The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
MARSYAL



Arthur melihat Tsuha yang menunjuk cadar Arthur jauh dibelakangnya.


Arthur yang tak paham langsung melihat kebelakangnya.


Saat itu, Ia melihat mata Baal yang bertemu denganya


Arthur sadar dan membelalakan matanya.


Baal sangat terkejut melihat Pangeran Aosora yang Ia cari ada dihadapannya.


"Arthur!" Panggil Baal.


Peserta disana mendengar panggilan Baal dan sontak langsung diam semua.


"Arthur?" Pandangan semua orang tertuju pada Arthur.


...****************...


"Tangkap Dia! Didalam tubuhnya ada Iblis!!!!!" Tegas Kapten Guild Penelitian pada prajurit dibelakangnya.


Para Prajurit Baal langsung maju melindungi Baal dan tidak mendengar ucapan Kapten itu.


"Kalian! Menyingkirlah!" Tegas Baal.


Arthur benar-benar ketakutan


Mereka lupa dengan Juna yang masih pingsan ditempat.


Peserta yang lain melarikan diri dari gedung itu.


"Eh!" Nao yang baru dari kamar mandi langsung ditarik keluar oleh Khiri. Sedangkan Tsuha, Ia dibawah pergi oleh Nox.


Nox tak ingin Tsuha terlibat lagi dengan Arthur.


"Tetaplah disini. Jangan kemana-mana sampai Aku yang datang menjemputmu. Aku akan dipanggil oleh mereka"


Nox yakin Ia dan Kepala ASJ akan dipanggil oleh Baal.


"Tapi Guru!"


Nox memegang kedua bahu Tsuha.


"Bila Kau dipanggil juga, Katakan saja Kau tidak tau apa-apa. Mengerti? Jangan buat Tsuki sedih"


Tsuha membelalakan matanya setelah mendengar ucapan Nox.


Nox pergi setelah mendapat anggukan dari Tsuha.


Ternyata benar dengan dugaan Nox.


Ia dipanggil oleh Baal.


Ditempat Arthur sebelum itu...


"Kalian! Menyingkirlah! Dia bukan Iblis! Lihatlah warna matanya!" Tegas Baal yang mendorong Prajuritnya.


Baal membuka sarung tangannya.


"Arthur, Ini benar Kau kan? Darimana saja dirimu? Kami mencarimu sampai diujung perbatasan dengan Akaiakuma dan Aokuma. Aku tak akan melukaimu" Tanya Baal dengan lembut dan mengulurkan tangannya serta, berjalan perlahan pada Arthur.


Arthur ingin menanggis.


"Kak.... Bukan Aku yang membunuh keluargaku" Ucap Arthur yang mundur dan mengeleng.


Ia benar-benar ketakutan dengan mereka.


"Aku percaya padamu. Kita akan berbicara baik-baik. Benarkan? Kami juga, belum menemukan jasad Kakakmu, Putra Mahkota Aosora Bram. Kami yakin, Kakakmu masih hidup. Kau percaya padaku kan Arthur?" Tangan kanan Baal menyentuh kepala Arthur dan mengusapnya perlahan.


Arthur menundukkan kepalanya.


"Arthur! Ayo melarikan diri! Ayo tukar tubuh!" Archie masih tak bisa mempercayai orang Shinrin.


"Archie.... maafkan Aku. Aku berjanji, akan membebaskanmu" Batin Arthur.


"Tunggu! Apa maksudmu?!" Tanya tegas Archie.


"Apa Kak Baal, Akan membunuhku?"


Arthur sudah terbiasa memanggil Baal dengan panggilan Kakak.


"Ku usahakan. Aku tak akan membiarkanmu terbunuh. Kau bukan Iblis"


Mata biru laut Baal menatap mata Arthur dengan tatapan penuh kepercayaan.


"Didalam tubuhku ada jiwa Iblis Kak. Dia telah menyelamatkanku dan juga, Dia berkata kalau Dia yang membunuh pembunuh keluargaku" Lirih Arthur.


"Bila Kau tak bisa menerimanya, maka jangan menolongku" Lanjut Arthur.


Archie terkejut mendengar ucapan Arthur.


"Akan kubicarakan dengan Ayah. Katakan siapa yang menolongmu?" Tanya Baal.


Arthur melepas tangan Baal yang memegangnya dan Ia memberikan tatapan serius pada Baal.


"Jangan libatkan Mereka"


Arthur tak ingin Nox dan yang lain terlibat.


"Aku berjanji. Aku hanya ingin mengobrol dengan mereka" Jawab Baal.


Arthur menjawab siapa saja yang menolongnya dan Arthur meminta pada Baal untuk tidak melibatkan Tsuki serta Tsuha yang sekamar dengannya.


Pada akhirnya, Nox dan Kepala ASJ putra dipanggil karena telah merahasiakan keberadaan Arthur yang menjadi buronan empat Kerajaaan sekaligus (Aosora, Shinrin, Narai (Kerajaan yang masyarakatnya campur antara Bangsa Manusia dan bangsa Malaikat), dan Meganstria (yang merupakan Kerajaaan berbangsa Malaikat non campuran) Tiga Kerajaaan tersebut adalah sahabat Kerajaaan Aosora).


Arthur dibawa dengan sihir teleport jenis gerbang oleh Kapten Guild Pemberantas Iblis ditahanan Khusus Iblis dan telah dilengkapi oleh sihir tingkat tinggi.


"Apa yang Kau rencanakan Arthur?"


"Kita sudah ketahuan. Lagipula, bersembunyi terus itu melelahkan. Aku juga, nggak ingin terus terusan merepotkan Guru Nox"


Prajurit yang berkelas khusus melirik ke Arthur yang terlihat mengobrol sendiri.


NYUUUUTTT.....


Jari manis tangan kiri Arthur selalu ngilu saat berada didekat Raja Shinrin.


Arthur tau pamannya itu datang.


"Kreekkk..... Yang Mulia Raja Agleer Linus dan Putra Mahkota Agleer Baal telah datang" Suara dari luar ruangan.


Baal telah datang bersama ayahnya (Raja Shinrin) yang tengah sibuk mengumpulkan pasukan untuk pencarian Arthur serta Aosora Bram.


Mereka juga membawa Nox, Tsuha, serta Kepala ASJ ke penjara khusus itu.


Arthur berdiri dari duduknya dan Ia mengintip ada Tsuha yang melihat kearahnya.


"Archie, Katakan padaku apa saja perjanjian yang Kau tawarkan untukku?"


Arthur Ingin menjalin perjanjian pertukaran tempat dengan Archie.


"Hah ? Apa Kau berfikir untuk memanfaatkan sihirku ?" Tanya Archie.


Arthur duduk dilantai dingin itu


"Ahahaha.... sedikit, Kalau Aku bisa mengunakan sihirmu dengan mudah, Aku ingin membunuh orang yang membuat aliran manaku berantakan"


Arthur yakin sosok bersayap itu adalah orang yang membuat Arthur tak bisa mengontrol mana miliknya.


"Siapa orang yang Kau maksud?"


Archie tak melihatnya.


"Entahlah... Kurasa menjalin perjanjian denganmu bukan ide yang buruk. Jadi, Kau bisa menolongku saat ada yang akan mencelakaiku dan Aku akan menolongmu bila ada yang mencelakaimu"


Arthur mulai membuka matanya setelah kejadian diserang oleh siluman itu.


Dipikiran Arthur, Archielah yang menyelamatkannya.


"Arthur Kau tau, Perjanjian itu hanya akan memberiku keuntungan yang lebih banyak darimu. Yang pertama, Aku akan meminjam Hinoken dan catatan itu. Hinoken dan catatan Alex menyegel tubuhku. Dan darahmu, sebagai keturunan Alex akan menjadi kunci untuk membuka gemboknya. Saat melepas segel itu, Kau bisa saja mati kehabisan mana" Jelas Archie yang tiba-tiba merasa tak enak pada Arthur.


"Tidak apa-apa. Kalau takdirku memang untuk mati, harus bagaimana lagi? Semuanya terjadi karena sudah takdirnya" Jawab Arthur sambil melihat pamannya yang berdiri dibalik sel.


"Aku, Aosora Arthur... akan menerima seluruh perjanjian dengan De luce Archie selama Dia masih didalam tubuh ini. Dan apapun yang ku inginkan harus dituruti oleh De luce Archie termasuk, nyawanya"


Arthur menerima perjanjian itu dengan Archie.


Itu memang terdengar berlebihan tapi, sebenarnya sudah impas.


"Terima kasih. Tolong bantuannya mulai saat ini" ucap Archie.


...****************...


Prajurit penjaga sel itu membuka pintu sel yang dilapisi oleh sihir.


Arthur berdiri dan memberi salam hormat padanya.


"Arthur, maafkan paman karena harus membawamu dengan sihir pengikat"


Linus, membacakan mantranya pada Arthur.


Lingkaran sihir berwarna putih bersih keluar dari tangan kanan Linus dan dari lingkaran sihir itu mengeluarkan tali mana yang mulai melilit di tubuh Arthur.


Arthur hanya diam dan menerima hal itu.


Archie juga bergerak atas ucapan Arthur.


Sihir itu membuat Arthur keusliran bergerak.


GREP!!!!


Linus dengan tiba-tiba memeluk keponakannya itu.


Arthur membelalakan matanya


Rasa hangat itu, mengingatkan Arthur dihari terakhir Bram memeluknya.


Linus memeluk Arthur begitu erat.


"Maafkan Paman nak. Paman tak bermaksud membuatmu kesulitan. Jangan menghilang lagi seperti ini. Paman hampir tidak tidur memikirkanmu dan Kakakmu yang belum ketemu"


Linus benar-benar menyayangi Arthur sama seperti menyayangi putranya sendiri.


Mata Arthur berkaca-kaca mendengarnya.


Linus melepaskan pelukannya yang mengobrak abrik rambut biru langit Arthur.


Linus tersenyum pada Arthur.


"Apa Kau sudah makan dan tidur dengan cukup?"


"Besok petinggi Aosora, Narai, dan Meganstria akan kemari. Paman berharap Mereka tidak membuatmu terbebankan"


Tep!


Arthur menempelkan keningnya yang sejajar dengan bahu Linus.


"Paman, Aku ingin semuanya terselesaikan. Aku, ingin kehidupanku kembali normal"


"Itu.... sudah tidak mungkin untukmu yang berbeda dengan mereka dan sama dengan Kami"


Ketua Guild penyidik itu memandang ke Arthur dengan tatapan serius.