Vampire In The City

Vampire In The City
Black Dragon (2)



First of all, author sulit melanjutkan novel ini karena pekerjaan.. Tapi kaget dan heran dalam masa vakum, author lihat malah banyak yang favorit novel ini.


umm.. apa ada salah satu reader yg promosikan novel ini atau bagaimana ya? karena jujur saja author ga promoin tiga minggu terakhir ini. Sebenarnya bagus sih, author pastinya senang karena karya author banyak yang baca...


Gomawo untuk yang selalu menunghu novel ini.


🎃🎃



Taehyung mengatakan pada Seokjin bahwa ia akan menginap di rumah Jimin untuk bermain game sampai pagi. Untungnya Seokjin tak banyak memberi pertanyaan dan mengijinkannya begitu saja. Sementara Hoseok yang mendengarnya langsung memandang Taehyung dengan penuh selidik. Hoseok yakin Taehyung bukan berniat menginap, melainkan akan pergi ke club seperti yang sudah direncanakan. Hoseok tahu bahwa Taehyung yang sekarang merupakan vampire kuat dan menakutkan namun Hoseok tetap kuatir apalagi Taehyung terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan, seolah tidak sabaran.


Sebelum pergi, Taehyung ke dapur untuk mengambil kantong darah dan meminumnya. Tadi pagi Yoongi sudah mengumumkan bahwa stok darah sudah kembali diisi di freezer. Taehyung cukup haus akan darah jadi ia mengambil 1 kantong darah standar.


Kebetulan Namjoon juga berada di dapur sedang membuat ramen untuk cemilan malam. Namjoon memperhatikan penampilan Taehyung itu. Vampire tersebut memakai celana jeans dan atasan Vneck dengan jaket leather. Rambutnya ditata dengan headband berwarna merah.


“Mau kemana?” tanya Namjoon, “Bukannya menginap di tempat Jimin?”


Taehyung memberi seringai. “Sebelum menginap kami mau ke kafe dulu.”


Namjoon menaikkan sebelah alis. “Oh ya?” Dia sendiri ragu apa benar Taehyung akan ke kafe. Tapi Namjoon memutuskan untuk tidak akan ambil pusing.


Taehyung membuka kemasan kantungdarah dan menyedotnya menggunakan sedotan dan ia langsung merasakan lidahnya menolak darah itu. Sangat tidak enak!


Taehyung hampir tersedak dan memuntahkannya. Ia menatap kantung darah itu dengan syok. Kenapa rasanya seperti ini? Sangat tidak enak dan tidak menyegarkan seperti biasanya.


“Wae?” tanya Namjoon yang juga datang ke dapur untuk mengambil kantong darah.


“Sepertinya ini darah palsu. Rasanya tidak enak.”


“Hah?” Namjoon tercengang. Ia pun meminum kantung darah yang baru ia ambil dan merasakannya dengan alis mengernyit, seolah berpikir. “Enak kok. Rasanya enak seperti biasa.”


Taehyung meleletkan lidah seolah Namjoon sedang membohonginya.


“Mungkin milikmu saja yang tidak enak?” sahut Namjoon.


“Kenapa?” tanya Yoongi yang juga datang ke dapur. Ia memandang Taehyung dan Namjoon bergantian.


“Kantung darah milik Taehyung tidak enak katanya.” ujar Namjoon dan masih asyik meminum miliknya.


“Kurasa ini darah busuk.” tukas Taehyung menggeleng-geleng. Ia melirik jam tangannya dan memutuskan untuk langsung pergi saja tanpa mengkonsumsi darah. Ia sudah janjian dengan Jimin untuk pergi ke club Black Dragon. Taehyung tidak mau terlambat atau Jimin akan mengubah pikirannya dan tidak mau pergi.


“Aku pergi dulu saja…” ujar Taehyung dan memberikan kantong darahnya yang belum habis diminum pada Yoongi.


Yoongi hanya melongo menerima kantung darah itu dan memandang kepergian Taehyung.


“Apa distributornya berubah?” tanya Namjoon, “Biasanya darah yang dijual kualitasnya baik, kenapa ada yang busuk?”


Yoongi menaikkan sebelah alis. Dengan hati-hati ia mencoba meminum dari kantong darah yang tadi diberikan Taehyung. Yoongi mengernyit, rasanya baik-baik saja, tidak ada yang salah, masih enak dan menyegarkan. “Ini enak kok.”


“Mwo?” Namjoon melongo.


“Ini tidak busuk.” tambah Yoongi dan terus meminum darah itu.


“Lalu kenapa reaksi Taehyung seperti itu? Apa lidahnya bermasalah?”


Yoongi mengerutkan kening. Dia juga bingung dan ia rasa Taehyung tidak sedang bercanda. Tapi kenapa darah itu terasa tidak enak untuk Taehyung? Ada spekulasi yang dipikirkan Yoongi yang menjadi jawaban dari keanehan tersebut akan tetapi Yoongi masih belum yakin, rasanya mustahil.


“Mungkin dia sedang mengalami gangguan pencernaan.” gumam Yoongi akhirnya, meski bukan itu yang menjadi pemikirannya.


Namjoon mendengus. “Itu mungkin karena dia terlalu banyak mengkonsumsi cerutu, lidahnya jadi pahit begitu.”


Yoongi tersenyum tipis. Well, kita lihat nanti…


.


.



Club itu sangat luas, terdiri dari dua lantai. Untuk lantai dua jauh lebih mewah tapi diperuntukkan bagi member VIp yang dilayani oleh pelayan khusus, sementara di lantai 1 terdiri dari meja-meja bar, pool dance dan DJ musik. Ruangan itu hanya diterangi dengan lampu kristal besar di tengah ruangan yang berputar-putar. Musik menghentak membuat siapapun ingin bergoyang. Tempat ini memang next level, bisa diduga harga minumannya pasti sangat mahal.


“Whoa…” ucap Jimin terkagum sambil memandang sekeliling. Ini pertama kali untuknya mendatangi club.


“Mau minum apa, Chim?” tanya Taehyung saat keduanya sudah di meja bar.


Jimin hanya berwajah bingung, dia sendiri tidak tahu harus meminum apa. Dia tidak familiar dengan minuman beralkohol.


Taehyung hanya menyeringai lalu berkata pada bartender, “Tolong buatkan tequilla–“


“Eh, eh, jangan,” potong Jimin mencegah. Dia tahu kalau tequilla memiliki kadar alkohol cukup tinggi.


Taehyung menaikkan sebelah alis pada Jimin. “Itu pesananku. Untukmu kupesankan saja minuman berkarbonasi, bagaimana?”


Jimin memberi senyum tipis namun mengangguk. “Okay.”


Mereka duduk di sana sambil menikmati musik dari DJ yang cukup terkenal di dunia malam. Taehyung meminum tequilla-nya, tak mempedulikan efek alkohol yang mengalir di kerongkongannya. Matanya menjelajah ke sekeliling, sedang mengamati bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan informasi yang berhubungan dengan Big Boss sindikat penjualan vampire. Siapa yang harus menjadi targetnya?


Di pool dance sudah banyak orang-orang yang menarik meliuk-liukkan badan mengikuti irama musik, ada yang sudah mabuk, ada yang menari dengan pasangannya atau menari dengan strangers.


Taehyung mengulum mulut dan memberi smirk. Ia menoleh pada Jimin yang sedang sibuk dengan ponsel. “Mau menari, Jimin?”


“Kau saja, Tae, aku sedang membalas pesan ibuku.” ucap Jimin sambil mengerutkan kening.


“Padahal kau kan dancer!” kata Taehyung sambil menepuk bahu Jimin.


Jimin mendengus, “Aku dancer hiphop bukan yang seperti itu.”


Taehyung mengekeh. Ia bangkit berdiri sambil menghabiskan tequilla-nya lalu pergi ke arah pool dance. Matanya menjelajah, mencari siapa yang bisa menjadi targetnya.


Sementara itu Jimin masih menatap layar ponsel dengan kening berkerut. Ibunya baru saja mengabarkan bahwa Kakeknya meninggal dan ibunya meminta supaya Jimin segera pulang untuk mereka pergi ke tempat kedukaan. Kalau sudah begini Jimin tidak bisa menemani Taehyung. Akhirnya Jimin menelepon Jungkook, meminta bantuannya untuk datang ke diskotik.


Sekitar 15 menit kemudian Jungkook datang. Ia mencari-cari keberadaan Jimin dan menemukannya sedang duduk tak sabaran di bar.


“Akhirnya kau datang,” ucap Jimin saat melihat kemunculan Jungkook, “Gomawo kau sudah datang padahal ini sudah jam malam. Tadi kau akan tidur ya?”


Jungkook mendengus. “Hampir. Mana dia?”


Jimin menunjuk pool dance dengan dagunya. Jungkook melihat ke arah pool dance, melihat Taehyung sedang menari sambil berwajah riang, sepertinya sedikit mabuk. Wajahnya yang tampan membuat pria dan wanita mendekatinya dan ingin menari dengannya.


Mata Jungkook membesar melihat vampire itu. Matanya yang berwarna silver itu semakin sangat tampak dan berpendar akibat lampu diskotik membuatnya semakin bersinar dan menonjol di antara orang-orang yang sedang menari. Boleh dibilang Taehyung sangat sangat memikat.


Tiba-tiba mata Taehyung tertuju padanya, membalas tatapan Jungkook dan memberi smirk. Ia kembali membuang muka dan menari kembali bersama random people.


“Dia unbelievable.” gumam Jungkook memutar bola mata. Cerutu dan sekarang dunia malam. Harusnya Jungkook pun tak kaget saat tadi Jimin menelepon mengatakan bahwa ia dan Taehyung sedang berada di diskotik.


Jimin hanya memberi senyum melihat Taehyung yang sedang bersenang-senang. “Temani Tae ya, Kook. Dia seharusnya menginap di tempatku tapi berhubung Kakekku meninggal…”


Jungkook mengangguk paham. “Kau tidak perlu kuatir, aku akan mengawasi si Taehyung. Dan aku turut berduka untuk kakekmu.”


Jimin memberi senyum saat Jungkook menepuk pundaknya. “Baiklah, aku pergi dulu ya..”


“Okay…”


Jimin pun pergi dari sana membuat Jungkook menghela nafas panjang. Dan sekarang apa yang harus ia lakukan disini???


Jungkook mengambil duduk di bar dengan posisi yang membuatnya dengan mudah mengawasi Taehyung. Jungkook hanya memesan mojito dan ia menolak setiap ada wanita yang mendekatinya dan mengajak berkenalan.


🎃 to be continued 🎃



jangan lupa beri like ya dan komentar mengenai lanjutan novelnya. author mungkin akan lebih bold untuk plotnya. Akan membingungkan dan cukup taboo... but yeah...