
"Apa Kau mengenalku saat Aku di ASJ?"
"Bila iya, maka akan pantas baginya menyuruhku untuk menjauhi Tsuki dan Nao"
...****************...
"Iya. Pantaskah, Aku meminta maaf padamu?"
Tsuha menyembunyikan tangan kanannya yang Ia kepalkan. Ia ingin membuang rasa bersalahnya itu.
Arthur benar-benar tak paham. "Kedua orang tuaku, tak pernah membohongiku. Apa, Tsuha hanya....."
Arthur, berfikir kalau Tsuha hanya mengatakan omong kosong. Namun, selama ini, harusnya Arthur bisa menilai Tsuha yang ada dihadapannya ini.
Ia (Arthur) membelalakan matanya karena Ia sudah bisa menilai sesuatu. Ia menatap Tsuha yang masih melihatnya.
"Jangan bercanda. Orang tuaku itu, tidak pernah merahasiakan apapun padaku. Kalau Kau dan Guru Nox pernah bertemu denganku dulu, harusnya.... Mereka pernah bercerita tentang hal itu" Ujar Arthur sambil meringis.
Ia berusaha tenang dipikirannya yang kacau.
Tsuha menatap Arthur yang meringis padanya. Wajah datar Tsuha, melihat baju bagian bawah sebelah kiri milik Arthur.
Ia (Tsuha) menariknya dan membuka baju Arthur itu.
"Lalu, luka apa ini?" Nada bicara Tsuha, terdengar halus ditelinga Arthur.
Archie memilih diam daripada harus mencampuri urusan Arthur, walau sebenarnya Ia sangat penasaran dengan kehidupan Arthur yang terlalu abu-abu untuknya.
Arthur menutup kembali pakaiannya, dan Tsuha berganti memegang kepala Arthur bagian kiri, serta mengusap kulit kepala Arthur yang terdapat bekas luka.
"Katakan padaku, apa yang diceritakan oleh Baginda Raja Naver dan Ratu Emilly padamu. Pangeran Arthur"
Arthur merasa kalau Tsuha hampir mirip dengan Kakaknya.
"Kau bukan Kakakku. Ya, lagian Aku sudah menceritakannya tadi" Arthur menjawabnya sambil menepis tangan Tsuha.
"Kau tidak menceritakannya dengan benar. Aku, memang bukan Kakakmu. Disini, Aku adalah partnermu. Selama Kau menjadi anggota Pemberantas Iblis" Jelas Tsuha.
Batin Arthur mengatakan kalau orang didepannya ini, tak seperti Tsuha yang Ia kenal saat di ASJ dan Tsuha yang beberapa hari yang lalu.
Tsuha menarik baju kaos bagian depan Arthur dan menariknya keatas hingga menutupi wajah Arthur.
Ia melihat luka panjang itu, lalu menghela napasnya saat Arthur membetulkan pakaiannya.
"Aku, hanya ingin Kau mengingat Guru Nox. Kau tak perlu mengingatku. Sebab, Ilmu yang Kau tau hingga saat ini adalah darinya. Guru Nox, sangat menjagamu hingga saat ini. Saat Ia mendengar kematian Raja dan Ratu Aosora yang terbunuh karenamu, Ia benar-benar tak mempercayainya. Ia langsung menuju ke Aosora di dini hari. Lantas, pantaskah Kau melupakan sosok guru sepertinya?"
Tsuha menunduk didepan Arthur. Ia tak menginginkan sesuatu yang lebih. Ia hanya ingin Arthur mengingat Nox yang berjasa paling besar padanya (Menurut Tsuha).
"Ia keluar dari Aosora setelah menghadiri pengangkatannya untuk dipindahkan tugas saat insiden dimana Kau mendapatkan luka itu. Aku sangat mengingat hal yang tak bisa kulupakan di hari tambahnya umurmu yang ke 10 tahun dan dihari pertama saat Aku bertemu denganmu"
FLASH BACK
Maaf ya teman-teman, bakalan ada banyak Flashback selain Tsuha dan Arnold disini. Flashback Archie dan Alex masih belum lengkap ya....
Sepuluh tahun yang lalu.....
"Klotak! klotak! klotak!"
Suara sepatu kuda menemani hari Tsuha selama tujuh jam perjalanannya bersama Ibunya yang bernama Glashya menuju Aosora untuk bekerja sebagai Pelayan Pribadi seorang Pangeran Aosora yang bernama Arthur.
Rambut hitam kecoklatan Tsuha dielus lembut oleh Ibunya disepanjang perjalanannya itu.
"Nanti, Tsuha gak boleh nakal ya sama Pangeran. Sejahil apapun Pangeran, Tsuha harus bersikap baik padanya" Mata Glashya yang hitam kecokelatan, menatap Tsuha begitu penuh kasih sambil memberikan senyuman pada Putranya.
Tsuha mengangguk tanpa banyak bicara pada Ibunya.
"Nanti juga, Tsuha akan diajari sihir sama Tuan Nox. Beliau, sahabat Raja Aosora Naver. Kamu harus banyak-banyak belajar darinya. Lalu, ajari Tsuki setelah Tsuha pulang nanti"
Tak lama setelah itu, Mereka telah tiba di Istana Aosora dan telah ditunggu oleh Ratu Emilly bersama Raja Aosora Naver dihari yang menjelang malam.
Glashya, turun sambil menuntun Tsuha dan memberi salam hormat pada Raja dan Ratu Aosora. Tsuha, mengikuti Ibunya yang memberi hormat pada Raja dan Ratu Aosora.
"Ha! Jadi Dia yang namanya Tsuha?! Kapan-kapan, bawalah anakmu yang satunya kesini!" Naver sangat senang dan langsung menggendong Tsuha yang berusia 7 tahun.
"I...bu...." Tsuha takut digendong oleh seorang Raja. Ia pikir, Ibunya akan menjualnya pada Naver.
"Ahahahaha! Apa Kau lelah? Mau makan dulu bersama Kami?" Naver melihat mata Tsuha yang berkaca-kaca.
"Lashya, Anakmu mau nangis.... Apa Aku yang keren dan tampan ini menakutkan dimata seorang anak kecil ini?" Naver menurunkan Tsuha dengan perlahan dan Tsuha langsung memeluk Ibunya.
Emilly menyikut perut Naver.
"Dia bukan takut karena wajahmu. Kau itu raja. Pantas bila Dia sangat kaget digendong oleh orang sepertimu!" Tegas Emilly pada suaminya.
Naver memegang dagunya yang bersih dan tak berjengot.
"Benarkah?~ Kupikir, Dia takut dijual Lashya padaku" Jawab Naver.
Glashya hanya terkekeh kecil mendengar Raja dan Ratu Aosora.
"Baiklah, Kalian berdua Istirahatlah. Besok, Kita akan membuat kejutan untuk Arthur mengenai kedatangan teman belajarnya dan Guru yang akan membimbingnya. Apa Tsuha siap menjadi teman Arthur?" Tanya Emilly pada Tsuha sambil membungkukkan tubuhnya.
Tsuha mengangguk beberapa kali.
"Baiklah, kalau Arthur jahil padamu bilang ke kami ya.... Dia memang agak jahil sama orang yang baru Ia temui"
Keesokan harinya.....
Glashya telah berpesan pada Tsuha untuk pergi ke tempat pelatihan yang ada di rumah kedua didekat taman bunga milik Baginda Ratu Emilly. Karena, Ibunya sedang sibuk untuk menyiapkan Arthur hingga sarapannya. Arthur, sangat memilih pada jenis makanan dan siapa yang memasaknya. Arthur sangat menyukai masakan Glashya.
Glashya telah merawat Arthur sejak usia Arthur mengijak hampir tiga tahun.
Hati kecil Tsuha, iri dengan Arthur yang selalu diperhatikan oleh Ibunya (Glashya).
"Aku adalah anak Ibuku, Kenapa Ibuku harus repot-repot melayaninya?"
Tsuha membatin sambil berjalan menuju tempat yang telah diberi tahu oleh Ibunya.
Disela itu, Ia harus melewati rumah ke dua.
"Rumah ini, luas sekali. Kalau ada Tsuki dan Nao, Mereka pasti akan berlarian dan berteriak dengan kencang disini" Lirih Tsuha sambil berjalan dilorong rumah ke dua yang samping kirinya terdapat taman yang hijau, serta ada satu air mancur dengan tempat duduk yang teduh disana.
Tsuha melihat taman kaca disisi kirinya.
Tsuha berjalan dan berbelok kekanan untuk menuju ditempat pelatihan yang dekat dengan taman kaca itu.
"DRAP!" Dari arah belakang Tsuha, Ia mendengar suara derapan kaki yang berlari kearahnya.
"Pangeran! Anda belum memakai sepatu!!!"
Tsuha mendengar teriakan Ibunya dari arah belakangnya. Sontak, Ia langsung melihat kebelakang.
Ia langsung membelalakan matanya. Sebab..... "GDEBUK!!!!!" Tsuha terjatuh telungkup. Diatas perutnya, ada anak laki-laki berambut biru yang lebih muda dari warna langit dan kornea yang lebih gelap dari warna laut yang dalam.
Aosora Arthur, menindihi Tsuha.
"Hei, Apa Kau akan berlatih bersamaku?"
Glashya langsung mengangkat Arthur dan membersihkan, serta merapikan pakaian Arthur yang lecek.
"Aku, ingin digitukan juga oleh Ibu" Batin Tsuha sambil bangkit sendiri dan melihat tangan Ibunya yang sibuk merapikan baju latihan Arthur yang berwarna dasar putih dengan kombinasi biru tua.
"Tep! Tep!" Kaki kanan Arthur yang hanya berkaus kaki, berusaha menginjak kaki Tsuha yang bersepatu.
Tsuha mundur selangkah kebelakang untuk menghindari sepatu barunya terinjak oleh Arthur.
"Dia benar-benar nakal! Kenapa Ibuku harus menjadi pelayan anak nakal sepertinya?!" Tsuha mengkernyitkan keningnya sambil melihat wajah Arthur.
"Kenapa?!" Arthur benar-benar membuat Tsuha kesal.
Saat ditempat pelatihan, Nox memperkenalkan dirinya dihadapan Arthur dan Tsuha.
"Tuan Nox! Kau akan menjadi Guruku?! YEY!!!"
Arthur merupakan anak yang ceria. Dan Tsuha, sangat mengirikannya.
"Hemf..." Ia hanya bisa mendengus dan membuang wajah pada Arthur.
"Hari ini, Kalian akan belajar tentang das.... DAGHHH!!!!!"
Belum usai Nox melanjutkan bicaranya, Arthur membuat ulah dengan memukulkan pedang Kayu pada punggung Tsuha dengan keras.
Tsuha hampir menangis. Ia melihat Arthur yang tertawa dan membalasnya "Duaghh! Bruk!" dengan menendang perut Arthur hingga jatuh.
"Hemp.... HUAAAAAA......." Arthur menangis karena di balas oleh Tsuha.
"Aku hanya membalasmu! tidak keras! Kau cengeng! Aku tidak cengeng sepertimu! Dasar manja!!!" Tsuha menunjuk Arthur dan Ia mengusap air matanya sendiri menahan rasa sakit dipungungnya itu.
"HUAAAAAA!!!" Arthur yang masih berusia enam tahun, menangis dengan kencang.
Nox menghela napas melihat dua murid barunya itu.
"Aku benar-benar akan gila karena dua bocah ini" Batin Nox.
"PFFFT! BUAHAHAHAHAHA!!!" Naver tertawa dengan kencang mendengar cerita Nox setelah bertanya perihal kenapa Arthur menangis saat pelatihan dan Arthur berkata untuk tidak mau lagi latihan dengan Tsuha.
Nox mengosok rambutnya yang pendek dan rapi.
"Arthur itu jahil dan Ia juga cengeng. Ha....(hela napas) Aku tidak terbiasa membimbing anak-anak" Nox langsung menyerah dihari pertama mengajar.
Naver berpikir sejenak.
"Apa Kau mau bila Bryan ikut belajar sihir denganmu?" Tanya Naver.
"Ha? Jangan bilang kalau adik tirimu yang memintanya? Aku sudah kapok mengajari bocah-bocah seperti Arthur!" Nox tidak ingin mengajari Bryan tentang sihir.
"Ayolah~ Bila Kau tak suka pada orang tuanya, cukup mereka saja yang tak Kau sukai. Jangan anaknya juga yang Kau benci. Dia tidak tau apa-apa. Ya, Aku akan menambah gajimu" Pinta Naver.
Nox, membuang mukanya dan melipat lengannya didada.
"Aku tak pernah meminta gaji padamu. Aku juga tak berniat bekerja disini. Aku hanya ingin membantu saja. Bantuanku, hanya untuk Arthur. Aku mengajar Tsuha karena Kau yang memintanya. Jangan meminta lagi" Tegas Nox pada Naver.
Naver tidak bisa memaksa Nox. Tapi, Ia juga akan merasa cangung dengan Orang Tua Bryan bila Nox menolaknya.
"Kalau begitu, Apa ayahmu ada dirumah? Aku akan memintanya untuk mem-"
Mendengar itu, Nox langsung membelalakan matanya.
"BAIK-BAIK! Besok, suruh Bryan masuk juga bersama Arthur!" Sela Nox sambil mengangkat kedua tangannya dan diakhiri dengan dengusan kesal.
Nox tak ingin Ayahnya marah bila Murid kesayangannya (Naver) meminta hal itu secara langsung pada ayahnya (Ayah Nox adalah gurunya dan guru Naver).