The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Setahun yang lalu



Ambareesh menghadap ke Raja Keenam Nekoma dan Ambareesh mengenakan penutup dibawah bagian mata sampai menutupi lehernya. Serta, menghilangkan tanduk miliknya.


"Salam hormat Saya untuk Anda, Raja Belial Ken. Semoga Sang Cahaya selalu memberikan kebahagiaan untuk Anda. Saya Ambareesh, Belial Ambareesh menghadap untuk bertemu dengan Anda"


Raja Ken yang berkarakteristik 100 persen iblis bangsa merah membelalakan mata maerahnya dan langsung berdiri saat mendengar Nama Ambareesh.


"Ambareesh......"


...****************...


"Lama tak berjumpa. Aku sangat terkejut saat mengetahui kalau Kau adalah Raja Nekoma"


Ambareesh berdiri dan melangkahkan Kakinya mendekati Ken.


Ken sangat terkejut dan Ia langsung berdiri dari tempat duduk ya.


"Darimana saja Kau selama delapan tahun ini ? Aku, mencarimu selama Empat tahun di Akaiakuma. Setelah pertemuan terakhir kita saat itu. Dan Aku sampai menjadi prajurit Akaiakuma untuk mencari dirimu, Ambareesh...."


Ken melepas kedua serung tangannya dan melepas penutup wajah Ambareesh.


Mata ken berkaca-kaca saat melihat wajah Ambareesh.


"Kau, mirip sekali dengan Ayah. Hanya saja, warna matamu yang berbeda. Ambareesh, Aku meminta maaf padamu. Apa Kau bisa memaafkanku ? Aku bukanlah Kakak yang baik untuk Kalian berdua. Aku, benar-benar seorang Kakak yang tak bisa diandalkan"


Mata biru Ambareesh menatap mata merah Ken yang berair.


"Dimana Clara ?"


Clara adalah adik kandung Ambareesh dan Ken.


"Clara.....Aku, Aku benar-benar meminta maaf.... Ambareesh... Apa kita bisa mengobrol tengah malam nanti ?" Ken bersuara begitu lirih hingga membuat telinga elf Ambareesh sedikit bergerak.


"Kenapa? Apa ada orang yang mengancammu?"


"Ayah !!!! Ayo!! Kita Bermain diluar !!"


Seorang anak laki-laki mendorong Ambareesh dan memeluk pinggang Ken.


Anak laki-laki itu, mirip sekali dangan Ken.


Ia memiliki Dua tanduk yang mengarah ke belakang kepalanya dan telinga, serta ekor layaknya seekor kucing.


"Ayah ?" Ambareesh terkejut saat tau kalau anak itu memanggil Ken dengan panggilan Ayah.


"Prajurit, hari ini tolong dampingi Kami. Aku dengar Kau adalah prajurit Andalan Akaiakuma"


Ken, menjadi formal saat ada anaknya.


Ambareesh langsung mengikuti alur yang diawali oleh Ken.


Ia menundukkan kepala dan tubuhnya.


"Benar Baginda. Saya merasa sangat terhormat bisa bertemu dan menjadi salah satu orang kepercayaan Anda"


Putra Ken melihat wajah Ambareesh dengan seksama.


Mata merahnya bertemu dengan mata biru Ambareesh.


Mata biru Ambareesh yang unik, membuat pangeran kecil itu, merasa takut.


"Ayah, Ayo... main diluar. Ratu sedang marah padaku"


Pangeran kecil itu berputar didepan Ambareesh dan Ken.


Ken mengendong putranya.


"Kenapa, Yang Mulia Ratu sampai marah pada putra ayah ini ?"


Ambareesh merasakan suatu perasaan yang sangat tidak asing dan Ia kembali memegang dadanya.


"Kyle tidak sengaja membuat merah-merah Ratu patah. Kyle pikir itu krayon buat gambar. Ternyata itu krayon untuk bibir Ratu"


Putra Ken menjelaskannya dengan mata yang berair dan suara yang gemetar.


"Krayon bibir ? Apa Bianca pernah mengenakan krayon itu juga?" Ambareesh membayangkan kalau Krayon gambar digunakan dibibir.


"Pffft..... Ken, Ratu pasti marah bila Kau merusak lipstiknya"


"Oh, Lipstik ? Hah..... Bahasanya unik sekali" Imajinasi Ambareesh langsung pecah saat menyadari kalau krayon bibir yang dimaksud adalah lipstik.


"Sekarang, Ayo pergi untuk meminta maaf pada Ibunda Ratu. Ayah, akan membantu putra ayah yang sangat jantan ini untuk berbicara"


Kyle menunjuk dada Kyle putranya.


"Kyle tidak mau menemui Ratu. Ratu sedang jadi macan. Kita cari makanan untuk macan yang lapar dulhup!!"


Ken langsung mendekap mulut putranya yang asal ceplas ceplos.


"Jadi, Ken menikah dengan Siluman macan. Aku baru mendengarnya. Tidak masalah asal Dia bukan siluman kucing"


"Kyle, siapa yang mengajarimu berbicara tidak sopan pada Ibundamu ?"


"Pwelwaywan ywang mengwatwakwannya" Jawab Kyle yang disekap Ken.


"Jangan tiru-tiru pelayan. Mereka tidak baik dan akan dikeluarkan dari sini. Kyle mau dikeluarkan juga dari istana ?"


Ken bertanya begitu lembut pada putranya.


Mata Kyle yang mirip dengan Ken langsung berkaca-kaca.


"HUAHHHHH!!!!! KYLE MINTA MAAF !!!! AYAH !!! AYO BELI KUE MANIS UNTUK IBUNDA !!!! KYLE MINTA MAAF"


Ia menangis dengan kencang dan membuat telinga elf Ambareesh berdengung.


Kyle terus menangis dan tiba-tiba minta digendong oleh Ambareesh yang lebib tinggi dari Kyle.


Ambareesh sangat tidak cocok bila Ia menjaga seorang anak kecil berusia empat tahun.


Telinganya ditarik-tarik dan secara paksa Ambareesh mengeluarkan tanduknya.


"Hah! Lagi! Lagi!!!"


Hebatnya, Kyle malah kegirangan dan menepuk-nepuk kening Ambareesh.


"Baginda...... Aku bukan seorang penjaga bayi. Dan Aku tidak cocok menjadi karakter penyabar di Novel ini. Ambil anakmu atau ku banting ?"


Ambareesh mentelepati Ken dengan penekanan nada didepannya sambil memberi tatapan kesal padanya.


"Haha...." Ken tertawa dan langsung mengambil anaknya dari Ambareesh dan mulai menanggis lagi.


...****************...


Tengah Malam, sesuai permintaan Ken.


Ambareesh datang dan menunggu Ken ditaman pribadi miliknya.


Hampir dua jam Ambareesh menunggu Ken yang tak kunjung datang.


Ambareesh merasa semua ini, di kerajaan ini ada yang janggal.


Ambareesh tetap tenang menunggu Kedatangan Ken.


Tak lama setelah itu, akhirnya Ken muncul.


Tapi, cara jalan Ken terlihat aneh.


Ia jalan dengan pincang menuju Ambareesh.


Ambareesh mencium bau anyir dan Ia langsung berdiri dari duduknya serta, mendatangi Ken yang pincang.


"BRUKKKKK!!!!" Ken terjatuh tepat dihadapan Ambareesh.


Ambareesh tidak langsung menolong Ken melainkan berjongkok dan melihat bagaimana serta, dimana luka Ken.


Besetan panjang berbentuk silang dibelakang pungung Ken terlihat dimata Ambareesh.


Ambareesh langsung menyembuhkannya.


"Apa yang sedang terjadi padamu ? Siapa yang melakukannya?"


Ambareesh bertanya dan Ken tidak menjawabnya sedikitpun.


Ia menyembuhkan semua luka dipungung Ken.


"Kalau begini, Aku semakin tidak yakin kalau Kau seorang raja" Ambareesh mendudukkan Ken setelah selesai Ia sembuhkan.


Ken melihat Ambareesh seolah-olah seperti ada yang ingin Ia katakan.


Ken membuka mulutnya dan menunjukkan lidahnya.


Di lidah Ken, Ambareesh melihat pola kutukan dan lingkaran sihir berwarna hitam didalamnya.


Ambareesh paham alasan Ken tidak bisa mengatakannya.


"Apa yang Kau inginkan? Aku akan membantumu" Ambareesh merasa prihatin pada kakaknya itu.


Ken menundukkan kepalanya yang bertanduk dihadapan Ambareesh.


"Bisakah Kau membunuhku tanpa rasa sakit ?" Tanya Ken.


"Apa yang Kau bicarakan ?"


"Tolong bunuh Aku. Aku tak sanggup merasakan penderitaan ini. Clara, terbunuh dihadapanku saat Aku, ah. Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi, Ini benar-benar karena kecerobohanku. Identitasku ketahuan. Mereka mengorok leher Clara dan kekasihnya dihadapanku. Tiap malam, tiap tidur, tiap makan dan apapun yang ku lakukan. Aku selalu mendengar teriakannya. Ambareesh,... Apa Kau marah padaku?"


Wajah Ambareesh sangat muram dan masam saat mendengar semua itu.


Ambareesh mengepalkan kedua tangannya


"Siapa yang membunuhnya ? Kau perlu mengangguk dan mengeleng saja" Ucap Ambareesh.


"Prajurit Akaiakuma ?"


Ken mengeleng.


"Raja Akaiakuma ?"


Ia menggeleng lagi.


"Bukan salah satu dari orang Akaiakuma ?"


Ken menangguk.


Ambareesh benar-benar marah dan Ken, mulai merasakan hawa tidak menyenangkan dari Ambareesh.


"Orang Nekoma?"


Ken mengangguk.


"Prajurit ?"


Ken menggeleng.


"Pangeran ?"


Masih menggeleng.


"Raja sebelummu ?"


Ken mengangguk.


"Lalu, kutukan dan lukamu itu, apa dari Istrimu ?"


Ia mengangguk.


Mata Ambareesh bersinar saat terkena sinar dari bulan.


"Aku, akan membunuhnya"


Ambareesh langsung berdiri


Hinoken dikeluarkan oleh Ambareesh dan Aura membunuhnya terasa sangat mencengkam oleh Ken.


"Ambareesh. Bunuh saja Aku, jangan Istriku. Aku mohon padamu"


Ken bersujud dihadapan Ambareesh.


"Jangan membuatku muak. Berdirilah,....."


Air mata Ambareesh menetes begitu saja dipungung tangan Ken.


Ken membelalakan matanya dan langsung melihat Ambareesh.


"Ambareesh,.... Kau menangis.... Jangan menangis.... Kumohon..... Jangan menangis...."


Ken langsung berdiri dan mengusap Air mata Ambareesh yang keluar begitu saja.


Ambareesh bukan menangis karena dirinya namun, Ia merasa bersalah atas semua yang terjadi menimpa keluarganya.


"Ini salahku. Memang benar yang dikatakan oleh Ibu. Harusnya, Aku tak pernah terlahir. Aku hanya membawa penderitaan untuk Kalian" Ambareesh mendorong Ken dan mundur beberapa langkah.


"Hushh... Jangan Katakan seperti itu. Kau adalah adikku"


Bibir Ambareesh berdenyut.


"Lalu, kenapa Kau menyuruhku untuk membunuhmu ? Kau satu-satunya keluargaku. Apa menurutmu, Aku bisa melakukannya ?"


"Apa Kau tak menyayangi putramu ? Apa Kau lupa bagaimana rasanya ditinggal oleh Ayah diusia kita yang masih kecil ? Pikirkanlah baik-baik. Jangan menjadi orang tua yang egois. Keegoisanmu itu, menyakiti perasaan anakmu. Itu adalah kata-kata dari orang yang kukenal"


Ambareesh mengatakannya tanpa nada dan Ia menatap serius Ken.


"Ambareesh. Aku memang orang tua dan Kakak yang egois. Andai Aku memiliki kesempatan kedua, Aku berjanji akan memperbaiki diriku"


"Kesempatan Kedua ?"


"Ken, Sayangilah Putramu selama setahun ini. Kemudian, Aku akan menepati janjiku untuk membunuhmu"


Itu adalah ucapan Ambareesh satu tahun yang lalu setelah diberi lebaran itu oleh Ha Nashi