The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Persiapan



Tsuha pulang sebelum makan malam bersama Angel. Rambut Tsuha telah dipangkas rapi oleh Angel. Tsuha terlihat seperti orang yang berbeda dan lebih rapi.


"Besok, hari terakhir teman-temanku disini. Apa kak Angel akan mengantar kami menuju-"


"Sebentar! Arthur! Apa kau gila?! Apa maksud ucapan kami yang kau katakan itu?!"


"Aku ingin ikut dalam misi terakhirku di Markas Pemberantas Iblis kemudian menetap di Aosora" Jawab Arthur sambil melipat serbetnya setelah makan malam.


"Kau tidak akan memiliki izin untuk keluar dari Aosora setelah mahkota Aosora ada dikepalamu!" Tegas Angel dengan raut marah pada Arthur.


Arthur mengosok tengkuknya. "Aku sudah terlanjur janji dengan Wakil Razel" Ucap Arthur.


"Gak! Kau tidak akan diperbolehkan! Tahta Aosora tidak boleh kosong seharipun! Apalagi, saat kau menjadi Putra Mahkota, akan banyak orang yang berniat untuk membunuhmu! Penjagaan prajuritmu saja tidak akan berguna!"


"Bagaimana kalau kak Angel juga ikut ke Shinrin. Bukankah, kakak butuh waktu sehari untuk menjernihkan pikiran kakak?" Tsuha meringis saat mengatakannya dan memotong daging pangangnya yang belum habis.


Nao, Arthur, dan Verza langsung melihat Tsuha yang mengeluarkan pendapat berlian seperti itu.


"Kau kesurupan apa anjir?!" Lirih Nao sambil menutup mulut Tsuha yang meringis. "Hanya aku yang boleh melihatmu tersenyum dan meringis Tsuha" Bisik Nao.


Tsuha melirik Nao dengan wajah kesal. Ia memasukkan daging bakar yang sudah terpotong kecil di mulut Nao. Nao memakan itu dan melepaskan tangannya pada mulut Tsuha.


Angel membuang mukanya. "Ini boleh-boleh saja. Aku akan mengajukan semua kebutuhannya. Kalian, lanjutlah makan malam" Angel meninggalkan ruangan makan dengan wajah pura-pura santainya. Padahal hati Angel, sangat kegirangan.


Arthur kembali melihat Tsuha setelah melihat Angel yang pergi dari meja makan.


"Tsuha! Kau apain kak Angel?! Kenapa dia begitu?!"


"Tidak ku apa-apain" Jawab Tsuha sambil pergi dari ruangan itu.


"Sialan! Diberi sihir apa kak Angel sama Tsuha?! Kak Bram saja, tidak bisa membujuk kak Angel kalau tidak ayahku sendiri yang menemui kak Angel! Aku harus tau!" Arthur berdiri dari tempat makannya dan mengambil apel hijau di meja kemudian, ia mengejar Tsuha.


"Dasar, anak muda. Mari Luxe, apa kau mau ke Shinrin juga?" Tanya Verza pada Luxe yang sedang minum.


"Tentu. Apa aku akan mendapatkan uang disana?"


"Akan ku usahakan. Karena kau memiliki bakat dalam melihat jiwa orang lain, kurasa kau akan cocok untuk membantu Guild penyidik"


"Masukkan saja dia di Guild Pemberantas Iblis. Aku akan keluar dari Guild Penyidik bila di masuk disana" Ancam Nao.


Luxe menyeringai pada Nao. "Apa Tuan ini, merasa terganggu akan kehadiranku?"


"Lebih tepatnya, aku tidak ingin kau bertemu dengan kaptenku. Kau pasti akan sangat mendapatkan perhatikan lebih dari dia" Jawab Nao sambil menunjukkan seringaiannya yang memiliki taring panjang.


"Kau membuatku tertantang"


"Apa kau berjualan? Aku akan membelinya dengan senang hati" Balas Nao dengan tenang.


"Kalian berdua! Berhenti bertengkar! Aku akan mencoba berbicara dengan Nox untuk memasukkannya ke dalam Guild Nel. Bila itu berhasil, aku akan mengurus perpindahanmu" Ucap Verza pada keduanya.


Nao berdiri. "Ha'~ bantuan orang dalam" Sindir Nao sambil pergi dari ruangan itu. "Aku saja, membutuhkan banyak hal yang ku korbankan untuk semua ini" .


Luxe melihat ke arah Verza. "Masukkan saja aku ke dalam guild yang sama dengan Pangeran Aosora. Aku ingin menjaga dia dari orang itu" Pinta Luxe.


Luxe membuka lingkaran sihirnya untuk menuju ke Istana Aosora dengan cepat. Mereka berlima (Arthur, Tsuha, Nao, Verza, dan Luxe) sampai di Istana yang tengah sibuk mendekor ruangan.


Nox mengarahkan beberapa pelayan Aosora yang mengenalnya untuk menganti kain gorden dari biru langit menjadi warna putih.


Ia juga, menentukan makanan yang dihidangkan untuk para tamu. Disisi itu, Dera membantu prajurit yang lain dengan bergabung pada barisan penjagaan. Dera melihat prajurit-prajurit disana untuk mengusir salju dikawasan sekitar jalan yang akan dilalui oleh tamu. Malam itu, benar-benar sibuk.


Arthur yang baru sampai langsung dipanggil oleh penjahit yang kemarin ke penginapan lourency itu untuk mencoba memakai atasannya yang baru jadi.


"Ini gila. Dia secepat ini dalam menjahit pakaian?"


Pakaian Arthur memiliki design yang lebih sederhana dari model pakaian untuk pengangkatan Aosora Bram. Atasan yang dikenakan oleh Arthur menggunakan kualitas pakaian terbaik yang langsung dikerjakan setelah dikirim dari Narai.


"Bagian ini, kurang jahitan" Penjahit wanita itu, melepas kancing Arthur dan menyuruh Arthur untuk membentangkan kedua lengannya.


Bekas tusukan di perut sisi kiri Arthur membuat wanita itu termenung sejenak. "Pangeran, bolehkah saya bertanya sedikit?" Ia menandai lipatan untuk ia jahit dengan jarum.


"Boleh. Anda mau tanya apa Nyonya?"


"Apa Anda bahagia dengan hampir 17 tahun lamanya yang telah Anda jalani?"


Mata Arthur terbelalak. Mendengar pertanyaan wanita itu, ia teringat dengan pria yang menebas lehernya di mimpi. Arthur mengosok lehernya perlahan.


"Tentu saja. Apa yang harus saya sesali?" Jawab Arthur dengan nada yang sopan.


Wanita itu berdiri dan melihat ke arah Arthur. "Apa Anda tidak berbohong?" - Arthur mengangguk.


"Bila esok adalah hari terakhir Anda, apa Anda benar-benar menjadi orang yang bahagia setelah 17 tahun yang telah Anda lalui ini?"


Pertanyaan wanita itu, membuat Arthur berfikir. "Kalau besok hari terakhir saya hidup, mungkin saya akan terbebas akan semua ini. Tapi, bila esok adalah hari terakhirku, maka esok pula akan menjadi hari terakhir berdirinya Aosora" Jawab Arthur. Ini sudah tercatat dalam buku Alex. Arthur hanya mengulang tulisan di buku itu.


Wanita itu, terkejut dan tidak sengaja menyengol jarum-jarum didalam wadah hingga berhamburan dibawah.


Arthur membantu wanita itu menata semua jarum-jarumnya. "Saya mengharapkan kehadiran seseorang yang saya tunggu sejak lama. Ia juga, mengatakan sesuatu yang hampir mirip dengan yang Anda ucapkan. Saya berharap, agar Anda bisa bahagia pula Pangeran Aosora Arthur" Ucap wanita itu.


Kemudian, wanita itu menyuruh Arthur untuk melepas pakaian yang Arthur kenakan untuk dijahit kembali.


Suara wanita itu terngiang-ngiang di kepalanya. Ia merasa sangat tak asing dengan suara itu dan aroma wangi yang ia keluarkan.


"Bareesh, janji ya... Akan ku tunggu disini" Sepintas ingatan muncul dibenak Arthur.


Bayangan remaja perempuan berambut putih sepanjang siku dengan jubah biru tua yanh sedang berdiri di depan gua es. Membuat pikiran Arthur berantakan.


"Ck!" Kurasa, ini hanya mimpiku saja" Ucap Arthur sambil menggosok rambutnya. Kini, Arthur hampir kesulitan membedakan mimpinya dengan peristiwa yang nyata.


"Entahlah. Aku harus tidur dan pukul setengah lima besok, harus menjalankan ritual pensucian" Ia masuk di kamarnya.


Betapa terkejutnya Arthur, melihat Ha nashi telah menunggunya disana sambil melempar Azuma yang berubah menjadi kucing ke dalam lemari Arthur yang terbuka.


"Tuan Ha nashi? Kebetulan sekali. Ada yang ingin saya tanyakan" Arthur menutup pintu kamarnya dan menguncinya.