
Pagi hari diawal musim dingin, Kapten dan Wakil Markas pemberantas Iblis mendapatkan panggilan untuk menghadap langsung pada Baginda Agleer Linus.
Panggilan tersebut, bersifat Rahasia dan Surat pangilan yang terbuat dari sihir langsung lenyap setelah dibaca.
"Razel, Kenapa Mereka memanggil? Bukankah Kau sudah melapor?"
Arnold mengetuk berapa kali meja makan setelah semua orang pergi.
"Aku sudah melapor dan mungkin Kapten-kapten yang lain juga dipanggil" Jawab Razel sambil memotong daging yang akan ia makan.
"Apa ini ada hubungannya dengan Aosora Arthur?" Nada Arnold langsung berubah saat mendengarnya.
Zack keluar dari kamar mandi dan mengambil mengambil buah di meja makan kemudian, pergi begitu saja.
Mata Arnold, mengikuti Zack yang keluar dari tempat makan.
"Akhir-akhir ini, Zack terlihat lebih pendiam dari sebelumnya. Apa Kau tau alasannya Kapten?"
Razel menyadari perubahan Zack.
"Bukankah, Dia selalu seperti itu?"
Arnold meminum kopinya sambil membaca laporan misi yang telah diselesaikan oleh Guild Pemberantas Iblis.
Razel langsung melihat Kearah Arnold yang Ia pikir Nel.
"Zack adalah yang paling ceria diantara Anggota lama Kita. Ku harap, Kapten tau mengenai kebiasaan Anggota Guild ini. Kau sudah melupakan sebagian besar kebiasaan setiap Anggotamu sejak siuman dari komamu enam tahun yang lalu" Razel melihat Arnold dengan raut prihatin.
Arnold menutup matanya setelah melihat raut dari Razel.
"Jangan menatapku dengan mimik seperti itu. Aku sudah berusaha keras untuk mengingat semuanya dan Aku sudah menyesuaikan diri sesuai yang Kau minta. Selesaikan makanmu dan Ayo segera menghadap ke Baginda Agleer" Ucap Arnold.
Razel tidak tau kalau Arnold menempati tubuh Nel.
Nel dulunya adalah orang yang humoris dan sigap. Walau Arnold sigap tapi, memiliki sifat kaku dan sifat itu, membuat pertemanan yang dijalin oleh Nel, satu persatu menghilang.
Ngomong-ngomong, Apa Kalian masih ingat dengan 12 Anggota Guild yang mati Dua tahun yang lalu, saat bertugas diperbatasan Akaiakuma? (Chapter 34)
Dalang dibalik kematian Mereka adalah, Arnold.
Arnold membunuh 12 anggota itu Dan, Ia membiarkan Tiga serigala sihir itu membawa salah satu jasad dari 12 anggota itu untuk kembali ke Shinrin.
Kenapa Arnold membunuh Mereka?
Sebab 12 orang itu, mengetahui kalau Nel harusnya sudah mati dan yang berada didalam tubuh itu, adalah Raja Akaiakuma ke X.
Arnold menghabisi Mereka ditengah hutan dan membuang jasad menenggelamkan jasad mereka, di danau tengah hutan itu dengan mengikat jasadnya dengan sebuah batu besar.
Bukan perkara itu saja. Melainkan, 12 orang itu, mengancam bagi Kerajaan Akaiakuma.
Arnold rela membunuh semua orang didekatnya daripada harus kehilangan tanah lahirnya
Arnold juga tak pernah merasa bersalah ataupun menyesal terlahir sebagai bangsa Iblis.
...****************...
Pagi hari itu, Kapten dan Wakil Guild Pemberantas Iblis telah berangkat menuju Istana Shinrin.
Disisi lain, Arthur sedang membantu Tsuha yang berlatih sendiri.
"BAMMMM!!!!! BWOOSSSH!!!!"
Arthur melesatkan sihir anginnya kearah Tsuha. Kemudian, Tsuha sempat terhempas dan Arthur kembali melesatkan dirinya kearah Tsuha sambil mengeluarkan pedang mananya yang berwarna merah karena Ia masih belum bisa memilah mana milik Archie yang menjadi satu dengan miliknya.
"BUKKK! Wushh!!!"
Pungung Tsuha, menyentuh rumput akibat hempasan sihir Arthur itu dan Ia langsung mengeluarkan pedang mananya saat Arthur melesat kearahnya.
"TRANNNKKKKKK!!!!!!"
Kedua pedang mana Mereka saling menahan dan menekan serta, sempat keluar percikan api dari kedua pedang tersebut saat bersentuhan.
Arthur duduk diatas perut Tsuha.
Wajah Tsuha berkeringat menahan beban yang diberikan Arthur pada pedangnya.
"Mau nyerah?" Arthur cengegesan saat menanyakannya.
Arthur terus mendorong pedang mananya mendekat hingga berjarak 5 cm dari hidung Tsuha.
"Si..sialan! Bwosh! Hosh! Hosh!"
Tsuha merentangkan tangannya dan Arthur ikutan tiduran disampingnya sambil melihat langit yang berawan.
Napas Tsuha terengah-engah.
"Siapa yang melatihmu setelah usiamu 10 tahun?"
Tsuha tiba-tiba menayakan itu pada Arthur.
Arthur melihat Tsuha yang sedang menutup wajahnya dengan sikutnya.
"Kadang Ayah dan kadang Kak Ram" Jawab Arthur.
"Hah.... pan...tash..." Lirihnya.
Arthur menatap langit yang semakin mendung.
"Hei Tsuha,..."
Arthur memanggil Tsuha sambil mengangkat tangannya seolah Ia berusaha menyentuh awan.
"Hmm?"
Tsuha tak melihat kearah Arthur dan Ia malah menelungkupkan tubuhnya untuk merasakan embun dirumput yang membasahi pipinya.
"Berapa lama Kau mengenal Nao?" Arthur bertanya sambil melirik kearah Tsuha yang mencium rumput.
"Tentu saja sejak kecil. Dia paling akrab dengan Tsuki dan kemana-mana selalu bersama" Jawabnya.
"Begitukah? Kemarin, Nao bertanya suatu hal yang terdengar aneh"
"Tak usah Kau dengar. Dia memang anak yang aneh" Jawab Tsuha lagi.
Arthur melihat kearah Tsuha yang tak mengubah posisinya sedikit pun.
"Gimana ya,... Karena pertanyaannya itu, membuatku berfikir semalaman"
"Memang, apa yang Dia tanyakan?"
"Kalau teman dekatmu adalah musuhmu, Apa Kau bisa membunuhnya?"
Mendengar pertanyaan itu dari Arthur, Tsuha langsung membelalakan matanya dan mengangkat kepalanya.
Tsuha melihat ke arah Arthur.
"Apa jawabanmu?"
"Ya, Aku tak akan membunuhnya selagi tak bertemu untuk yang kedua kalinya setelah kusuruh pergi selamanya dari pandanganku" Jawab Arthur.
Tsuha melipat kedua tangannya hingga kesiku kemudian meletakkan dagunya disela-sela kedua pergelangan tangannya.
"Dia dulu pernah bertanya seperti itu padaku. Saat itu, usiaku masih 14 tahun. Dulu kupikir, Dia bertanya seperti itu karena menyimpan suatu rahasia besar dariku. Ternyata, setelah sekian lamanya, Aku menyadari kalau Dia bertanya seperti itu hanya karena rasa khawatirnya yang berlebihan. Dia punya masa lalu yang hampir sama seperti yang Dia tanyakan. Jadi, maklumi saja dan Akrablah dengannya. Dia, hanya ingin akrab denganmu" Jelas Tsuha sambil memejamkan matanya.
"Masa lalu yang hampir sama seperti yang Dia tanyakan? Maksudmu... Dia pernah membunuh temannya?" Arthur penasaran dengan hal itu.
"Bukan. Lebih tepatnya, Dia hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri" Jawab Tsuha.
DEGH!
Arthur langsung membelalakan matanya.
"Jangan bilang pada Nao kalau Aku mengatakannya padamu" Pinta Tsuha.
"Ke..kenapa... Ayahnya mau membunuhnya?" Raut Arthur berubah saat menayakan hal itu.
Tsuha melihat kearah Arthur.
"Aku, tak mau menceritakan hal yang tak ingin di ingat oleh temanku" Jawab Tsuha.
"Eh,.... ah.. Kau memang teman Nao yang baik. Andai kalau Kita adalah teman sejak dulu, mungkin Aku tidak akan merasa sendirian di Istana" Arthur membelakangi Tsuha dan menempelkan pipi kirinya dirumput yang berembun.
Arthur tidur sungguhan karena hawa yang sangat cocok untuk tidur itu.
Tsuha mendengar hal itu. Ia langsung membuka matanya dan melihat ke arah Arthur.
"Ya, Kalau Kau dan Aku berteman sejak dulu. Aku pasti akan menjadi sosok yang tak sadar diri. Kau hidup didunia yang berbeda denganku. Apapun yang terjadi, Kau akan tetap menjadi sosok yang memiliki drajat yang lebih tinggi dariku. Dan Aku, tak pantas untuk menjadi seorang teman bagi sosok sepertimu"
Tsuha berdiri dan pergi meninggalkan Arthur yang tidur sungguhan.