
Haiii.. mian author baru bisa update lagi karena sibuk 😥
masih menunggu novel inikah? masih ingatkah? author nangis kejer nih kalau terlupakan
😥😥
Mari kita lanjutkan episodenya. Dari sini mulai angst ya. Selamat membaca
🎃🎃
Malam itu Jungkook mengetuk pintu kamar Pamannya. Hari ini pamannya off bekerja jadi Jungkook merasa ini momen tepat untuk mengobrol dengan hunter itu.
“Masuk…” seru Donghyuk dari dalam.
Jungkook membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Pamannya sedang duduk di meja kerja, di depan laptop, seperti baru saja membuka sebuah situs namun segera menutupnya untuk menoleh siapa yang masuk.
Donghyuk memberi senyum pelan. “Oh Jungkook, ada apa?” Pria itu pun menutup laptopnya dan berdiri mendekati keponakannya.
“Bolehkah kita mengobrol, Paman?” tanya Jungkook. Dia sudah habis akal dengan hal-hal yang terjadi beberapa hari ini. Dan Jungkook sudah tak tahan membendungnya. Ia harus membereskan masalahnya ini.
“Tentu saja,” sahut Donghyuk dan menarik Jungkook untuk duduk di pinggir tempat tidur, “Katakan padaku, apa yang mau kau bicarakan?”
Keraguan itu tetap saja ada, apa legit jika memberitahu pamannya mengenai ada temannya yang merupakan vampire? Jungkook belum begitu siap mengutarakannya jadi dia memutuskan untuk mengobrol berputar-putar terlebih dahulu.
“Anni, aku hanya penasaran, Paman, mengenai buruan besar beberapa hari lalu. Apa ada lagi vampire yang sudah tertangkap?”
Donghyuk cukup terheran mendengar pertanyaan keponakannya namun ia menganggap itu karena Jungkook sangat membenci vampire.
“Tidak ada lagi vampire yang tertangkap, Jungkook-ah. Mereka cukup cepat dan berhasil kabur hanya 4 vampire saja yang berhasil tertangkap.”
“Ohh begitu.. Lalu apa yang akan terjadi pada 4 vampire yang tertangkap itu, Paman?”
Donghyuk menimang apa ia layak memberitahu Jungkook mengenai hal itu. “Ditangkap untuk diinterogasi mengenai keberadaan vampire lain.” jawab pria itu akhirnya.
“Jadi tidak dibunuh?”
“Informasi lebih penting, Jungkook-ah. Dengan menahan mereka setidaknya mengurangi juga tindakan mereka untuk menghisap darah manusia kan?”
Jungkook tercenung. Benar juga. Dengan menangkap vampire itu akan menahan aktivitas mereka yang suka membunuh dan menghisap darah manusia. Itu tindakan yang sangat baik untuk keberlangsungan hidup manusia.
“Lalu apa masyarakat awam bisa melaporkan jika mereka melihat vampire di sekitar mereka?”
Donghyuk menaikkan sebelah alis, lagi-lagi heran dengan pertanyaan Jungkook. “Kenapa, Kook? Apa kau mencurigai seseorang yang merupakan vampire?”
“Temanku–” Jungkook langsung merem kata-katanya,”Maksudku… temanku sepertinya mencurigai seseorang merupakan vampire.”
“Siapa? Kim Taehyung?”
Entah kenapa Jungkook langsung menggeleng-geleng panik mendengar nama itu disebut, dia juga tak tahu mengapa ia tidak ingin Pamannya tahu mengenai identitas Taehyung, berbanding terbalik dengan tujuan kedatangannya ke kamar ini.
“Ada teman SMA-ku, Paman… hehe…”
Donghyuk hanya mengedikkan bahu. “Temanmu bisa melaporkan via email ke markas hunter. Biasanya untuk mengecek nanti akan ada hunter yang ditugaskan.”
“Bukan seperti di buruan besar?” tanya Jungkook lagi.
Donghyuk tertawa pelan. “Tentu saja tidak, Jungkook. Hanya satu hunter saja yang dikirim, terkadang laporan masyarakat awam juga belum tentu benar. Buruan besar hanya akan dilakukan ketika markas yakin 100% dengan informasi yang diterima.”
Jungkook mengangguk-angguk mengerti. “Apa Paman bisa memberikan alamat emailnya? Supaya aku bisa memberikannya pada temanku.”
Donghyuk pun memberitahukan alamat email yang dimaksud pada keponakannya. Jungkook tidak tahu apa yang sedang ia lakukan ini, tapi sesuai dengan prinsip yang ia pegang semula, ia harus membalaskan dendam pada vampire. Dan jika ia sudah memperoleh kesempatan mengetahui identitas seseorang yang merupakan vampire, bukankah seharusnya ia melaporkannya?
***
Taehyung berdiri di depan pintu kelas sejak tadi. Sudah 30 menit lebih awal dari jam perkuliahan, Taehyung berdiri di sana. Ia menunggu Jungkook. Taehyung sudah berkomitmen akan membereskan masalahnya dengan Jungkook. Dia akan mengikuti saran Yoongi untuk bicara heart to heart dan mengembalikan hubungan persahabatan mereka. Taehyung sangat optimis dia bisa berbaikan kembali dengan Jungkook. Bayi vampire itu akan mendengarkan setiap pemikiran dan anggapan Jungkook… ia pun tidak akan keberatan untuk memberitahu identitas dirinya dan berharap Jungkook bisa paham dengan keadaannya.
Dari kejauhan Taehyung sudah melihat temannya itu yang sedang berjalan menuju kelas. Jungkook terlihat melamun dengan wajah kuyu, tidak menyadari bahwa sudah ada seseorang yang menunggunya.
Taehyung berlari pelan mendatangi Jungkook, sudah tak sabar untuk menyelesaikan masalah mereka. “Jungkookie…”
Jungkook kaget. Ia langsung berhenti mendadak dan mengangkat wajah, terkejut melihat Taehyung berdiri di depannya, memasang boxy smile dan puppy eyes.
Geez… apa lagi sekarang. Otaknya sudah cukup mumet dengan berbagai spekulasi dan pemikiran. Kemunculan Taehyung ini hanya akan memperburuk suasana hati.
“Mari kita bicara, Jungkookie…” ujar Taehyung memberi senyum sehangat mungkin, “Aku akan mendengarkan apa yang menjadi permasalahanmu.”
Jungkook tersentak sesaat. Taehyung ingin mendengarkan masalahnya? Jungkook menyadarkan dirinya secepat mungkin. “Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Sebelum Jungkook kembali berjalan, Taehyung mencegatnya dengan memblok jalannya. “Kita bisa bicara heart to heart, Jungkookie.”
Jungkook mendengus pelan. “Mwo?”
Apa ia tidak salah dengar? Apa Taehyung sedang bercanda?
Taehyung memandang Jungkook dengan penuh harap. Dia sangat ingin segera menyelesaikan masalah mereka dan sejujurnya Taehyung juga penasaran apa yang membuat Jungkook berubah padanya.
“Kau ingin bicara hati ke hati?” tukas Jungkook setengah mencemooh. Taehyung mengangguk lugu. Kepala Jungkook sudah ingin meledak, dia bisa saja langsung meluapkan kemarahan dan kebenciannya sekarang.
Jungkook akhirnya memberi smirk. “Kalau itu yang kau mau, Kim Taehyung. Ikut aku.” Jungkook berjalan duluan. Ia tidak jadi ke kelas seperti tujuannya semula, padahal kelas akan dimulai 10 menit lagi tapi Jungkook berjalan menjauhi kelas, menuju ke tempat yang jauh dari keramaian supaya keduanya bisa bicara ‘heart to heart’.
Di belakangnya Taehyung mengikuti Jungkook dengan hati ringan. Ia terlalu naif karena berpikir bahwa hari itu ia dan Jungkook akan menyelesaikan masalah. Taehyung tak akan pernah menyangka bahwa apa yang akan diungkapkan Jungkook merupakan mimpi terburuknya.
Langit begitu cerah dan awan berarak dengan cantik seperti gumpalan kapas. Taehyung menengadah ke langit dan tersenyum. Cuaca yang cerah adalah pertanda baik. Semua pasti akan berjalan dengan baik.
Jungkook berhenti. Badannya memunggungi Taehyung. Jungkook tidak pernah ada rencana untuk mengobrolkan masalahnya dengan Taehyung. Jungkook hanya berniat untuk mengabaikan Taehyung dan menganggapnya tak pernah ada. Tapi vampire itu dengan berlagak polosnya ingin bicara hati ke hati, ingin mengetahui perasaannya selama ini. Jungkook tak segan-segan akan memberitahunya.
“Jungkookie…” ucap Taehyung menunggu.
Manusia itu membalikkan badan. Ia menatap Taehyung lurus-lurus. “Kau ingin aku bicara hati ke hati denganmu?”
Taehyung mengangguk penuh harap. Jika Jungkook mau terbuka padanya, vampire itu dengan siap akan menjadi pendengar.
Jungkook mendengus. “Aku akan menceritakan kisahku baik-baik padamu. Kau mau mendengarnya?”
Taehyung mengangguk kembali. Seluruh perhatian dan pikirannya sekarang berfokus pada Jungkook.
“Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku sudah tidak mempunyai orangtua. Mereka mati sejak aku masih kecil. Lebih tepatnya mereka tewas terbunuh.”
Mata Taehyung membesar, terkejut. Meski ia tidak pernah mengingat orangtua dan keluarganya sendiri tapi Taehyung bisa memahami seperti apa rasa kehilangan yang dirasakan Jungkook.
“Sekalian aku juga akan memberitahumu mengapa aku sangat membenci vampire.”
Sekujur tubuh Taehyung mendadak beku mendengar kalimat Jungkook, seperti tersambar petir. Kerongkongannya seperti tercekik dan tertahan sesuatu. Kenapa Jungkook kembali membahas mengenai kebenciannya terhadap vampire padahal Taehyung sudah sempat melupakannya?
Jungkook memandang Taehyung dengan pandangan menusuk-nusuk. Ada pancaran marah dan benci di mata Jungkook saat ini. “Orangtuaku… dibunuh oleh vampire.”
Jika Taehyung adalah manusia dan bisa bernafas, rasanya ia seperti kehilangan oksigen. Dada Taehyung langsung terasa sesak saat mendengar pernyataan Jungkook. Penyebab Jungkook membenci vampire adalah karena orangtuanya mati dibunuh vampire. Taehyung ingin sekali langsung menghilang dari tempat ini. Pembicaraan heart to heart tidak sanggup ia terima jika seperti ini jadinya. Lagipula apa yang membuat Jungkook mengatakannya padanya? Apakah ini yang menjadi masalah Jungkook selama ini? Lalu apa hubungannya dengan Jungkook mengabaikan Taehyung selama ini? Atau jangan-jangan…
Taehyung menatap Jungkook dengan mata membesar, mata yang nanar.
“Sejak kecil…” Jungkook tertawa penuh kepahitan, “Sejak kecil aku sangat marah dan membenci vampire. Aku ingin membalaskan dendam pada vampire… Karena vampire… karena vampire aku kehilangan orangtuaku!”
Seperti ada batu tersumbat di tenggorokan, Taehyung tak sanggup menelan apapun. Tidak… jangan katakan… jangan katakan bahwa Jungkook membicarakan hal ini sekarang itu karena……
“Dan aku tak menyangka, aku bahkan ditakdirkan untuk berteman dengan salah satu dari mereka!” lanjut Jungkook dingin.
Taehyung merasa jantung seperti ditusuk belati mendengar ucapan Jungkook. Ini mimpikah? Jungkook tidak sedang mengatakan bahwa ia tahu identitasnya kan?
“Kau adalah vampire.” tandas Jungkook. Suara yang sarat dengan kekecewaan, marah dan rasa jijik.
Taehyung menggeleng-geleng. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia tak pernah menyangka bahwa penyebab Jungkook mengabaikannya adalah karena Jungkook sudah tahu identitasnya. Sejak kapan? Darimana Jungkook mengetahui hal itu?
“Selama ini kau membohongiku. Kau adalah vampire! Kenapa kau berusaha menjadi temanku?” tukas Jungkook, matanya mulai merah, menahan rasa marah sekaligus emosi bertubi-tubi dalam dada. Begitu banyak spekulasi di benaknya tentang tujuan Taehyung menjadi temannya. Kenapa vampire harus berusaha berteman dengan manusia? Kenapa vampire tidak mencari teman sesama mereka saja?! Jungkook merasa ia tertipu dan menjadi korban. Apalagi sejak lama dirinya sangat membenci vampire.
“Jungkook… a-aku bisa menjelaskannya…” Air mata Taehyung mulai mengalir.
“Sekarang kau sudah tahu kan kenapa aku membenci vampire?”
Taehyung menggeleng-geleng. “Jungkookie…”
“Aku tidak bisa berteman dengan vampire…” kata Jungkook pahit, “Bagiku itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.”
“Andwae…” isak Taehyung sangat terluka. “Andwae, Jungkook.”
Jungkook memberi senyum hambar pada Taehyung. Seharusnya dari awal ia tidak perlu membuka diri dan berteman dengan siapapun. Seharusnya dia tetap sosiopath seperti dulu karena pada akhirnya teman pun pasti akan mengecewakan. Jungkook tidak bisa membalaskan dendamnya dengan sempurna karena terhalang dengan hubungan pertemanan ini.
“Kau sangat mengerikan. Kau monster.” tukas Jungkook karena ia tak akan melupakan bagaimana pertama kalinya ia melihat vampire di depan matanya : Taehyung yang matanya setengah putih itu menghancurkan tulang dengan mudahnya, seperti monster, tidak berperasaan. Dan akhir-akhir ini Jungkook pun membayangkan apa hal itu yang dialami orangtuanya ketika mati di hadapan vampire.
Taehyung mengisak. Ucapan temannya itu terlalu sakit untuk diterima. “A-aku bukan monster..”
Jungkook tertawa mendengus. “Aku selalu bertanya-tanya kenapa dunia ini harus ditempati vampire? Dunia ini tidak pantas untuk vampire.”
Taehyung semakin menangis, air mata mengalir deras di pipi. Dia selalu meminta teman sejati seumur hidupnya… tapi ia tak paham bahwa teman sejati pun sepertinya terlalu mewah untuk dirinya. Ini bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan… Jungkook tak hanya mengetahui identitasnya, tapi juga menolak dan membenci eksistensinya.
Jungkook mengepalkan tangan erat-erat, hati kecilnya terluka melihat Taehyung yang menangis seperti itu. Jungkook ingin mundur ke belakang, menyesali setiap kata-kata menyakitkan yang sudah ia ucapkan. Namun sisi gelapnya mencegahnya untuk menyesal, menyuruhnya untuk tidak perlu mengasihani vampire. Vampire tidak pantas dikasihani, vampire tidak pantas hidup. Begitu pun vampire di depannya sekarang.
“Aku tidak pernah meminta diriku untuk dilahirkan menjadi vampire…” isak Taehyung parau, “Aku tidak pernah memintanya.”
Mata Jungkook berkaca-kaca dan ia membuang wajah, tak tahan terus melihat rasa sakit di wajah temannya.
“Apa salahku kalau aku adalah vampire?” isak Taehyung memohon. Tangannya memegang dadanya yang sakit dan sesak. Ia adalah vampire tapi mengapa ia merasakan rasa sakit hati yang amat sangat sekarang.
Jungkook memandang tanah, berusaha meneguhkan hatinya untuk menyudahi pembicaraan ini. “Aku tak dapat berteman dengan vampire.” Jungkook memandang gelang yang ia pakai. Gelang itu adalah gelang persahabatan yang pernah dibuat Taehyung, gelang yang selama ini selalu dipakai Jungkook. Kalau dipikir lagi, ia tidak perlu memakai gelang ini.
“Gelang ini pun…” Jungkook melepaskan gelangnya, “Aku sudah tidak membutuhkannya.”
Taehyung menggeleng-geleng dengan air mata yang sudah menetes-netes ke tanah. “Kumohon, Jungkook…. Aku minta maaf kalau diriku adalah vampire. Tapi aku mohon tetaplah menjadi temanku…”
Dunia Taehyung seperti runtuh di depan matanya saat Jungkook melempar gelang itu ke lantai seolah tidak peduli bahwa makna gelang itu sangat berarti untuk Taehyung. Vampire itu menangis semakin menjadi.
Jungkook sudah tak tahan berdiri di tempat ini. Emosinya sangat tidak stabil. Segala sesuatu membuat perutnya mual. Kenapa vampire menangis? Kenapa vampire menangis hanya demi teman manusianya?
“Enyahlah…” tukas Jungkook untuk terakhir kalinya, lidahnya terasa begitu sangat pahit, sepahit hatinya sekarang. “Aku tidak bisa berteman denganmu lagi.” Dengan kata-katanya yang setajam pisau itu, Jungkook pun berlalu pergi meninggalkan Taehyung yang masih menangis.
Taehyung menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Pada akhirnya nasibnya selalu seperti ini, menyedihkan seperti ini. Jungkook sudah menolaknya… bahkan kalaupun ia mati, sepertinya Jungkook tidak akan peduli lagi.
Langit yang cerah ternyata tidak selalu pertanda segala sesuatu berjalan dengan baik. Seperti sekarang… hati Taehyung sangat hancur berkeping-keping. Gelang persahabatan tergeletak di tanah, seolah menjadi saksi bagaimana mimpinya sudah hancur tak berbentuk.
🎃🎃
😭😭 kasian banget taehyung nya.
Jangan lupa berikan like dan tinggalkan komentarnya mengenai pendapatmu. Jika suka jangan lupa favorit, vote dan rate 5 ya. Thankies