
"HUAAAH!! PRAJURIT!!! TOLONG AKUU!!!" Arthur berteriak dengan histeris dengan tiba-tiba. Barron, Bryan, dan Istri Barron terkejut melihat ulah Arthur.
BRAK!!
Tiga prajurit langsung mendobrak pintu dan mereka menarik pedang besi mereka. "Apa...Apa maksudnya ini?!" Prajurit itu, langsung mendatangi Arthur yang sedang menutup lehernya setelah melihat pedang mana biru yang banyak dan melayang di sekeliling Arthur.
...****************...
"PANGERAN! BUKA TANGAN ANDA!" Salah satu prajurit disana menarik tangan Arthur yang terlihat berdarah.
Mata prajurit itu terbelalak melihat leher Arthur yang tersayat "Astaga! Pangeran terluka! Apa yang sedang terjadi disini?!" Prajurit itu langsung melihat ke arah Barron.
Prajurit lainnya mendatangi Arthur dan menutup luka sayatan Arthur dengan sapu tangan yang ia bawa.
Barron menarik tangan kanan Bryan dan CRAT! "HMPH!" Barron menusuk telapak tangan kanan Bryan dengan pisau makannya.
Mara Bryan bergetar melihat ayahnya yang tiba-tiba menusukkan telapak tangan kanannya dengan pisau makan itu hingga menembus ke pungung tangannya.
Bryan melihat ke arah prajurit itu dan mengangkat tangan kanannya.
Ha nashi yang menjadi gagak hanya bisa tersenyum di atas sana.
"DIA! DIA YANG MENGAWALINYA DULU! AYAHKU! HANYA INGIN MELINDUNGIKU!" Tegas Bryan dengan kencang dan suaranya yang gemetar menahan rasa sakit.
Melihat hal itu, mata Arthur terbelalak. Begitu pula dengan tiga prajurit yang ada di sekitar Arthur.
"Itu bohong. Lihatlah, pisau makanku masih ada di mejaku. Sangat tidak mungkin bila aku mengunakan pisau lainnya dan menusukkan pisau itu pada tangan kanan Bryan. Dilihat dari posisinya saja, aku berada di sisi kiri Bryan dan harusnya secara logika, aku akan menusukkannya di posisi yang dekat denganku. Yaitu tangan kiri" Arthur langsung menggunakan otaknya untuk mengelak hal tersebut.
Prajurit itu mendengar penjelasan Arthur yang bisa diterima oleh otak. Barron dan Istrinya mulai panik.
Darah terus mengalir pada telapak tangan kanan Bryan.
"Ah sudahlah! Arthur, paman tau bila kau tidak menyukai Bryan. Paman memaafkanmu, paman anggap ini tidak pernah terjadi. Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Paman akan segera memanggilkan orang penyembuh" Barron membalas Arthur dengan cara yang Arthur lakukan.
"Sialan! Dia orang yang licik! Dia berani melukai anaknya sendiri agar terlindungi. Arthur ikuti saja ucapan dia dan mulai berhati-hatilah" Archie tidak menduga ada orang seperti Barron yang hidup di zaman ini.
"Aku sungguh tidak melakukannya. Bila tak percaya, selidiki sidik jari yang ada di pisau makan itu" Ucap Arthur sambil membuka sapu tangan yang menutupi lukanya.
"Tidak! Hentikan Arthur! Kita anggap ini tidak pernah terjadi. Ku harap, kau tidak melakukan hal licik ini pada orang lain" Bryan keluar dari ruangan itu dalam keadaan telapak tangan kanannya yang masih tertusuk pisau makan.
"Anj*ng. Mereka ini cocoknya dijadikan lakon saja" Ucap Archie yang terkekeh.
Arthur kembali ke kamarnya dan luka di lehernya mulai mengering.
"Saat aku telah mendapatkan izin memerintah Aosora, tiga orang itu akan ku pastikan tidak akan bisa menginjakkan kaki mereka di Aosora lagi" Batin Arthur sambil membuang sapu tangan itu yang penuh dengan darahnya.
"Pukul berapa kau akan berangkat lagi?" Archie tau bila Arthur akan mulai berkeliling di Aosora selama tiga hari kemudian hari keempat adalah hari pengangkatan Arthur.
"Pukul 11 siang. Aku hanya diperbolehkan membawa tiga orang saja. Tentunya, aku akan membawa Tsuha dan Nao. Aku butuh saranmu Archie, siapa satu orang lagi yang mau ku ajak jalan kaki mengelilingi Aosora?" Arthur melipat dan menggulung dua kemejanya, serta baju kaos lengan pendek untuk ia istirahat.
Arthur memasukkannya ke dalam tas pinggang berisi uang yang di berikan oleh Shinrin untuk ia bawa selama perjalanan di Aosora.
"Benar juga. Kalau begitu, aku akan mengajak Kepala Verza saja. Aku sudah banyak merepotkan Guru Nox" Arthur menepuk tas pinggangnya kemudian mendatangi tempat istirahat 7 orang yang mengantarnya.
Pukul 11 kurang 5 menit. Arthur keluar bersama dengan orang-orang yang ia pilih. Nox sedikit kecewa karena tidak dipilih oleh Arthur.
Dua hewan jadi-jadian itu, masuk ke dalam tas obat dan makanan yang dibawa oleh Tsuha.
Sepanjang jalan warga Aosora memaki Arthur dan menyebut Arthur sebagai pangeran pembawa sial, pembawa kutukan, iblis, dan lainnya. Tak sedikit dari mereka langsung melempari Arthur dengan batu dan sayuran yang busuk.
"WOSH!GREEP!" Nao langsung muncul di hadapan orang yang melempar tomat yang sudah busuk dan rusak ke Arthur. Ia mencekik orang yang berusia sekitar 25 tahunan itu dengan tangan kanannya.
Seketika tempat yang di lewati oleh Arthur menjadi sunyi.
"Minta maaf atau mati" Nao menyeringai lebar pada pria itu.
"Ma...af...BRUK!" Nao langsung melempar pria itu ke arah kaki Arthur. "Minta maaf pada Arthur dan jilat sepatunya!" Bentak Nao pada pria itu sambil menendang perutnya.
"Nao... berhentilah..." Lirih Arthur sambil menjauhkan kakinya pada pria yang terkapar di bawahnya.
"SIAPAPUN YANG BERANI MEMAKI, MENGHINA, ATAUPUN MELEMPARKAN SESUATU PADA PANGERAN AOSORA ARTHUR! INGAT MATA INI! AKU, TIDAK AKAN SEGAN MEMISAHKAN KEPALA DAN KAKI KALIAN!" Tegas Nao pada orang-orang yang berada di sekeliling Arthur.
Semua orang pergi dari tempat itu dan tidak berani melihat ke arah Arthur.
"Hehe,..." Nao terkekeh sambil mengalungkan tangan kanannya pada bahu kiri Arthur. "Ayo lanjut lagi".
Tsuha menatap dua wanita di belakangnya yang masih menghina Arthur serta berkata buruk tentang Nao.
Dua wanita itu langsung diam dan mengalihkan pandangan mereka.
Arthur mulai mendatatangi rumah yang sedang diperbaiki karenĂ hancur saat terkena sihir yang dikeluarkan oleh Archie.
Arthur menyuruh Nao, Tsuha, dan Verza tetap di belakangnya. Ia berdiri dihadapan seorang wanita berbangsa malaikat yang sedang mengendong bayi. "Nyonya, saya Aosora Arthur. Kedatangan saya kemari untuk- PLAK!" Tamparan melayang pada pipi kiri Arthur.
Nao hampir mendatangi wanita itu dan ditahan oleh Tsuha serta Verza.
Arthur menundukkan pandangannya. "Kau hampir membunuh putriku yang satu-satunya keluargaku yang tersisa!" Wanita itu murka kepada Arthur.
Ia menunjuk Arthur dengan jari tangannya.
Andai saja, Arthur mau. Wanita itu, bisa saja kehilangan tangan kanannya yang telah menampar Arthur dan menunjuknya.
"...Kedatangan saya kemari untuk memohon maaf dan melihat kondisi Anda" Arthur menyentuh dada kirinya sambil melihat mata wanita itu yang berair. "Anda tidak perlu memaksakan diri Anda untuk menerima permintaan saya. Anda pantas marah kepada saya. Tolong pukullah saya sepuas Anda" Arthur tidak bisa membayangkan bila dirinya di posisi wanita itu. Menurut Arthur, permohonan maaf saja tidak akan cukup untuk diterima wanita itu walaupun, rumahnya di betulkan dengan dana pribadi keluarga Aosora (Tidak termasuk keluarga Barron).
Wanita itu meneteskan air matanya sambil memeluk putrinya yang masih bayi. "Pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahmu" Wanita itu mengusir Arthur.
Arthur membungkukkan tubuhnya dan meletakkan lima koin emas di kaki wanita itu, kemudian pamit pergi untuk mengunjungi rumah yang lainnya.
Arthur membalik tubuhnya dan melihat ke arah Tsuha, Nao, serta Verza. Tsuha tersenyum tipis pada Arthur, "Apa kekuatanmu hanya sebatas itu Pangeran Iblis?" Ejek Tsuha sambil menyikut perut Nao.
"Pangeran Iblis? Mending di panggil mantan iblis kepala satu" Balas Nao sambil merangkul Arthur dan membawanya ke tempat berikutnya.