
"Tentu saja. Rasa hasil kerja keras Kita akan terasa lebih enak bila dibandingkan dengan hasil meminta pada Orang lain. Saat itu terjadi, Kau benar-benar akan belajar bagaimana cara menghargai satu keping perak yang sangat berharga" Ucap Nao sambil tersenyum pada Arthur dan menjepit kembali poninya yang menutup matanya itu.
Arthur termotivasi dengan ucapan Nao.
Ia menyadari sesuatu, Hanya demi sebuah koin perak, banyak sekali orang yang tumbang dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Itu semua, demi kelangsungan hidup mereka.
"Apa Kak Ram juga mengalami hal yang sama denganku? Aku harap Kak Ram masih hidup. Aku ingin bertemu dengannya"
Nao menuliskan makanan yang ingin Ia dan Arthur pesan kemudian, memberikannya pada pelayan makanan.
...****************...
"Hei Arthur, menurutmu, Aku ini seperti apa?"
Nao bertanya sambil memberi daging pada makanan Arthur.
"Maksudmu?"
Arthur mengembalikan daging itu dipiring makanan Nao.
"Makanlah, Aku lebih suka telur daripada daging" Nao memberikan daging ayam itu pada Arthur.
"Terima kasih"
"Maksud pertanyaanku tadi, menurutmu, Apa Aku bisa menjadi temanmu?" Jelas tanya Nao sambil memakan nasi goreng yang Ia pesan.
"Tentu saja. Aku tidak pemilih pada teman. Aku sendiri sangat senang memiliki teman selain teman-teman Kakakku"
Nao memberi Arthur daging itu lagi.
"Benarkah? Walau seorang pembunuh, Apa Kau akan tetap mau berteman dengannya?"
Arthur menaruh sendoknya disamping piringnya yang beralaskan kain.
"Apa Kau seorang pembunuh?" Arthur membelalakan matanya saat bertanya seperti itu pada Nao.
"Tentu saja tidak. Aku ini, anak baik-baik. Mana mungkin Aku seorang pembunuh" Ucap Nao.
"Haha. Aku percaya padamu kok"
Arthur sedikit tertawa dan kembali makan.
"Ya, Aku akan menjaga kepercayaanmu itu. Lalu menurutmu, Siapa musuh Kita?" Nao tersenyum sambil melirik Arthur yang tengah makan.
"Musuh? Itu tergantung bagaimana cara Kita menilai. Menurutku, Bangsa Iblis tak terlalu buruk bila semuanya seperti Archie. Lagi pula, didunia ini, tak ada orang yang jahat. Semuanya adalah orang baik"
Arthur melahap makanannya kembali.
"Hah? Bangsa Iblis adalah bangsa terburuk. Jangan samakan Mereka dengan Aku" Celoteh Archie.
"Dan, terkadang tanpa Kita sadari musuh Kita sebenarnya bisa jadi, orang terdekat Kita" Arthur menjawabnya sambil mengangguk.
"HEMFFF.... Kalau suatu hari nanti Kau menganggapku sebagai musuh. Apa Kau akan membunuhku?"
Nao bertanya sambil melahap makanannya.
Arthur berhenti makan.
"Nao, Apa pertanyaanmu ini memang sebuah kenyataan?"
Arthur mencurigai Nao karena pertanyaan Nao yang menanyakan hal yang sama sejak tadi.
Arthur ingin mengetahui kebenarannya.
"Itu hanya perumpamaan. Kita adalah teman. Apa Kau rela membunuh temanmu bila mengetahui kalau, teman dekatmu itu adalah musuh?" Jelas Nao tanpa melihat Arthur dan asik makan.
Itu adalah sesuatu hal yang tak bisa dipikir dengan akal sehat.
Membunuh teman dekat, sama seperti membunuh keluarga sendiri.
"Aku tak bisa membunuhnya. Susah senang pasti sudah dilewati bersama. Itu sama seperti hari ini. Bila saat ini Aku mengetahui kalau Kau adalah musuhku. Aku akan membiarkanmu pergi dari hadapanku asal, Kau tak pernah muncul lagi dihadapanku" Jawab Arthur.
"Itu pemikiran yang bodoh. Bisa saja 'Aku' disini adalah orang yang sangat mengancam Negri ini. Apa Kau akan melakukan hal yang sama?"
"Aku akan membuatmu bertobat" Arthur menguncupkan kedua tangannya dihadapan Nao sambil menutup matanya.
"PFFFT.... BUAHAHAHA! Kau lucu sekali Arthur. Aku suka jawaban itu. Tapi, Tak semua orang akan mau bertobat karena belum tentu musuhmu itu melakukan hal yang menurutnya salah" Nao mengusap matanya yang berair itu.
Arthur membuka matanya dan berkata "Kan yang menilai orang lain. Bukan dirinya sendiri"
Terkadang, ada seorang yang berpenampilan bak preman ia menolong seorang anak kecil yang terjatuh dan menangis.
Khalayak menghakiminya secara sepihak dan menutup telinganya atas penjelasan Pria itu.
Kenapa mereka seperri itu?
'MEREKA' lebih mementingkan penampilan dan bukti yang belum tentu benar daripada penjelasan dari Pria itu.
...******************...
"Jadi, bagaimana misi pertama kalian?"
Arthur pulang ke Markas setelah menjemput Tsuha usai pelatihan dengan Marsyal.
Nel atau saat ini bisa dipanggil Arnold menyambut mereka dengan hati yang sangat terbuka.
Kalau Dia Iblis, kenapa matanya tetap hitam dan berbeda dengan Archie yang bermata merah saat bertukar tempat dengan Arthur?
"Dia menambah hewan sihir di Markas ini. Semoga Kapten Nel tidak keberatan" Ucap Tsuha yang ditindih i oleh tiga Serigala sihir.
Serigala sihir itu saling melihat saat mendengar kalau Arthur menambah hewan sihir lagi.
Ekor mereka mengibas-ngibas sambil mengendus-endus Tsuha.
"Hewan sihir?" Tanya Razel yang tiba-tiba muncul setelah pulang dari membimbing Tim gabungan yang lainnya.
"Iya, Dia kucing anakan. Saya minta izinnya Kepten. Saya juga berjanji akan memberinya makan dengan uang simpanan Saya" Arthur menunjukkan jari kelingkingnya pada Razel dan Arnold.
Arnold dan Razel saling melihat.
"Bagaimana?" Tanya mereka berdua bersama.
"Eh! Terserah Kapten. Semua yang berada di kawasan Markas pemberantas Iblis harus mendapatkan izin dari Kapten" Sahut Razel.
"Kau kan wakilnya. Aku serahkan padamu. Izinmu sama dengan Izinku" Jawab Arnold sambil menarik tudung jubah Tsuha agar keluar dari tiga serigala sihir itu.
"Terima kasih Kapten" Ucap Tsuha.
"Ya kalau Saya, tentu saja pasti Saya izinkan. Asal hewan sihir itu, tidak membahayakan Kalian" Jawab Razel.
Mata Arthur langsung berbinar dan hatinya sangat senang bisa mendapatkan izin itu dari Razel.
"Terima kasih Wakil Razel!" Tegas Arthur.
"Lalu, dimana hewan sihirnya?" Arnold tidak melihat hewan sihir sejak kedatangan Arthur.
"Kucing sihir itu sedang diperiksa oleh Kapten Marsyal" Jawab Tsuha.
"Iya, Kapten Marsyal akan memeriksanya beberapa hari. Saya tak sabar menunggunya" Arthur tersenyum lebar pada Arnold.
...****************...
Angin malam ditengah hutan sihir menyapu halus rambut seorang Elf yang berlutut dihadapan seorang Elf lainnya yang mengenakan cadar hitam diwajahnya.
Mata hijau sehijau zamrud menyala digelapnya malam.
"Jadi, Apa yang Kau rencanakan?"
Seorang Elf hijau dengan rambut terikat menundukkan pandangannya saat Sosok bermata hijau Zamrud itu bertanya.
"Saya.... Tidak merencanakan apapun. Sa..ya... hanya ingin kembali pada Tuan Saya"
Suara Elf hijau itu gemetar saat menjawabnya.
"Tuan? Apa Kau seorang budak? Dan, Menyerahkan seluruh jiwamu saja padaku tidakkah cukup?"
Mata Elf itu bergetar.
"Saya memohon maaf pada Anda. Tuan yang Saya sebutkan adalah sosok penolong dihidup Saya. Saya tidak menyerahkan seluruh jiwa Saya padanya. Hanya pada Anda, Saya menyerahkan seluruh jiwa raga Saya. Tugas Saya pada Tuan Saya hanya menjaga Raganya. Dia adalah seorang Titisan sama seperti Anda"
Elf itu bersujud dihadapannya.
"Titisan? Siapa Namanya?"
"ALFARELLZA AMBAREESH"