
🎃 Jangan kupa tinggalkan jejak ya dengan memberi like, comment dan vote 🎃
🎃🎃
Seokjin mencium aroma Soojung di udara. Ia melihat ke depan dan melihat wanita itu yang berjalan berlawanan arah, ke arahnya. Seokjin tidak akan membuat pelik masalah yang sudah rumit. Ia tidak akan meminta penjelasan pada wanita itu akan sikap Soojung yang tiba-tiba berubah padanya.
Jadi Seokjin mengalihkan matanya, melihat ke arah lain mengabaikan wanita itu.
Seokjin terus berjalan sementara Soojung sudah berdiri terpaku, memandangnya seolah ia ini hantu. Rahang vampire itu mengeras, berusaha meneguhkan pendiriannya untuk mengabaikan Soojung, meski sedikit ada kecemasan dalam dirinya saat tadi melihat wajah Soojung yang pucat pasi.
Dan seperti itulah… Seokjin melewatinya begitu saja, tidak menyapa, tidak melirikkan matanya pada mahasiswi yang pernah menciumnya.
Ia membiarkan Soojung yang masih terus memandanginya sementara ia terus berjalan lalu berbelok ke lorong lain, hilang dari pandangan mata Soojung.
Pertemuan pertamanya dulu dengan Soojung saat wanita itu masih SMP. Seokjin menyelamatkan Soojung dari dua clan Cha yang sedang menghisap darahnya. Sebenarnya Seokjin bisa saja tidak ikut campur dalam urusan itu. Clan Cha bisa saja menghapus jejaknya setelah menghisap darah manusia meski melanggar aturan. Tapi saat itu ada dorongan kuat dalam diri Seokjin, menyuruhnya untuk menolong Soojung. Ada semacam gelombang emosi di dalam dirinya hingga ia hampir membunuh salah satu vampire. Dan ia pun membawa Soojung yang sudah pingsan ke rumah sakit, mengurus semua perawatannya serta memanipulasi kejadian itu. Ia memanipulasi memori polisi dan dokter sehingga mereka yakin bahwa Soojung mengalami kecelakaan. Tapi ada satu hal yang tidak dilakukan Seokjin : ia tidak menghapus memori Soojung saat itu. Karena ia memang tidak mau melakukannya. Wanita itu berhak mengingat apa yang telah menimpanya itu.
Dan kini setelah wanita itu sudah beranjak dewasa, Seokjin masih peduli dan memikirkan Soojung seperti ini, mencemaskannya seperti ini.
Seokjin meniup poni keras-keras. Ia langsung berbalik badan dan kembali ke arah tempat ia bertemu Soojung. Ia harus membereskan semua ini. Setidaknya mereka tidak perlu berlagak menjadi orang asing lagi.
Seokjin melihat Soojung yang sedang berjalan lambat. Tangan menyangga ke tembok sambil memegang kepala. Merasa cemas, Seokjin mempercepat langkahnya menuju wanita itu, menahan tubuh Soojung yang sudah hampir jatuh ke lantai.
Mata Seokjin membola, melihat dengan jelas bahwa manusia itu sakit. Wajah Soojung sangat pucat.
Wanita itu membalas tatapan matanya, memegang lengannya dengan sisa energi yang ia punya. “Mian…” bisiknya lirih.
“So-Soojung…”Seokjin terkejut saat Soojung pingsan tak sadarkan diri. Dengan spontan Seokjin menggendong wanita itu ala bridal style dan segera membawanya ke ruang kesehatan. Beberapa mahasiswa melihatnya dengan tercengang-cengang, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga seorang dosen menggendong mahasiswinya seperti itu.
.
.
Taehyung dan Jungkook sedang makan bersama di kantin. Semenjak kejadian di belakang gedung laboratorium, Taehyung tidak mau membahas mengenai masalah itu. Tiap teman-temannya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, Taehyung seolah menghindarinya, mengatakan bahwa semua itu hanya kesalahpahaman belaka. Bagaimana mungkin semua itu kesalahpahaman ketika mereka melihat bagaimana Taehyung menangis disakiti oleh dua mahasiswa senior?
Dan Jungkook memang selalu tak tahan untuk membahasnya kembali di setiap kesempatan.
“Apa kau sudah memberitahu hyungmu mengenai kejadian itu?” tanya Jungkook tiba-tiba.
Taehyung tertegun. Ia berhenti makan dan menatap Jungkook yang bertanya tiba-tiba. Awalnya Taehyung tidak mengerti konteks pertanyaan Jungkook, namun setelah beberapa saat Taehyung membesarkan mata pada temannya itu. “M-mwo?”
Jungkook menaikkan sebelah alis. “Jadi kau tidak menceritakan kejadian itu pada hyungmu?”
Taehyung menalan ludah. Ia pura-pura tertawa ceria. “Tidak ada yang perlu diceritakan, Jungkookie.”
“Kalaupun itu kesalahpahaman tapi kau seharusnya menceritakannya pada hyungmu. Mereka mungkin akan berusaha membela dan menjagaimu, Tae.”
“Aku kan sudah bilang kalau dua orang itu hanya salah sasaran…” ujar Taehyung berbohong, “Aku tidak ingin membuat hyungku cemas dengan menceritakan hal tersebut.”
Wajah Jungkook mengeras, tidak setuju dengan pendapat Taehyung. “Dua orang itu berasal dari jurusan Arsitek, aku sudah mencari tahu tentang mereka.”
Taehyung terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka Jungkook akan mencari tahu mengenai dua senior yang menyerangnya dibelakang gedung Lab.
“Kita bisa saja mengadukannya pada ketua BEM, Tae…” ujar Jungkook, “Supaya hal ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Bagaimanapun itu tetap saja kekerasan meski kau bilang mereka salah sasaran.”
Taehyung menggeleng-geleng. “I-itu tidak perlu, Jungkook. A-aku sudah memaafkan mereka.”
“Mwo?” Jungkook memandang Taehyung tak percaya. Memaafkan? Kata itu tidak pernah ada pada kamus Jeon Jungkook. Dia tidak pernah diajarkan untuk memaafkan. Dia selalu diingatkan untuk bisa membalaskan hal yang sama pada orang yang melakukan kejahatan padanya. Pamannya selalu mengajarkannya untuk menyimpan dendam pada vampire yang telah membunuh orangtuanya. Tidak pernah ada memaafkan kalau Jungkook belum bisa memberikan rasa yang sama pada vampire yang telah membunuh orangtuanya.
Taehyung memberi senyum ragu. Ia takut pada Jungkook yang serius seperti ini. Ia tidak ingin identitasnya yang merupakan vampire ketahuan jika memperpanjang masalah tentang Woobin dan Xiumin. Ia belum siap sekarang. Ia belum siap jika harus kehilangan teman-temannya.
Taehyung memegang tangan Jungkook yang berada di atas meja. “Jungkookie, aku mohon…”
Jungkook mendengus, tak habis pikir dengan pemikiran Taehyung ini. “Are you sure?”
Taehyung memberi anggukan.
“Lalu bagaimana dengan luka yang mereka buat?” tanya Jungkook lagi.
Taehyung menggeleng-geleng. “Lukaku sudah sembuh. Aku sudah baik-baik saja, Kookie.” Itu tidak sepenuhnya benar. Di dada Taehyung masih terdapat bekas luka biru dan kulitnya yang melepuh pun tidak bisa sembuh. Begitu mengerikannya efek silver pada tubuh vampire.
Jungkook akhirnya menghela nafas. “Arraseo. Dan jangan panggil aku Kookie! Itu sangat cringe.”
Taehyung mengekeh, menunjukkan senyum kotaknya. “Tapi itu bagus dan terdengar cocok untukmu. Kookie~~~”
“Aish, jangan panggil aku Kookie.”
“Aku akan memberitahu Jiminnie mengenai panggilan barumu ini. Dia pasti setuju.”
“Ya!!” tukas Jungkook. Ia bisa membayangkan tawa devil Jimin sekarang jika mendengar panggilan baru itu.
Taehyung memberi senyum lebar lalu kembali makan. Ia berharap Jungkook tidak akan membahas lagi mengenai kejadian di belakang gedung Lab. Case closed. Ia juga berharap Woobin dan Xiumin tidak menggganggunya lagi, bukankah mereka sudah membalaskan dendam mereka pada Taehyung dengan menyakiti bayi vampire itu? Sudah cukup bukan?
Setelah makan Taehyung menunjukkan galeri ponselnya. Jimin mengirimkan foto-foto selfie dari ponsel Jimin saat di Itaewon.
“Lihat-lihat, foto-foto kita saat di Itaewon… hahaha aku baru sadar kita sama sekali tidak menyeramkan, Kookie.”
“Kostummu sangat bagus, Kookie,” puji Taehyung, “Jungkook si Vampire.”
“Ughh jangan sebut aku seperti itu.”
“Wae?” Taehyung menahan senyum, “Kau kan berkostum vampire, cocok denganmu.”
“Taehyung!” tukas Jungkook memotong. Dirinya terusik dengan pembicaraan ini. Ia berdandan menjadi vampire di Halloween bukan karena ia menyukai vampire, tapi sebaliknya! Ia sangat membenci vampire.
Jungkook memandang Taehyung dengan mengernyit. “Aku tidak suka disebut seperti itu. Aku benci vampire, Tae.”
Mata Taehyung membesar saat mendengar pengakuan mendadak temannya. Jungkook membenci vampire. Ia tidak pernah menyangkanya.. karena sebelumnya, Jungkook meminta kartu vampirenya, lalu saat di Itaewon Jungkook berdandan menjadi vampire, jadi Taehyung menganggap bahwa Jungkook ada ketertarikan pada vampire. Bukan rasa benci seperti yang dikatakannya barusan.
Jungkook masih menatap Taehyung lurus-lurus, melihat perubahan ekspresi Taehyung seperti shock begitu. Jungkook memang belum pernah mengatakan pada siapapun mengenai kebenciannya pada vampire. Tapi entah kenapa ia ingin memberitahukan Taehyung secara gamblang saat ini.
Kaki Taehyung di bawah meja gemetar. Jungkook membenci vampire? Lalu apa yang terjadi kalau Jungkook tahu Taehyung adalah vampire? Teman pertamanya itu akan meninggalkannya..? Tidak, tidak. Taehyung tidak ingin hal itu terjadi. Ia harus bisa menutupi rahasianya sebaik mungkin, jangan sampai Jungkook tahu bahwa dia adalah vampire.
Mereka masih berpandang-pandangan dalam suasana tegang sampai akhirnya Jimin datang ke meja mereka, memecah suasana. “Hey!” ucap Jimin sambil memukul meja berusaha mengagetkan kedua temannya. “Mian, aku telat, ada kerja kelompok…” Jimin mengambil duduk di sebelah Jungkook, bersandar ke sofa, kelelahan. “Ahh aku lapar.”
Jimin memandang Taehyung dan Jungkook bergantian, menyadari atmosfer aneh di antara keduanya. Jimin mengerutkan kening dengan heran. “Ada apa? Kenapa kalian berpandang-pandangan begitu? Suasananya kenapa serius sekali?”
Taehyung mengerjap-ngerjap dan menggeleng. “A-anni…”
Jungkook tidak berkomentar apa-apa. Ia mengambil minum dan meneguknya pelan sambil sesekali memperhatikan Taehyung.
“A-aku ke toilet dulu ya..” gumam Taehyung. Dirinya masih shock dan gemetar pasca pembicaraan mengenai vampire, dan ia perlu menenangkan diri beberapa saat.
Bayi vampire itu segera berdiri lalu pergi ke arah toilet. Jimin memandangi kepergian temannya dengan heran. “Dia kenapa?” Jimin merasa Taehyung tidak seperti biasanya, temannya itu seperti sedang takut dan shock.
Jungkook mengedikkan bahu.
“Memang tadi kalian membicarakan apa?” tanya Jimin penasaran.
“Hanya membicarakan mata kuliah yang sulit.” sahut Jungkook singkat. Ia telah membohongi Jimin seperti ini karena Jungkook tidak ingin membicarakan perihal vampire. Ia tidak ingin membuat suasana semakin awkward untuk Taehyung.
Jimin mengangguk-angguk berusaha menerima jawaban itu. “Geurre. Sebentar lagi ujian tengah semester ya… kita perlu banyak persiapan.”
Jungkook menghela nafas. “Aku ke toilet dulu.” Pria itu bangkit berdiri dan berjalan menuju toilet. Dia sebenarnya tidak ingin buang air kecil, ia hanya mencemaskan Taehyung yang pergi ke toilet.
Saat sudah di toilet, ia melihat Taehyung yang sedang membasahi wajahnya dengan air dari kran. Taehyung terkejut saat melihat Jungkook di cermin. Jungkook merasa ekspresi Taehyung seperti kaget dan ketakutan saat melihat kehadirannya.
Jungkook berjalan menuju westafel di sebelah Taehyung. Ia mencuci tangannya dengan tenang. “Kau baik-baik saja?”
Taehyung tidak tahu harus menjawab apa. Dia ke toilet untuk menenangkan diri, mengingatkan dirinya untuk bisa menghandle situasi dengan baik supaya identitasnya tidak ketahuan, supaya Jungkook tidak mencurigainya sebagai vampire. Kalaupun temannya membenci vampire, setidaknya Jungkook tidak perlu mengetahui kenyataan bahwa Taehyung adalah vampire.
Jungkook terdiam beberapa saat sambil memandang Taehyung. “Mian…” katanya pelan, “Kau tidak perlu stres memikirkan apa yang kukatakan…”
Wajah Taehyung semakin tegang mendengar ucapan Jungkook. Ia tidak mau mendengarnya, ia tidak mau mendengar ucapan Jungkook tentang vampire lagi. Taehyung tak sanggup bereaksi kalau Jungkook kembali mengatakan tentang kebenciannya terhadap vampire.
“Aku tidak akan keberatan kau memanggilku Kookie. Aku tidak akan marah, Tae…”
Taehyung tercengang mendengarnya. Konteks pembicaraan Jungkook itu bukan mengenai vampire??
“Walau itu sedikit cringe…” lanjut Jungkook mengekeh, “Tapi aku tidak akan marah kau memanggilku Kookie. Kau tidak perlu stress seperti ini.”
Mata Taehyung mengerjap-ngerjap. Jadi ini bukan tentang masalah vampire? Jungkook mengkhawatirkannya karena menyangka shock yang dialami Taehyung ini karena masalah nickname Kookie?
“Taehyung?” ucap Jungkook lagi karena sejak tadi Taehyung tidak merespon.
“Ah, ne ne ~” sahut Taehyung akhirnya. Ia sedikit merasa lega dan rasa takutnya perlahan hilang. Setidaknya Jungkook menyangka bahwa dirinya seperti ini karena nickname dan bukan karena vampire. “Gomawo… Kookie… Aku tidak apa-apa kan memanggilmu Kookie?”
Jungkook memutar bola mata. “Panggil saja sesukamu. Aku seharusnya biasa.”
Taehyung tertawa renyah. Tubuhnya sudah rileks dengan obrolan ini. Ia merangkul bahu Jungkook, “Aku juga berpikir akan memanggil Jimin dengan sebutan Minnie, bagaimana menurutmu?”
Jungkook mendengus. “Itu akan sangat menyakiti hatinya karena sepertinya kau sedang mengejek tinggi badannya.”
Taehyung terbahak. “A-anni, bukan itu maksudku! Demi Tuhan, Jungkookie, kau sangat licik!”
“Lho, kenapa aku yang licik, kaulah yang memikirkan sebutan itu.”
“Aku menyebut Minnie yang merupakan singkatan dari Jiminnie~!! Aigoo…. sama seperti Kookie yang merupakan singkatan dari Jungkookie.”
“Tapi itu juga punya makna tersendiri yang cocok dengan pemiliknya. Kau yang licik, Kim Taehyung.”
Taehyung tertawa lagi. “Kajja kajja, kita kembali… Minnie pasti sudah menunggu kita.”
Jungkook tertawa saja dan membiarkan dirinya ditarik Taehyung untuk kembali ke meja mereka. Untuk saat ini Jungkook tidak ingin memperpanjang pembicaraan mengenai vampire. Ia tidak ingin suasana hatinya yang sedang baik terusik dengan pemikiran tentang vampire.
🎃🎃
Silakan yang sudah baca jangan lupa tinggalkan jejaknya yaa. Trimakasih