
Kebebasan,
Kebebasan seperti apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ambareesh ?
Hanya kata itu yang bisa didengar oleh Arnold.
Arnold memikirkannya sepanjang malam setelah pulang dari Hutan sihir itu.
Hutan itu, memang dinamai hutan sihir bukan karena banyak mana yang berkumpul disana seperti dibab sebelumnya.
Melainkan, Hutan sihir yang dilindungi oleh sosok elf ras hijau yang bisa dikatakan sebagai pemegang atau penjaga pusaka seorang titisan yang terbunuh oleh Raja pertama Akaiakuma.
Siapa sosok elf hijau itu ?
Kita bahas lain kali saja :D
Namun, itu hanya omongan dari mulut kemulut yang belum tentu ada benarnya.
Saat itu, Arnold masih bisa menggunakan sihir teleportnya untuk melewati hutan sihir dan, itu berlaku untuk semua orang.
"Kebebasan apa yang guru inginkan ?"
"Apa selama ini Aku memaksanya ? Apa Aku memang penghambatnya ?"
Arnold menyampingkan rasa sesak didadanya.
"Itu memang salahku. Karena sangat memaksanya untuk menjadi guruku. Harusnya, Aku tak pernah memaksanya"
Sepoian angin malam di dekat air mancur tamannya menyapu rambut putih Arnold.
Arnold merasa sangat bersalah pada Ambareesh.
"Harusnya, Aku meminta maaf pada guru. Aku benar-benar bukanlah murid dan anak yang bisa diharapkan. Aku tak bisa mengeluarkan pedang mana selama empat tahun Aku belajar sihir. Gelar pangeran kedua, benar-benar gelar yang tak pantas dan terlalu bagus untukku. Aku, harus meminta maaf pada guru"
Disaat yang bersamaan, Arvold yang berusia 19 tahun melihat Arnold dari kejauhan.
"Apa yang sedang dia lakukan ? Apa Dia merenungi hilangnya gurunya itu ?"
Sebenarnya, Arvold sangat senang atas hilangnya Ambareesh yang tiba-tiba. Sebab, Ambareesh adalah sebuah ancaman baginya dan sang Raja.
Arvold bukanlah Sosok Pangeran pertama yang baik.
Sifat ayahnya menurun padanya.
Ia menginginkan rasa kebencian Arnold untuk Ambareesh.
Arvold mendatangi Arnold dengan sihir teleportnya.
"Arnold, Apa yang sedang Kau lakukan ?"
Kehadiran Arvold membuat Arnold terkejut.
Arnold langsung berdiri dan membungkuk.
"Pangeran pertama, Maaf, Saya akan pergi dari jarak pandangan Anda"
Arnold membungkuk dan langsung pergi.
Kenapa Arnold bersikap begitu pada Arvold ?
Arnold melakukan sesuai keinginan Arvold sebab, Arvold penah mengatakan kalau Arnold memiliki wajah yang buruk dan ingin muntah setiap kali melihat wajah Arnold.
Namun, ucapan Arvold ditepis oleh Ambareesh saat diceritai oleh Arnold.
"Kau memiliki wajah yang rupawan. Kau lebih rupawan dari Ayah dan Kakakmu. Untuk apa mendengarkan ucapannya? Dia hanya iri dengan potensimu. Untuk sekarang, jauhi Dia dan pergilah saat Dia mendekat"
Setelah itu, Arnold terus menghindari Kakaknya.
Namun, kali ini Arvold tidak ingin membuang kesempatan ini.
Dia memeluk adiknya dari belakang.
"Maafkan Aku, Apa Kau menghindariku karena ucapanku dulu ?"
Arvold pandai sekali bersilat lidah.
Arnold membelalakan matanya saat rambut putihnya di elus lebut oleh Arvold.
"Maafkan Saya...... Saya tidak bermaksud menghidari Pangeran"
Arnold menunduk saat mengatakannya dan ia ingin sekali bergantung pada Kakaknya.
"Panggil Aku Kakak. Kita Kakak dan adikkan ? Harusnya, Kau memanggilku begitu sejak dulu"
"Pantaskah Aku yang bukan anak ratu memanggilnya dengan sebutan Kakak ?"
Arnold yang berusia 12 tahun sangat mempercayai kata-kata Arvold yang hanya merah-merah bibir.
"Kak Arvold"
Arvold melirik Arnold dan Ia tersenyum puas.
Ha Nashi memantau semuanya yang terjadi pada Arnold.
Bukan karena permintaan Ambareesh. Tapi, itu adalah keingiannya sendiri.
****************
Arnold sangat senang melihat Kakaknya melambaikan tangan padanya saat melihatnya.
Arnold sangat bersyukur dan Ia merasa, 'Harusnya sejak dulu, Aku mengakrab i kakakku'
Tapi, sampai kapan Arnold akan tersadar kalau Kakaknya menipunya ?
Itu hanya berlangsung sekitar satu tahun setelah Arvold menjadi Putra Mahkota Akaiakuma.
Arnold sadar kalau Arvold berusaha menanamkan kebenciannya untuk Ambareesh.
Darimana Ia tau ?
Semua karena campur tangan Ha Nashi yang mengunakan sihir Khususnya pada Arnold yang tertidur.
Ha Nashi, mentransfer semua yang Ia lihat dan yang Ia dengar dari Arvold bersama ayahnya untuk membuat Arnold membenci Ambareesh.
Arnold melihat semuanya.
"Air mata Arnold menetes dan terbendung ditelapak tangan Ha Nashi yang menutup kedua mata Arnold yang sedang tidur.
"Maafkan Saya Pangeran. Saya, tidak ingin Anda membenci Ambareesh. Dan Ambareesh, maafkan Aku karena ikut campur serta, mengagalkan rencanamu"
Ha Nashi pergi setelah Arnold hampir sadar dari tidurnya.
Arnold duduk termangun dan mengusap air matanya.
"Tolong katakan kalau itu hanya sebuah mimpi"
Arnold bukanlah tipe orang yang percaya dengan mimpi.
Di pagi hari yang gerimis, Arnold keluar dari Istana untuk menengkan dirinya.
Ia berteleport menuju tengah hutan tempat Ambareesh terakhir kali Ia lihat.
Ia berharap akan bertemu dengan Ambareesh untuk meminta maaf atas masalah yang sebelumnya.
Namun, Ia melihat sosok lain yang berwujud elf dengan rambutnya yang hitam dan terpotong tidak beraturan. Sedang duduk di tepi Danau seolah menunggu sesuatu.
"Permisi...." Arnold hampir tak pernah bertemu elf dengan rambut hitam dan dari belakang, Ia melihat antingnya berbentuk teratai sama seperti cincin milik Ambareesh.
Arnold berfikir, mungkin elf itu mengenal Ambareesh dan tau dimana Ambareesh saat ini.
Elf itu melihat kearah Arnold.
Matanya yang hijau, hidungnya yang mancung, mata sipit dengan bulu mata yang lentik dan terdapat tanda hijau zamrud dibawa garis kedua matanya yang berbentuk segitiga. Melihat kearah Arnold.
Elf itu, bak pria yang berada dalam lukisan.
Arnold takjub saat melihat rupa elf itu yang sangat rupawan.
Ia hampir lupa dengan apa yang akan Ia tanyakan.
"Padahal Aku laki-laki. Tapi, Kenapa Aku suka dengan wajah itu ?
Itu hanya sebuah kekaguman saja.
"Pangeran ke dua dari Kerajaan Akaiakuma. Yang Mulia, De luce Arnold. Apa yang membawa Anda kemari ?"
Suara yang dikeluarkan elf itu, serak-serak basah.
Di dunia ini tak ada yang sempurna.
Arnold langsung tersadar.
"Ah, Maaf karena sudah menganggumu"
Arnold tiba-tiba menundukkan kepalanya begitu saja.
Elf itu berdiri.
"Anda benar-benar sopan seperti yang Tuan ceritakan"
"Tuan ?"
"Nama Saya, Haraya. Elf hijau yang menjaga hutan sihir ini. Ada yang bisa Saya bantu ?"
"Penjaga hutan ?"
Arnold langsung membelalakan matanya saat tau elf didepannya adalah seorang elf yang dalam legenda.
Kemudian, Arnold melihat tangan Haraya yang tak memiliki keriput sedikitpun.
"Berapa usia Tuan Elf ? Apa benar kalau Tuan elf hidup sejak Kerajaan Akaiakuma belum ada ?"
Haraya sedikit tidak menduga kalau Arnold akan menanyakan pertanyaan yang selalu muncul setiap kali bertemu dengan anak kecil yang tersesat dihutan.
Mata Haraya menyipit saat Ia tersenyum.
"Tentu saja tidak. Saya hidup sejak pemerintahan raja empat" Akaiakuma. Saya... tidak setua itu"
"Hah ?"
Arnold melongo mendengar Haraya berkata kalau dia tidak setua itu padahal sudah hidup hampir enam generasi raja Akaiakuma.
"Ti... tidak setua itu ?.... Lalu bagaimana denganku, apa aku yang 12 tahun masih belum bisa disebut sebagai bayi ataupun janin ?" gumamnya.