Vampire In The City

Vampire In The City
Yang Dulu Terjadi




Ruangan besar itu dikelilingi dengan dinding serba putih tanpa jendela. Berada di dalam sana membuatmu tidak akan tahu apakah di luar siang atau malam. Apalagi setiap korban yang dikurung tidak pernah melihat jam, dibius berulang kali membuat pikiran sudah tak bisa lagi mengingat bagaimana rasanya pernah berada di dunia luar.


Ada empat ranjang tempat tidur di sana. Tiga di antaranya ditempati oleh ‘tubuh project’ yang terbaring dengan berbagai selang di sana sini. Sekitar enam orang dokter/ peneliti hilir mudik di ruangan itu, berulang kali mengecek kondisi setiap project di monitor.


Vincent berada di ranjang paling pinggir. Ia membuka matanya dengan kelelahan seperti habis lari maraton. Ia lapar, haus dan sangat lemas. Tidak ada bagian tubuhnya yang tidak sakit. Kulitnya kering seperti baru terbakar.


Sudah berbulan-bulan lamanya dia berada di tempat yang bagaikan neraka ini. Apa kesalahannya sampai ia bisa berada di tempat seperti ini? Tidak adakah yang mau bertanggungjawab untuk apa yang ia rasakan?


Sebelumnya Vincent adalah penghuni panti asuhan di Gwacheon. Dia tidak punya kerabat dan tidak tahu orangtuanya. Dia merupakan anak baik, sangat ceria dan naif. Meski ia tidak memiliki orangtua tapi penghuni panti sudah seperti keluarganya sendiri. Ketika usianya beranjak 18 tahun, ia dikabarkan akan bekerja untuk pertama kalinya. Vincent sangat senang. Ia dibawa ke asrama yang juga berada di gedung ini. Ia pikir semua akan berjalan dengan normal dan baik, namun di hari kedua ia dibawa ke ruangan yang penuh dengan alat medis. Dan yang terjadi selanjutnya kau sudah bisa menyimpulkannya sendiri.


Vincent membuka mata dan melihat sekeliling. Ia berada di ruangan tempat ia biasa ada jika ia sadar dari obat bius seperti ini. Ia bisa menghirup bau cerutu yang sama hari ini. Sepertinya si penghisap cerutu datang lagi dan duduk seperti biasa di tempat duduk istimewanya di ruangan ini.


“Bagaimana perkembangannya?” tanya seorang pria dengan suara berat yang Vincent tahu sebagai si penghisap cerutu sekaligus Big Boss. Pria itu memakai topeng berwarna hitam membuat wajahnya tidak kelihatan. Setiap Big Boss itu datang ia menutupi wajah dengan topeng, mungkin ingin menyembunyikan identitasnya.


“Kenapa ranjang keempat kosong?”


“ProjectH14 beberapa jam yang lalu mati karena serangan jantung,” sahut seorang dokter, “Sepertinya tidak kuat mendapat sinar X dan radioaktif.”


“Mayatnya sudah dikremasi kan?”


Dokter itu mengangguk.


“Aku ingin project yang mati tidak meninggalkan bekas apapun di tempat ini. Musnahkan sampai menjadi debu.” Big Boss memberi smirk dan kembali menghisap cerutunya. “Manusia memang sepantasnya kembali menjadi debu.”


Mata Vincent berkaca-kaca. Meski ia mendengar seperti ini tapi tubuhnya sama sekali tidak dapat digerakkan, semua kaku. Vincent mengingat kalau Hyunseong alias ProjectH14 adalah orang pertama yang berkenalan dengannya semenjak Vincent dibawa ke tempat ini. Ia tak menyangka Hyunseong sudah mati karena serangan jantung. Ia berharap temannya itu bisa beristirahat dengan tenang di alam sana.


Terdengar suara kursi digeser menandakan Big Boss keluar dari tempat duduknya dan berjalan mendekati setiap ranjang demi ranjang. Vincent langsung menutup matanya, berharap pria itu tidak datang mendekat.


“Aku ingin segera mendapat hasil yang memuaskan,” ucap Big Boss dan berjalan mendekati ranjang yang terdekat, melihat project dengan nama ProjectL03 yang tubuhnya tengah dialiri setrum oleh beberapa dokter. “Sudah terlalu banyak project yang gagal, para investor mempertanyakan mana hasil yang kalian janjikan itu.”


Big Boss mengerucutkan hidung melihat di ranjang kedua, ProjectM65 yang badannya sudah sangat kurus seperti tulang yang hanya dibungkus kulit. Big Boss menyukai estetika jadi dia tidak ingin projectnya ada yang berpenampilan seperti itu meski berhasil sekalipun.


Sampailah ia di ranjang paling ujung, ranjang Vincent. Ia memandang ProjectV22 yang terbaring dengan mata terpejam, tampak lebih sehat dibanding project lainnya.


“Bagaimana dengan dia?” tanya Big Boss sambil menunjuk Vincent dengan dagunya.


“Dia berhasil melewati sinar X. Obat-obat yang sudah kami ramu akan memberikan efek padanya beberapa minggu lagi.” sahut salah satu dokter.


“Venomnya bagaimana?” tanya Big Boss.


“Oh… itu belum kami lakukan.”


Big Boss menendang meja besi dengan kesal membuat semua orang di ruangan itu terkejut dan tegang. “Venom yang terpenting! Aku tak peduli dengan obat-obatan lain yang menjadi uji coba kalian.”


“Tapi dia baru kemarin mendapat sinar laser–“


“Apa kau mau menggantikannya untuk mendapat venom?” tukas Big Boss mengancam dokter itu.


Dokter itu menggeleng dan menunduk takut.


“Lakukan sekarang juga!” perintah Big Boss dan dengan segera tiga orang dokter langsung bergerak untuk melakukan kemauan Big Boss itu.


Vincent tidak tahu apa yang terjadi, dia masih berpura-pura pingsan. Namun ia merasakan selang-selang di kulitnya dicabut dan ranjangnya didorong keluar dari ruangan ini. Vincent tidak mengerti, sebenarnya venom apa? Dia mau dibawa kemana?


Ia akhirnya membuka matanya dan melihat langit-langit lorong. Matanya pusing hanya melihat langit-langit yang terbuat dari silver itu. Dia belum pernah dibawa ke tempat seperti ini. Badannya merinding saat mendengar suara-suara erangan dari kejauhan, seperti suara monster saja.


Vincent melihat bagaimana salah seorang dokter membukakan pintu silver yang bertuliskan “Ancient Vampire”. Ia hampir menyangka ia salah membaca tulisan semacam itu. Vampire??


Suara erangan makhluk unknown itu semakin jelas terdengar. Vincent belum menyadari semuanya ketika ranjang yang ia tempati didorong keras. Saking kerasnya membuat posisi tidak stabil dan badannya tergelincir jatuh ke lantai dengan suara keras. Vincent mengerang kesakitan namun jantung berdegup begitu tegang karena suara makhluk itu semakin jelas terdengar.


Vincent berusaha bergerak saat ia mendengar pintu ditutup dan dikunci. Dokter-dokter yang membawanya tadi sudah meninggalkannya. Ia menelan ludah dalam-dalam. Tidak mungkin di ruangan ini ada vampire bukan?


Vincent tak sanggup menggerakkan kepalanya untuk melihat ada apa di ujung ruangan besar ini. Lampu merah tiba-tiba berpendar di ruangan, lampu dengan tulisan CAUTION merah menyala. Perasaannya semakin tidak enak karena ia mendengar suara pintu besi yang terbuka. Adrenalinnya semakin memuncak saat ia mendengar ada derap langkah mendekatinya dan suara monster itu yang semakin jelas terdengar.


Dalam hitungan detik ia merasakan rasa sakit seperti terbakar di badannya karena ada sesuatu yang mencabik dadanya. Vincent memekik kesakitan dan rasa ngeri itu semakin menjadi-jadi ketika monster itu menggigit bahunya.


.


.


.


Jungkook membuka mata, merasakan Taehyung sudah menjauhkan taringnya dan telah selesai menghisap darahnya. Jantung masih berdegup sangat keras di dalam dada karena betapa menakutkannya memori yang ia lihat barusan. Siapapun berada di posisi itu wajar saja bila berakhir sangat traumatis.


Taehyung mengusap bekas gigitan di kulit Jungkook. Ia belum berani membalas tatapan Jungkook, meski ia sudah merasakan seperti apa pergolakan emosi manusia di depannya ini.


“Tae…” ucap Jungkook.


Vampire itu akhirnya mengangkat wajah, membalas tatapan Jungkook. Ia melihat bagaimana ekspresi manusia itu yang seperti baru saja melihat sesuatu yang menyedihkan.


“Apa sindikat yang melakukan semua itu padamu?”


Taehyung mengangguk. Jungkook ternyata sudah melihatnya, bagaimana barbarnya perlakuan orang-orang itu.


“Itu sudah terjadi,” ujar Taehyung akhirnya. Ia memberi ekspresi tenang seolah tidak ada rasa sakit di dalam hatinya. “Sekarang karena kau sudah melihatnya, kau sudah tahu seberbahaya apa sindikat ini, Jungkook.”


“Aku tetap akan menolongmu.” ucap Jungkook cepat dan sungguh-sungguh.


Taehyung meringis dan mengalihkan matanya ke arah lain. Ada emosi terluka di matanya dan ia tidak mau menunjukkannya. “Sindikat ini sangat kuat, aku terlalu sombong saat mengatakan aku ingin membalas dendam.”


“Tidak ada yang mustahil, Tae. Dan aku ingin kau tahu kalau aku ada di pihakmu.”


Taehyung menoleh dan tersenyum tipis. Dia berterimakasih untuk ucapan Jungkook itu tapi Taehyung tidak akan menyeret siapapun ke dalam masalahnya. “Arra. Tapi aku tidak akan menarik kata-kataku kalau aku ingin kau mendapat hidup normal, Jeon.”


Mata Jungkook membesar.


“Aku sebaiknya bersembunyi lagi, Jeon.” Taehyung menundukkan wajahnya. “Aku terlalu membebani kalian semua.”


“Apa yang kau katakan ini.” tukas Jungkook memegang lengan vampire itu.


Taehyung menaikkan sebelah alis. “Memangnya kau ingin berpisah dengan Taehyung, temanmu yang innocent itu?”


“Ka-kalian bisa switch,” sahut Jungkook, “Tidak akan ada yang keberatan. Tapi kalian tetap harus switch.”


“Jinjja?” Taehyung memberi smirk, “Jadi kau pun masih ingin melihatku?”


“Kalian hanya memiliki kepribadian yang berbeda, selebihnya wajah kalian sama.”


Taehyung mendengus. “Yea, yea, aku pun rindu bertengkar dan adu mulut denganmu, Jeon.”


Jungkook memutar bola mata namun akhirnya tertawa juga. “Aku yakin aku dengan mudah tidak akan tertipu ketika kau dan Taehyung switch. Aku bisa membedakan kalian.”


Taehyung hanya menahan senyum. “Ini sudah hampir subuh… apa sebaiknya kita pulang?”


Jungkook menghela nafas panjang. Ia merasa kepalang tanggung jika pulang di waktu seperti ini dan untungnya kelas kuliah mereka nanti ada di siang hari. “Kita bisa tidur sebentar di sini sampai matahari terbit, bagaimana?”


Taehyung mengangkat bahu saja. Jadi Jungkook pun berbaring, merilekskan badannya yang kelelahan dan kesakitan. Meski mereka berbaring di tanah berumput namun tidak buruk juga. Vampire itu pun ikut berbaring dan melihat langit malam. Dia tidak menyangka dia akan hidup dan muncul seperti ini lagi. Mungkin dia masih bisa menikmati hidupnya.


“Jungkook…” ucap Taehyung tiba-tiba masih memandang langit, “Apa kau percaya dengan soulmate?”


Jungkook menoleh dan mengernyit bingung. “Soulmate? Teman sejiwa?”


“Yeah, kira-kira seperti itu.”


“Hmm… Tentu saja ada yang seperti itu bukan? Meski kedengarannya sangat langka.”


Taehyung mengangguk-angguk pelan. Mungkin memang ada juga yang seperti itu di kehidupan nyata dan tidak sepatutnya ia langsung menolak dan menutup diri. Kalau dipikir-pikir hanya kata soulmate yang menjawab pertanyaannya selama ini, mengenai kenapa ia hanya bisa meminum darah Jungkook dan mengenai keduanya yang bisa bertelepati. Walau memang belum bisa diketahui alasan dan latar belakangnya.


Jungkook menguap. Dirinya benar-benar sangat mengantuk. “Good nite, Tae…”


Taehyung menoleh dan melihat manusia itu yang sudah memejamkan mata. Sebisa mungkin ia akan mengusahakan hidup yang normal dan wajar untuk Jeon Jungkook.


.


.


.


Dongwook seperti kebakaran jenggot saat mendengar kabar bagaimana Jungkook berhasil lepas dan bahkan salah satu property miliknya habis hangus terbakar. Dia tidak percaya bahwa tukang pukul yang ia punya bahkan bisa dikalahkan begitu saja???


Dongwook melempar ipad yang barusan ia lihat mengenai laporan kerugian yang ia alami akibat terbakarnya gedung gudang tersebut. Bahkan ia merasa property-nya lebih mahal dibandingkan nyawa pria bernama Jeon Jungkook itu. Dongwook merasa seperti diremehkan oleh anak kecil.


“Apa Jungkook diculik sendiri saat itu?” tanya Dongwook berang pada salah satu asistennya.


“Kabar terakhir yang saya terima, Jungkook diculik dengan temannya juga. Kemungkinan itu adalah Kim Taehyung.”


Dongwook mendengus keras-keras. Dia semakin yakin kalau vampire itu yang bisa meloloskan Jungkook. Ini semakin mengesalkan, Dongwook tidak pernah menginginkan rencananya ada yang gagal berantakan seperti ini. Dia semakin tertantang untuk mendapatkan Taehyung.


“Dan mengenai ProjectV22 yang pernah Anda tanyakan,” lanjut asistennya, “Saya sudah mendapatkan info bahwa ada salah satu peneliti kita yang mengingat ProjectV22. Dia mengatakan kalau project ini satu-satunya yang selamat dari ancient vampire dan mendapat venomnya.”


“Huh?” Dongwook membalikkan badan dan menatap asistennya. “Dia salah satu vampire mutan yang kita buat?”


“Benar.”


Dongwook langsung tersenyum panjang. “Adakan pertemuan dengan peneliti itu, aku mau mendengar detailnya.” ucap Dongwook. Moodnya cukup terbantu dengan informasi ini.


“Baik, Boss.”


🎃🎃



Apa lagi sih dongwook.. apa lagi... 😤


jangan lupa berikan jejak..