The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Harapan Arthur



"Maafkan Saya bila itu terdengar seperti menyalahkan De luce. Saya bertanya seperti yang sudah tertulis disini. Bila Anda berkenan, tolong Izinkan Saya mengobrol dengan De luce Archie" Marsyal meminta izin pada Arthur.


Arthur menutup matanya


"Archie... Kau mau bertukar tempat?"


BREEB!!!!


"Jujur saja, Aku tidak terima bila dicap sebagai pembunuh keluarga Alex"


Archie telah berpindah tempat dengan Arthur dan Ia membuka matanya yang berubah menjadi warna merah.


Nel membelalakan matanya melihat mata Arthur yang berubah menjadi merah.


Baal berdiri didepan Ayahnya.


"Aku memang yang membunuh pembunuh itu. Tapi, Aku tidak membunuh keluarga Arthur. Asal Kalian tau, Entah Kalian percaya atau tidak. Pembunuh itu adalah suruhan dari Manusia yang Arthur panggil sebagai Paman" Singkat Archie sambil menaruh dagu dikedua pungung tangannya yang diborgol.


"DEGH!!!"


Mereka yang mendengar ucapan singkat Archie langsung membelalakan mata mereka .


"BRAAAKKKK!!!!! JANGAN BERCANDA!!!!"


Baal memukul meja kayu itu dengan keras dan menatap tajam Archie.


"Apa Kau tuli? Bukankah Aku sudah berkata entah kalian percaya atau tidak. Kalau Kau tidak percaya ya sudah, apa boleh buat?"


Archie menjawabnya dengan santai karena memang benar ia tak merasa bersalah.


Marsyal berdiri dan Ia menyuruh Baal untuk diam serta mendengarkan penjelasan Archie.


Archie bercerita kalau Ia didatangi oleh sosok seperti Arthur tapi dengan tubuh yang lebih dewasa serta memiliki satu tanduk dikeningnya dan telinga elf.


Archie berkata kalau mungkin itu adalah Alex tapi, Ia juga masih tak mempercayainya. Sebab, Alex bukan keturunan bangsa Iblis.


Archie mengatakan juga kalau Aosora Alex memang memiliki telinga Elf.


Kapten pasukan pemberantas Iblis diam dan terus mendengarkan penjelasan Archie.


Ia menyembunyikan sesuatu.


Marsyal yang melihat gerak-geriknya langsung mengetahuinya.


"Kapten Nel, bagaimana menurut Anda?"


Marsyal sengaja bertanya akan hal itu.


Nel menyilangkan kedua tangannya didadanya.


Ia berkata "Mungkin, itu roh titisan? Tidak mungkin bila seorang Iblis bisa dipindahkan jiwanya tanpa bantuan dari Titisan atas izin Sang Cahaya"


Jawaban Nel masuk diakal dan bisa diterima oleh para kapten disana.


Kemudian, Marsyal memberi pertanyaan lagi kepada Archie "Setelah Anda membunuh pembunuh itu, Kenapa Anda memilih tetap disana dan dipenjara? Bukankah Anda bisa kabur saat itu juga?"


Archie langsung mengangkat kedua alisnya dan sedikit membelalakan matanya.


"Tubuh Arthur sangatlah lemah saat itu. Harusnya Aku masih bisa menggunakan tubuhnya untuk kabur. Tapi, ada sesuatu yang .... entah lah bagaimana menjelaskannya. Intinya saat Arthur membuka matanya, Aku dan dia sudah berada dipenjara bawah tanah. Tapi, malam itu, Aku sempat melihat Pemuda dengan rambut yang sama dengan orang yang dadanya tertusuk pedang tergeletak di bawah jendela yang pecah dan banyak darah yang berada disekitar kepalanya Dia. Aku sempat berfikir mungkin, itu Kakaknya Arthur" Jawab Archie dengan raut serius.


Marsyal terlihat begitu tenang.


"Berarti,kemungkinan kecil Putra Mahkota Bram masih hidup dan dipindahkan ditempat lain"


Marsyal melingkari nama Bram dibukunya.


"Kalau begitu, Kita harus berfokus pada Petinggi Aosora dan harus terus menyusuri semua area yang bisa dijangkau untuk golongan kita dinegri ini. Penyusuran harus berjalan sebelum Peresmian pergantian Raja baru yang akan dipimpin oleh Aosora Baron" Linus mengepalkan kedua tangannya dibawah.


*Aosora Baron adalah Adik angkat Aosora Naver yang diadopsi oleh Ratu Aosora ke III (Ibu Naver).


"Menurut penilai akhir Saya, Memang ada yang tak beres dengan kondisi Kerajaan Aosora sejak dikabarkan bahwa Raja Aosora Naver yang mampu melewati usia 40 tahun setelah mendapatkan tanda kutukan itu *sejak lahir. Maksud Saya, Mereka (dalam kutip) memang merencakan sesuatu. Saya akan mulai melakukan penyelidikan dan akan diam-diam kekerajaan Aosora. Kemudian, untuk penyusuran, Saya percayakan pada Kapten Baal. Saya mohon Izin agar Anda menyetujuinya Baginda. Kerajaan Aosora masih bagian dari Shinrin" Ucap Marsyal sambil memberi bungkukan pada Linus.


*Ayah Naver (Aosora Aiden) meninggal diusia 28 tahun saat Naver masih berusia enam bulan dikandungan Ibunya karena penyakitnya.


Kutukan keluarga De luce itu, membuat usia keluarga Aosora harus berhenti hanya sampai usia paling lama 40 tahun.


Linus sadar kalau itu bukan ide yang buruk.


Urusan dengan Arthur itu sudah termasuk dengan urusan pribadi. Tapi, bila Shinrin tak campur tangan untuk sekarang. Kemungkinan besar Arthur akan dibunuh tanpa mencari penjelasan seperti ini.


"Aku tidak bisa mengizinkanmu. Urusan calon Raja ke V Aosora adalah hal pribadi kerajaan itu. Dan Shinrin tak berhak campur tangan dengan urusan itu. Bila Kau melakukan atas keinginanmu sendiri tanpa membawa nama Shinrin. Aku akan menganggap kalau Aku tak pernah mendengar ini dan lakukan itu dengan diam-diam" Ucap Linus tanpa melihat ke Marsyal.


"Eh?!" Para Kapten terkejut mendengar itu termasuk Arthur dan Archie sendiri.


Mereka semua melihat ke arah Linus.


"Sekarang, lanjutkan Introgasinya" Pinta Linus.


"EHEM...." Para Kapten berdehem bersamaan karena sifat tak terduga dari Linus.


"Introgasinya sudah usai Baginda. Apa ada yang ingin Anda tanyakan pada Iblis Archie?"


Marsyal menutup bukunya itu yang sudah penuh dengan tulisan tangannya.


"Maaf menyela"


Archie mengangkat kedua tangannya.


"Aku ingin meminta sesuatu dari Baginda Shinrin" Ucap Archie sambil melihat ke Linus.


"Katakan" Balas Linus.


"Saya tidak ingin terus menerus merepotkan Arthur. Bisakah, Anda memberikan catatan Aosora Alex pada Arthur? Tubuh Saya disegel didalam Hinoken dan buku itu. Saya tak ingin bocah ini menderita"


Archie mengatakan hal itu karena ia tak ingin berlama-lama lagi.


"Itu akan percuma. Kau tidak akan terbebas bila Pangeran Aosora Arthur menggunakan darahnya" Sela Marsyal.


Arthur dan Archie merasa kalau jawaban Marsyal itu, deja vu.


"Bukankah Arthur ini masih keturunan Alex?"


Archie juga merasa deja vu dengan pertanyaannya.


"Kita sudah kehabisan banyak waktu, Aku akan memberikan catatan itu karena itu adalah hak Arthur. Sekarang, Kita akan lanjut di Introgasi selanjutnya"


Archie dan Arthur tidak menyangka akan semudah itu mendapatkan buku Alex.


Mereka berdua kembali bertukar tubuh dan Arthur kembali ke sel penjara khususnya itu.


"Bagaimana Archie?"


Arthur telah mendapatkan catatan kakek buyutnya itu kembali dan Ia tak bisa membaca tulisan tangan Alex yang sangat buruk.


Archie melihat tulisan itu.


Ia ingin menghela napas melihatnya.


"Kurasa... Kau butuh temanmu yang bernama Estelle itu untuk menerjemahkannya" Ucap Archie.


"Estelle? Siapa?"


Arthur tidak pernah mendengar nama itu.


"Bocah kembar yang punya tahi lalat dibawah mata kirinya yang adiknya, Kau selamatkan dihutan waktu itu loh..."


Archie lupa dengan nama panggilannya.


"Oh Tsuha, Memangnya Dia pernah baca buku ini?"


"!!"


Archie baru ingat kalau Arthur lupa ingatan.


"Ya nggak tau. Tapikan, nggak ada salahnya kalau Kau tanya pada temanmu itu"


Archie panik tapi, Ia berusaha bersikap santai.


Arthur yang polos mengangguk angguk.


"Sekarang, Kita tinggal menunggu hinokennya. Dan, Aku ingin hidupku kembali seperti semula" Harapan Arthur.