
Jungkook diajak bicara oleh Seokjin di taman belakang di rumah itu. Hati Jungkook masih panas walau tidak sepanas saat ia seruangan dengan Taehyung tadi. Jungkook masih marah… kesal karena kepribadian Taehyung ini lagi-lagi membuatnya frustasi. Dan entah apa yang mau dibicarakan Seokjin padanya saat ini.
Seokjin menatap Jungkook lurus-lurus. Sejak pertama bertemu Jungkook, Seokjin mempercayai bahwa pria itu adalah pria baik, dia hanya sial saja karena harus berteman dengan vampire dan orangtua yang terbunuh oleh vampire. Tapi Seokjin merasa Jungkook berusaha memisahkan antara dendam dan yang bukan. Buktinya Jungkook tampak cukup peduli pada Taehyung.
“Aku harus membawamu ke sini,” kata Seokjin, “Sebelum kau dan Taehyung saling mencakar satu sama lain.”
Jungkook mendengus dan tidak membalas tatapan vampire Alpha itu. Kalaupun ia dan Taehyung saling mencakar, Jungkook akan meladeninya. Ia akan melawan Taehyung untuk membuktikan dia serius ingin Taehyung yang dulu kembali lagi.
“Taehyung adalah anggota clanku,” lanjut Seokjin, “Kewajibanku adalah melindunginya. Aku tak bisa membiarkanmu datang dan langsung menyerangnya begitu.”
“Aku tidak menyerangnya!” tukas Jungkook, “Aku hanya kesal karena dia bukan Taehyung yang dulu.”
“Ini kompleks, Jungkook-ssi. Kau tidak bisa dengan simplenya mengatakan kau ingin Taehyung yang dulu. Dia adalah Taehyung dengan dua kepribadian. Tidak semua orang mengalaminya dan kau tak bisa men-judgenya seperti itu.”
“Aku tidak men-judge-nya. Aku hanya mengutarakan kalau dia sudah merusak hidup temanku. Aku ingin dia pergi, aku ingin Taehyung yang dulu.” Alis mata Jungkook memicing tajam, menandakan masih ada kekesalan di dalam hati. Dia masih tidak terima bahwa Taehyung merokok.
“Aku mengerti,” ucap Seokjin dengan senyum perlahan, “Aku melihat bahwa kau peduli padanya.”
Jungkook mengernyitkan mata pada Seokjin. “Apa tidak ada cara untuk membuatnya kembali seperti dulu?”
Seokjin tertawa pelan dan mengangkat bahu. “Kalau kau tidak nyaman dengan keberadaannya, kau bisa mengacuhkannya.”
Jungkook menggeleng tegas. “Tidak bisa. Dia temanku, aku tidak mungkin bisa mengacuhkannya dan pura-pura lupa akan semua yang sudah terjadi.”
“Well…” Seokjin mengangkat kedua alisnya dan memasang smirk. “Setiap vampire memiliki kekuatan spesial dan apa kau tahu kalau kekuatan vampire-ku adalah dapat memanipulasi memori orang lain? Dengan kekuatanku aku bisa membuatmu lupa akan Taehyung… sehingga kau tidak perlu stress dan merasa frustasi tiap bertemu dengannya.”
Jungkook tercengang mendengarnya. Ia menatap Seokjin dengan mata membesar.
“Mungkin itu bisa menjadi jalan keluar yang baik untuk kalian berdua,” lanjut Seokjin menaikkan dagu seolah menantang, “Kau tidak akan mengingatnya lagi dan kau tinggal menjalani hidupmu yang normal tanpa perlu disibukkan dengan perkara ini.”
“K-kau bisa menghapus memori?” tanya Jungkook terhenyak.
“Bisa.” sahut Seokjin tenang. “Tapi aku tidak melakukannya dengan sembarangan. Untuk kasus seperti ini, aku melakukannya jika kau memang mau. Tapi jika tidak aku takkan memaksa.”
Jungkook mengepalkan tangan kuat-kuat. Jika memorinya mengenai Taehyung terhapus, ia sudah tidak akan berteman dengan Taehyung, mereka tidak akan pernah ada urusan lagi ditambah dengan Taehyung yang bersikap dingin padanya. Tapi Jungkook tidak menginginkannya…terlalu berat untuknya. Dia ingin memperbaiki hubungan pertemanan mereka dan kembali dekat seperti dulu.
“Tidak perlu.” jawab Jungkook akhirnya, “Aku tidak ingin memoriku dihapus. Aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini.”
“Begitu?” Seokjin cukup terkesan mendengar jawaban Jungkook, “Tapi sebagai Alpha aku tidak mau kau membahayakan keselamatan Taehyung walau aku tahu dia lebih kuat darimu.”
Jungkook tersenyum tipis. “Oh really? Tapi aku jago boxing dan mahir berolahraga, tubuhku ini kuat.”
Seokjin memberi senyum dan eye smile. Jungkook mungkin tidak tahu kalau Taehyung punya kekuatan destruction yang bisa mematahkan tulang dan mencabik daging dengan tangan kosong.
“Aku percaya bahwa tujuanmu pada Taehyung itu baik, Jungkook-ssi. Kakakmu adalah pacarku, aku pun ingin melindungimu karena itu juga yang menjadi keinginan kakakmu.”
“Oh ya ngomong-ngomong aku sedang membangun tempat latihan dan olahraga di basement, aku akan senang jika kau pun sering datang ke rumah ini bersama kakakmu, kita bisa berlatih bersama.” ujar Seokjin.
“Apa tujuanmu? Apa akan ada peperangan sampai kau melakukannya?”
Seokjin hanya tertawa saja. “Mempersiapkan diri adalah hal yang wajib, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita. Kau dan Soojung selalu diterima di rumah ini. Aku pun berencana ingin mengundang kalian makan malam di rumah ini, memperkenalkan anggota clan dengan resmi. Kita bisa membangun hubungan yang baik meski kita manusia dan vampire.”
Jungkook menatap Seokjin. Vampire itu cukup berkelas dari segi kata-kata dan attitudenya, Jungkook percaya bahwa Seokjin tidak akan menyakiti Soojung dan ia pun melihat bahwa kakaknya sangat mencintai vampire itu. Jadi sepertinya rencana Seokjin bukanlah rencana yang buruk juga.
“Ah dan Jimin juga…” tambah Seokjin, “Dia pun sangat diterima baik di rumah ini.”
Jungkook mengangguk perlahan. Dia sebenarnya sedikit iri karena Jimin masih bisa dekat dengan Taehyung, keduanya tetap berteman dekat tak peduli bahwa Taehyung yang sekarang memiliki kepribadian yang jauh berbeda dibanding sebelumnya.
“Kau mungkin belum bisa menerima kepribadian Taehyung yang sekarang,” ujar Seokjin, “Tapi aku berharap suatu saat nanti kalian bisa berdamai. Tak peduli kepribadian apapun yang dimiliki temanmu.”
Manusia itu memberi senyum tipis saja. “Baiklah kalau begitu… Aku permisi pergi.” Jungkook membungkuk sopan lalu berbalik pergi meninggalkan Seokjin. Vampire itu memandang kepergian Jungkook dengan senyum misterius. Ini menarik… Dia mendapat firasat bahwa Jungkook justru akan sangat membantu Taehyung.
Sementara itu Taehyung masih di balkon. Ia melihat ke bawah, melihat Jungkook yang sedang berjalan meninggalkan rumah kediaman Kim Brothers. Hatinya masih jengkel. Ia tak mau mengatakan dia terluka dengan sikap Jungkook, dia lebih memilih kalau emosinya saat ini adalah jengkel dan marah. Berkali-kali yang Jungkook katakan padanya adalah bagaimana ia ingin Taehyung menghilang lenyap, berharap Taehyung innocent kembali. Taehyung rasanya ingin tertawa. Manusia itu masih saja bersikeras beranggapan bahwa dia bukanlah Taehyung.
Taehyung membuang muka dan masuk ke dalam kamar. Ia melempar bungkus cerutu yang sudah terbuka dengan kesal, membuat isinya jatuh hancur di lantai. Dia tak peduli. Taehyung mengambil bungkus cerutu merk lain, membukanya dengan kasar dan mengeluarkan satu batang. Ia menyalakannya dan menghisapnya dalam-dalam.
Taehyung duduk di lantai, berusaha mengenyahkan perasaannya yang terganggu dengan ucapan Jungkook. Dan ingatan itu kembali lagi… rasa sakit fisik yang ia terima yang dilakukan orang-orang jahat itu, yang menjadikannya kelinci percobaan, membuatnya tidak bisa melihat matahari, membuatnya tak bisa merasakan makanan berhari-hari. Orang-orang barbar yang menganggapnya sebagai bahan penelitian, tidak mempedulikan dirinya yang memohon supaya dilepaskan.
Taehyung mengepalkan tangan dengan kencang. Moodnya semakin suram dengan mengingat kenangan pahit. Ia kembali menghisap cerutu, menjatuhkan badannya ke lantai dan memejamkan mata. Kepulan asap cerutu melayang terbang di udara. Mengapa dirinya tiba-tiba merasa hidupnya begitu sia-sia dan memuakkan begini?
Sudah dua jam Taehyung seperti itu. Bungkus-bungkus cerutu berserakan di lantai, dia sudah mencoba setiap cerutu itu. Dan sial moodnya masih saja menyedihkan. Dia pikir cerutu mengandung semacam nikotin yang akan membuat dirinya melupakan masalah. Ataukah itu tidak berlaku untuk vampire?
“Shit.” Taehyung melempar cerutu yang baru ia hisap satu kali. Masih berbaring di lantai, ia mengambil bungkus lain, mengeluarkannya dengan tak berenergi. Entah sudah berapa effort yang ia keluarkan hanya untuk mencari tahu tentang cerutu, yang bahkan membuat image dirinya direndahkan orang lain kaarena dianggap perokok dan urakan. Tidak, dia tidak perlu memikirkannya. Untuk apa ia peduli akan apa yang orang lain pikirkan tentangnya. Ini hanya mengenai dirinya. Dia seperti ini untuk dirinya, tidak ada sangkut paut orang lain.
“Pergilah dan biarkan Taehyung yang asli kembali lagi…”
Kalimat itu kembali terngiang, kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut Jungkook. Saat itu Taehyung tidak menunjukkannya, tapi sebenarnya ia cukup tertohok. Ucapan Jungkook itu tidak sepatutnya mempengaruhinya seperti ini, pasti karena ada hubungan dekat kepribadiannya yang lain itu yang menyebabkannya merasa sangat terluka? Dan itu mungkin juga karena kepribadiannya yang lain sangat bergantung pada Jungkook, menganggapnya sebagai teman sejati.
“Cih.” Taehyung mendengus. Ia memejamkan matanya dan mulai menghisap cerutu baru itu, entah jenis yang mana dan merk apa, dia sudah tak memperhatikan. Vampire itu menghisapnya dan menghembuskannya ke udara, menghirup aroma yang dikeluarkan cerutu itu. Tiba-tiba ia merasakan aroma familiar… aroma yang dulu sekali selalu ada saat ia disekap dan dibius.
Mata Taehyung membuka. Sebelah bola matanya berubah putih dan ia langsung duduk tegak. Pikirannya saat ini fokus pada aroma cerutu yang ia cium. Tak salah lagi, ini adalah aroma cerutu yang sama yang dulu selalu dihisap oleh Big Boss yang memakai topeng hitam itu.
Taehyung memandang cerutu yang ia pegang. Ada tulisan Gurkha di cerutu itu. Taehyung mengingat bahwa nama cerutu yang ia beli ini adalah Gurkha Black Dragon, termasuk cerutu yang cukup sulit ia dapat dan dengan pemesanan yang lama.
Akhirnya ia menemukannya… cerutu yang selalu dihisap oleh Big Boss. Ini sangat membantunya jika cerutu Gurkha pun merupakan cerutu langka dan terbaik. Mungkin dia pun bisa tahu siapa saja yang menjadi konsumen setia untuk nantinya akan membawanya menemukan sang Big Boss.
Taehyung tersenyum panjang masih memperhatikan cerutu itu. Setidaknya satu masalahnya sudah berkurang. Sekarang ia harus mencari cara bagaimana menemukan komunitas cerutu semacam ini. Ia tahu tempat yang paling mudah untuk mencarinya adalah tempat dimana orang-orang bersenang-senang : pub dan clubbing.
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan like dan commentnya