
Seokjin berpapasan pagi itu dengan Soojung di lorong. Sebenarnya dari kejauhan Seokjin sudah bisa mencium aroma wanita itu, namun ia pura-pura saja tak menyadarinya sampai mereka berpapasan. Vampire itu berusaha mengajak Soojung berbicara.
“Pagi, Soojung…” gumam Seokjin pada wanita berparas cantik tersebut.
Soojung menggigit bibir dan hanya menunduk. “Pagi, Mr. Kim.”
“Aku lihat sepertinya kau menghindar dariku beberapa hari ini?”
Soojung mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Seokjin. Dia tidak bermaksud melakukannya… namun ia merasa hubungan dosen dan mahasiswa sangat tidak sehat jika mengarah ke arah romance.
“Kita harus meluruskan beberapa hal, Soojung. Kita perlu bicara.”
Mahasiswi itu menelan ludah. “Ti-tidak perlu ada yang dibicarakan, Mr. Kim.”
Seokjin memandang Soojung tak percaya. Bukankah wanita itu yang menciumnya duluan di Halloween? Dan mereka belum membicarakannya, apa makna dari semua itu. Dua insan berciuman pasti ada sesuatu bukan? Keduanya tidak sedang mabuk saat itu, Soojung melakukannya dengan kesadaran 100%, tapi mengapa sekarang seolah wanita itu ingin melupakan momen tersebut?
“Nanti sore kita bisa membicarakannya sepulang kuliah.”
Mata Soojung membesar. Ia pun menyadari bagaimana orang-orang di sekitar sedang penasaran memperhatikan mereka, ingin tahu apa yang membuat seorang dosen dan mahasiswi mengobrol serius seperti ini di lorong. Akankah orang-orang mencurigai Soojung sebagai gadis penggoda? Lagipula sebelumnya sudah ada rumor tak sedap mengenai perilaku Kai pada Seokjin yang dianggap sedang memperebutkan mahasiswi di kampus. Demi Tuhan. Soojung tidak terlalu peduli dengan rumor mengenai dirinya, namun jika ini merugikan dosennya, wanita itu tidak akan tinggal diam.
“Ma-maaf, Mr. Kim, tidak ada yang ingin kubicarakan.”
“Wae? Tidak ada hal yang ingin kau katakan mengenai apa yang terjadi di Halloween?”
Soojung menelan ludah. Ia menggeleng dengan berani. “I-itu hanya kesalahan… hanya kecelakaan.”
“Mwo?” Seokjin tak percaya mendengarnya.
“Mr. Kim, maafkan aku, a-aku harus buru-buru karena ada kuliah…” Soojung langsung angkat kaki dari tempat itu, sudah tidak melihat lagi bagaimana ekspresi dosennya. Ia menggigit bibir kuat-kuat. Ia menguatkan dirinya bahwa yang ia lakukan ini sudah benar. Perasaannya saat itu pada Seokjin hanya sementara, hanya ombak kecil yang datang dan yang sebentar lagi akan pergi.
Seokjin berdiri di sana menatap kepergian Soojung dengan nanar. Padahal Seokjin merasakan perasaan spesial pada Soojung… padahal untuk pertama kalinya Seokjin tertarik pada wanita… Tapi tampaknya semua kembali lagi dari nol.
***
Namjoon diam-diam mengikuti Hoseok, manusia yang sudah mencurigainya sebagai vampire. Dalam jeda waktu ke mata kuliah berikutnya, Namjoon melihat bahwa Hoseok lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Sendirian. Sepertinya manusia itu lebih memilih melakukan apapun sendiri di kampus.
Namjoon berdiri di rak yang agak jauh dari posisi Hoseok yang duduk sendiri di perpustakaan. Hoseok seperti sedang asik mencatat sesuatu dari sebuah buku tebal. Oke Namjoon akan menganggap Hoseok sebagai mahasiswa kutu buku.
Hoseok terlihat bangkit berdiri dan pergi menuju rak buku di segmen F. Namjoon diam-diam mengamati. Manusia itu mengambil sebuah buku dari rak paling bawah, membuka-bukanya dengan cepat seolah sedang mengecek sesuatu. Anehnya Hoseok terlihat tersenyum puas, seolah sudah menemukan apa yang dicarinya. Lalu ia pun kembali ke bangkunya dengan buku tersebut.
Namjoon menaikkan sebelah alis. Apa yang dibaca Hoseok ya? Dan setahu Namjoon rak di segmen F bukanlah berisi buku-buku mata kuliah mereka. Buku yang berkaitan dengan mata kuliah mereka seharusnya berada di segmen C.
Akhirnya diam-diam Namjoon ke Segmen F, tercengang karena segmen F adalah spot kecil untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan ‘supernatural’.
“Damn…” bisiknya, entah kenapa merasa panik sendiri.
Namjoon berjongkok dan mengamati rak paling bawah, tempat Hoseok mengambil buku. Di rak itu hanya ada buku-buku tua, tidak banyak jumlahnya, paling sekitar 4 buku tebal saja. Yang mencengangkan adalah bahwa judul-judulnya berkaitan dengan vampire. Seperti “Supernatural Creature From Decade to Decade” , “Kasus-Kasus Vampire Yang Pernah Ada” , “Darah Vampire dan DNA-nya” , “Interaksi Manusia dan Supernatural Creature”.
“Damn…” Namjoon kembali mengumpat. Apa jangan-jangan Hoseok sedang berusaha mengaitkan fakta mengenai vampire dengan apa yang dilihatnya dalam diri Namjoon?
Namjoon harus semakin berhati-hati kalau begini.
Pulang kuliah, Namjoon masih mengikuti Hoseok. Manusia itu mampir ke toserba, membeli bahan-bahan makan malam untuk dimasaknya. Lalu setelahnya mampir ke laundry untuk mengambil pakaian. Sepertinya di luar kampus pun Hoseok tidak punya teman dekat. Ini merupakan berita baik, artinya Hoseok tidak punya kesempatan untuk memberitahukan apa yang ia lihat dan yang ia tahu mengenai vampire ataupun mengenai Namjoon.
Namjoon mengikuti Hoseok yang masuk ke sebuah apartemen. Namjoon memandang gedung itu. Apartemen tersebut merupakan gedung tua dan sederhana. Oke, setidaknya perlahan dia mulai tahu mengenai manusia bernama Hoseok itu. Namjoon pun sepertinya perlu mencari tahu dengan siapa Hoseok tinggal di apartemen itu.
***
Soojung melamun sendiri saat makan siang di kantin. Ia memandang ke luar jendela, Seokjin yang sedang berjalan di lorong. Dosennya itu memang pria yang memikat. Penampilannya menawan, memiliki figur seperti seorang idol. Pantas saja banyak mahasiswi yang mendekatinya dan mengajaknya kencan.
Soojung mengakui dosennya itu sangat tampan, tapi bukan itu yang membuatnya mencium Seokjin saat kembang api menari-nari di langit. Semenjak obrolan mereka tentang vampire, Soojung merasa sangat nyaman dan aman ketika bersama pria itu. Dan bagaimana hatinya tidak melting, Seokjin juga yang menyelamatkannya dari Kai.
Soojung sudah beberapa kali berpacaran, ini memang bukan pertama kalinya ia melting. Tapi dengan Seokjin ada hal berbeda dan lebih spesial lainnya. Malam Halloween itu, hati Soojung 1000 kali lipat lebih melting dibanding dengan pacarnya sebelumnya. Itulah yang membuatnya sampai mencium dosennya.
Dan sekarang… Soojung memutuskan untuk menjauhi Seokjin, sebenarnya tanpa alasan. Dan tentu saja itu kejam, tidak memberi kesempatan pada pria itu untuk mendengar penjelasannya.
Soojung hanya merasa takut. Ia merasa akan diperolok oleh Kai dan mahasiswa lainnya ketika merka tahu bahwa Soojung menjalin hubungan asmara dengan Seokjin. Bisa saja orang-orang itu mencapnya sebagai wanita gampangan, mendekati dosen supaya mendapat nilai A+. Dan ia bisa membayangkan Kai pasti akan semakin menyalahkannya, menganggapnya memang sudah selingkuh dan mempermainkannya sejak awal.
Bagaimanapun Soojung akan berusaha meredam semuanya ini. Perasaannya pada sang dosen hanyalah sementara… sebentar lagi ia tidak akan merasakan getaran apapun ketika melihat Seokjin.
***
Hey, bayi vampire. Kutunggu di belakang gedung laboratorium. Ada hal yang mau kubicarakan.
Datang sendiri ya, kecuali kau ingin dua teman manusiamu itu tahu rahasiamu.
-Woobin
Taehyung terkejut sekali dengan pesan yang ia terima. Apa yang mau dibicarakan vampire itu padanya? Hyungnya di rumah memang selalu menceritakan bahwa Woobin dan Xiumin harus dihindari di kampus karena keduanya berasal dari clan Cha, ada pengalaman tak menyenangkan yang terjadi antara clan Cha dan clan Kim.
Taehyung menggigit kulit bibirnya. Tapi kalau ia tidak datang bagaimana kalau Woobin malah memberitahu identitas dirinya pada Jungkook dan Jimin? Anni, anni, Taehyung tidak ingin kehilangan kedua temannya. Hidupnya sudah sangat baik berteman dengan Jungkook dan Jimin. Ia tidak mau melepasnya begitu saja. Dan kalau dua manusia itu tahu dirinya adalah vampire, mereka pasti akan menjauhinya? Taehyung tidak ingin hal itu terjadi.
Jadi setelah kelas berakhir, Taehyung segera pergi. Ia menyuruh Jungkook untuk duluan ke perpustakaan. Rencananya mereka akan mengerjakan tugas bersama-sama tapi sepertinya Taehyung harus menemui Woobin terlebih dulu.
Taehyung sudah tiba di belakang gedung yang dimaksud. Woobin dan Xiumin sudah berada di sana, menyambut Taehyung dengan seringai mengejek.
Taehyung berusaha menenangkan dirinya, semua akan baik-baik saja. Dua vampire itu tidak mungkin berniat membunuhnya kan? Mereka masih di kampus. Lagipula Seokjin akan sangat marah jika dua vampire itu menyerangnya. Meski Taehyung tidak tahu apa yang membuat Woobin memanggilnya begini.
“Ah akhirnya datang juga…” tukas Woobin, “Si bayi vampire yang tak berdaya.”
Taehyung mundur selangkah. “A-apa yang membuat kalian memintaku ke sini?”
Xiumin mendengus. “Kau tahu bahwa kami selalu membenci clanmu, terutama Alphamu itu. Seokjin hampir membunuh salah satu hyung kami. Bagaimana menurutmu? Bukankah itu pengkhianatan sesama vampire?”
Taehyung tidak tahu banyak mengenai sengketa yang terjadi di antara clan Kim dan clan Cha, yang ia tahu Seokjin menyerang clan itu karena ada manusia yang diserang dan dihisap darahnya secara ilegal. Perbuatan salah satu vampire clan Cha itu tentu saja salah.
“Apa kau ingin tahu seperti apa rasanya sekarat selama beberapa minggu yang dialami hyung kami?” tukas Woobin. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah sarung tangan. Baik Woobin dan Xiumin memakai sarung tangan tersebut.
“Dia tidak akan tahu karena dia masih bayi vampire..” sahut Xiumin mencemooh, “Bayi vampire yang masih perlu penjagaan hyungnya.”
“Cih, bayi vampire yang juga sangat senang bergaul dengan manusia. Wae? Apa kau mendekati dua temanmu itu untuk menghisap darah mereka juga? Kau tidak ada bedanya rupanya.”
Mata Taehyung membesar. Apalah maksud dua vampire itu. Ia berteman dengan Jungkook dan Jimin dengan tulus, tidak ada niat untuk menghisap darah temannya.
Xiumin melayang di udara, kekuatan vampirenya adalah flying, bisa melayang di udara seperti ini. “Dan kau belum memiliki kekutan vampire sama sekali? Kurasa kau benar-benar sangat payah, Taehyung-ssi.”
“Tenang saja ini tidak akan terasa sakit…” ujar Woobin memberi smirk. Ia mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya. “Kami hanya perlu membalaskan sedikit dendam kami padamu.”
“A-apa yang akan kalian la–?” Taehyung tidak dapat melanjut kata-katanya karena Xiumin sudah terbang cepat ke arahnya, mencengkram lehernya dan menjatuhkannya ke lantai. Taehyung menahan rasa sakit di punggung akibat benturan itu.
“Kau masih bayi bukan?” bisik Xiumin seram, masih memegang leher Taehyung, menahannya untuk bergerak, “Kami akan mengajarkanmu beberapa hal yang hyung bodohmu itu tidak ajarkan.”
Woobin melesat dengan cepat mendekati dua vampire itu. Ia berjongkok dan menunjukkan sebuah lempengan perak yang berukuran 5 cm kali 5 cm. Mungkin itu sebabnya dua vampire itu menggunakan sarung tangan, karena mereka memegang lempengan perak yang memang menjadi kelemahan vampire.
Mata Taehyung membesar takut. Apa ia akan dibunuh menggunakan lempengan silver? “A-aku mohon… jangan…”
“Kau tidak pernah diajarkan bukan bagaimana rasanya disentuh oleh benda berbahan perak?” tukas Woobin. Ia pun menyentuhkan lempengan itu ke kulit lengan Taehyung. Meski hanya sebentar tapi Taehyung merasa seperti ditusuk sekaligus kulitnya terbakar.
Mata Taehyung sudah berair. Dia sangat takut sekali, dia ingin meminta tolong pada hyungnya, meminta tolong pada teman-temannya. Ia merasa sangat tidak berdaya.
“Huh, cengeng sekali,” ujar Xiumin, “Pantas kau lemah begini.”
“Kumohon…” isak Taehyung.
Xiumin menggeleng-geleng dan menutup mulut Taehyung, menahannya supaya vampire itu tidak berteriak. Woobin memberi senyum licik, ia mengarahkan lempengan perak itu ke dada Taehyung.
“Kau tahu, sebenarnya aku belum pernah melihat seperti apa reaksi jika lempengan perak ini menyentuh dadamu. Jadi… kita sama-sama akan bereksperimen ya… walau aku dengar bahwa kulitmu akan mengelupas…”
Taehyung menggeleng-geleng dan air mata sudah mengalir. Ia sangat ketakutan. Jeritannya teredam oleh tangan Xiumin saat ia merasakan sakit yang hebat ketika Woobin menyentuhkan lempengan itu di dadanya. Rasa sakit seperti terbakar… dan kulit seperti dirobek dengan brutal.
Mata Taehyung seketika berubah menjadi abu-abu, mata asli vampirenya muncul, efek dari benda silver di kulitnya. Matanya membola, berair menunjukkan rasa sakit yang sangat. Tubuhnya berusaha meronta namun Xiumin lebih kuat menahannya.
Woobin memberi kekehan pelan. “Fantastis.”
🎃to be continued🎃
Jangan lupa tinggalkan jejak ya berupa like, comment dan vote.