
Zack dan Tsuha kembali ke Markas pemberantas Iblis sambil membawa Issa dan cerberus itu.
Seisi Markas benar-benar sedang berantakan.
"Apa yang terjadi?"
Zack dan Tsuha saling melihat setalah melihat keadaan ruang tamu markas yang porak poranda.
Tak ada satu orang pun terlihat disana.
"Apa ini serangan Iblis?"
Issa yang ada dibelakang Zack melihat perlahan ke arah ruang tamu markas.
"Bukan. Disini, tak ada tanda-tanda sisa mana Iblis" Jawab Zack.
"Langsung saja Kita cari tau apa yang sedang terjadi?" Tsuha bertanya pada Zack tanpa melihatnya.
"Iya. Kau, carilah keatas. Aku akan menyusuri ke belakang"
Mendengar perintah dari Zack, Ia langsung mengangguk.
Tsuha, mulai masuk kedalam markas dan berjalan dengan hati-hati.
Pecahan kaca ada dimana-mana. Ia khawatir kalau ini, adalah perbuatan Arthur.
Ia mulai menaiki tangga menuju lantai kedua.
Kepala Tsuha terasa sangat pening.
Hidungnya, mencium aroma mana yang aneh.
Begitupula hidung kucing itu. Ia mengikuti Tsuha karena aroma mana dari hutan.
Tsuha berjalan dengan hati-hati ke kamarnya.
Kamarnya tertutup rapat. Dan dibalik kamar itu, Tsuha merasakan hawa asing yang terasa pekat.
Tsuha memegang gagang pintu kamar yang dingin.
Ia mulai membukanya dengan perlahan.
DEGH!
Didalam kamar itu, semua anggota pemberantas Iblis terkapar dilantai.
Dan, Ia juga melihat Arthur telah tergeletak di lantai dengan wajah yang penuh dengan darah.
Tiga srigala sihir disana, tak bisa bergerak.
"Apa yang terjadi disini?"
Tsuha berjalan kearah Val dan memegang pergelangan tangannya untuk merasakan denyut nadinya. Sedangkan kucing itu, langsung berlari kearah Arthur dan menjilat hidung Arthur.
BEBERAPA MENIT YANG LALU SEBELUM KEDATANGAN TSUHA DAN ZACK.
Nox pergi setelah meletakkan Arthur yang pingsan diruang tamu.
Shera mengambilkan air hangat untuk menyeka kening Arthur yang terasa panas.
"Dia demam?"
Razel memegang pipi Arthur yang terasa panas.
"Iya wakil. Kupikir, seorang bangsawan tak akan bisa terkena demam... Kurasa, Aku terlalu berlebihan untuk menyuruh Arthur membereskan ulahnya saat hujan" Shera merasa kasihan pada Arthur.
"Lagi-lagi jangan begitu. Tapi, apa tanda ungu didada Arthur memang menyebar ke lehernya?"
Shera sedikit mengeser kera seragam Arthur untuk melihatnya.
"Kayaknya, tadi pagi itu gak ada. Aku masih ingat dengan benar kalau tanda ini tak terlihat selebar ini"
Shera sempat melihatnya saat ia menarik kera baju kaos Arthur untuk menyuruhnya membetulkan tanamannya yang dirusak olehnya.
"Wakil, apa Anda tau siapa yang mengutuk Arthur?"
Shera melihat Razel yang berdiri dibelakangnya. Kemudian, Razel duduk disamping Shera.
//////
"Dekat.... sekali....." Wajah Shera memerah karena Razel.
Razel tersenyum.
"Aku tidak tau." Jawabnya.
"Ahahaha.... Tentu saja.... wakil tidak tau..." Shera mencubit pahanya sendiri agar tersadar dan menghilangkan wajah memerahnya.
"Ichhh..... Sakit juga.... **__**" Ia mengosok pahanya karena sakit.
Razel mengambil kain dikening Arthur kemudian mencelupkannya ke air hangat dan memerasnya kemudian meletakkannya lagi di kening Arthur.
"Bagaimana hubunganmu dengan Daniel?"
"Hah?!"
Shera terkejut mendengar Razel yang tiba-tiba bertanya tentang Daniel padanya.
Otak Shera not responding.
Ia hanya melihat Razel yang bertanya padanya tanpa melihatnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Daniel? Kudengar dari Val kalau Dia menyatakan perasaannya padamu sebelum Dia berangkat bersama Kapten Nel ke Akaiakuma"
"A!!!!, Aku... menolaknya!" Mulut Shera tak bisa sinkron dengan otaknya yang ingin mengendalikan pengeluaran nada suaranya.
"Kenapa?"
Razel melirik Shera perlahan.
Shera menunduk dan melihat tanda kutukan Arthur.
"Ya.... Daniel.... Sudah kuanggap seperti keluarga. Kalau Aku menerimanya, Aku takut merusak hubungan Kami di guild ini yang bisa menganggu kinerja Kami sebagai partner"
Shera mengatakan langsung tanpa banyak pikir dan Ia memainkan jari-jari tangannya.
Yang sebenarnya menjadi alasan Shera menolak Daniel adalah, Razel.
"Sebenarnya gak papa kalau Kalian memiliki hubungan yang lebih disini. Ada, benarnya bila Kau mengambil keputusan itu. Daniel, pasti akan menghargai keputusanmu." Razel mengangguk-angguk saat mengatakannya.
"Tapi wakil, Kenapa Kau bertanya padaku dan tidak pada Daniel?"
Shera melihat Razel sebatas mulutnya saja.
"Yah, Itu karena Aku ingin mendengarnya sendiri" Bibir Razel tersenyum saat mengatakannya.
"Wakil, Apa Kau menyukai seseorang?"
"Tentu saja. Aku menyukainya sampai sekarang"
"Siapa?"
Senyuman mengembang dibibir Razel.
"Gadis yang mengajariku memasak dan selalu menemaniku sebelum Guild ini dikapteni oleh Kapten Nel"
"Nyuuuut....."
"Aku tak pernah mendengar....Eh... Tunggu.... Apa Aku merasa cemburu?"
"Dia sudah meninggal sebelum kedatanganmu dan Lina. Lebih tepatnya, Saat Liebe dan Val menjadi anggota baru. Sekitar 8 tahun yang lalu"
Mendengar itu, Shera langsung membelalakan matanya. Senyum di bibirnya hampir mengembang.
Shera mencengkeram pahanya kembali.
"Apa sebenarnya yang ku pikirkan?"
Razel melihat tanda kutukan Arthur yang naik hingga ke dagunya.
Ia merasa ada yang tak benar dan Ia mengusap keringat Arthur yang deras.
"Shera. Apa hanya mataku saja atau memang tanda kutukan Arthur itu mulai menyebar?"
Shera melihat Arthur dan memang benar. Tanda itu berjalan dengan perlahan hingga kedagu Arthur.
Shera langsung berdiri dan memegang kening Arthur yang semakin panas.
"Ini tidak beres. Wakil, Panasnya Arthur semakin naik"
Razel memegang kening Arthur dan itu lebih panas dari tadi.
Kemudian, Ia melepaskan semua kancing seragam Arthur untuk melihat tanda didada Arthur itu.
Degh!
Tanda itu, telah menjalar seperti akar teratai yang mengerogoti tubuh bagian kiri Arthur.
Shera membelalakan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya itu.
Razel langsung berdiri dan menyelimuti Arthur.
"Jaga Arthur sebentar. Aku akan mencari Guru N...."
Cahaya ungu muncul dari dada bagian kiri Arthur, lebih tepatnya ditengah tanda itu.
"BZZZZT! Wosh!" Cahaya itu meledak dan bersamaan, Razel membalik tubuhnya, memeluk Shera untuk membawanya keluar dengan sihir teleport.
"PRAKKKKK!!!!!! PYARRRRRRRR!!!!!"
Kaca di markas pecah akibat ledakan sihir dari tubuh Arthur itu.
Razel membelalakan matanya melihat ledakan yang tiba-tiba itu. Dan Ia memegang kepala Shera untuk melindunginya.
Aroma tubuh Razel, tercium oleh hidung Shera dan suara detak jantung Razel yang berdebar, terdengar di telinganya.
Razel berdebar karena kaget ya....
Jantung Shera berdebar dengan kencang dan reflek "BRUKKK!" Ia melepaskan diri dari Razel dengan cara mendorongnya dengan kuat hingga Razel, terjatuh.
"Ah! Maaf Wakil!" Shera membungkuk dalam didepan Razel.
"Tidak. Ini salahku. Maafkan Aku atas ke tidak sopananku tadi. Sekarang, bantu Aku cari yang lainnya. Aku, akan melihat Arthur"
Razel langsung berdiri dan berlari masuk kedalam markas lewat pintu depan.
Kaki Shera lemas sangking kagetnya.
Ia merasakan perasaan yang bercampur aduk.
Shera memang menyukai Razel, sejak tiga minggu Ia baru masuk kedalam Guild pemberantas iblis.
Bisa dikatakan Ia menyukai Razel secara diam-diam sejak 5 tahun lebih.
Ia memukul-mukul pipinya dan segera berlari mencari yang lainnya.