
🎃 Jangan lupa like dan comment 🎃
🎃🎃
Pagi itu Soojung berpapasan dengan Seokjin di lorong. Agak berbeda dari interaksi dosen dan mahasiswa, senyum yang mereka berikan seperti senyum penuh arti.
“Morning, Soojung…” sapa Seokjin ramah.
Soojung membalas senyum. Dosennya itu sudah melepaskan formalitas dan memanggilnya dengan namanya saja, tidak ‘Miss Soojung’ lagi. “Anda akan mengajar, Mr. Kim?”
“Yep, di kelas junior…” Seokjin setengah tertawa, “Kuharap mereka bisa diatur seperti kelas senior.”
Soojung tertawa lirih. “Para junior selalu membangkang di awal perkuliahan, Mr. Kim.”
“Yeah, yeah.. mungkin aku harus menghibur mereka dengan materi yang tidak membosankan.”
“Materi vampire sangat tidak membosankan.”
Seokjin tersenyum panjang dan memandang Soojung lekat. “Yeah, mungkin lain waktu kita juga perlu bertukar pikiran kembali mengenai vampire, Soojung.”
Wanita itu tersenyum malu dan mengangguk-angguk. “Kalau begitu aku permisi dulu, Mr. Kim.”
“Semoga harimu menyenangkan, Soojung.” ucap Mr. Kim lalu akhirnya berjalan pergi.
Soojung menoleh ke belakang, memandang dosennya itu. Kenapa ia merasa hatinya melting ya hanya dengan melihat senyum dosennya. Oh God, apa lagi sekarang…
.
.
Soojung berada di perpustakaan hingga malam untuk menyelesaikan beberapa tugas makalahnya. Dia tak menyangka dia tidak ingat waktu. Saat keluar dari perpustakaan langit sudah gelap. Soojung sedang berjalan menuruni tangga perpustakaan ketika salah satu teman sekelasnya mendatanginya.
“Soojung-ssi, kau darimana saja, dari tadi aku mencarimu.” ucap Injae, “Aku meneleponmu dan ponselmu tak aktif.”
“Um?” Soojung bingung sendiri. Ia merogoh ponsel di saku jaketnya yang ternyata hapenya mati karena habis baterai. “Wae?”
“Tadi sore Kai mengajak Mr. Kim ribut di parkiran. Kai pacarmu kan?”
“Mwo?” Soojung terbelalak kaget.
“Dia mengata-ngatai Mr. Kim sambil membawa namamu dan ia meninju Mr. Kim satu kali.”
Soojung menutup mulutnya, syok mendengarnya. Seharusnya dia langsung menyelesaikan masalah ini dengan Kai. Dan memang sejak kejadian di kafe, Soojung mengabaikan semua pesan yang dikirim Kai. Soojung masih marah… dan dirinya lebih marah lagi saat ini ketika tahu apa yang sudah dilakukan Kai.
“La-lalu?” tanya Soojung berusaha menguasai syok di dalam dirinya.
“Mahasiswa lain yang melihatnya berusaha mencegah Kai untuk memukul Mr. Kim lagi. Pada akhirnya Mr. Kim masuk ke dalam mobil dan pergi.”
Soojung rasanya ingin mengumpat. Kai sudah benar-benar kelewatan, apa dia tidak bisa mengendalikan temperamennya itu sekali saja?
Soojung langsung bergegas pergi, dia akan mendatangi Kai sekarang juga. Ia ingin memarahinya, memberi perhitungan, menegurnya karena sudah berprasangka buruk pada Seokjin.
Soojung tahu dimana ia bisa menemukan Kai sekarang. Club yang selalu disebut-sebut pacarnya itu… Soojung yakin Kai pasti ada di sana.
Meski Soojung sangat membenci club dan tidak pernah mau menginjakkan kakinya di sana, namun ia terpaksa malam ini. Ia tidak bisa bersabar untuk menunggu sampai besok.
Setengah jam kemudian Soojung tiba di club yang dimaksud. Ia masuk, aroma alkohol dan rokok sudah mengganggu hidungnya. Ruangan remang-remang diserta dengan musik menghentak-hentak. Soojung benci sekali tempat seperti ini.
Soojung mencari-cari dimana Kai berada. Kalaupun Kai tidak ada di tempat ini, Soojung akan ke rumahnya. Matanya melihat seseorang yang sepertinya merupakan Kai, terutama karena jaket kulit yang dipakai orang tersebut merupakan jaket sama yang biasa dipakai Kai.
Soojung mendatangi meja tersebut. Matanya membulat dan hatinya penuh kekesalan saat menyadari Kai sedang duduk dengan seorang wanita. Tangan Kai memeluk pinggang wanita itu, sementara wanita itu bergelayut manja ke bahu Kai.
Soojung mendengus tawa. Seperti inikah kelakuan pacarnya di club? Soojung sudah tak bisa menahannya.
“Kai!” tukas Soojung setelah tiba di depan meja.
Kai mengangkat wajahnya dan terkejut melihat kedatangan Soojung.
“Jadi seperti ini yang kau lakukan saat tidak bersamaku?” tukas Soojung marah.
“Mwo?” Soojung ingin sekali tertawa karena betapa kekanak-kanakkan jawaban Kai itu. “Aku dan Mr. Kim tidak berkencan. Kami membicarakan hal penting.”
“Cih, pembicaraan penting apa sampai dosen dan mahasiswanya bertemu di kafe?” Kai sudah berdiri marah.
“Kami hanya membicarakan tentang vampire!!”
“Vampire lagi?” Kai memberi seringai mengejek, “Apa kau ini bocah SD, Soojung? Kau pikir aku percaya?”
“Mwo?” Soojung melirik wanita yang masih duduk. Wanita itu tampak tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraan ini. Apa-apaan.
“Lalu bagaimana denganmu, Kai? Bukannya berusaha menanyakan apa yang terjadi, tapi kau ada di sini bersama wanita lain setelah memukul Mr. Kim?”
Kai mendengus. “Apa aku tidak boleh melakukannya?”
Kedua tangan Soojung terkepal marah, ia begitu merasa dikhianati dan dipermalukan. “K-kau… Dasar pria brengsek!!”
Kai melotot marah. “Jaga perkataanmu!” Kai mengangkat tangannya sudah akan memukul Soojung.
Wanita itu begitu takut sampai hanya bisa memejamkan mata saja, menunggu pukulan mendarat di pipinya. Tapi sudah ditunggu beberapa saat pun pukulan itu tidak datang. Soojung memberanikan diri membuka matanya. Ia melihat ada tangan lain yang menahan pukulan Kai. Soojung terkejut saat melihat Seokjin sudah berdiri di sebelahnya, memegang pergelangan tangan Kai kuat-kuat. Wajahnya tampak begitu serius dan dingin.
Kai menggeram dan berusaha melepaskan diri dari pegangan Seokjin namun betapa kuatnya tangan Seokjin itu. Kai mengerang kesakitan saat Seokjin meremasnya semakin kuat. Dia tak tahu kalau Seokjin punya kekuatan seperti ini, padahal sebelumnya tidak pernah melawan ketika dipukul.
Soojung menatap Seokjin dengan tercengang.
“Enyahlah.” tukas Seokjin dingin lalu menghempaskan tangan Kai. Seokjin menarik tangan Soojung dan membawanya pergi dari situ.
Kai terjatuh ke sofa dan menatap kepergian keduanya. Ia melihat pergelangan tangannya yang merah karena cengkraman Seokjin tadi. Sial, dia tidak tahu kalau ternyata dosen itu punya kekuatan yang besar juga.
Seokjin menarik Soojung dan membawanya masuk ke dalam mobil. Wanita itu pun sama sekali tidak menolak, dia sebenarnya masih syok mengenai apa yang baru saja terjadi.
“Gwaenchana?” tanya Seokjin saat keduanya sudah duduk di dalam jeep. Wajah Seokjin masih tampak serius meski tidak semenyeramkan tadi saat di dalam club.
Mata Soojung masih membola dan hanya sanggup mengangguk. Ini bukan mimpi kan? Apa yang terjadi sampai Seokjin juga bisa berada di dalam club?
“Aku akan mengantarmu pulang, Soojung…” gumam Seokjin mulai menyalakan mesin mobil.
“Ke-kenapa Mr. Kim bisa ada di sini?” tanya Soojung memberanikan diri, “Tadi aku mendapat kabar dari temanku bahwa Kai memukulmu lagi di parkiran kampus.”
Seokjin mengerling ke arah wanita itu. Ia tidak mengatakan apa-apa dan kembali fokus ke jalan raya.
“A-aku sebenarnya ingin meminta maaf atas apa yang dilakukan Kai padamu, Mr. Kim. Dia sudah mencari keributan dua kali tanpa mengetahui permasalahan dengan jelas.”
“Dia yang harus meminta maaf, kau tidak salah padaku.”
Soojung menelan ludah. Dibandingkan saat berada di dalam club yang remang-remang, kini Soojung bisa melihat pipi kanan Seokjin yang agak membiru. “A-anda baik-baik saja? Pipi Anda masih memar.”
“Ini hanya luka ringan, Soojung, gwaenchana.”
“Aku seharusnya langsung menyelesaikan masalah ini dengan Kai sejak kemarin sehingga Mr. Kim tidak perlu terseret kembali dalam perilaku Kai yang buruk. D-dan aku tidak tahu apa yang terjadi kalau Mr. Kim tidak muncul tadi.”
Seokjin menoleh dan memberi senyum lembut pada Soojung. “Sebenarnya aku menunggumu di kampus, aku ingin memberitahukan secara langsung mengenai apa yang terjadi. Tapi melihatmu yang pergi terburu-buru, aku pun mengikutimu sampai ke club. Tadinya aku tidak akan ikut campur untuk pembicaraanmu dengan Kai. Tapi saat melihat dia sudah akan main tangan….”
Soojung menggigit bibir dan sedikit menunduk. Itu memalukan. Dia malu karena diperlakukan seperti itu oleh kekasihnya sendiri di depan umum, juga di depan Seokjin.
“Trimakasih, Mr. Kim, aku berhutang budi padamu.”
Seokjin kembali tersenyum pada Soojung. “Sudah menjadi tugasku untuk melindungi muridku. Ini mungkin akan menjadi pelajaran juga bagimu, Soojung, tentang menjalin hubungan.”
Soojung mengangguk-angguk dan menghela nafas. Dia tidak akan berpikir dua kali untuk hal ini. Ia akan mengakhiri hubungannya dengan Kai.
“Apa tidak sebaiknya perbuatan Kai tadi sore yang memukul Anda dilaporkan saja pada rektor?”
“Tidak perlu, aku tidak senang mencari pusat perhatian,” ucap Seokjin, “Dia tidak akan macam-macam lagi, Soojung, percayalah.”
Soojung memandang dosennya itu. Siapakah pria di depannya ini? Begitu bijaksana, gentle dan sudah menolongnya malam ini. Soojung memainkan kedua tangannya dengan gugup. Dan tadi saat Seokjin menahan tangan Kai yang akan memukulnya, jantung Soojung berdegup sangat kencang.
Soojung memalingkan wajahnya dan melihat ke luar jendela. Anniya… dia tidak boleh mudah terbawa perasaan seperti ini.
🎃🎃