
"Permisi, Tuan dan Nyonya. Saya Zack dari Guild Pemberantas Iblis. Bolehkah, saya duduk disini?" Zack tersenyum sambil meletakkan tangan kanannya pada dada kirinya.
Dua orang itu melihat Zack, "Tentu" Jawab mereka dengan bersamaan.
...****************...
Zack memesan sesuatu untuk di makan di meja itu dan menyerahkan secarik kertas yang berisi menu makanan yang di pesan.
Pegawai tempat makan yang menerima pesanan Zack langsung melihat ke arah Zack.
Zack melepas resleting jubahnya.
"Hari ini lebih ramai dari biasanya. Saya kemari karena mendapatkan rekomendasi dari salah satu junior saya. Sayang sekali, dia tidak bisa menemani sata karena ada urusan yang mendadak" Zack melepas jubah seragamnya dan meletakkannya di atas kursi yang akan ia duduki.
Zack mulai duduk di kursi itu.
"Ah, apa saya menganggu waktu Anda berdua?" Zack berbasa-basi.
"Tidak. Kami hanya makan siang. lagi pula, jam makan siang kami akan selesai" Jawab pria itu sambil melipat serbet yang ia kenakan begitu pula dengan wanita itu.
Satu persatu pembeli di warung itu mulai keluar dari tepat makannya.
Makanan Zack baru datang.
"Kalian berdua, pelayan dari keluarga mana? Model" Zack berbasa-basi sambil memakan pesanannya.
Zack langsung melihat nasi yang ia makan. "Gilak! Kenapa rasanya bis seenak ini?!" Zack takjub dengan rasa makanan dari toko baru itu.
Keduanya masih berada disana untuk menghabiskan minuman mereka yang belum habis dan mereka memiliki postur tubuh yang ideal, serta mereka berdua memiliki karisma yang elegan.
"Kami pelayan dari marga Alba" Jawab Pria itu sambil melihat sekelilingnya yang langsung sepi seketika. Di dalam tempat itu, hanya tinggal mereka bertiga dan satu orang lainnya yang merupakan pria pemilik kedai sedang mengeringkan piring dengan serbet piring.
Zack melihat ke arah pria berpakaian pelayan dan wanita itu. "Keluarga Alba?"
"Iya, kami adalah pelayan keluarga Alba. Kami kemari hanya untuk makan. Kami mendengar makanan disini sangat enak jadi kami langsung kemari untuk mencobanya secara langsung" Jawab pelayan perempuan itu dengan intonasi suara yang baik didengar.
"Itu benar. Kami tidak berniat macam-macam. Saya harap, Anda tidak perlu mengeluarkan pedang untuk kami" Pria itu mengeluarkan kalung berbandul taring kecil dan meletakkan pisau itu di atas meja.
Wanita di depan pria itu menutup matanya dan mengangguk, kemudian ia meletakkan benda yang mirip seperti sisik berwarna putih yang terlihat berkilau.
Zack tidak mengerti mengapa keduanya memberinya dua benda aneh itu.
"Apa ini model sogokkan atau ancaman mereka?"
Zack meletakkan sendok yang ia pengang.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Zack sambil melihat mata pria itu yang berwarna hitam.
"Kami tau bila dirimu tau kalau kami bukan dari bangsamu. Kami sedang berada di wilayah yang bukan kami miliki, jadi tolong jangan menyerang kami. Kami akan segera pulang setelah menyelesaikan jam istirahat kami" Ucapnya.
Zack menahan tawanya. "Siluman memang seperti ini. Ucapan mereka tidak bisa dipegang" Zack sangat tidak mempercayai bangsa siluman. Ia memajukkan wajahnya ke arah laki-laki itu.
"Hah? Jangan menyerang kami? Bangsa kalian saja saling menyerang satu sama lain. Bangsa kalian lebih para dari bangsa Iblis. Mana mungkin, aku semudah ini mempercayai ucapanmu?" Ucap Zack.
Dua orang itu, duduk dengan tenang.
"Kami berbeda dengan siluman yang berada di bawah perlindungan Nekoma. Jiwa dan raga kami hanya untuk Keturunan Alba. Kami, mematuhi nyonya kami untuk tidak melukai orang Shinrin yang bukan perintahnya" Pria itu menunjukkan tato batik yang bergambar dua pedang yang disilangkan.
Wanita itu, menunjukkan tanda yang sama dengan pria itu di pergelangan tangan kirinya.
"Kami akan langsung mati bila melanggar perintah Nyonya kami" lanjut Pria itu sambil merapikan lengan bajunya dan melihat arloji yang baru ia keluarkan dari sakunya.
"Istirahat kita sudah usai. Kita harus segera kembali" Ucap pria itu sambil berdiri dan merapikan kursi yang ia duduk i.
Dua siluman itu, meninggalkan meja makannya dan membayar sekeping emas untuk biaya makannya pada pemilik tempat itu.
Zack melihat dua benda yang ditinggalkan oleh dua siluman itu.
"Apa-apaan mereka ini?" Zack mengambil dua benda itu dan membawanya ke Markas Pemberantas Iblis.
Zack menunjukkan dua benda itu kepada Razel di halaman belakang markas yang sedang memantau Arthur dan Tsuha yang berlatih.
"Ini adalah tanda bila mereka mempercayaimu dan berharap agar kau mempercayainya, serta bisa jadi juga ini adalah tanda bila mereka berdua ingin berdamai" Jawab Razel sambil memberikannya kembali kepada Razel.
Zack menerima kembali dua benda itu. "Bagaimana kau bisa tau wakil?"
Punggung Razel bersandar pada sandaran tempat duduk. "Zack, aku tidak pernah menyimpan rahasiaku apapun di markas ini. Semua yang ada di markas adalah keluargaku. Aku pernahkan bercerita bila aku dari perbatasan Nekoma dengan Aosora kan?" Razel berbalik tanya kepada Zack.
Zack mengangguk karena ia mendengar hal itu saat kedatangan Razel sebagai siswa transfer ke ASJ Shinrin.
"Karena ibuku adalah seorang siluman dari Nekoma" Jawab Razel.
"Aku tinggal selama 8 tahun dengan ibuku, setidaknya aku tau sedikit-sedikit tentang siluman dan secara umur, aku yang paling tua di markas ini" Lanjut Razel.
Zack memang sudah tau bila Razel adalah ras campuran. Namun, Zack tidak menyangka bila Razel lebih tua dari Nel.
"Begitu? Lalu bagaimana dengan keluarga yang bermarga Alba. Apa wakil pernah mendengarnya?" Zack penasaran dengan keluarga yang bermarga Alba.
"Alba? Aku tidak pernah mendengarnya" Jawab Razel. Namun, Arthur yang sedang berlatih dengan Tsuha di belakang Zack dan Razel mendengar perbincangan itu.
"Alba? Oh, saya pernah mendengar marga itu wakil" Arthur tiba-tiba nyaut dari belakang.
Zack dan Razel langsung melihat ke arah Arthur.
"Marga apa itu?" Tanya Zack dengan spontan.
"Itu, marga dari siluman rubah putih. Marga dari keturunan titisan siluman" Jawab Arthur sambil menunjukkan ibu jarinya.
"Darimana kau tau?" Tanya Zack sambil meletakkan lengannya di sandaran kursi panjang yang ia duduki.
"Dari novel milik Kapten Marsyal" Jawab Arthur.
"Hah?" Zack mengagakan mulutnya.
"PFFTTT! PUAHAHAHA" Razel langsung tertawa dan menepuk bahu Zack.
Tsuha menepuk bahu Arthur. "Mending, gak usah ikut pembicaraan. Marga yang dimaksud dengan Kak Zack itu, marga di dunia nyata. Bukan di fiksi" Jelas Tsuha sambil membawa Arthur pergi dari tempat itu untuk melanjutkan berlatih mereka.
"Lah! Memang iya! Guru Ciel sendiri berkata seperti itu! Alba itu memiliki tingkat yang setara dengan marga De luce. Mereka masih satu leluhurp!" Tsuha langsung menutup mulut Arthur yang berceloteh.
Tsuha membungkukkan tubuhnya kepada Zack dan Razel.
Zack dan Razel saling melihat.
"Coba bertemulah dengan Marsyal. Dan tanyakan hal itu padanya" Ucap Razel pada Zack.
"Tapi, sebelum itu, aku mohon izin untuk memyelidiki tempat makan yang mereka kunjungi. Itu adalah tempat makan baru. Bisakah wakil membantuku untuk mencari data pemilik dan seluruh pegawai tempat itu?" Tanya Zack.
"Zack itu akan sulit" Jawab Razel.
"Kenapa?" Tanya Zack sambil melihat Razel.
"Kau akan berurusan langsung dengan Raja Agleer Linus dan menteri kependudukan Shinrin" Jawab Razel.
"Lalu, apa gunanya Guild keamanan dan Kemasyarakatan?" Tanya Zack.
"Coba mampirlah kesana hari ini, mereka pasti akan langsung mengusirmu" Jawab Razel yang terkekeh ringan.