The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Sudut Pandang bagian 1



Nox bergegas menuju tepat Arthur.


Ia mengesampingkan segala urusannya.


Jantungnya terus berdebar, Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada orang disekitar Arthur.


Ditempat Arthur sendiri.....


"Bagaimana? Apa Kau menyukai apel ini?"


Zack memberikan sebuah apel pada Arthur dan perempuan bermata kuning yang sempat Ia selamatkan waktu itu.


Arthur melihati wanita itu dan tak sedikitpun mendengarkan ucapan Zack.


Wanita Itu sendiri, tak berani menatap balik Arthur. Ia tersenyum dan melihat ke Zack.


"Tuan, terima kasih atas bantuan Anda"


Wanita itu, harus kehilangan lengan kirinya karena kuda waktu itu adalah kuda yang tercipta dari sihir hitam dan air liurnya, merupakan racun yang hampir setara dengan bisa ular serta, racun itu mengakibatkan kerusakan syaraf jaringan di lengan kirinya.


"Sama-sama. Lain kali berhati-hatilah"


"Bila Arthur diam, rasanya aneh dan cangung sekali" Batin Zack ditengah pembicaraannya.


"Ngomong-ngomong, Kontrak apa yang Anda katakan waktu itu? Bisakah Anda jelaskan pada Saya?"


Wanita itu, bertanya tentang Kontrak yang sekilas Ia dengar saat Zack menyelamatkannya.


"Ah...."


Zack memutar bola matanya dan meringis pada wanita itu.


"Tak perlu Kau anggap serius. Itu hanya kontrak biasa dan sebisa mungkin, jangan membuat dirimu terluka ya.."


Itu adalah kontrak yang membuat penggunaannya menanggung rasa sakit, serta menukar darahnya dari penerima kontrak.


Kontrak itu, sangat merugikan Zack.


Arthur hanya memperhatikan mereka berdua dan tak berbicara sepatah katapun.


"Katakan saja Tuan. Anda adalah penyelamat Saya"


Wanita itu memaksa Zack untuk menjelaskannya. Ia tak ingin membebani dirinya karena rasa penasaran serta, Ia juga tak ingin membuat Zack terbebankan karenanya.


"Ya... Intinya, Bila Kau sakit... sakitmu akan berpindah padaku dan bila Kau terluka, lukamu akan berpindah padaku. Singkatnya, Tubuhmu dan tubuhku adalah satu" Jelas singkat Zack.


Mendengar itu, Arthur merasa penasan.


Wanita itu melihat ke Arthur karena Arthur dengan tiba-tiba memegang tangannya.


Telapak tangan wanita itu, terasa hangat.


Tangan kiri Arthur memegang pisau dan...


Melihat itu, Tangan Zack berusaha mengambil pisau apel dari tangan Arthur.


"Trash!" Zack terlambat. Arthur telah membeset tangan kanan wanita itu yang hangat.


"Tes!" Darah menetes dari telapak tangan Kanan Zack.


Wanita itu, menarik tangannya dari Arthur.


"Sihir yang bagus. Kau, siluman perempuan. Jangan jauh-jauh dari Kak Zack" Arthur memuji sihir milik Zack dengan kosa kata yang datar dan Kaku.


"Siluman?"


Zack benar-benar tak tau apa yang dipikirkan oleh Arthur.


"Yang benar saja. Kau melakukan ini, hanya karena rasa penasaranmu?" Ia kesal dengan Arthur yang ada dihadapannya ini.


"Wushhhh" Telunjuk Arthur menyentuh luka Zack itu.


"Plak!" Zack menepis tangan kanan Arthur dengan tangannya yang terluka itu.


"Apa yang Kau!!.... pssssh..." Luka Zack menghilang saat Ia melihatnya setelah menepis tangan kanan Arthur.


Mata Zack terbelalak.


Arthur duduk dan memakan apel itu tanpa Ia kupas.


"Sebenarnya, Siapa Kau ini?"


Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Zack, Arthur melihat Zack tanpa ekspresi sambil mengunyah apel itu.


"Menurutmu, Siapa Aku?"


Dia balik tanya. Dan hal itu, membuat Zack merasa seperti direndahkan olehnya.


"Kau, bukan Aosora Arthur" Jawab Zack.


Wanita itu, tak tau apa yang tengah terjadi.


"Aku... ingin... keluar dari sini" Batinnya.


Alis kanan Arthur terangkat. Ia berdiri, "Aku? Aku adalah...."


"BRAK! PANGERAN!"


Napas Nox, terlihat terengah-engah. Dia pasti berlari saat kemari.


Tsuha, mengatur pola napasnya dibelakang Nox.


"Kau... Lama sekali datangnya. WOSH!!!! BZZZZT!"


Arthur dan Nox menghilang dengan begitu saja disana.


Tsuha, Zack, dan wanita itu saling melihat.


"Ehm! Kak Zack, tolong jangan dianggap serius tentang hari ini. Aku, izin pergi menemui Putra mahkota Baal" Tsuha menarik pintu yang dibuka paksa oleh Nox.


"Tunggu Tsuha! Aku akan mengantarmu. Kau tidak melupakan surat undangannya kan?" Zack berjalan kearah Tsuha dan memegang pintu itu.


"Iya, Aku membawanya. Aku, sudah terlambat Dua menit" Ucap Tsuha pada Zack sambil mengusap keringatnya yang deras.


"Tunggulah sebentar"


"Sial.... sampai Kapan Aku harus menunggu....?" Tsuha berusaha stay cool.


"Nona, Namaku Zack. Nanti malam, Aku akan menjemputmu dan mengantarmu pulang. Disini, bukan tempatmukan?"


Wanita itu hanya melihat Zack saja tanpa memberi anggukan.


"Sampai Kita bertemu lagi, jagalah dirimu baik-baik" Ujar Zack sambil pergi meninggalkan wanita itu.


Tangan Kanan wanita itu, Ia ulurkan untuk meraih Zack.


Namun, Zack sudah keluar dari ruangan itu.


"Jangan tinggalkan Aku...." Wanita itu, langsung berekspresi ketakutan.


"DRAP!" Sosok Pria berjubah putih, mendarat dijendela dibelakang wanita itu.


Matanya terbelalak merasakan aura pria dibelakangnya itu


Tep!


Tep!


Tep!


Langkah kaki berhenti disebelah wanita itu.


Wanita itu, melirik kaki pria itu.


Pria itu, mengenakan celana panjang abu-abu.


"Nona Issabel, haruskah Aku membunuhmu disini?"


Bila Wanita itu mati, Zack juga akan mati.


"Ti...tidak.... Jangan membunuhku.... Dia... akan mati...juga...."


Air matanya, menetes saat menjawab hal tersebut.


"Kalau begitu, mau bekerja sama denganku?" Pria itu, memegang dagu Issabel dan menariknya untuk menatap wajahnya.


Pria itu, adalah Luciel.


"Kau cantik, mirip seperti Dia namun dengan warna rambut dan mata yang berbeda. Apa Kau mau bekerja sama denganku, Nona?"


Mata kuning Issabel menatap bibir Luciel yang terlihat lembut.


"Apa Kau menyukai bibirku?"


Luciel mengusap bibir Issabel dengan Ibu jarinya yang memegang dagu Issabel.


"Aku tak menyukaimu. Jiwa ragaku adalah milik tuanku. Dan Tuanku itu adalah penyelamatku. Zack" Jawab Issabel.


Luciel melepas Dagu Issa dan Ia memegang perutnya.


"PFFFT! BUAHAHAHAHAHAHA!" Ia tertawa keras mendengar ucapan Issabel itu.


"Lupakan saja! Lagipula, Aku tak tertarik dengan wanita sepertimu" Luciel memegang rambut putihnya yang berubah menjadi hitam dan tanduk kecil dikeningnya menghilang.


Wanita itu terkejut melihat perubahan rambut Luciel.


"Kita kembali ke inti pembicaraan lagi. Apa Kau mau bekerja sama denganku? Kita akan saling menguntungkan. Aku akan melindungimu dari segala sesuatu yang bisa membuatmu terluka. Bahkan, seekor nyamuk yang akan menghisap darahmu saat Kau tidur. Aku juga, tak akan menyentuh Zack sedikitpun. Percaya padaku" Luciel memberikan tawaran pada Issa.


Issabel, mengkernyitkan keningnya.


"Tentang apa kerja samamu itu?" Ia mulai tertarik pada tawaran Luciel.


Luciel, menyeringai.


"Hanya perhatikan Aosora Arthur saja dan Laporkan padaku apabila ada sesuatu yang terjadi padanya"


Itu bukanlah kerja sama yang berat. Tapi, Aosora Arthur itu adalah seorang Pangeran. Sama saja dengan bunuh diri bila Ia bisa ketahuan kalau sedang memata-matai Arthur.


"Apa Kau musuh Pangeran Aosora?"


Luciel menelengkan kepalanya ke kanan.


"Tergantung sudut pandangmu"