersenda gurau di situasi seperti ini tapi perkataan Hoseok cukup meng-entertain-nya. ”Aku bisa membuat tempat ini banjir sampai markas sindikat tenggelam dipenuhi air, how?”


Hoseok memberi cengiran lalu memberikan jempol pada Master-nya. Memang kekuatan Namjoon yang bisa mengendalikan cuaca cukup mengesankan juga.


Yoongi yang duduk di depan bersama Seokjin, tidak menggubris keduanya. Sejak tadi ia sudah sibuk memantau sekitar menggunakan teropong, melihat dengan cermat kalau-kalau ada jebakan atau pergerakan manusia. Seokjin yang menyetir sudah berwajah serius sejak tadi, tegang karena bisa jadi akan terjadi perkelahian besar antara vampire dan manusia.


“Kita sudah sampai,” gumam Yoongi dengan mata masih mengamati dari teropong, “Titik lokasi adalah bangunan tua yang ada di depan sana.”


Hoseok mencondongkan badan dan melihat ke depan. Ada sebuah bangunan tua terdiri dari 2 lantai. Lumut sudah memenuhi dinding di sana sini menandakan tidak pernah ada yang berniat mengurus. Di luar pun tak ada yang menjaga. Hoseok jadi menyangka bahwa yang mereka datangi ini tentu saja bukan markas, melainkan hanya tempat transaksi yang dipilih untuk mendistribusikan pesanan kepada konsumen. Tapi tentunya tetap ada orang-orang yang menjadi suruhan sindikat di situ.


“Sepertinya itu bukan markas sindikat.” kata Namjoon sambil menaikkan sebelah alis, sedikit kecewa karena tidak bisa menyerang markas.


“Tidak masalah,” ujar Seokjin, “Kita tetap akan hancurkan property apapun yang dimiliki sindikat sampai mereka tak punya apa-apa lagi.”


“Yeah…” Hoseok mulai bersemangat, “Kita sapu bersih setiap titik lokasi yang mereka punya di negeri ini sampai mereka tidak bisa berjualan lagi.”


Namjoon mendengus pelan, cukup terkesan dengan ucapan Hoseok itu. “Dan kita bisa mulai membuat mereka ketakutan karena adanya serangan dari vampire untuk bisnis mereka.”


“Guys, aku lihat di bangunan itu ada 3 manusia yang menunggu kita,” tutur Yoongi serius, “Bisa jadi mereka pun membekali diri dengan senjata api.”


“Apa mereka hunter?” tanya Seokjin. Ia memberhentikan mobil beberapa meter jauhnya dari bangunan.


“Hunter atau tidak, kita harus waspada karena mereka bisa saja penembak jitu.” sahut Yoongi.


Hoseok menelan ludah. Ini sangat menegangkan seperti di film-film action. Akankah dia bisa menjadi salah satu hero atau peran utamanya?


Seokjin menjilat bibir dan memberi smirk. Matanya menatap bangunan di depannya dengan tajam. “Kalian berpeganganlah. Kita akan hantam bangunan itu.”


“M-mwo?” Mata Hoseok membelalak. Dia tak pernah menyangka kalau Seokjin yang ia kenal sangat gentle dan penyabar bisa punya ide menabrakkan mobil ke rumah itu layaknya pembalap liar. Omo.


“Hanya itu cara agar kita tahu mereka hunter atau bukan,” lanjut Seokjin, “Lagipula mobil ini sudah dipasang anti peluru.”


“Well…” Yoongi memberi smirk, “Itulah yang dikatakan pemilik rental.”


Mata Hoseok semakin membola horor, begitu entengnya dhampir itu berkata demikian. Ini masalah nyawa hello. Gosh, dia berharap dia bisa selamat dari insiden gila ini!!


“Joon, nanti kau bisa memanggil angin tornado untuk melululantakkan tempat ini. Pastikan semua musnah tanpa bersisa.”


“Siap boss~” ucap Namjoon dengan senyum lebar pada Seokjin.


Seokjin memegang setir dengan kuat. Ia mulai menggas mobilnya, bersiap untuk melakukan hantaman keras pada bangunan di hadapan mereka. Tidak perlu banyak basa basi, yang jelas sindikat ini harus dimusnahkan sampai kerak-keraknya. Jika polisi dan hukum tidak bisa melakukannya, maka para vampire sendiri yang akan turun tangan dan melakukan penghakimannya.


Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi, suara ban yang berdecit dengan pasir terdengar begitu ngilu. Mobil menghantam pintu masuk yang tertutup, tak perlu memakai barcode, tak perlu ucapkan salam. Mobil yang nyatanya memang berkualitas tinggi nan kuat itu sanggup menghancurkan pintu masuk dan masuk ke dalam rumah. Seokjin, sang Alpha, menyetir dengan brutal, menggilas apapun yang bisa dilihatnya. Betul kata Yoongi, ada 3 manusia di dalam sana. Mereka begitu kaget dengan serangan tiba-tiba dan langsung siaga berusaha mencari posisi aman dan siap dengan pistol masing-masing.


Tembak-tembakkan pun terjadi. Tiga manusia yang merupakan mafia itu menembak ke arah mobil yang terus bergerak liar berusaha menabrak siapapun dan apapun.


Hoseok meringis dan terus berpegangan erat karena betapa gilanya cara Seokjin menyetir. Oh man… mungkin ini alasannya kenapa mobil yang dimiliki Alpha itu pun tipenya jeep Wrangler.


“Yuhu~~!” seru Namjoon menikmati suasana seolah dia sedang berada di lomba rodeo.


Yoongi juga tampak tenang. Rupanya dia sudah terbiasa dengan gaya berkendara Seokjin ini. Dhampir itu mengamati sambil melihat sekeliling bangunan. Tidak ada banyak perabotan hanya banyak dus-dus dan rak-rak semacam tempat ini dulunya adalah gudang. Meski demikian Yoongi melihat ada 2 camera CCTV di dalam bangunan. Dan jika untuk memasuki bangunan harus menggunakan barcode, bisa dibilang tempat ini sudah menjadi lokasi transaksi sejak lama.


Tembakan yang dikeluarkan para mafia tidak ada gunanya karena mobil yang dikendarai Seokjin adalah mobil anti peluru. Seokjin berhasil menabrak mereka membuat ketiganya akhirnya terkapar. Seokjin segera memberhentikan mobil dan langsung keluar.


Begitu gesitnya ia saat mengeluarkan pistol dari dalam celana dan langsung menembak dua manusia yang terdekat dengannya sebelum dua manusia itu sempat mengacungkan tembakan pada sang Alpha. Bagaikan aksi FBI di TV, Seokjin menembak dada mereka tanpa ragu.


Yoongi pun segera keluar dari mobil, melemparkan pisau ke mafia ketiga yang hampir akan melakukan tembakan kepada Seokjin. Pisau mengenai dadanya dan mafia itu langsung rebah tak bernyawa. Kerja sama di antara Seokjin dan Yoongi sangat menakjubkan bagaikan dua superhero kondang.


“Wow~!” gumam Hoseok terpukau. Ini pertama kalinya melihat pertempuran real seperti ini dan seharusnya dia mulai membiasakan diri, masih banyak pertempuran lain yang akan dihadapi. Hoseok menganggap kerja sama Seokjin dan Yoongi sangat keren sekali mengingatkannya pada Batman dan Robin di film Hollywood.


“Setidaknya sisakan untukku!” protes Namjoon menggerutu sambil keluar dari mobil tak puas karena dua vampire itu sudah menghabisi para mafia.


Yoongi memungut sebuah box berukuran medium yang berada di lantai. Untungnya kotak itu tidak terlindas mobil Seokjin tadi. Yoongi membuka benda itu yang merupakan kotak pendingin dan melihat ada beberapa potongan tulang rawan yang sudah dibersihkan. Yoongi mengeraskan rahang, dia berharap vampire yang menjadi korban kebejatan sindikat baik-baik saja.


Seokjin menghela nafas. Wajah seriusnya sejak tadi akhirnya mulai relaks. Meski mereka tidak bisa menyerang markas inti tapi setidaknya mereka akan memburu setiap property sindikat dan menghancurkannya. Seokjin mengerling pada Yoongi. Dhampir itu memberi anggukan.


“Kita akan keluar dari tempat ini,” ujar Seokjin, “Joon, kau bisa mengirim angin tornado untuk meratakan tempat ini.”


“Dengan senang hati.” sahut Namjoon memberi senyum sampai dimple-nya tampak.


Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil. Untunglah misi yang dilakukan hari ini tidak mencekam, bahkan bisa dibilang terlalu mudah. Semua aman dan sesuai dengan rencana.


.


.


.


Entah bagaimana Jungkook bisa mendapatkan telepati dari Taehyung untuk mengetahui posisi keberadaan vampire itu sekarang. Jungkook mengikuti kata hatinya dan segera ke tempat yang bahkan belum pernah ia lalui sebelumnya. Tempat yang begitu jauh dan terpencil. Sebenarnya gila Jungkook nekat ke tempat seperti ini hanya dengan bermodalkan insting dan telepati. Tapi benar saja, sambil mengendarai mobil dengan kalut, Jungkook sudah melihat dari kejauhan Taehyung yang berjalan dengan membawa box di tangannya.


Jungkook mempercepat kecepatan mobil. Jantungnya berdegup keras. Ia langsung memberhentikan mobil ketika sudah berada di depan Taehyung. Dengan segera Jungkook keluar dari mobil, syok melihat noda darah di wajah dan baju vampire itu. Ia merengkuh Taehyung ke dalam pelukannya dan yang menyedihkan ketika tangisan Taehyung pun pecah.


“Ya Tuhan… Kau baik-baik saja?”


Taehyung menangis parau di bahu Jungkook. Dia tidak sekuat kelihatannya. Kenyataannya Taehyung sangat lemah. Mentalnya akhir-akhir ini sangat tertekan. Lihat betapa mengerikannya hal-hal yang bisa dilakukan sindikat. Orang-orang itu tidak punya perasaan. Dan Taehyung sangat takut… dia takut jika hal yang sama terjadi pada dirinya… atau pada orang-orang yang menyayanginya.


Jungkook memeluk vampire itu erat-erat, ikut menangis, karena dia juga bisa merasakan hal yang dirasakan Taehyung.


“Kau akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu.” bisik Jungkook sepenuh hati sementara air mata mengalir di pipi.


Taehyung mengisak semakin keras dan menggeleng-geleng. Kondisi akan semakin memburuk. Seharusnya dia tidak perlu muncul dan membalaskan dendam. Semua ini akan menuntunnya pada pengorbanan besar. Dia tidak mau apa yang terjadi pada Vernon ini kelak akan terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Dia tidak mau menyeret Jungkook ke dalam bahaya bersamanya.


Jungkook berusaha tegar. Ia melepas pelukan dan mengusap air mata Taehyung, berusaha memberikan support dan kekuatan mental pada vampire itu yang tengah break down.


“Kajja, aku akan membawamu pulang.” Jungkook menarik Taehyung menuju mobilnya dan membukakan pintu untuk vampire itu. Ia menarik box stainless dari tangan Taehyung, bisa mencium semilir bau bangkai yang membuatnya merinding. Jungkook tidak mengatakan apa-apa dan menaruh box itu di jok belakang.


Selama di perjalanan, wajah Taehyung tampak lemas. Dan kalaupun Jungkook menanyakan apa dia baik-baik saja, Taehyung hanya mengangguk. Sampai akhirnya vampire itu tertidur. Jungkook tidak akan membangunkannya, dia terus mengendarai mobil sementara malam semakin larut.


Dia tak pernah membayangkan kalau dia akan mengalami hal-hal mencekam dan menakutkan setiap harinya. Ini sudah menyangkut hidup dan mati. Taehyung seolah berada di dalam ancaman kematian setiap harinya, seolah dulu vampire itu belum pernah mengalami penderitaan akibat perlakuan sindikat. Jungkook sebetulnya tipikal orang yang cuek pada sesuatu yang bukan urusannya. Tapi dia tidak akan tinggal tenang dan membiarkan Taehyung menghadapi bahaya sendiri. Jungkook akan menemaninya sekalipun Taehyung tengah berjalan menuju jurang maut sekalipun. Semacam ada bond atau ikatan batin kuat yang membuatnya tak bisa meninggalkan Taehyung. Perasaannya sangat berkecamuk tadi siang saat tidak tahu dimana keberadaan Taehyung.


Jungkook melirik Taehyung yang tertidur, hatinya sakit membayangkan apa yang sudah dilalui vampire itu tadi siang. Jungkook meremas setir kuat-kuat. Sindikat penjualan vampire itu akan dia hancurkan.


.


.


.


“Ada apa?” tanya Seokjin dengan wajah tegang saat Jungkook sudah keluar dari mobil.


Jungkook memutari mobil dan membuka pintu mobil menunjukkan Taehyung yang masih tertidur. Pakaian dan wajahnya masih ada bekas darah membuat para hyungnya sangat kaget. Tapi sebenarnya yang membuat para vampire itu berhamburan keluar seperti ini karena mencium bau bangkai vampire di udara yang sangat menyengat.


Yoongi sudah membuka pintu belakang dan mata membola melihat sebuah kotak stainless. Dia yakin bahwa bau busuk yang tercium berasal dari dalam kotak itu.


“Taehyung akan kubawa ke dalam…” ujar Jungkook pelan. Ia melirik Yoongi yang sudah mengeluarkan kotak stainless. Jungkook juga menyadari selama perjalanan ada bau bangkai yang tercium. Untuk saat ini ia serahkan saja pada para vampire itu untuk mengusutnya. Masalah kenapa Taehyung bisa berada di tempat yang sangat jauh dan switch menjadi V pun belum terjawab bagi Jungkook.


Jungkook menggendong Taehyung dan membawanya masuk ke dalam rumah. Hoseok mengikuti di belakang. Sementara Seokjin, Yoongi dan Namjoon masih memandangi kotak stainless dengan tegang. Entah mayat apa yang ada di dalam kotak ini, lagipula dari ukurannya yang medium seperti itu mustahil bisa memasukkan mayat tanpa… memutilasinya lebih dulu.


“Damn, apa yang ada di dalam?” bisik Namjoon. Ia mengerucutkan hidung karena betapa pekatnya bau yang tercium hidungnya.


Yoongi membuka kotak dan yang mengejutkan karena di dalamnya ada sebuah kepala. Begitu mengerikannya karena kepala yang dimaksud adalah kepala Vernon, salah satu anggota dewan vampire. Wajah sudah nyaris membiru dan mata masih membelalak sementara darah kering mengotori leher dan sebagian wajah.


“Oh shet!” umpat Namjoon sambil memalingkan wajah tak tahan melihatnya. Ini benar-benar mengerikan dan sungguh tak dapat dipercaya.


Wajah Seokjin berubah pucat. Bagaimana bisa kepala Vernon ini ada pada Taehyung dan Jungkook? Apa ini artinya konsumen yang memesan kepala vampire itu bukan dirinya? Apa yang sebenarnya terjadi, apa Taehyung dan Jungkook mendatangi markas sindikat?


“Ini sangat brutal dan tidak bisa dimaafkan.” ucap Yoongi prihatin.


Sementara itu Jungkook sedang membaringkan badan Taehyung di tempat tidur. Vampire itu masih memejamkan mata sepertinya mental dan fisik sangat kelelahan. Di saat seperti ini tidak ada yang menyangka bahwa V bisa tampak rapuh seperti ini.


Jungkook duduk di pinggir tempat tidur, mengusap kening dan rambut vampire itu. Begitu banyak yang terjadi, penderitaan demi penderitaan. Jungkook berharap semua penderitaan Taehyung bisa segera berakhir. Dan Taehyung masih belum sempat menjelaskan apa yang terjadi tadi siang, mengapa dia bisa berada di tempat yang begitu jauh. Juga bangkai vampire di dalam box yang dibawa Taehyung…


“Kalian dari mana?” tanya Hoseok pada Jungkook. Baju Taehyung yang banyak bekas darah pun menjadi pertanyaan apa yang sebenarnya sudah terjadi, demikian pula dengan bangkai vampire yang tercium dari mobil Jungkook. Hoseok sangat mencemaskan keduanya. Ternyata yang hari ini melakukan pertempuran bukan dirinya dan vampire lain saja, sepertinya Taehyung dan Jungkook pun mengalami hari yang berat.


“Sepertinya tadi siang Taehyung diculik oleh pihak sindikat,” ucap Jungkook, “Aku menemukannya di tempat yang sangat jauh, itu pun karena lagi-lagi aku mendapatkan telepatinya. Jika tidak… aku sudah tak tahu lagi.” Jungkook memandang Taehyung dengan sedih.


“Taehyung tampak sangat kelelahan…” gumam Hoseok kuatir.


Beberapa saat kemudian vampire lain datang ke kamar itu. Kepala Vernon sudah diamankan di ruang kesehatan. Untuk sementara akan ditaruh disana sampai keputusan Alpha nanti apa akan diserahkan ke pihak dewan vampire atau langsung pada soulmate Vernon.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Seokjin pada Jungkook, “Kenapa bisa ada mayat vampire di mobilmu?”


“Taehyung yang membawanya,” sahut Jungkook meringis, “Kurasa dia berhasil kabur dari tempat laknat penculikan vampire dan membawa mayat vampire lain. Entahlah, aku tak tahu karena Taehyung belum sempat menjelaskannya.”


“Kita masih punya banyak waktu,” ucap Yoongi tenang, “Untuk saat ini kita biarkan Taehyung beristirahat.”


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Jungkook kuatir, “Apa dia sakit? Atau butuh menghisap darah?”


“Anniya,” sahut Yoongi memberi senyum, “Aku merasakan energinya normal. Dia hanya kelelahan dan butuh beristirahat saja, Jungkook-ssi.”


Jungkook menghela nafas lega, memandang kembali vampire yang tertidur itu.


“Kau bisa pulang, Taehyung baik-baik saja dan aman di rumah ini.” kata Namjoon. Ia salut untuk tindakan Jungkook selama ini yang banyak sekali membantu.


“A-aku akan tetap disini jika kalian tidak keberatan.” ucap Jungkook.


“Okay, tak masalah kurasa.” Seokjin memberi senyum lembut dan menepuk bahu manusia itu. “Kalau perlu sesuatu kau bisa memintanya pada kami.”


Jungkook mengangguk. “Gomawo, Hyung.”


Akhirnya vampire-vampire yang lain pun meninggalkan ruangan itu. Seokjin dan yang lainnya akan segera membicarakan perihal kepala Vernon yang ditemukan dan juga ada kemungkinan konsumen bisa memesan kepala vampire pada sindikat. Anggota VVIP kah?


Jungkook menatap Taehyung, membenarkan posisi kepala vampire itu supaya bisa tidur dengan nyaman. Ia meringis melihat masih ada noda darah di wajah dan baju. Jungkook berinisiatif mau membersihkannya dan berencana mengambil handuk basah dari kamar mandi untuk membersihkan noda darah. Baru ia akan bangkit berdiri, tangannya ditahan.


Jungkook melihat ke bawah, melihat tangan Taehyung yang memegangnya, menahannya untuk pergi. Jungkook terkejut. Perlahan mata Taehyung membuka dan membalas tatapan Jungkook itu.


“Please… don’t go…” gumam Taehyung dengan suara serak, “I’m scared.”


Perkataan serta bagaimana cara V memohon seperti itu membuat Jungkook sangat terluka. Ia duduk kembali di pinggir tempat tidur, menggenggam tangan vampire yang dingin itu lebih erat.


“Aku tidak kemana-mana, aku hanya akan mengambil handuk basah untuk membersihkan wajahmu.”


Taehyung menggeleng lemah.


Jungkook sangat tahu karena ia bisa merasakan bagaimana sedang remuknya vampire itu secara psikologis. Jungkook tahu ada yang mengganggu pikiran Taehyung sejak tadi.


“Apa kau lapar? Apa kau perlu sesuatu?”


Taehyung menggeleng lagi. Matanya seperti kosong seperti mata anak kecil innocent.


Jungkook melingkarkan lengan di bahu Taehyung. “Apa kau bisa menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi tadi siang?”


Taehyung memandang wajah Jungkook lama. Tangannya masih memegang tangan manusia itu, seolah takut ditinggal, takut dirinya bisa dibawa lagi ke tempat laknat bagaikan neraka, tempat dulu ia pernah mengalami siksaan dan penderitaan.


Untuk saat ini Taehyung belum memikirkan bagaimana cara ia menjelaskan pada Jungkook mengenai perbuatan Lisa atau yang sudah dilakukan para hunter. Taehyung akan menundanya… semua itu masih bisa dijelaskan esok. Saat ini Taehyung hanya ingin merasakan ketenangan dan damai…melupakan semua rasa takut dan traumatisnya… Ia percaya kalau Jungkook memang soulmate-nya… bisa menyembuhkan dan menenangkannya seperti ini.


Taehyung memejamkan mata dan tertidur kembali.


“Aku takkan meninggalkanmu, V. Aku janji.” bisik Jungkook.


Itu adalah kata-kata terakhir yang didengar V. Kata-kata yang menenangkannya dan tidak membuatnya takut lagi.


🎃🎃



Jangan lupa tetap dukung novel ini dengan memberikan jejak ya 💜


AH BTW !!


INI UDAH CHAPTER KE 100 😭😭😭


KAGAK NYANGKAAAA.. DAN CERITANYA BELUM ENDING JUGA WKWKWK


AUTHOR MAU RAYAIN KEKONSISTENAN AUTHOR SAMA NOVEL INI SAMPAI BISA EPISODE 100 😭




PARTY MAMEN