Vampire In The City

Vampire In The City
Sebuah Rayuan




Taehyung hanya bertopang dagu setengah malas saat perkuliahan telah usai. Ia melirik ke samping, melihat Jungkook yang beres-beres seolah ingin segera keluar dari kelas.


“Kau yakin tidak mau ikut denganku?” tanya Jungkook entah sudah 10 kali untuk hari ini.


“Cih.” Taehyung mendengus saja dan memainkan ponselnya tak minat.


“Aku bisa mengenalkanmu pada Lisa supaya suasana tidak awkward,” ucap Jungkook, “Kita bisa makan bersama di kafe favoritmu.”


“Aku tidak minat, Jeon.” tukas Taehyung.


“Sayang sekali.” Jungkook mengangkat bahu saja tidak ingin memaksa lebih jauh.


“Kau harus hati-hati pada wanita semacam itu, aku punya firasat buruk.”


“Wae?” tanya Jungkook excited, “Apa dia vampire?” Jungkook memasang ekspresi comical berharap bisa mencairkan hati Taehyung yang es batu itu.


Taehyung memutar bola mata. “Vampire jidatmu.”


Jungkook mengekeh. “Oh ya, nanti malam apa kau akan ke Black Dragon?”


“Aku malas ke sana terus, Jeon Jungkook.” Taehyung mendelik sebal. Dia bohong, tentu saja malam ini ia akan ke club namun ia tidak ingin melibatkan Jungkook lagi mulai sekarang. Ke depannya masalah akan semakin serius dan mengundang pertumpahan darah.


“Begitu.. Baiklah, aku duluan ya.” Manusia itu pun pergi meninggalkan Taehyung yang masih duduk dengan wajah BT.


Di depan gedung fakultas teknik, Lisa sudah menunggu. Parasnya sangat cantik dan ayu, penampilannya modis, orang-orang akan menyangka dia berasal dari jurusan permodelan–bukan dokter hewan.


Lisa sudah mengembangkan senyum melihat kedatangan Jungkook dari jauh. Tidak salah memang, sejak awal Lisa sudah terpikat dengan pria itu apapun latar belakangnya.


“Hai…” sapa Jungkook.


“Gomawo karena kau sudah meluangkan waktumu.” ujar Lisa.


“Uh.. ya… Tapi sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Jungkook penasaran.


“Tugas kuliah?” Lisa memberi wink. “Kajja. Kita bisa mengobrol di kafe tak jauh dari sini.”


Jungkook menurut saja meski ia tidak mengerti mengapa Lisa yang berasal dari jurusan dokter hewan ingin menanyakan tugas kuliah padanya, out of all people?!


**


Malam itu Taehyung kembali ke club Black Dragon. Dia sudah merencanakan akan mendekati Dongwook untuk mendapat informasi lebih lanjut mengenai sindikat. Saat di depan pintu VIP, Taehyung menunjukkan kartu nama Dongwook pada penjaga namun penjaga itu tidak mengijinkannya masuk. Penjaga itu hanya menerima kartu member VIP sebagai ijin masuk, mereka mengatakan kalau kartu nama Dongwook hanya berlaku saat event saja.


Sial kalau begitu. Kalau sudah seperti ini harus bagaimana?


Taehyung pergi ke lantai 1 dengan setengah kesal. Saat sedang berjalan seperti itu, ia mencium aroma kehadiran Dongwook. Matanya melayang dan melihat pria pemilik club itu sedang duduk di bar, sudah memandangi Taehyung entah sejak kapan. Smirk terpampang di wajah tampannya.


Taehyung memberi seringai. Well, dia beruntung karena sepertinya Dongwook pun sedang menunggunya?


Taehyung mendekati Dongwook dan mengambil duduk di sebelah pria itu. “Menungguku?”


Dongwook tersenyum lirih. “Aku menunggumu semenjak terakhir kau datang ke event VIP. Kau sudah tidak datang ke sini berhari-hari.”


“Sepertinya ada yang merindukanku.” Taehyung mengekeh dan memesan tequilla pada bartender.


“Kupikir kita mutual?”


Taehyung melirik dan memberi smirk. “Itulah mengapa aku datang ke sini lagi.”


“Hmm. Setidaknya kali ini kau datang sendiri.”


“Tentu saja.” Taehyung berusaha menahan emosinya, dia harus bisa akting dengan baik meski jika mengingat kembali darah vampire yang ia lihat di dalam botol hanya akan membuatnya kembali mendidih. Kalau bisa langsung saja ia patahkan tangan dan kaki pria di depannya ini. Sudah jelaskalau Dongwook ada andil dalam sindikat penjualan vampire.


“Apa aku sudah bilang kalau matamu sangat indah?” ujar Dongwook dan mengelus pipi Taehyung. Vampire itu membiarkan kulitnya disentuh, ia akan biarkan untuk saat ini meski sebenarnya ia tidak mau disentuh oleh salah satu dalang penjualan vampire. Itu sangat menjijikkan.


“Hanya mata saja?” gurau Taehyung.


“Everything,” sahut Dongwook, “Kau hanya membuatku ingin memilikimu.”


Ingin rasanya Taehyung memutar bola mata. Perkataan Dongwook itu membuat perutnya jungkir balik. Tapi Taehyung memantapkan dirinya, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk keuntungannya. “Kukira kau sudah memiliki pasangan.”


Dongwook tertawa dan langsung menggeleng. “Aku pria berhati dingin yang kesepian, Taehyung-ssi.”


“Kau terlalu sibuk dengan bisnis dan usahamu,” gumam Taehyung enteng dan menenggak tequilla-nya, “Sekali-kali kau harus bersenang-senang.”


“Itulah kenapa aku duduk disini denganmu, Taehyung-ssi, untuk bersenang-senang.”


“Hmm…” Taehyung memegang dasi Dongwook dengan slow motion. “Kau pernah mengatakan ingin memberikan makanan signature-mu dengan cuma-cuma.”


Dongwook menaikkan sebelah alis, mengerti dengan arah pembicaraan Taehyung. “Apa temanmu yang mendapatkan doorprize sudah mencobanya? Enak kan pastanya?”


Taehyung mengangkat bahu saja. “Aku tidak tahu karena ia tidak mengajakku. So sad.”


“Poor my baby.” gumam Dongwook mengekeh dan memegang lengan Taehyung. “Katakan… apa yang kau mau?”


“Kau akan memberikannya?” Mata Taehyung seketika berbinar. Oh ini mudah sekali. Hanya dengan satu rayuan, Dongwook langsung jatuh dalam perangkapnya.


Alis Taehyung terangkat sebelah. “Pertukaran?”


Dongwook memberi senyum manis dan berkata, “Aku tak hanya akan memberikanmu pasta signature bisnisku, aku pun akan membuatkanmu member VIP untuk bisnisku itu, Taehyung-ssi.”


Ini yang ia tunggu-tunggu. Taehyung tersenyum lebar dan langsung memegang pundak pria itu dengan sayang. “Kau tidak bercanda kan? Aku sangat senang sekali, Mr. Lee.”


“Tapi ada satu syarat…” bisik Dongwook dengan mata sayu. Ia meminum whiskey-nya lalu berbisik kembali, “Aku sangat posesif, Taehyung, kau harus tahu itu.”


“Umm.. apa syaratnya?” tanya Taehyung excited. Dia bersedia melakukan apapun asalkan ia mendapat kartu member. Dengan kartu member dia bisa tahu dimana markas sindikat ini berada. “Apa yang harus kulakukan?”


“Aku ingin kau menghabiskan waktu bersamaku di villaku… menginap…” ucap Dongwook dengan smirk puas saat melihat ekspresi terkejut Taehyung.


“Di villamu?” tanya Taehyung blank.


“Yup. Hanya kita.”


Taehyung mengerjap. Baginya Dongwook bukanlah lawannya, Taehyung bisa membunuhnya jika pria itu macam-macam. Menginap di villa bukanlah sesuatu yang sulit, dia bisa melakukannya, asalkan ia bisa mendapat kartu member. Jika ia sudah mendapat keinginannya, Dongwook pun bisa ia habisi.


Ponsel Taehyung bergetar, ada panggilan masuk dari Jungkook. Taehyung mengerjap kembali, untuk apa si Jungkook meneleponnya seperti ini. Taehyung langsung merejectnya, gawat jika Jungkook tahu dia ada di club. Dan Taehyung pun tidak mau melibatkan Jungkook dalam situasi berbahaya ini.


Dongwook melirik ponsel Taehyung, memberi smirk panjang saat Taehyung merejectnya.


“Deal,” sahut Taehyung akhirnya, “Hanya kita.”


Keduanya saling berpandangan dan tersenyum penuh arti. Masing-masing memiliki tujuan dan rencana sendiri. Taehyung merasa strateginya berhasil. Ini membawanya semakin mendekat pada dendam yang ia pendam sejak lama.


Akan kuhancurkan semua… lihat saja…


.


.


.


Jungkook mengernyit saat melihat panggilannya ditolak oleh Taehyung. Jadi apa benar firasatnya sejak tadi bahwa vampire itu pergi ke club? Tapi bukankah tadi sore Taehyung mengatakan tidak mau pergi?


Apa perlu ia menanyakannya pada salah satu hyung Taehyung? Perasaan Jungkook saat ini sangat tidak enak. Dia cemas sejak tadi entah kenapa. Jungkook pun mengirimkan pesan pada Hoseok, dia harus mengecek apa Taehyung ada di rumah atau tidak.


Hyung, mian mengganggu. Apa Taehyung ada di rumah?


Semenit kemudian muncul balasan dari Hoseok :


Dia pergi ke club. Kukira dia mengajakmu.


Jungkook menggigit bibir, nah benar kan. Vampire itu pergi lagi ke club padahal tadi sore mengatakan tidak mau pergi. Begitu banyak pertanyaan di benak Jungkook, dia tahu kalau Taehyung punya suatu tujuan khusus yang membuatnya dengan konsisten selalu ke club yang sama.


Jungkook pun kembali menelepon Taehyung. Begitu lama tidak diangkat, nyaris Jungkook menyerah. Namun saat Taehyung mengangkatnya, Jungkook merasa lega, setidaknya kali ini Taehyung tidak merejectnya.


“Hai?” sapa Taehyung di seberang.


Jungkook mengernyit karena merasa suasana di sekitar Taehyung lengang, sunyi, tidak ada suara musik, seperti bukan di club malam saja. “Kau dimana?”


“Aku?” Taehyung menguap keras-keras, “Aku baru akan tidur sampai kau meneleponku.” Suara Taehyung itu terdengar lemah seolah dia sudah tertidur namun terbangun.


Jungkook menggertakkan gigi. Taehyung sedang membohonginya. Jelas-jelas tadi Hoseok mengatakan Taehyung tidak ada di rumah. “I’ll come over.”


Hening beberapa saat sampai Taehyung berkata serius. “Jungkook…”


“Wae? Aku akan datang ke tempatmu, apa tidak bisa?”


“Bukankah aku baru saja mengatakan aku ingin istirahat, Jeon?” Taehyung memijat kening, sulit sekali untuk berkomunikasi dengan manusia satu ini.


“Aku ingin kau menceritakan tujuanmu datang ke Black Dragon, kau sudah berjanji akan memberitahuku.”


“Jeon, I need time…” Taehyung menghela nafas pelan. “Lain waktu, oke?”


“Oke, oke…” Jungkook berusaha untuk tetap calm. Dia juga tidak ingin menciptakan pertengkaran baru di antara mereka berdua. Untuk kali ini Jungkook akan mengalah.


“Bye…” gumam Taehyung dan akhirnya mengakhiri panggilan. Vampire itu memegang kepala dengan satu tangan, Jeon Jungkook cukup keras kepala dan berusaha ikut campur dalam urusan yang tidak ada hubungan dengan dirinya.


Saat ini Taehyung berada di toilet club Black Dragon. Tadi dia langsung pergi ke toilet saat Jungkook meneleponnya dan terpaksa membohongi manusia itu dengan mengatakan dirinya sudah akan tidur.


Taehyung memegang ponsel erat-erat. Dia harus segera menyelesaikan misi ini. Namun tentu saja harus tetap waspada.


🎃🎃


kira-kira apa Taehyung akan berhasil dengan rencananya?


atau apakah akan ada plot twist disini?


kita lihat saja



jangan lupa berikan jejak🐾