The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
TSUHA bagian 8 [Penculikan yang Salah]



"PANGERAN! ANDA! BAIK-BAIK SAJA?! TOLONG AMPUNI SAYA!!" Prajurit itu, mengejar Arthur.


Arthur melihat kebelakang.


"Sial! Monster itu, mengejar Kita! Apa yang harus Kita lakukan Pangeran?!" Arthur menikmati permainan ini dan Ia, kesal pada Prajurit itu karena mambuatnya hampir kesulitan bernapas.


...****************...


Tsuha tak tau apa yang harus Ia lakukan.


Ia menari balikk tangan Arthur dan langsung bersembunyi dibalik semak-semak.


"Pangeran! Saya minta maaf! Pangeran!!! Anda dimana?"


Arthur terkekeh kecil mendengar prajurit itu kebingungan dan terus menerus memanggilnya.


Dipikiran Tsuha, prajurit itu kuat sekali. Sebab, Prajurit itu bisa bangkit setelah terkena tendangan Arthur yang langsung melesat dirahang kirinya.


Arthur melihat Tsuha dengan raut serius menatap prajurit yang telah pergi dari sana. Kekehan Arthur, menghilang seketika karena hal itu.


"Kenapa? Apa Kau tak suka permainan ini?"


Mendengar pertanyaan Arthur, Tsuha tersadar dari lamunannya.


"Iya, mari Kita akhiri saja permainan ini" Tsuha berdiri dan keluar dari balik semak.


Tsuha berdiri tanpa pikir panjang. Arthur terlalu kasar saat menyerang prajurit tadi. Prajurit itu, pasti takut dipecat karena ulah Arthur yang tiba-tiba kabur darinya.


Arthur berdiri dan melihat punggung Tsuha yang mulai menjauh. "Apa, Kau akan meninggalkan ku juga?"


"Kenapa? Apa permainannya tidak seru untukmu?"


Arthur mengepalkan tangan kirinya dan Ia menatap tajam Tsuha yang tiba-tiba berhenti.


"Apa, Aku terlalu keterlaluan pada Pangeran Arthur?" Tsuha membalik tubuhnya dan Ia melihat Arthur yang menatapnya dengan tajam.


DEGH


Raut itu, tak pernah terlihat sejak pertama kali Tsuha menemani Arthur. Raut itu, membuat Tsuha memalingkan wajahnya karena nampak tak sedap dipandang.


"Kenapa? Apa Kau bosan bermain denganku?" Nada suara Arthur bergetar saat mengatakannya.


"TIDAK!" Tsuha yang memalingkan wajahnya, langsung berkata dengan tegas dan melihat wajah Arthur.


"PFFFT! BAUAHHAHAHA!" Arthur tiba-tiba tertawa lepas.


"APA KAU TAKUT TSUHA?! HAHAHAHA!"


...****************...


Tsuha tak tau dengan karakter Arthur yang sering membuat jantungnya berdegup kencang itu. Yang Ia harus yakini hanya ada satu hal. Yaitu, Jangan sampai kelewatan batas.


Keduanya, kembali melanjutkan permainan mereka. Dan tak berselang lama dari itu, Arthur kelelahan dan merasa bosan. Ia mengikuti Tsuha yang hanya bersembunyi dan tidak menyerang monster (Prajurit yang lewat).


Arthur keluar dari permainan yang Ia inginkan dan kembali duduk ditempat piknik kecil-kecilan yang sudah ditata oleh mereka berdua.


"Kita selesai saja mainnya. Ini tidak seru sama sekali" Ujar Arthur sambil mengambil apel berwarna hitam dari keranjang kue kering untuk camilan piknik dan mengosokkannya pada baju yang Ia kenakan.


Tsuha tidak membawa apel itu untuk piknik. Dan apel itu, berwarna aneh. Terlalu hitam.


"Apel itu, Anda dapatkan darimana?"


Tsuha tau kalau Arthur tidak boleh makan makanan sembarangan. Tsuha hanya membawa makanan yang sudah disiapkan oleh Ibunya khusus untuk dimakan oleh Arthur.


Arthur melihat Tsuha dan melihat apelnya.


"Dari keranjang kue. Cuma ada satu sih, Kau mau juga?" Tawar Arthur sambil mengulurkannya pada Tsuha.


"KRAK!!"


Tiba-tiba, terdengar suara ranting kering yang patah.


Telinga Tsuha sangat tajam. Ia langsung melihat kebelakang dan "WOSH!!!!!"


Sesuatu, melesat dengan cepat dan membawa Tsuha pergi dari tempat itu.


Mata Arthur, melihat wujud itu. Dia adalah Iblis. Iblis yang memakai Zirah Prajurit.


"TSUHAAAAAA!!!!!!!!" Teriak Arthur sambil berdiri dan mengejar Iblis itu masuk kedalam hutan sihir.


Mata Tsuha bergetar melihat dua tanduk dikening Iblis itu yang terlihat telah terpotong.


Mulut Tsuha disekap oleh tangan Iblis itu yang dingin dan pucat. Jantungnya berdebar dengan kencang saat Iblis itu membawa Tsuha berlari memasuki hutan.


"Jangan berbicara bila Kau tak ingin terpisah dari rag,.... Eh?" Iblis itu, tiba-tiba berhenti berlari dan mengangkat tubuh Tsuha untuk melihatnya dengan seksama.


Ia, membuka tudung pakaian Tsuha.


Mata hitam kecokelatan dan warna rambut yang hitam sama seperti warna matanya. "Siapa Kau?"


Iblis itu, menargetkan Arthur untuk Ia culik. Namun, Ia malah mendapatkan Tsuha yang mengenakan pakaian Arthur.


Bibir Tsuha berdenyut. Ia tak bisa mengeluarkan suaranya sangking takutnya pada Iblis dihadapannya itu.


Iblis itu menarik kera pakaian Tsuha dengan tangannya seraya bertanya "Kau, bukan Pangeran Aosora?"


"WOSH!!!!! TRASH!"


Arthur tiba-tiba berteleport diatas Tsuha dan Ia langsung mengeluarkan pedang mananya memotong tangan kanan Iblis yang mengangkat kera pakaian Tsuha.


CRAT!


Darah beraroma busuk menyiprat diwajah Tsuha


Topi yang menutupi rambut Arthur terjatuh setelah Ia mendaratkan kakinya didepan Tsuha.


"Bruk!"


Tsuha terjatuh karena syok.


Arthur berdiri membelakangi Tsuha untuk menolongnya dari Iblis didepannya itu. Dan Ia, memperkuat pegangan pedang mananya, untuk membuang rasa takutnya pada Iblis dihadapannya itu.


"Jangan ganggu Kami. Kami akan membiarkanmu pergi"


"Hmm?"


Iblis itu, melihat lengan kanannya yang meneteskan darah busuk. Kemudian, Ia melihat Arthur. Rambut yang lebih muda dengan warna langit. Warna kornea mata yang lebih kelam dari warna Lautan. "Aosora Arthur" Iblis itu, langsung mengenalinya.


Iblis itu, melihat ke langit-langit hutan yang rimbun akan daun-daun pohon dan merilekskan tubuhnya.


Iblis itu, menunjukkan seringaiannya dan menatap mata Arthur.


"Tak diragukan lagi. Itu memang dirimu. Hanya Kau saja yang bisa menggunakan sihirmu dihutan sihir ini" Ucapnya.


Tangan kiri Tsuha menyentuh akar pohon didekatnya.


Ia, menggunakan instingnya untuk mengendalikan akar pohon itu, untuk mengikat Iblis tersebut agar Mereka bisa kabur.


"Berapa lama lagi Aku harus menunggu? Kembalikan Hinoken milik Guruku padaku"


Hari itu, menjadi hari pertama bagi Arthur mendengar orang lain menyebutkan Hinoken.


"Hinoken adalah Pedang pusaka Kerajaaan Aosora. Aku sendiri, sebagai Pangeran Aosora, belum pernah melihat pedang sihir itu secara langsung! DAAAGGGGGHHHH!"


Arthur melesatkan tendangannya pada rahang kiri Iblis itu. "Tep!" Namun, Iblis itu mampu menahan serangan Arthur yang monoton dan mudah terbaca.


"Kebiasaanmu, masih sama seperti dulu. Kau, selalu mengincar rahang kiri lawanmu. Cobalah, pukul lawanmu tepat pada rusuk mereka. BUGH!! KREAK!!"


Iblis itu, menggunakan pukulan tangan kirinya pada rusuk kanan Arthur.


"ARGH!" Mata Arthur bergetar dan memasang raut sakit, Namun, Ia langsung menyeringai dan menaikkan salah satu alisnya.


"Bercanda! WUUSSSHHHHHHH... BUGH!" Ucap Arthur sambil memukulkan telapak tangan kanannya yang Ia perkuat dengan aliran mana miliknya.


"BWOSH!"


Tubuh Iblis itu, melayang kebelakang karena serangan sihir milik Arthur. Melihat hal itu, Tsuha langsung mengulurkan tangan kanannya dan akar yang Ia siapkan untuk mengikat Iblis itu, seketika langsung Ia ubah dengan bentuk yang runcing. Sontak pedang itu, langsung menembus perut Iblis itu.


"JLEB!!!! KHAK!!!!! CRAT!!!!!"


Arthur langsung membalik tubuhnya dan menarik lengan Tsuha untuk segera pergi keluar dari hutan sihir ini.


Arthur, masih belum mampu untuk membawa Tsuha berteleport dengannya. Jalan satu-satunya adalah berlari.


Arthur berlari sambil memegang rusuk kanannya yang mungkin patah karena pukulan keras dari Iblis itu.


Tsuha menarik balik tangan Arthur dan Ia berjongkok didepan Arthur.


"Pangeran! Naiklah! Cepat!" Tegas Tsuha yang berniat membopong Arthur.


"Percuma! Cepatlah berdiri!" Arthur kembali menarik tangan Tsuha. Menurut Arthur, Ia hanya akan menghambat Tsuha bila tidak berlari bersama.