
Sebenarnya, apa yang terjadi? Mengapa Arthur beranggapan bila Tsuha itu perempuan? Apa ini efek karena ia lupa ingatan?
Arthur langsung menahan tangan Tsuha. "Jangan menodai mataku. Dasar bocah tak tau malu" Ucapnya dengan raut wajah kesal.
"Padahal, aku lebih tua darinya 18 bulan. Mengapa dia memanggilku bocah?" Batin Tsuha sambil melepas tangan Arthur.
Arthur kembali melihat Arnold dari kejauhan.
"Siapa namamu?"
Arthur tiba-tiba bertanya nama kepada Tsuha.
"Estelle Tsuha"
"Estelle?"
"Iya"
Arthur sedikit melirik Tsuha kemudian melihat ke arah Arnold kembali.
"Oh, mungkin karena itu dia mengejarmu. Terdahulumu, banyak yang dibunuh oleh Arnold. Padahal, aku sudah mengingatkan bocah itu untuk jauh-jauh darimu. Dia menantangku"
Tsuha tidak paham dengan ucapan Arthur. Ia hanya bisa merasakan hawa dingin disekitar Arthur yang terasa mengintimidasinya.
"Estelle Tsuha. Saat aku melawan Arnold, bocah yang melawannya akan mati terlebih dahulu. Sebelum itu terjadi, kembalilah ke tempat pengungsian"
Saat itu, Tsuha yakin. Tsuha yakin dengan sosok didepannya ini, bukan Aosora Arthur. Dia orang lain.
"An- Anda sebenarnya, siapa?"
Sekujur tubuh Tsuha bergidik ngeri.
"Aku? Aku siapa? Menurutmu, siapa aku?"
Ia menyeringai lebar kepada Tsuha dan mata yang kelam itu, nampak seperti bukan mata orang yang memiliki harapan untuk hidup.
"A-Anda. Anda bukan Pangeran Aosora Arthur"
Tsuha mengeser duduknya mundur kebelakang hingga punggungnya menyentuh bongkahan rumah.
Arthur kembali mendekatkan wajahnya ke arah Tsuha. "Aku adalah orang yang menepati janji. Andai bila aku tidak berjanji kepada Aosora Naver, kau pasti sudah mati di tanganku. Jadi, pilihlah. Diam atau kuhilangkan ingatanmu?"
DEGH!
"Sa...Saya.."
"Saya~?" Arthur mengeluarkan suara bernada.
Tsuha memejamkan matanyanya dan mengkernyitkan tubuhnya karena takut. "Saya akan menganggap ini tidak pernah terjadi!" Tegas Tsuha dengan cepat.
Senyuman kembali mengembang di bibir Arthur. Ia, mengusap halus rambut hitam Tsuha yang setengah basah. "Bocah pintar. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh dan gunakan otakmu karena suatu hari nanti, aku akan tetap membunuhmu" Ucap Arthur sambil menyipitkan matanya.
Tsuha membuka matanya dan mengangguk pelan.
"Bocah polos" Batin Arthur.
"Lalu, nunggu apa lagi? Lari. Larilah dengan cepat. Entah kakimu hancur ataupun putus, teruslah berlari untuk menyelamatkan dirimu" Bisik Arthur untuk mempengaruhi Tsuha.
Sekujur tubuh Tsuha bergetar. Tsuha ingin berlari. Tapi, tubuhnya tidak ingin bergerak.
Ia mengigit bibirnya sendiri dan menahan air matanya yang hampir keluar. Ia mengetahui bila dirinya hanyalah beban bagi orang lain. Tapi, berlari untuk menyelamatkan dirinya, bukanlah hal yang diajarkan oleh Nox dan ayahnya.
"Kenapa tidak berlari?" Tanya Arthur sekali lagi.
Tsuha menundukkan pandangannya dan ia merasakan rasa darah dibibirnya yang ia lukai sendiri.
"Lebih baik saya mati daripada harus lari sendiri. Pangeran, ayo pergi dari sini bersama. Raja Naver pasti mengkhawatirkan Anda"
Senyuman lebar Arthur menghilang begitu saja. Raut wajahnya berubah menjadi datar.
"Estelle Tsuha. Apa kau tau mengapa di dunia ini, orang baik mati terlebih dahulu?"
Tsuha melirik Arthur yang sedang melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Mereka mati karena tidak mampu menghilangkan perasaan kemanusiaannya. Padahal, yang mereka beratkan adalah manusia yang berhati hewan"
"Di dunia ini, tidak ada orang yang baik. Semua saling memanfaatkan sesuatu yang tidak membuat diri mereka rugi. Namun, mereka tidak mementingkan perasaan orang lain yang mereka rugikan. Pikirkan dirimu sendiri Estelle Tsuha. Bila kau memikirkan yang lainnya, kau akan mati muda. GRRRTT!" Arthur langsung mencekik leher Tsuha dengan tangan kirinya.
Ibu jari Arthur menekan kerongkongan Tsuha dengan kuat. Tsuha mulai sesak. Ia berusaha menarik tangan Arthur yang mencekiknya dengan kuat.
"Sa-saya yakin! Bi-bila di dunia ini ti-tidak ada yang baik. Setidaknya, biarkan sa-ya akan menjadi sa-tu-satu-nya orang yang baik di-dunia ini"
Arthur mengangkat alis kanannya dan melepaskan cekikannya selang beberapa detik.
"KHUK! KHUK!!" Tsuha langsung terbatuk-batuk hingga matanya berair. "Buktikan padaku. Bila kau tidak bisa memenuhinya, maka kau akan menjadi pecundang diantara pecundang lainnya yang pernah mati di tanganku"
...****************...
TRANG!!!! PASSTTT! BAM!
Sihir Nel langsung meledak saat menyentuh pedang mana Arnold.
DRAP! SYUUT!!!
Ia mengibaskan kaki kanannya ke arah Arnold dengan cepat. Namun, Arnold dapat menghindari serangan Nel.
Arnold membalas serangan Nel. Ia mengumpulkan mananya tepat pada telapak tangan kanannya dan "BAGHHHHHH!!! BKAAAKHHHH!" Ia menghantamkan telapak tangan dengan keras pada dada Nel hingga, perisai mana Nel menghilang seketika.
"KHUKH!"
Darah keluar dari mulut, dua lubang hidung, dan kedua lubang telinga Nel. Arnold tepat menyerang Nel pada inti mananya.
Nel mundur beberapa langkah karena rasa sakit yang luar biasa pada sekujur tubuhnya. Arnold tidak buang-buang waktu.
DAP! DAGH! BRUKKKK!!!!
Ia langsung menghentakkan kaki kirinya dan memutar tubuhnya 180⁰ kemudian menendangkan kaki kirinya pada gambang kanan Nel. Arnold menggunakan serangan kidal.
Namun, Nel masih kokoh. Ia masih mampu berdiri setelah mendapatkan tendangan Arnold.
Mata bagian kanan Nel tiba-tiba berwarna hitam dengan iris merah. Nel adalah keturunan bangsa siluman.
SYYYUTTTT!!!! DAGHHH!
Nel menarik kembali kuda-kudanya dan melesatkan tendangannya, namun itu hanya tipuan. Ia menghentakkan telapak tangan kanannya dengan keras pada dagu tubuh yang digunakan oleh Arnold.
PATSH! DAGH!
Itu adalah tipuan kecil yang Arnold sering gunakan pada saat ia masa kecil. Ia langsung menendang dada Nel dengan kaki kirinya, hingga terdorong ke belakang.
SSSSSSSHHHH
Mana milik Nel kembali pada alirannya. Dari atas kepala Nel, muncul bayangan yang menyerupai telinga kucing dan ekor pada belakang tubuh Nel.
Nel kembali maju ke arah Arnold dengan lari lurus kemudian tiba-tiba berbelok ke kanan dan memutar tubuhnya di udara, serta menyiapkan kaki kanannya untuk menghantam kepala Arnold dari udara.
WOSH! BRUAKKK!
Lagi-lagi! Nel tidak dapat menyerang Arnold dengan benar. Arnold tiba-tiba berteleport ke atasnya dan menghentakkan tumit telapak kakinya pada pungung Nel dengan keras hingga Nel menhantam tanah dengan keras.
Sekujur tubuh Nel mati rasa.
"Katakan. Katakan dengan keras kau kalah" Ucap Arnold sambil menginjak kepala Nel dengan kaki kirinya.
"Aku, belum kalah"
PRACKKKK!
Arnold menghentakkan kakinya dengan keras pada kepala Nel.
"Katakan dengan benar!" Tegas Arnold.
Nel mengepalkan tangan kanannya yang penuh darah sambil memukul punggung kaki tubuh yang digunakam Arnold dengan lemah.
PRACKKKK! PRACKKKK!!!!
Arnold memaksa Nel untuk mengatakan kekalahnya dengan menghentakkan kakinya berulang kali pada kepala Nel.
"Aku, Kapten Pemberantas Iblis. Tidak akan pernah kalah dari Iblis sepertimu" Ucap Nel dengan nada yang lemah.
PRACK! PRACK! PRACK!
Arnold semakin brutal menginjak kepala Nel hingga berdarah.
Nel mengambarkan sesuatu pola pada sepatu kulit yang digunakan oleh Glashya dengan darahnya. Arnold tidak menyadari hal ini.
"Kau yang akan kalah, De luce Arnold. Sihir peremuk, aktif" Ucap Nel sambil melihat Arnold dengan senyumannya.
PREACHHHHHH!!!! BKUKHHHH!!!!
Tubuh Glashya yang digunakan Arnold seolah-olah seperti tomat matang yang ditumbuk. Dan tubuh Glashya terkena sihir terlarang milik Nel yang Nox larang untuk tidak menggunakannya dalam bertarung walau dalam kondisi terpojok. Sebab, bayarannya adalah nyawa Nel sendiri.
"Guru Nox, maaf. Aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Dan teman-teman, tetaplah berjuang"
Aliran mana Nel langsung berantakan. Jantung Nel memompa darah dengan Nel berhasil mengalahkan Arnold. Ini adalah kemenangan miliknya.
"KAPTENNN!!!!! Nel!" Tsuha melihat tubuh ibunya yang tiba-tiba meremuk seperti tertindih benda keras dari atas tubuhnya, langsung berlari untuk memastikan kondisi Nel.
"Woah, tak ku sangka ada orang biasa yang mampu membunuh seorang raja dari bangsa iblis" Arthur mengapresiasi Nel dan berjalan santai ke arah mereka untuk memastikan lenyapnya jiwa Arnold.
...****************...
Sepintas ingatan kecil muncul dibenak Nel.
"Hei, bocah. Jadilah anak angkatku. Aku akan mengajarimu banyak sihir hingga kau menjadi seorang prajurit hebat"
Itu adalah ingatan Nel saat ia bertemu dengan Nox untuk pertama kalinya
Hari itu, adalah 14 tahun yang lalu. Saat Nel berusia 5 tahun di Aosora.
"Kenapa?"
"Kita akan saling menguntungkan. Aku akan mendapatkan pangkat yang lebih tinggi dan kau dapat makanan serta tempat tinggal yang layak" Ucap Nox sambil duduk di sebelah ayunan yang digunakan Nel.
"Apa aku bisa dapat uang?"
"Tentu. Berapa yang kau mau? Aku akan memberikan sebanyak yang kau inginkan" Jawab Nox.
"Apa aku akan mendapatkan nama?"
"Aku akan memberikan margaku padamu"
"Nel, mulai besok. Kau akan sekolah dan panggil ayah, guru ya. Bertemanlah dengan Daniel. Dia akan menjadi teman sekamar asramamu"
"Nel, besok kau akan mendapatkan teman baru. Lindungi dia dengan cara apapun. Jangan buat dia terluka. Dia baru saja kehilangan ibunya. Namanya, Razel. Dia 11 12 denganmu. Dia memiliki keistimewaan sama sepertimu"
"Kapten. Mohon kerja samanya. Saya akan menjadi wakil Anda. Jangan ragu, memanggil nama saya"
"Saya, Razel. Berjanji tidak akan memakai tangan kiri saya dalam menjalankan misi"
"Namaku Razel. Aku tidak akan pernah bersatu dengan Shinrin. Shinrin dan Akaiakuma adalah musuhku. Jangan melarangku untuk membencinya. Biarkan aku tetap seperti ini. Aku mematuhimu, karena kau adalah teman pertamaku, Nel"
Ingatan masalalu, terus melintas dipikiran Nel.
"Razel..." Nel samar-samar melihat bayangan yang mendekatinya.
Tsuha tidak berani membalik tubuh Nel. Nel melihat Tsuha dengan mata kanannya yang hitam dan merah.
"Razel, pergilah. Jangan memaksakan dirimu" Lirih Nel sambil mengengam tangan mungil Tsuha.
"Kapten!" Suara Tsuha menyadarkan Nel dari ketidaksadarannya.
"BKAKHHH!!!" Nel muntah darah karena jantungnya memompa dengan cepat.
"PANGERAN! LAKUKAN SESUATU UNTUK KAPTEN NEL!"
"Tsuha?" Nel sadar tangan mungil yang ia genggam adalah tangan Tsuha.
Samar-samar dari belakang Tsuha, Ia melihat jiwa Arnold yang masih belum lenyap.
"Lari. Larilah. Dia belum mati" Ucap Nel dengan lirih.
Arthur berdiri di belakang Tsuha dan Nel melihat jiwa Arnold yang terhisap ke dalam tubuh Arthur.
"Tsuha, pergilah mencari bantuan. Aku akan menyelamatkannya." Arthur tersenyum lebar melihat Nel dalam kondisi sekarat.
"Kapten! Bertahanlah! Bila Anda selamat, saya berjanji saat besar nanti akan menjadi anggota Guild Anda" Tsuha langsung berdiri dan mengusap air mata dan ingusnya.
"Jangan. Tsuha, bunuh saja aku. Pisahkan semua anggota tubuhku" Nel tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan suaranya setelah Arthur menyentuh keningnya.
"Tenanglah, aku berjanji tidak akan membuatnya sakit" Ucap Arthur pada Tsuha.
Tsuha langsung mengangguk dan pergi untuk memanggil Nox yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Selamat tidur" Ucap Arthur pada Nel sambil tersenyum lebar.
"Ti...tidak"
...****************...
BONUS:
Barang kali mau ditebak 🤭 Silahkan kira-kira, dia siapa ya?