Vampire In The City

Vampire In The City
Tolong Aku




lmao. im sorry


Jangan lupa like sebelum membaca ya.


🎃🎃


Jungkook berdiri sendirian di depan perpustakaan. Tangan terlipat di depan dada dan ekspresinya muram. Ia sudah menunggu Taehyung selama 10 menit namun temannya itu tidak muncul juga. Sebenarnya Taehyung menyuruh Jungkook masuk duluan ke dalam perpustakaan tapi Jungkook tidak mau melakukannya. Untuk apa ia ke perpustakaan jika hanya akan duduk sendiri menunggu Taehyung.


“Mana sih anak itu.” gumam Jungkook. Ia berusaha menelepon Taehyung namun tidak diangkat. Sebenarnya kelewatan jika Jungkook sudah mengomel padahal baru menunggu beberapa menit saja. Hanya saja Jungkook merasa heran kemana Taehyung pergi, dan kenapa tidak mengajaknya? Setahunya teman Taehyung di kampus ini adalah dirinya dan Jimin.


Jungkook mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai dengan tak sabaran. Dan entah kenapa ia mencemaskan temannya itu, semacam firasat terjadi sesuatu yang buruk pada Taehyung. Jungkook sebenarnya tidak punya insting atau indra keenam tapi saat ini ada perasaan kuat yang mengusik hatinya yang membuatnya mencemaskan Taehyung.


“Ah sial.” Jungkook akhirnya bergegas pergi dari sana, akan mencari Taehyung sekarang juga. Kalau ternyata Taehyung tidak apa-apa berarti ada yang salah dengan otak Jungkook saat ini.


Sedang bergegas seperti itu akan mencari Taehyung di kantin, Jungkook hampir bertubrukan dengan Jimin.


“Oy, Jungkook, buru-buru sekali?” ucap Jimin sambil menaikkan sebelah alis. “Tadi juga Taehyung sepetimu, sangat buru-buru. Sebenarnya kalian mau kemana?”


“Mwo?” Jungkook terkejut, “Kau bertemu dengan Taehyung?”


Jimin mengangguk. “Hmm. Aku menanyakan dia mau kemana dan dia bilang ke belakang gedung lab.”


“Untuk apa dia kesana?” tanya Jungkook heran.


“Lho? Kukira ada sesuatu yang berhubungan dengan perkuliahan? Bukannya kau juga akan ke sana?”


“Anni, aku justru sedang mencari Taehyung.”


“Hah?”


“Kurasa kita harus mengecek Taehyung, dengan siapa dan sedang apa dia disana.” ujar Jungkook. Ia pun bergegas pergi ke arah gedung laboratorium. Jimin di belakangnya buru-buru mengikuti, sebenarnya masih belum mengerti apa yang tengah terjadi, tapi kepanikan Jungkook itu membuatnya jadi cemas.


Sementara itu di belakang gedung laboratorium, tubuh Taehyung terbaring di lantai. Xiumin menahan badannya untuk tidak bergerak, tangan mencengkram leher Taehyung.


Woobin memberi seringai jelek pada Taehyung. Ia mempertontonkan sebuah lempengan berbahan perak. Sarung tangan yang dipakainya membuat Woobin dan Xiumin aman terlindungi dari efek yang diberikan silver pada vampire. Woobin bersiap-siap mendekatkan lempengan itu ke wajah Taehyung, menakut-nakutinya.


Silver adalah kelemahan terbesar para vampire. Itulah sebabnya para hunter melapisi senjata mereka dengan silver karena itu akan membunuh vampire lebih cepat. Vampire tidak bisa terkena silver/ perak, atau badan mereka akan melepuh kesakitan.


Mata Taehyung membesar takut. “A-aku mohon… jangan…”


“Kau tidak pernah diajarkan bukan bagaimana rasanya disentuh oleh benda berbahan perak?” tukas Woobin. Ia bergerak slow motion, menyentuhkan lempengan itu ke kulit lengan Taehyung. Meski hanya sebentar tapi Taehyung merasa seperti ditusuk sekaligus kulitnya terbakar.


“Aarrgghh…” erangnya kesakitan. Mata Taehyung sudah berair. Dia sangat takut sekali, dia ingin meminta tolong pada hyungnya, pada teman-temannya. Ia merasa sangat tidak berdaya.


“Huh, cengeng sekali,” ujar Xiumin, “Pantas kau lemah begini.”


“Kumohon…” isak Taehyung menggeleng-geleng memandang Woobin yang masih bermain-main dengan lempengan silver.


Xiumin mendengus dan ia menutup mulut Taehyung, menahannya supaya vampire itu tidak berteriak. Woobin memberi senyum licik, ia mengarahkan lempengan perak itu ke dada Taehyung.


“Kau tahu, sebenarnya aku belum pernah melihat seperti apa reaksi jika lempengan perak ini menyentuh dadamu. Jadi… kita sama-sama akan bereksperimen ya… walau aku dengar bahwa kulitmu akan meleleh…”


Taehyung menggeleng-geleng dan air mata sudah mengalir. Ia menjerit kesakitan ketika Woobin menyentuhkan lempengan itu di dadanya. Jeritannya teredam oleh tangan Xiumin yang membekap mulutnya. Taehyung merasakan rasa sakit yang teramat hebat. Rasa sakit seperti terbakar… dan kulit seperti dirobek dengan brutal.


Mata Taehyung seketika berubah menjadi abu-abu, mata asli vampirenya muncul, efek dari benda silver di kulitnya. Matanya membola, berair menunjukkan rasa sakit yang sangat. Tubuhnya berusaha meronta namun Xiumin lebih kuat menahannya. Sekujur tubuhnya bergetar, takut dan rasa sakit bercampur aduk.


Woobin memberi kekehan pelan. “Fantastis.” Ia menjauhkan lempengan perak itu dari dada Taehyung, meninggalkan segumpal asap kecil dari dada bayi vampire, seolah baru hangus terbakar. Taehyung menangis kesakitan, Woobin tengah menyiksa dan mempermainkannya seperti ini.


“Silver adalah benda yang sangat berbahaya, Taehyung-ssi…” lanjut Woobin, “Sudah mengerti kan?”


Alis Xiumin mengernyit, ia merasakan kedatangan dua manusia ke tempat ini. Ia menoleh ke belakang dan melihat dua manusia yang merupakan teman Taehyung datang. Keduanya menunjukkan mimik serupa : terkejut melihat apa yang tengah terjadi.


“Taehyung!!” seru Jimin kaget.


“Uh, sial.” tukas Woobin. Ia harus segera pergi dari tempat ini, berbenturan dengan manusia tidak ada gunanya, itu hanya akan menambah masalah di clannya.


Jungkook sangat syok. Taehyung sedang di lantai memejamkan mata, menangis seperti kesakitan, entah apa yang dua orang tak dikenal itu lakukan pada temannya. Jungkook mengepalkan tangan kuat-kuat, ia akan menunjukkan siapa Jeon Jungkook sebenarnya.


Jimin sudah bergerak dengan sangat cepat ke arah Woobin, menendang tangan orang yang tak dikenal itu. Gerakan Jimin yang cepat itu bahkan hampir menyamai gerakan Woobin. Woobin sampai tidak sempat untuk bergerak melarikan diri.


Sementara Jungkook melawan Xiumin. Xiumin tidak ada niatan menyerang manusia, jadi ia membiarkan dirinya ketika Jungkook meninju rahangnya. Well damn, itu tinju yang cukup kuat, hobi tinju Jeon Jungkook memang bukan fiktif.


Xiumin menggeram namun ia mengambil kesempatan untuk lari dari tempat itu. Jungkook tidak mengejarnya, ada hal lebih penting lain yang harus ia lakukan. Ia membalikkan badannya dan melihat Taehyung sudah tak ada, sepertinya Taehyung langsung pergi saat Jungkook sedang berkelahi.


Sebuah benda sedikit berkilau terkena cahaya matahari menarik perhatian Jungkook. Ia memungut benda itu di lantai, lempengan yang terbuat dari silver. Kenapa ada benda seperti ini?


Jimin menendang perut Woobin satu kali. “Kalau kau berani macam-macam pada temanku, kau tidak akan kuampuni!”


Woobin mendengus dan membuang ludah. Ia mendorong badan Jimin lalu pergi melarikan diri dari tempat itu.


Jimin menoleh ke arah Jungkook. “Lho, mana Taehyung?”


“Tadi kulihat sepertinya dia terluka, orang-orang jahat itu pasti tengah membuli dan memerasnya.” tukas Jimin sebal. Jimin sudah berbalik pergi namun berhenti dan kembali menoleh pada Jungkook, “Tunggu apa lagi, kita harus mencari Taehyung.”


Jungkook mengangguk. Ia meremas lempengan perak itu dan diam-diam memasukkannya ke dalam saku.


.


.


Tidak perlu lama mencari Taehyung, teman mereka itu mengurung diri di kamar mandi. Jimin dan Jungkook sudah menduganya.


“Tae…” panggil Jimin mengetuk pintu toilet, “Buka pintunya.”


Terdengar isak tangis kecil dari dalam toilet. Taehyung masih menangis pasca rasa sakit yang ia derita. Ia menyalahkan dirinya yang merupakan vampire lemah, tak dapat melindungi diri, tidak punya kekuatan vampire yang bisa membantu pertahanan diri. Dengan mudahnya ia diserang dan dipermainkan vampire lain. Mungkin benar ia dianggap bayi karena ia sangat lemah dan tidak dapat melindungi diri sendiri.


Jungkook meringis, membayangkan Taehyung yang sedang menangis. “Kau terluka? Coba buka pintunya supaya kami lihat.”


Taehyung berusaha berhenti bersedu sedan. Ia menghapus air mata dan memandang ada lubang di bajunya, di depan dadanya, lubang seperti habis terbakar. Dan kulit dadanya yang terkena lempengan perak meninggalkan bekas membiru dan stuktur kulitnya seperti meleleh. Rasa sakit masih ada walau tidak sesakit sebelumnya.


Apa yang harus ia lakukan sekarang, ia tidak mungkin keluar dan membiarkan teman-temannya melihat apa yang terjadi, mereka pasti mempertanyakan kenapa dada Taehyung bisa seperti ini. Dan Taehyung tak dapat menjelaskannya, dia pun tidak ahli berbohong.


“A-aku baik-baik saja…” sahut Taehyung akhirnya namun tidak membuka pintu.


“Buka pintunya, Tae, kau membuat kami khawatir…” ujar Jimin memelas.


Taehyung menelan ludah. “A-aku hanya membutuhkan jaket… u-untuk menutupi pakaianku yang kotor dan robek. A-aku malu keluar seperti ini.”


Jimin mengerling ke arah Jungkook. Yang sedang memakai jaket bomber saat ini hanya Jungkook seorang. Tanpa berkomentar, Jungkook melepaskan jaketnya, menyisakannya hanya mengenakan T-Shirt hitam saja.


“Kau bisa pakai jaketku…” kata Jungkook.


Taehyung membuka pintu sedikit dan mengulurkan tangannya. Jungkook menghela nafas dan memberikan jaket itu ke tangan Taehyung. Bayi vampire itu kembali menutup pintu lalu cepat-cepat memakai jaket, menutupi dadanya yang luka.


“Apa kau mengenal dua orang itu?” tanya Jimin sambil menunggu Taehyung keluar, “Kenapa tampaknya dua orang itu seperti akan mengulitimu?”


Jungkook memberi senyum masam pada Jimin. Statement itu terlalu vulgar walau sebenarnya Jungkook setuju, tadi itu sempat membuatnya syok saat melihat Taehyung di lantai sementara ada dua orang yang sedang menyakitinya.


Pintu terbuka dan Taehyung keluar. Ia menunduk, matanya sembab dan basah pasca menangis. Jimin langsung lupa dengan pertanyaannya karena hatinya sakit melihat temannya itu. Tanpa panjang lebar, Jimin langsung memeluk Taehyung hati-hati, tidak ingin melukainya.


“Aigooo… gwaenchana?”


Taehyung mengangguk. Jungkook juga mendekat dan ia menepuk-nepuk kepala Taehyung. “Ada yang sakit?”


Taehyung menggeleng, Jungkook menghela nafas, tahu bahwa temannya itu tengah berbohong, pasti ada luka yang sedang disembunyikan Taehyung di balik jaket itu. Ia melihat bagaimana Taehyung mengancing jaket itu, menutup badannya rapat-rapat.


“Coba biar kami lihat lukamu…” ujar Jungkook sambil memegang lengan Taehyung.


“Anni..” ucap Taehyung cepat sambil berjalan mundur menjauh dari Jungkook, “Aku tidak apa-apa.”


Jimin dan Jungkook saling lirik, mereka tidak mungkin memaksa Taehyung jika Taehyung tidak menginginkannya.


“Kalau begitu jawab pertanyaan kami,” lanjut Jungkook, “Kenapa dua orang itu melukaimu? Apa kau dibully? Apa mereka memerasmu?”


“Mereka tampak seperti senior…” gumam Jimin pelan.


Taehyung menggeleng-geleng, bagaimanapun ia tidak bisa menjelaskan dengan sesungguhnya siapa yang tadi sudah menyerangnya. Ia harus mengarang cerita. “I-ini kesalahpahaman. Mereka menyangka aku adalah orang yang mereka incar. Me-mereka tidak membuliku.”


Jungkook menyipitkan mata tak percaya. Jimin memegang dagu, terlihat berpikir.


“Tapi kau dibuat sampai menangis kesakitan.” kata Jimin.


“A-aku hanya syok…” elak Taehyung menunduk, ia memeluk kedua lengannya sendiri, menutupi dadanya yang terluka akibat lempengan silver.


Jungkook menghela nafas. “Baiklah kalau begitu. Ayo kita ke kantin, kau pasti lapar karena belum makan.”


Taehyung memandang Jungkook, masih agak ragu dengan tawaran Jungkook itu. Apa mungkin ia tidak ditanyai macam-macam lagi? Ia hanya takut ketahuan bahwa dirinya adalah vampire. Ia takut kehilangan dua temannya.


“Kajja, Tae…” ujar Jimin mengulurkan tangan.


Akhirnya Taehyung pun bersedia diajak ke kantin oleh kedua temannya. Kejadian tadi sebetulnya menimbulkan bekas trauma di dalam diri Taehyung. Benda silver/perak begitu berbahayanya bagi para vampire. Dadanya mungkin akan melepuh dan bolong jika benda itu terus ditancapkan ke dadanya. Betapa mengerikannya senjata para hunter, yang melapisi peluru serta panah mereka dengan perak.


Jimin memandang Taehyung yang sedang makan, berusaha ceria seperti biasa seolah tidak mengalami musibah. Jimin mengepalkan tangan di bawah meja. Orang-orang tak beradat yang sudah menyakiti Taehyung membuat Jimin sangat marah. Dan bagaimana Taehyung tidak mau memperpanjangnya padahal bisa saja Taehyung melaporkannya pada ketua BEM.


Jungkook juga sebenarnya tidak puas dengan kejadian tadi. Seharusnya ia bisa memukul lebih banyak pada dua senior yang sudah menyakiti Taehyung dengan seenaknya itu. Tapi ada hal lain yang mengusik Jungkook… mengenai lempengan perak yang ia temukan…


🎃🎃


apakah Taehyung akan ketahuan bahwa dirinya adalah vampire?


Dan bagaimana nasib vampire yang lain ya? Tunggu saja.. Jangan lupa tinggalkan jejakmu. Gomawo