
Mian kemarin author ga sempat update karena harus pergi 😅 hari ini akan update dua kali deh 🤞
Met bacaaa
Soojung terbangun saat mencium harum roti panggang. Baunya begitu manis membuat Soojung sangat terpikat. Wanita itu membuka matanya, ia melihat ranjang yang bukan biasa ia tiduri, jendela besar yang pemandangan luar begitu asing untuknya.
Wanita itu duduk bangun dan melihat sekeliling, memori semalam kembali lagi padanya. Bagaimana dalam serbuan besar ia melihat bahwa Seokjin merupakan bagian dari vampire. Mata wanita itu membesar saat melihat pria yang ia pikirkan sedang menata meja, penuh dengan sarapan pagi ini : roti panggang, selai, susu, buah-buahan.
Seokjin menolehkan kepalanya dan memberi senyum. “Selamat pagi, Soojung.”
Soojung menelan ludah. Ternyata kejadian semalam memang bukan mimpi. Semalam Seokjin menyodorkan dirinya sendiri untuk ditusuk dengan pisau namun Soojung tak dapat merelakannya meski ia membenci vampire. Ia melirik telapak tangan Seokjin, tidak ada perban, tidak ada apapun padahal tangan Seokjin berdarah-darah semalam.
Seokjin menyadari tatapan wanita itu. Ia mengangkat tangannya, “Tanganku sudah baik-baik saja, Soojung. Selama pisau itu bukan silver, luka apapun lebih cepat pulih.”
Soojung masih memandangi Seokjin dengan mata membesar. Ia tak menyangka seumur hidupnya, bahwa ia akan berada di rumah vampire, tidur di tempat tidur vampire, bahkan menjalin hubungan dengan vampire. Ia selalu mengiming-imingkan bisa membalaskan dendam pada vampire. Apa langit sedang mempermainkannya karena dia malah jatuh cinta pada vampire.
Seokjin menggigit bibir ragu. Ia tidak akan memaksakan kalaupun pagi ini Soojung mengubah keputusannya semalam. Kalau Soojung memang menolaknya, dia siap.
“Kau pasti masih kaget dengan semua ini. Aku tidak akan pernah memaksamu, Soojung-ah.”
“Kita akan sarapan?” tanya Soojung, mengacuhkan perkataan Seokjin sebelumnya. Ia tidak ingin membahas mengenai kejadian semalam, bahkan kalau bisa Soojung ingin melupakannya dan menganggapnya tidak pernah terjadi.
Wanita itu turun dari tempat tidur dan mendekati Seokjin. Ia membuka mulutnya saat melihat sarapan yang tersaji. “Kebetulan perutku lapar. Ayo kita sarapan bersama, Oppa…”
Seokjin terpana namun akhirnya memberi senyum. “Kita bisa makan di balkon sambil menikmati pagi.”
Soojung mengangguk dan keduanya pun ke balkon. Seokjin membawa nampan berisi sarapan dan meletakkannya di meja balkon. Pagi itu udara sangat segar dan langit pun indah. Seokjin bersyukur setidaknya cuaca tidak buruk untuk dinikmati.
“Hari ini aku tidak akan kuliah…” ucap Soojung sambil memakan buah potong, “Aku ingin beristirahat.”
“Aku akan menemanimu..” kata Seokjin, “Aku akan mengambil cuti hari ini.”
Soojung memandang Seokjin lekat-lekat. “Apa kau benar seorang vampire?” bisiknya.
Seokjin mengangguk.
“Yang semalam kulihat pun, mengenai saudara-saudara yang pernah kau ceritakan, mereka pun vampire?”
Vampire itu kembali mengangguk. “Kita tidak perlu membahasnya jika itu membuatmu tidak nyaman, Soojung-ah.”
“Anni…” Wanita itu tampak tenang dan tidak syok seperti semalam. “Aku harus terbiasa.”
“Soojung-ah…”
“Lalu… bagaimana kau menghisap darah manusia tanpa ketahuan?” Jantung Soojung terasa sakit saat mengatakannya karena ia mengingat kembali pengalamannya saat SMP dihisap darahnya oleh dua vampire. Apa Seokjin juga melakukannya, memilih korban secara acak di jalan untuk menghisap darahnya?
“Aku meminum darah kemasan…” jawab Seokjin, “Ada situs ilegal dan rahasia yang memperjualbelikan darah untuk para vampire.”
Kedua alis Soojung terangkat. Dia baru dengar hal itu. “Vampire tidak menghisap darah manusia?”
“Itu terlalu riskan,” ucap Seokjin, “Kami tidak ingin membuat masalah dengan membuat breaking news. Kalaupun kami berkesempatan menghisap darah manusia, itu kami lakukan pada manusia yang sudah akan mati di rumah sakit.”
“Tapi aku pernah dihisap darah oleh vampire.” ucap Soojung perlahan kurang setuju dengan ucapan Seokjin.
“Mwo?” Soojung menaruh garpu di piring dan ia menoleh memandang Seokjin dengan tercengang, “Apa maksudmu, Oppa?”
Seokjin mendesah panjang. “Enam tahun yang lalu saat kau digigit 2 vampire… aku melihatnya, Soojung-ah… dan aku menyelamatkanmu..”
Mata Soojung membola horor. Ia berusaha mengingat kejadian itu dalam memorinya, tapi yang tersisa hanyalah memori saat darahnya dihisap oleh 2 vampire. Dia tidak bisa mengingat ada kehadiran Seokjin disitu.
“I-itu tak mungkin… aku tak mengingat bahwa kau ada…”
Seokjin tersenyum tipis. “Setiap vampire punya kekuatan, Soojung. Dan kekuatanku adalah bisa mengendalikan memori.”
Mulut Soojung membuka namun tidak ada suara yang keluar. Ia terlalu syok sementara otaknya sedang mengolah informasi yang baru ia dengar. Itukah sebabnya dokter dan polisi menganggap bahwa dirinya kecelakaan meski Soojung mengatakan dia digigit vampire? Karena Seokjin yang menyelamatkannya saat itu mengubah memori orang lain? Dan mungkin juga Seokjin menghapus beberapa memori mengenai dirinya yang menyelamatkan Soojung saat itu?
“Aku minta maaf kalau aku baru memberitahumu sekarang,” kata Seokjin lirih, “Aku mengubah memorimu dan orang lain saat itu supaya tidak terjadi kegemparan mengenai vampire. Yang dilakukan dua vampire itu salah, aku sudah memberi mereka pelajaran, vampire tidak seharusnya menyerang manusia seperti itu.”
Mata Soojung berkaca-kaca. Ah rasanya dadanya kembali sesak. Buah potong yang sebelumnya ia makan kini sudah terasa sangat pahit. Mengapa bisa seperti ini? Seokjin yang dulu menyelamatkannya dari vampire… dan sekarang menjadi kekasihnya…? Bagaimana mungkin semua bisa terjadi seperti itu?
“Soojung…” gumam Seokjin memegang lengan wanita itu karena melihat air matanya yang mengalir.
“Apa kau juga memanipulasi pikiranku selama ini?” isak Soojung.
“Mwo?”
Kepala Soojung rasanya mau pecah. Pikiran negatif berseliweran di benaknya dengan cepat dan tiba-tiba. Bagaimana kalau Seokjin sudah memanipulasi dirinya selama ini, membuat Soojung jatuh cinta pada vampire itu? Atau bisa saja kejadian semalam juga dipengaruhi oleh kekuatan Seokjin yang bisa memanipulasi pikiran sehingga Soojung masih mencintai Seokjin, menerimanya yang adalah vampire padahal Soojung sangat membenci vampire sejak dulu. Bukankah itu terlalu kontradiksi?
“A-apa…” Bibir Soojung bergetar saat mengucapkannya, “…kau memanipulasi pikiranku selama ini… dan semalam…?”
Mata Seokjin membesar terkejut. Ia bersumpah ia tidak melakukannya pada Soojung. Ia hanya memanipulasi pikiran Soojung saat SMP dan juga memanipulasi pikiran semua mahasiswa bahwa Seokjin adalah dosen Sejarah. Itu saja. Dia tidak memanipulasi pikiran dan perasaan wanita itu untuk mau mencintainya.
Soojung masih menatap Seokjin sementara air mata terus mengalir. Perasaannya saat ini pun berkecamuk, bingung antara mana yang benar dan mana yang salah. Dia menjadi sulit membedakan suara hatinya ketika tahu kekuatan Seokjin adalah mengontrol memori.
Seokjin sangat terpukul ketika wanita itu mengatakannya. Dia memang vampire tapi dia tidak serendah itu. Vampire tidak mudah jatuh cinta, vampire biasanya tidak membutuhkan cinta dan asmara… ia tidak memanipulasi Soojung untuk merasakan cinta yang seperti saat ini ia rasakan.
“Aku tidak….” Mata Seokjin sudah berkaca-kaca. Ia bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ingin membela diri pun rasanya percuma. Sepertinya memang tidak seharusnya ia membiarkan diri larut dalam perasaan cinta… Vampire mungkin tidak pantas dicintai oleh manusia.
Bagai menelan empedu pahit di tenggorokannya, Seokjin hanya sanggup menunduk kelu. “Aku tidak akan memaksamu, Soojung, kalau kau tidak bisa menerimaku… Dan asal kau tahu, aku tidak pernah memanipulasi seseorang untuk berada di sisiku…”
Dengan perkataan itu Seokjin langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Soojung. Hatinya sangat sakit. Ternyata benar. Dulu teman-teman manusianya pernah mengatakan bahwa cinta itu akan memberikan rasa sakit. Sangat sakit. Seokjin memegang dadanya yang sakit, dia belum pernah merasakan sakit seperti ini di hidupnya. Rasa sakit saat mencintai seseorang.
Seokjin meninggalkan kamar itu, dia tidak ingin Soojung melihat dirinya yang rapuh seperti ini.
Sementara Soojung menangis semakin kencang. Ia menutup wajahnya dengan dua tangan dan terus menangis tersedu-sedu. Apa lagi sekarang? Apa takdir kembali mengujinya? Atau sedang mempermainkannya? Bagaimana dia harus bisa membedakan mana suara hatinya yang sesungguhnya dan mana yang bukan?
Wanita itu pun tak bisa melupakan bagaimana ekspresi terluka yang ditunjukkan Seokjin. Pastinya Soojung sudah sangat menyakiti hati Seokjin dengan menuduhnya telah memanipulasi pikiran dan perasaannya.
Soojung terus menangis dengan pedih.
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan like dan comment untuk chapter ini. Jika suka silakan favorit, vote, rate 5 dan share ya. Gomawoo