The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
TSUHA bagian 9



Dibeberapa chapter sebelumnya, menceritakan masa lalu Tsuha. Sejak usiannya menginjak 7 tahun. Ia ikut bersama ibunya untuk menemani Arthur atas perintah Raja Aosora Naver. Kemudian, diusia Tsuha mengijak 11 tahun, ada insiden dimana seorang Iblis memakai zirah prajurit menculiknya yang disangka Arthur.


...****************...


Iblis dengan tanduk yang patah dan perutnya yang tertusuk akar pohon, Ia berusaha untuk melepaskan dirinya dengan cara memotong akar itu dengan pedang besi.


"Anak itu,.... Siapa namanya? Kenapa bangsa itu, masih ada di Negri Arden? Krak! Tep!"


Akar yang menusuk perut iblis itu, patah. Dan, Iblis itu langsung berjalan menuju Tsuha dan Arthur berada.


...****************...


"SRUUUUKKKK! CRAT! TEP!!"


Arthur dan Tsuha, terperosok ke tebing hutan. Kulit kepala diatas telinga kiri Arthur, tergores ranting yang tajam. Tangan kiri Tsuha, memegang ujung tebing dengan tangan kanannya yang menahan lengan kiri Arthur.


"Groooooosshhhh....."


Arus air dibawah Arthur bak mengamuk dan menghantam bebatuan keras dibawah mereka.


Tebing itu, adalah tebing perbatasan Aosora dengan Tiga Kerajaan yang mengelilingnya. Yaitu; Shinrin, Meganstria, dan Narai.


Mereka berdua, mengambil jalur yang salah untuk keluar dari hutan. Hal itu terjadi karena, Arthur yang langsung menarik tangan Tsuha tanpa tau dimana mereka harus pergi (Arthur, tidak tau bagaimana cara menentukan utara dan selatan saat didalam hutan).


"PANGERAN! TOLONG! INJAKLAH KAKI SAYA DAN PANJATLAH! TANGAN KIRI SAYA! TIDAK KUAT!!"


Tangan kiri Tsuha mulai kram dan nyilu. Ia, menyuruh Arthur untuk menyelamatkan dirinya. Arthur berada diposisi itu, karena Arthur berusaha menolong Tsuha.


Arthur membuka matanya lebar-lebar. Darah segar, menutup mata kiri Arthur dan beberapa tetes darah itu, jatuh ke arus deras air sungai yang bertemu dengan air laut.


"GROOOOOOO....." Suara misterius seperti angin, terdengar menyayat ditelinga Arthur.


Ia (Arthur) menggunakan pungung kaki Tsuha sebagai pijakannya dan tangan kanan Arthur, meraih bahu kiri Tsuha.


Tsuha menutup matanya menahan kram ditangan kirinya, sambil mengangkat tangan kanannya yang berat dan dilepaskan oleh Arthur untuk memperkuat pegangannya.


Namun, saat tangan kanan Arthur berusaha meraih batu pijakan itu,....


"KREAK! BRAK!"


Batu itu patah akibat tak kuat menahan berat mereka berdua.


"BWESH!"


Mata keduanya terbelalak saat melihat langit yang membentang luas dihadapan mereka.


Batu karang yang lancip akibat terkikis ombak, membentangkan kedua tangannya untuk menyambut Mereka berdua.


"Apa, ini akhir dari hidupku?" Batin Tsuha yang sudah pasrah akan takdirnya.


Tsuha, melihat Arthur yang mengulurkan tangannya pada ribuan batu karang dibawah sana.


Lingkaran sihir berwarna biru langit, keluar dari telapak kanan Arthur dan muncul dihadapan mereka.


"BLUB!"


Keduanya, tiba-tiba jatuh disebuah tempat dengan air yang keruh.


Tsuha tak bisa melihat apapun. Air danau itu, terlalu gelap. Ia segera keluar dari air danau itu.


Pohon besar mengelilingi danau itu. Tsuha menarik napasnha dan membuang napas dengan tergesa-gesa.


Jantung Tsuha berdegup dengan kencang. Ia, tak melihat Arthur dipermukaan.


"PANGERAN!!!!"


...****************...


"Kratak...Glugh....." Telinga Arthur berbunyi seakan ada air sungai mengalir ditelinganya.


"NGGGUNGGGGGG" Telinga Arthur berdengung dengan kencang.


"Pangeran!" Ia mendengar teriakan samar memanggil dirinya.


Dibawah sana, sangat menenangkan pikiran Arthur. Seakan berkata bahwa, Ia tak ingin kembali kepermukaan.


"Sraaaa...." [Suara gayuhan didalam air]


Arthur melihat bayangan Tsuha berenang kearahnya.


"Kenapa Kau kemari?"


Tangan Tsuha berusaha meraih Arthur.


"Apa, Kau tidak akan membiarkanku sendirian?"


Sesak.


Dada Arthur mulai sesak. Telinga dan kepalanya mulai sakit karena tekanan danau itu yang tak berujung.


"Apa, Kau juga menganggapku sebagai temanmu?"


"Apa Aku pantas memiliki teman?"


"Pantaskah Aku, orang seperti ini ditolong olehmu?"


"TEP!" Tsuha, berhasil meraih tangan Arthur.


"Kau bahaya karena Aku...."


Air mata Arthur, bercampur dengan air danau yang keruh.


Cahaya permukaan, terlihat terang dimata Arthur.


Ini adalah duniamu, Kau tak patut untuk menyerah akan segala hal. Kau adalah Kau dan Kau, tak ada hubungannya dengan malapetaka orang-orang disekitarmu, Arthur.


"PUAH! KHUK!"


Mereka berdua, berhasil keluar dari air danau yang keruh itu. Dan bersamaan, Mereka mengambil napas dengan panjang.


"Maafkan Saya Pangeran! Karena Saya!..."


"Jangan menyalahkan dirimu. Ayo, segera kembali ke istana. Ayahku, mungkin sudah mulai mencariku" Ucap Arthur sambil berdiri.


"NYUUUUTTT!!!!!" Rusuk kanannya ngilu.


Arthur berusaha bersikap tenang dan menahan rasa sakitnya.


"Ke...te...mu"


Iblis itu, menemukan Arthur dan Tsuha.


Mata Arthur terbelalak.


Ia tak tau jalan keluar dari hutan ini. Begitupun dengan Tsuha.


"Tsuha... cari jalan keluar. Aku akan menyusulmu nanti. Wosh!"


Arthur mengeluarkan pedang mananya dan melesat kearah Iblis itu.


"TRANGGGGGG!!!!!!"


Pedang mana Arthur dan pedang besi iblis itu saling bertemu dan menghasilkan percikan api.


"DUAGH! BRUAKKKKK!!!!!"


Iblis itu menendang perut Arthur hingga Arthur terlempar dan menghantam pohon besar dibelakangnya.


"BKAHK!"


Arthur bukan tandingan Iblis itu.


"Kembalikan Hinoken padaku..."


"SYUUUUT!!!!! BWOSH! BRAK!"


Akar menjalar, melilit tubuh Iblis itu dan Tsuha mengendalikannya kemudian, menghantamkannya pada pohon didekatnya dan ia ikat disana.


Tsuha berlari kearah Arthur dan membopongnya.


"Kenapa Kau tidak mendengar ucapanku Tsuha?!" Tanya tegas Arthur saat dibopong oleh Tsuha.


"Apakah Saya pantas meninggalkan seorang Pangeran penting Aosora melawan Iblis itu sendirian?! Apakah Anda lupa kalau Kita adalah teman?! SAYA! BERJANJI AKAN MENJAGA ANDA SEPERTI SAYA MENJAGA NYAWA SAYA SENDIRI!!!!" Tegas Tsuha pada Arthur.


Pertanyaan Arthur telah terjawab setelah mendengar ketegasan Tsuha itu.


Ia ingin meneteskan air matanya. Namun, "Pantaskah Aku untuk menangis?!"


Arthur terlalu kekekang untuk meluapkan emosi dirinya.


"Turunkan Aku. Ayo berlari bersama" Ucap Arthur sambil menepuk bahu kanan Tsuha.


Tsuha menurunkan Arthur sesuai perintahnya. Mereka, berlari bersama hingga melihat pagar pembatas hutan dengan taman belakang Aosora.


"Clink!" Aura sihir terasa menyerbak dibelakang Arthur.


Arthur merasakannya dan Ia, melihat cahaya terang melesat dengan cepat kearah Tsuha.


"DAGH! BRUAKKKK!!!!!" Arthur, menendang pungung Tsuha dengan keras hingga Tsuha tersungkur ketanah.


"SWINGGGGGGGG!!!" Sesuatu yang panjang seperti anak panah dengan ujung matanya yang berbentuk teratai, melewati depan mata biru laut Arthur.


"BAMMMMM!!!!"


Anak panah itu, meledakkan sihir api dan hasil ledakan itu, menghasilkan angin yang cukup keras didekat Arthur. Hingga, membuat Arthur "BWOSH!!!! BRUAKKKK!!!!" Terlempar jauh dan menghantam pohon mati hingga mematakan dahan pohon itu.


Tubuh Arthur tak bisa bergerak.


Pria lain dengan tanduk yang berbentuk sama dengan Iblis tadi dan mengenakan jubah hingga menyetuh tanah berumput, berjalan kearah Tsuha.


Itu adalah sosok lain yang berbeda dengan Iblis tadi. Sebab sosok itu, mampu mengeluarkan sihirnya area hutan.


"GRET!" Iblis itu, menarik rambut Tsuha dan melihat wajah Tsuha dengan seksama.


Ia menarik pakaian yang Tsuha kenakan.


"Sampai kapan Kau akan terus tertidur dan melupakan semuanya?" Ucap Iblis itu dan menghilang bersama dengan Tsuha.