The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Tsuha-gusar



Sore hari, Arthur telah menyelesaikan tugasnya untuk meminta maaf kepada orang-orang yang menjadi korban dalam pelariannya. Hanya dua orang dari 25 korban yang mau menyambut Arthur dengan sopan dan hangat. Arthur mengundang dua orang itu untuk datang ke upacara pengangkatannya.


Kini, tubuh Arthur sedang diukur oleh seseorang yang akan menjahit pakaian untuk pengangkatannya itu. Wanita itu berambut putih dan mengenakan kacamata hitam.


"Nyonya, apa Anda bisa melihat angkanya dengan kacamata hitam itu?" Wanita itu, mendekatkan alat pengukur jahitnya di depan kacamata hitamnya.


"Anda tidak perlu khawatir Pangeran Aosora. Maaf bila saya terkesan tidak sopan. Ini karena mata saya yang menderita saat terkena cahaya. Saya harap, Anda mampu memahaminya" Suara wanita itu, begitu elegan dan halus.


Arthur mengerutkan keningnya. Ia merasa tak asing dengan suara wanita itu.


Wanita itu, pamit kepada Arthur setelah selesai mengukur tubuhnya yang hampis selama dua jam.


"Apa selama itu penjahit mengukur tubuh untuk baju yang akan dia jahit?" Arthur sedikit heran. Namun, ia menganggap hal itu tidak penting.


Arthur melihat ke arah luar jendela yang sangat gelap dan penginapan itu, mulai dituruni oleh salju. "Seberapa dinginnya salju-salju itu saat terkena kulit? Apa salju itu akan mencair saat terkena kulitku?" Arthur belum pernah sekalipun menyentuh salju seumur hidupnya.


Ia duduk di atas kasurnya dan mencari sesuatu yang bisa ia baca di laci sebelah kasurnya.


...****************...


Sebenarnya, sejak kapan Angel dekat dengan Tsuha?


Jawabannya, sejak tahun kedua Tsuha ikut dengan ibunya ke Aosora dan menjadi teman se-guru. Angel adalah gadis yang iseng. Ia suka sekali mengacaukan mood Tsuha saat kecil. Kemudian, Tsuha tiba-tiba muncul dihadapan Angel setelah enam tahun kepergiannya. Ini adalah suatu hal yang bisa dikatakan keberuntungan bagi Angel.


"GREP!" Angel memeluk Tsuha dari belakang. Ia menintip Tsuha dari sisi kanannya. "Ngapain?".


Tsuha membeku ditempat karena ia merasakan sesuatu yang asing di pungungnya. "Kenapa kau memelukku kap- kak! Tolong.... lepaskan" Tsuha menutup matanya rapat-rapat.


Angel semakin erat memeluk Tsuha. Ia tersenyum jahil. "Oleh karena itu, jangan membuatku menunggu" Angel melepaskan pelukannya dan menepuk punggung Tsuha.


Angel mengembalikan jubah markas milik Tsuha. "Mau ikut?"


"Kemana?" Tanya Tsuha sambil mengambil jubahnya kembali.


"Markas Penyidik Aosora" Angel mengulurkan tangannya kepada Tsuha.


Angel mengajak Tsuha untuk proses pencarian data-data tentang Arthur. Angel memiliki tujuan lain. Ia ingin Tsuha dapat memahami Arthur.


Tsuha tidak menolak ajakan Angel. Ini kesempatan bagi dia yang tidak dimiliki oleh orang lain untuk melihat markas guild terbaik di Aosora.


Angel membawa Tsuha berteleport menuju markasnya. Ia tau bila Tsuha tak bisa menggunakan sihir teleportnya.


Saat sampai di Markas Penyidik, mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran orang tua angkat Angel.


"Kapan kau akan mengirimkan mingguan untuk ibu?! Ini sudah telat dua hari!" Angel lupa untuk mengirimkan uang untuk orang tuanya karena sibuk memikirkan Arthur.


Orang tua angkat Angel yang berbangsa malaikat itu, menatap sinis Tsuha dari bawah hingga ke atas. Tsuha melihat membuang pandangannya. Ia tau, bila orang tua angkat Angel sangat tidak menyukainya sejak dulu.


Angel menyikut perut Tsuha. "Masuklah dulu dan tunggu aku di dalam" Ucap Angel.


"Ya" Tsuha langsung masuk ke dalam ruang tunggu markas besar itu.


Markas itu, terlihat sangat terpelihara daripada Markas pemberantas iblis yang kumel. "Wangi" Lirih Tsuha sambil melihat ke segala arah dengan perlahan.


"HARUSNYA! KAU UTAMAKAN KAMI! UNTUK APA KAU MENGURUSI IBLIS ITU!" Teriakan ibu angkat Angel sangat keras. Teriakan itu, tembus hingga ke telinga Tsuha. Ia menghela napas menyadarkan punggungnya pada sofa tunggu yang empuk.


"Kenapa Kapten Angel tidak memutuskan hubungan dengan mereka. Setiap hari, mereka selalu saja datang untuk meminta uang. Benar-benar tidak tau malu" Suara bisikan sekitar Tsuha.


Angel kembali tak lama setelah itu. Ia membawa Tsuha menuju ke ruangannya. "Tsuha, tunggulah disini dulu. Aku mau membagi tugas dulu dengan anak-anak markas"


"Ya"


Tsuha sedikit kasihan melihat Angel. Ia tidak berhenti melihat tubuh bagian belakang Angel hingga Angel tidak terlihat dari pandangannya.


"Jangan menjadikan rasa kasihan ini, untuk menerimanya. Jadilah orang yang memahami" Ia bergumam sambil melepas jubahnya karena ruangan Angel yang hangat.


Tsuha kembali menyandarkan punggungnya dan melihat pola awan pada langit-langit ruangan Angel.


"Kepalaku, serasa penuh. Kenapa aku harus memikirkannya?" Tsuha menutup matanya dengan jubah abu-abu ditangannya itu. Ia tidak sadar bila tertidur.


Angel kembali setelah 45 menit meninggalkan Tsuha. Ia melihat kepala Tsuha yang mendongak keatas dan ditutup dengan jubah tebal itu.


Angel melihatnya seperti risih. "Apa dia tidak pengap?" Ia membuka jubah itu dan melihat mata Tsuha yang tertutup. Bulu mata Tsuha terlihat lebih lentik saat menutup matanya.


Tsuha membuka matanya perlahan dan ia melihat bayangan samar Angel di atasnya. Ia langsung membelalakan matanya dan duduk dengan tegap.


Tsuha mengosok wajahnya dengan kedua tangannya. "Apa aku tidur dengan mengagakan mulutku?!" Tsuha merasa malu tidak karuan.


Angel berjalan dan mengambil beberapa dokumen di lemari besarnya. "Tidur saja kalau lelah. Tak apa, aku akan membangunkanmu dua jam lagi. Selagi menunggu waktu makan malam di penginapan" Ucap Angel sambil meletakkan dokumen itu dengan pelan di meja depan Tsuha duduk.


"Maaf, tak apa. Aku tadi, hanya ketiduran karena ruangan ini hangat" Jawab Tsuha sambil melioat jubahnya.


Angel duduk di sofa depan Tsuha untuk mulai mencari dokumen tentang kelahiran Arthur dan penyakit Arthur yang pernah diselidiki oleh anggota terdahulu markas penyidik ini.


"Ada yang bisa kubantu?" Tsuha menawarkan dirinya untuk membantu Angel.


Angel langsung memberi Tsuha dua dokumen tentang penyelidikan keluarga Aosora. "Carilah tentang kelahiran dan penyakit Arthur" Ucap Angel.


Tsuha langsung menerima dokumen itu yang berwarna hampir kecokelatan.


Di buku itu, tercatat bila Arthur memiliki sebuah penyakit yang unik dan menjadikan penyakit itu sebagai kemampuan. Kemampuan yang dimaksud adalah, tubuh Arthur sejak kelahirannya menyerap energi sihir orang disekitarnya.


Tsuha menunjukkan lembar itu pada Angel. Angel mulai mencatatnya di buku catatan miliknya. Tak lama dari itu, di buku yang Angel baca. Disana tertulis bila Aosora Emilly meninggalkan Aosora selama hampir satu bulan untuk penyembuhan penyakit Arthur.


Tidak diketahui darimana penyakit Arthur itu berasal. Angel mulai mencari buku lain tentang Aosora. Ia dan Tsuha berpendapat bila kemungkinan penyakit Arthur itu, adalah penyakit yang diturunkan oleh gen.


Mereka mulai mencari buku itu dan silsilah keluarga dari ibu Naver atau ibu Barron yang merupakan janda saat menikah dengan Aosora Aiden.


Mereka mulai mencari dokumen lainnya di gudang markas penyidik yang berada di ruang bawah tanah. Ruangan itu, beraroma lembab dan hampir tidak dibuka selama dua tahun ini.


Angel menggunakan sihirnya untuk menerangi ruangan bawah tanah itu.


Satu persatu dokumen mulai mereka buka dan mereka baca. Sesekali, Tsuha melihat Angel yang sangat serius untuk mencari dokumen tentang keluarga Aosora.


"Kak, kenapa kau sangat antusias dalam mencari dokumen tentang Aosora?" Tsuha melihat Angel yang berdiri disebelahnya itu.


Angel membetulkan rambutnya yang berantakan. "Ini untuk Arthur. Dia satu-satunya orang yang kuanggap sebagai adikku sendiri. Tidak mungkinkan, bila aku membiarkan adikku kesulitan?" Angel melihat ke arah Tsuha sambil tersenyum riang.


DEGH!


Tsuha tiba-tiba berdebar melihat Angel dengan ekspresi seperti itu. Ia memalingkan wajahnya. "Ya, aku pasti akan begitu juga untuk Tsuki" Tsuha langsung diam setelah menjawabnya.


Dada Tsuha masih berdebar. "Aku, kenapa sih? Kenapa jantungku berdebar? Apa karena aku berada di ruangan sunyi ini?"