
"WOSHH!!"
Angin sore hari menjelang malam menyepoi rambut Arthur yang halus. Ia, menatap langit jingga yang mendung di ufuk timur Shinrin ditemani oleh Ciel, guru baru Arthur.
"Guru, apa badai seperti itu sering terjadi di Shinrin?" Arthur menunjuk kumpulan awan hitam diufuk timur.
Ciel, melihat keluar jendela dan melepas kacamatanya. "Apa Anda ingin tau apa yang sedang terjadi disana?" Ciel, mengelus halus rambut Arthur.
Tentu saja Arthur penasaran. Namun, rasa penasarannya itu pecah saat Ia ingat ucapan ayahnya untuk tidak keluar selain bersamanya.
"Tidak. Aku harus tidur. Aku ingin melihat acara peresmian ASJ" Ucap Arthur sambil memegang gagang jendela yang akan ia tutup. Tangan Ciel, berada disela jendela itu.
"Sampai kapan Anda akan berada dizona seperti ini? Apa Anda tidak mau berkembang?"
Mendengar itu, Arthur langsung mendengus.
"Kalau begitu, ajari aku sihir. Aku bisa belajar teori mandiri tanpa penjelasan guru" Gerutu Arthur pada Ciel sambil memungunginya.
Mata Ciel, mengikuti arah Arthur berjalan menuju kasurnya. "Grep!" Ia menahan tubuh Arthur dengan mengalungkan lengannya dipinggang Arthur yang kecil.
"Guru lepaskan aku" Arthur mengayun-ngayunkan kedua kaki dan kedua tangannya sambil melihat Ciel yang menatapnya tanpa ekspresi.
"Kau akan tersesat tanpa ada yang menuntunmu. Jangan sok pintar dihadapan gurumu ini. TAK!" Ciel mengetuk keras kepala Arthur dengan buku bersampul gelap dengan batu kristal mana disampulnya.
Arthur dipindahkan posisi berada dipungung Ciel yang tegap. Ciel, jauh dari kata kekar. "Pegangan" Ucap Ciel sambil mengalungkan kedua lengan Arthur dilehernya dan menahan pungung Arthur bagian bawah.
"Jump!" Ciel, melompati jendela dan berjongkok diambang jendela.
"Guru mau apa?" Arthur bertanya dengan polos dan melihat tanah yang jauh dibawahnya. (Arthur berada dilantai 3 Istana Shinrin). Arthur mulai pening.
"Jangan mencontoh ini. Tapi, kalau Anda bisa melakukan sesuatu yang bisa kulakukan, maka boleh-boleh saja. Syuuuut!" Ciel melompat dari lantai tiga Istana Shinrin yang berjarak 8 meter dari tanah.
"HUAH!!!!" Arthur berteriak tepat ditelinga Ciel. Ciel hanya bisa melirik Arthur kemudian, "Bwosh!" Ciel melayang dilangit dan "AAAAAAAAA!!!!!!" Arthur masih berteriak sambil menutup matanya.
"Kok, jatuhnya lama?" Batin Arthur sambil sedikit membuka matanya. Dan Arthur langsung membelalakan matanya saat melihat tanah Arden yang hijau membentang seluas mata Arthur memandang.
"WOOOOH!!!! Aku! Aku ingin sihir ini juga!!! GURU! AJARI AKU! JANGAN PAMER TERUS!!!!" Arthur memeluk Ciel dengan dalam. Hati kecil Arthur yang masih berusia anak-anak sangat berbunga.
Ciel menutup sebelah matanya karena mendengar suara Arthur yang hampir memecahkan gendang telinganya.
"Tentu, bila Pangeran benar-benar bersedia menjadi muridku seutuhnya" Jawab Ciel.
Arthur yang masih kecil, tidak paham maksud Ciel. Ia melihat Ciel yang menyeringai. kedua gigi taringnya, terlihat panjang.
"Maksud guru?" Arthur mengaruk keningnya sambil menutup matanya.
"Saya akan mengajak Anda pergi jauh dari Negri terkutuk ini, untuk belajar sihir di Negri yang keras" Jawab Ciel. Arthur kembali bertanya sambil memegang Ciel, "Negri keras? Negri apa itu?"
"Negri yang berada ditengah dua Negri yang bersiteru. Tepatnya, di negeri Gry" Ucap Ciel.
Arthur tidak tau maksudnya. "Ya!, ayo pergi sekarang dengan sihir teleport! Aku, ingin bisa melayang seperti guru" Ucap Arthur dengan antusias.
...****************...
Nao tiba-tiba sudah ada di pinggiran hutan. Ia berlari menuju Gabriel yang sedang berbincang tentang aliran air mampet dengan petani lainnya disana.
Aliran air itu mampet tanpa penyebab. Tak ada sampah ataupun sesuatu yang membuat air mampet dialiran air itu.
Sebetulnya, Daeva tak ada hubungannya dengan air yang mampet itu.
"PAMAN!!! PAMAN GABRIEL!! TSUHA! TSUKI!!"
Nao berteriak memangil namanya.
Gabriel dan petani-petani disana, langsung melihat Nao yang berteriak.
"MEREKA DIDALAM HUTAN! DAN MEREKA DISERANG KUMPULAN SERIGALA SIHIR!!!" Tegasnya
Gabriel yang memegang gelas kaca, tak sadar ia jatuhkan.
Hati Gabriel langsung hancur mendengarnya. "TSUHA!!! TSUKIII!!!!" Ia langsung melihat kearah hutan dan berlari kedalam sana tanpa banyak berfikir.
Empat petani yang menemani Gabriel sangat terkejut. Mereka mendatangi Nao. "NAO! KENAPA KALIAN SAMPAI KEDALAM HUTAN?!!!" Mereka menguncang tubuh kecil Nao.
Nao menangis dengan kencang. Ia sangat ketakutan hingga tubuhnya bergetar. "Hentikan!" Salah satu petani itu menarik tangan laki-laki yang menguncang tubuh Nao. "Jangan membuat Nao ketakutan. Sekarang, kumpulkan orang dan bawa Nao ke orang tuanya. Aku akan meminta bantuan pada Markas Pemberantas Iblis" Laki-laki itu, adalah kepala lingkungan pemilik ladang tersebut.
Tiga petani laki-laki disana memahami keadaan dan langsung bergegas sesuai arahan orang itu.
Kepala lingkungan pemilik ladang tersebut langsung bergegas menuju tempat berkumpulnya anggota markas pemberantas iblis. Ia langsung masuk ke pos markas pemberantas iblis yang sedang berjaga, dan langsung menemui Nel yang sedang meminum air perasan jeruk.
Ia (Pelapor) menatap Nel yang sedang melihatnya dan meletakkan gelas berisi air perasan jeruk hangat. "Ada dua anak terjebak didalam hutan dan trman dua anak itu kembali sambil menangis mengakatakan kalau ada kumpulan serigala sihir yang mendekat"
"KLONTANG!!!!" Zack, Razel, dan Daniel yang ada disana membelalakan mata mereka, dan Kanza yang bermata menjatuhkan piring besi berisi daging matang untuk dibawa pulang sebagai makanan tiga serigala sihirnya.
Seisi pos sunyi sejenak. Kemudian, Nel langsung berdiri. Dan langsung memakai seragamnya, serta diikuti dengan yang lain.
Mereka bergegas.
"Razel! Jaga Val dan Liebe! serta pimpin para gadis yang mengevakuasi warga! Dan Zack! Bawa tuan ini untuk melapor ke istana, agar segera mengirim bantuan pada warga sekitar! Sisanya! Ikut denganku!" Tegas Nel pada mereka semua.
"BAIK KAPTEN!!!" Tegas mereka serentak.
Nel langsung berlari tanpa kuda karena pada saat itu, Guild Pemberantas Iblis masih belum diberi hak atas fasilitas kuda ataupun, kereta.
Razel berbicara pada Liebe, Val dan para gadis. Ia membagi anggotanya untuk mempercepat pengevakuasian. Hingga,-
"ANAK DAN SUAMIKU ADA DIDALAM SANA!!" Seorang wanita berteriak pada Val yang menghalangi jalannya.
Wanita itu, adalah Glashya, ibu Tsuha dan Tsuki.
"Ibu, tolong dengarkan saya. Suami dan anak ibu akan selam- DAGH!!"
Pedang Val yang memiliki dua telur, ditendang dengan lutut Glashya hingga rok Glashya terangkat keatas.
"UGH" Hancurlah masa depan Val.
Tak berhenti disitu saja. Glashya langsung split menyentuh tanah dan Ia memasukkan setengah tubuhnya di sela kaki Val. Kemudian, ia menyikut lutut Val dengan lututnya hingga Val hampir jatuh menimpanya. Dan diakhiri dengan, "DAGGGHHH!" Glashya menghentakkan telapak tangannya pada dagu Val yang akan jatuh padanya.
"BRUK!" Val jatuh kesamping setelah mendapatkan perlawanan dari Glashya.
Glashya langsung berdiri dan Ia berteriak memanggil nama kedua putranya, serta suaminya.