
"Selamat ya, Kalian semua telah melewati masa pelatihan. Malam ini, Kalian akan mendapatkan misi gabungan. Setiap tim akan berisi tiga orang. Karena disini ada Dua belas orang jadi akan ada empat tim yang akan mendapatkan tugas yang berbeda-beda dan acak" ucap Marsyal.
"Tugas Kalian ada didalam kotak ini dan empat tugas disini, memiliki kelas D yang cocok untuk pemula seperti kalian. Tugas Kalian hanya menyelidiki dan tidak lebih. Kalian, dilarang untuk melakukan penyerangan tanpa Izin dari Kami berdua. Disetiap tim, akan mendapatkan masing-masing Dua suar asap dengan warna yang berbeda. Suar pertama berwarna kuning yang berarti Kalian menemukan sesuatu yang cukup berbahaya dan Suar merah artinya tanda kalau Kalian sedang diserang dan kesulitan mencari jalan keluar. Kami akan datang saat kalian melepaskan suar itu bila dalam kondisi darurat saja" Razel menjelaskan aturan-aturan dalam misi pertama mereka.
"Ada yang masih belum paham?" Marsyal bertanya pada mereka.
Mereka saling melihat dan menebak-nebak apa yang akan terjadi.
Arthur mengangkat tangan kanannya.
"Iya, Ada apa Pangeran Aosora?"
Arthur menurunkan tangannya.
"Apa misi tingkat D tidak akan membuat Kami mati?"
Marsyal membelalakan matanya.
"PFFFTT! BUAHAHHAHAHAHA!!!" Sembilan anak tertawa saat mendengarkan pertanyaan Arthur.
"Dasar aneh! Misi tingkat D, tidak akan membuat mati orang yang menjalankan misinya!" Sahut salah satu dari Mereka.
Tsuha menatap Remaja pelatihan itu yang menertawakan Arthur.
"Itu bisa saja terjadi, apa bila berada disuatu kondisi yang membuat misi tingkat D berubah menjadi tingkat B atau A. Hal itu sering terjadi karena kesalahan informan saat menyampaikan apa yang terjadi. Memang, apa yang lucu dari pertanyaannya?"
Mereka yang tertawa langsung terdiam setelah mendengar ucapan Tsuha.
"Nah, Kami memberi suar asap ini. Sebagai pertanda kalau Kalian sedang dalam bahaya. Kami akan segera datang saat melihat suar itu" Jawab Marsyal.
Nao mengkhawatirkan banyak hal yang mungkin saja terjadi.
Ia menjepit poninya dengan jepitan rambut.
"Kapten, Apa di misi ini cocok untuk Kami?" Tanya Nao.
"Tentu saja. Kalian tak perlu khawatir karena, semuanya sudah Ku siapkan dengan matang" Jawab Marsyal sambil mengambil kotak berisi tugas mereka dari Razel.
Razel menganggukinya karena, Ia juga bertugas dalam hal ini.
"Baiklah, sekarang kalian mencari tim yang terdiri dari tiga orang. Lalu, setiap tim harus memiliki seorang ketua tim untuk mengambil tugas Kalian yang acak" Lanjut Marsyal.
"Nao, Kita setim" Ucap Tsuha
"Aku...?" Arthur menunjuk dirinya sendiri.
"Baiklah, Aku mau jadi ketuanya. Kau gak keberatankan Tsuha?" Tanya Nao sambil melihat kearah Tsuha yang mengangguk.
"Eh! Aku bagaimana?" Arthur menghalangi jalan mereka berdua.
"Dasar bodoh. Kau sudah setim dengan mereka. Apa Kau itu.... Uggghhh...Aku sudah cukup diam untuk hari ini!" Tegas Archie.
Archie telah menolak ajakan Mizel untuk menghilangkan tanduk dikening Arthur itu dan Ia akan kembali ke Akaiakuma bila saatnya sudah tiba.
Wajah Arthur langsung berubah menjadi sumringah.
"Benarkah?! Ah, Terima kasih!" Ucap Arthur.
Tsuha yang tidak tau apa-apa menghindari Arthur karena Ia yakin, kalau Arthur akan banyak bicara setelah mendapatkan misi pertama ini.
"Aku sangat tidak sabar!"
Nao berjalan kearah Marsyal untuk mengambil misi kelas D secara acak.
Ia memegang satu persatu kertas didalam kotak itu dan mengambilnya salah satu dari keempat kertas itu setelah memegangnya.
Kemudian, Ia mengisi list keanggotaan misi gabungan ini dan mengambil tas berisi P3K serta suar dan makanan.
Nao tidak membuka kertas tersebut secara langsung. Melainkan, Ia kembali dulu dan langsung memberikannya pada Arthur.
"Biasanya, Nao tidak seperti itu" Pikir Tsuha.
Arthur menerimanya dengan memberi ekspresi bertanya-tanya.
"Bacain. Misi pertama Kita harus yang spesial" Ucap Nao sambil meringis pada Arthur.
"Benar. Misi pertama Kita harus yang berbeda. Dan, jangan sampai Nao yang sudah pamer jidatnya yang seluas lapangan istana Shinrin jadi sia-sia" Sahut Tsuha.
"Eh! Apanya nj*r! Mana ada kek gitu! Rambutku ini hanya sedikit menganggu pandanganku" Tegas Nao.
"Oh, Kupikir, selama ini warna korneamu berbeda" Arthur menyela mereka.
"PFFT! Kau pikir, Aku seorang Malaikat Agung?" Nao tersenyum sebelah.
Tsuha hanya mengeleng dan langsung mengambil kertas itu dari tangan Arthur.
"Biar ku bacakan. Kau lama sekali! Aku sudah penasaran dengan misi ini"
Tsuha membuka kertas yang dilipat itu.
"Misi: Memastikan adanya Cerberus berkepala Lima di Hutan Sihir yang dikabarkan berkeliaran dihutan dan diperkirakan memiliki tinggi tiga meter"
"Hah? Cerberus? Berkepala Lima? Dengan tinggi tiga meter?" Tanya Arthur.
"Jujur saja, Aku tak ingin misi yang berhubungan dengan Hewan Sihir dihutan sihir. Apa Kita bisa mengubah misi ini?" Tanya Tsuha setelah membaca kertas misi itu.
"Arthur, Apa Kau tak ingin misi ini?" Tanya Nao.
Arthur mengaruk tengkuknya.
"Cerberus itu makhluk mitologis yang keberadaannya masih abu-abu. Ditambah lagi Cerberus itu berkepala Lima. Kayaknya, itu berbahaya bila memang ada keberadaannya dihutan sihir. Lalu, bagaimana bila cerberus itu memang ada dan menyerang Kita? Lebih baik Kita tukar misi saja daripada membahayakan diri Kita" Jelas Arthur.
"Pikirkan baik-baik. Cerberus itu adalah hewan sihir yang bisa membuka dunia bawah yang membatasi Kita dengan dunia para serigala sihir. Dan, Cerberus juga, merupakan simbol dari masa lalu, masa kini, dan masa depan" Ujar Nao.
"Astaga.... Itu kalau Cerberus kepala tiga. Bayangin aja, kepalanya ada Lima. Seserem apa coba?" Tanya Tsuha.
"Heh! Kita cuma memastikan saja. Dari aura mana disekitarnya akan terasa apabila ada keberadaan sihir yang kuat. Lagian, ada Arthur yang bisa mengeluarkan sihirnya dihutan itu"
Tsuha langsung melihat kearthur setelah mendengarkan ucapan Nao barusan.
"Kau tau darimana Nao?" Tsuha kembali melihat Nao
"Tsuki yang memberitahuku"
"Bagaimana bisa?!" Tanya Tsuha pada Arthur.
"Ya, ndak tau" Jawab Arthur.
Pada akhirnya, Mereka menerima misi itu dan langsung berangkat kehutan sihir.
Diperjalanan Nao dan Arthur banyak berbincang didepan Tsuha.
Tsuha bertugas membawa tas yang seberat hampir 2kg itu dan berjalan dibelakang mereka sambil mendengarkan perbincangan mereka yang bertopik pada sejarah kutukan keluarga Aosora.
Perbincangan orang pintar memang berbeda.
"Ya, Aku cukup bersyukur karena Aku bukan pewaris Kerajaan Aosora. Walau begitu, Aku memiliki tanda didada kiriku yang sangat berbeda dengan Kutukan milik Kak Ram"
"Sejak kapan Kau memilikinya?"
"Kata Ibuku, ini sudah ada sejak Aku terlahir. Dan Saat bayi dulu, Aku hampir mati karena banyak sekali penyakit yang menyerangku"
"Salah satunya?"
Sebenarnya, Tsuha ingin sekali nimbrung di obrolan Mereka. Tapi, Dia hanya mendengarkan saja.
"Ayahku pernah berkata kalau Aku waktu bayi dulu, pernah menyerap mana orang-orang disekitarku hingga usiaku dua mingguan. Dan katanya juga, Itu yang membuatku mudah terserang penyakit" Jawab Arthur.
Obrolan mereka semakin terdengar menarik di telinga Tsuha.
"Lalu, bagaimana sekarang?"
"Maksudnya?"
"Maksudku, Apa sekarang ini Kau masih bisa menyerap mana milik orang lain?" Jelas pertanyaan Nao.
"Tentu saja.... Gak bisa" Jawab Arthur.
Nao mengangkat kedua tangannya hingga ditengkuknya dan melipatnya dibelakang tengkuknya.
"Padahal, kalau dikembangkan lagi itu bisa menjadi sihir tingkat Tinggi dan mungkin sihir terlarang. Itu cukup bagus untuk jadi sihir pamungkasmu"
"Arthur, bukankah sihir milikmu itu hampir sama dengan yang dijelaskan oleh Kapten Penyidik itu?" Tanya Archie.
"Iya, Kurasa Kapten Marsyal memang tau tentang diriku. Lagipula, Kapten pasukan mana yang tidak tau hal itu yang sempat membuat Paman Linus dan Raja Meganstria berusaha mencari seorang ahli sihir untuk menyegel sihir berbahaya itu" Jawab Arthur pada Archie.
Tsuha semakin tau alasan Raja dan Ratu Aosora melarang Arthur keluar dari Istana setelah mendengar obrolan itu.
"Memang tak ada salahnya kalau Baginda Raja dan Ratu Aosora melakukan itu. Itu semua untuk melindungi anaknya. Tapi, Bagaimana caranya, agar Dia bisa menghentikan sihir itu?" Batin Tsuha sambil melihat Arthur yang kembali mengobrol dengan Nao.