
Arnold melihat sekelilingnya. Sekeliling Arnold telah mengila. Dia paham betul bila melawan semua orang di hadaannya itu seperti bunuh diri.
Namun, walau begitu, Arnold telah membunuh sebagian besar orang-orang disana. Arnold sudah mulai kelelahan setelah mengeluarkan mananya sebanyak itu.
"Lampaui batasmu. Ini untuk ketenangan Akaiakuma"
Arnold kembali mengeluarkan pedang mananya.
"Lepas"
WOSH!
Sihir perlindungan Arnold menghilang begitu saja. Pedang mana Arnold kini mulai memanjang dan- "CRAT!!!!"
Tebasan pedang Arnold terlalu cepat untuk dilihat oleh mata yang telanjang.
"GDUBRAK!!!"
Serangan Arnold adalah tipe jangkauan luas, semakin sempit ruang Arnold menyerang, maka semakin besar daya serang Arnold.
Arnold sudah gila karena kehilangan jejak Linus.
Mata Nel bergetar saat melihat darah menyiprat ke wajahnya.
"Lucy...."
Rambut panjang hitam yang berikat kuda ikut tertebas dan jatuh di kaki Nel. Kepala Lucy, terpisah dengan tubuhnya saat Arnold menebaskan pedangnya.
Kanza yang berada di belakang Nel melihat kepala perempuan yang mengelinding ke arah kaki kirinya. Mata kepala itu yang terbelalak.
DEGH!
Kanza membuang mukanya dan langsung maju menghadapi Arnold. "Padahal, aku sudah menusuk jantungnya" Kanza melompati jasad Lucy dan menebaskan pedangnya kearah Arnold.
"TRANKKKKK!!! DAGH!"
Arnold menebaskan pedangnya ke arah pedang Kanza, kemudian melesatkan tendangannya yang di tahan dengan kedua lengannya.
Marsyal berjalan ke arah Tsuha dan mengendong ibunya yang sudah tak bisa berjalan untuk menjauhi Arnold.
Marsyal bukanlah orang yang murah hati. Ia menurunkan Glashya yang terluka dengan perlahan. Kedua mata Marsyal menatap tajam mata Tsuha.
PAT!
Kepala Tsuha yang berambut gelap diusap perlahan oleh Marsyal.
"Apa kau ingin mengakhiri ini semua?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Marsyal membuat Tsuha kebingungan. "Apa maksud ucapan kakak ini?"
Marsyal memajukan wajahnya ke arah Tsuha. "Aku bertanya, apa kau ingin mengakhiri semua ini?" Marsyal mengulang pertanyaannya.
Tsuha mengangguk dengan perlahan.
"Kalau begitu, katakan padaku, apa yang membuat iblis itu menyerang Shinrin?"
Tsuha menelan ludahnya. Marsyal terlihat menyeramkan dimata anak laki-laki berusia 11 tahun. Tsuha menundukkan pandangannya dan memainkan jari tangannya.
"WOSH!"
Tiba-tiba Arnold muncul dibelakang Marsyal dan langsung menebaskan pedangnya kearah Marsyal.
SYUUUUNG!!!! TRANKKKKK!!!!
Marsyal menarik pedang besinya dan langsung menangkis serangan Arnold yang menyerang dari belakang.
Arnold sempat terkejut dengan kemampuan Marsyal. Senyum seringaian mengembang dibibir Arnold. Marsyal, melihat perlahan kearah Arnold yang menyeringai kearahnya.
Hari ini Marsyal mendengar pertanyaan itu dua kali. Marsyal melihat langit yang masih tertutup dengan awan.
"Aku hanya manusia biasa yang ingin menjadi seorang penulis"
Mendengar jawaban Marsyal, seringaian Arnold menghilang begitu saja. "Apa hubungannya?".
"Aku hanya manusia yang menginginkan ketenangan. Tanpa suruhan orang lain, Aku ingin tertidur tanpa memikirkan apapun. De luce Arnold, hentikan saja pertarungan ini. Kau hanya membuat bangsamu semakin dibenci oleh bangsa Manusia, Siluman dan Malaikat. Perbuatanmu ini, tak akan berakhir bila kau masih terobsesi dengan sesuatu"
Mata Marsyal, menatap tajam mata Arnold yang merah.
Tatapan Marsyal mengingatkan Arnold dengan seseorang. "Tatapan itu, kenapa mirip dengan tatapan guru?".
"Jangan sok untuk menguruiku. Aku akan mengakhiri semua ini, asal pusaka milik guruku kembali ditangan Akaiakuma. Akaiakuma, akan menjaga pusaka itu dan tidak akan menggunakannya sedikitpun"
Arnold paham betul dengan pusaka yang ingin ia ambil kembali. "Pusaka itu, berbahaya bila digunakan oleh makhluk biasa seperti dia. Pusaka itu, akan terus mengerogoti inangnya hingga penggunanya mati" Arnold berfikir, satu-satunya orang yang bisa diajak bicara disini hanyalah Marsyal.
Wajah Marsyal tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikitpun. "Lantas, pusaka hanya bisa digunakan oleh siapa?" Marsyal adalah kapten dari Guild Penyidik. Harusnya, Arnold harus mengetahui apa yang akan terjadi setelah ini.
"Aku akan diuntungkan dengan posisiku, Aku tau dengan orang didepanku ini. Dia adalah tipe orang yang tidak memihak kanan atau kiri" Arnold sudah menyelidiki Marsyal selama empat bulan sebelum melakukan penyerangan.
Dari penyelidikan yang telah Ia lakukan, membuahkan hasil berupa. Marsyal adalah sosok ternetral yang pernah ia temui. Marsyal tidak menyalahkan bangsa lain sebelum mengusutnya dari dua sudut pandang. Maksudnya, dari sudut korban dan dari sudut pelaku.
Marsyal selalu mencari jawaban tentang alasan seseorang melakukan hal tersebut. Hal itu, dilakukan juga kepada Arthur, saat penyidikannya tentang kematian keluarga Aosora.
"Itu milik guruku. Alasan mengapa keturunan Agleer dengan keturunan Aosora tak bisa hidup lama, karena ef-"
BRUAKKKKKK!!!!!!!
Tubuh Arnold tiba-tiba menghantam ke tanah dengan keras. Kepala Arnold sulit diangkat keatas.
"PRAKKK!"
Marsyal mengantupkan kedua telapak tangannya dan sihir tanah yang mengekang Arnold telah diaktifkan.
Mata Arnold melihat kedua mata Marsyal yang menatapnya dengan penuh amarah. Tatapan Marsyal, mirip seperti tatapan hewan yang buas.
Marsyal berjongkok dan melihat wajah Arnold yang berusaha mendongak keatas. "Disini, kau yang salah. De luce Arnold, aku tau kau selalu mengintaiku dari kejauhan. Biarkan semua ini terjadi sesuai takdirnya. Kau harusnya sudah mati. Siapa yang membangkitkanmu? Kau bukan salah satu dari titisan"
Arnold tidak tau sihir apa yang digunakan Marsyal. Ia menggunakan sihirnya tanpa diucapkan. Arnold mengkatupkan mulutnya erat-erat.
"Kau membuat satu per delapan populasi serigala sihir mati. Apa menurutmu, serigala sihir itu hanya sebuah pion untuk memenuhi hasratmu?"
Marsyal memiliki pandangan lain terhadap serigala sihir.
"Aku ingin dikehidupanku ini, tak membunuh satu orang pun"
Marsyal melepas sihir yang mengekang Arnold. "Tidak membunuh satu orang pun? Itu hanya sebuah omong kosong. Kau tak akan bisa melakukan hal itu bila Negri ini masih memiliki kebencian pada bangsa lain"
Arnold berdiri sambil mengeluarkan pedang mananya kembali. "Sejak dahulu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri. Apa yang membuat Bangsa Iblis dibenci oleh bangsa lain? Bila menjawab dari segi kekuatan, itu adalah jawaban yang tak masuk akal. Mengapa bukan bangsa Elf saja yang dibenci? Bukankah Bangsa Elf adalah bangsa yang berumur panjang dan memiliki ikatan dengan alam yang kuat? Mengapa harus Bangsa Iblis yang ditakuti?"
Marsyal berancang-ancang menahan serangan Arnold.
"De luce Arnold, kau adalah keturunan dari hubungan Raja De luce ke-9 dengan pelayannya sendiri yang memiliki Ras Iblis rambut putih kemudian pelayan itu, diangkat menjadi seorang selir sebelum melahirkanmu. Mengapa Raja ke-9 melakukan hal itu?" Marsyal melontarkan pertanyaan pada Arnold.
"Karena dia tau bahwa Iblis ras rambut putih tanpa tanduk itu memiliki kekuatan yang lebih dari ras biasa. Jangan menyamakanku dengan b*jingan gila itu. Aku, bukan pengila kekuatan dan kekuasaan" Jawab Arnold pada Marsyal.
"Apa itu juga termasuk alasanmu mengapa kau ingin membunuh putra sulungmu? De luce Archie?"
Arnold mulai kesal dengan Marsyal yang menyebutkan nama yang tak ingin ia dengar.
"Seberapa dalam kau mengetahui tentang kehidupanku?"
"Setidaknya, lebih dalam dari yang diketahui oleh orang-orang biasa" Jawab Marsyal sambil meletakkan pedang besinya di sarung pedangnya.
"Ren ve Marsyal, aku yakin kau bukanlah orang biasa. Suatu hari nanti, topengmu pasti akan terlepas dari wajahmu. Kau adalah orang yang netral dan hampir sama dengan guruku. Dia orang yang tak mudah mempercayai seseorang dengan mudah. Sama sepertimu. Bedanya, guruku mampu membunuh orang lain untuk menegakkan moralnya itu. Ia tidak peduli baik wanita ataupun anak-anak yang ia bunuh. Ia juga, tak peduli dengan bagaimana pandangan orang lain yang menilainya. Ren ve Marsyal, demi memenuhi harapanmu, kau harus rela mengorbankan sesuatu yang ada pada dirimu. Hati dan akal pikiran adalah musuh utamamu. Dari hati dan akal pikiranmu itulah yang membuat dirimu memiliki pandangan berbeda dengan duniamu. Aku sudah lama membuang hatiku (perasaan) pada kedua putraku. Mereka telah membuang hati mereka padaku. Itu adalah pilihan mereka. Bila itu yang terbaik menurut mereka, aku tidak akan berkomentar lagi. Sampai kapanpun itu, walau aku akan bertemu dengan putraku aku tidak akan mengurus kehidupan mereka lagi. Aku melakukan ini, hanya untuk Akaiakuma. Bukan untuk salah satu atau kedua putraku"